
Bersamaan dengan
berkumpulnya para Komandan Kelelawar Iblis. Sungsang Geni saat ini sedang
menemani tabib gila mencari obat untuk Nyai Bidara.
Sungsang Geni telah
berjalan selama 5 jam, tapi bukit yang dikatakan sang tabib tidak kelihatan,
dan meskipun terlihat idiot nampaknya sang tabib cukup hebat dalam ilmu
meringankan tubuh.
Mereka menyusuri anak
sungai yang tenang, semakin kehulu semakin dangkal dan deras. Sungsang Geni
telah menemui vegitasi berbeda, batu berlumut dan berukuran besar, serta
tanaman rambat yang bergelantungan disisi pepohonan yang tumbuh di pinggir
Sungai.
Beberapa kali tabib
gila menarik beberapa tumbuhan yang dilewatinya, memasukan pada keranjang besar
terbuat dari jalinan rotan.
“Ini berguna!” ucap
tabib Gila, sembari memotong akar panjang yang melintang di jalan, potongan
akar itu mengeluarkan air yang jernih. Tanpa menunggu lama, sang tabib segera
meminum air akar itu hingga kering. “Ah....tanaman ini berguna untuk mengobati
luka dalam.”
Sungsang Geni tidak
terlalu peduli dengan kelakuan tabib itu, tidak dengan akar, tidak pula dengan
air, atau tidak pula dengan obat luka dalam. Yang dipedulikannya adalah, dimana
letak tanaman yang dapat mengobati Nyai Bidara.
“Paman Tabib apakah
tempat yang dimaksud masih jauh?” Perasaan Sungsang Geni tidak tenang sebelum
obat itu didapatkannya.
“Anak Muda, kau sangat
tidak sabaran. Lihatlah kesana!” Tabib itu kemudian menunjuk bukit kecil yang
terjal berada didepannya, “Kita telah sampai.”
Memang ada banyak bukit
kecil didepan mereka, tapi bukit yang ditunjuk tabib itu yang paling aneh. Bukan
hanya terjal, puncak bukit itu dipenuhi batu yang berukuran sama dan licin. Dan
membentuk sebuah corak yang aneh.
“Paman Tabib, tunjukan padaku tanamannya!”
Sungsang Geni tidak sabar, “ biarlah aku yang mengambilnya.”
Tabib gila menunjuk
pada tanaman yang letaknya paling tinggi diatas bukit, “Kau lihat, tanaman
yang berbunga kecil itu, jangan sentuh durinya karena sangat beracun,
kau hanya perlu mengambil semua bunga yang ada.”
“Baiklah, saya
mengerti,” ucap Sungsang Geni.
Berkat jubah kilatan
naga, tidak butuh waktu lama bagi Sungsang Geni untuk tiba di puncak bukit.
Setibanya disana, Sungsang
Geni terkejut bukan kepalang, dia tidak menyangka dan tidak pernah melihat
sesuatu yang dilihatnya seperti saat ini.
Ternyata batu licin
__ADS_1
yang berukuran sama yang dilihat Sungsang Geni dari bawah, merupakan sisik
seokor ular yang sangat besar.
Rupanya tanaman itu
hanya akan tumbuh pada sisik ular yang telah berumur ratusan tahun. Mirip
seperti benalu yang hidup diselah-selah sisik yang besar.
Melihat kedatangan
Sungsang Geni, ular itu segera menyemburkan racunnya yang berbisa.
Sungsang Geni bergegas
mundur sejauh mungkin, menghindari bisa berwarna biru yang mengarah kepadanya.
Setiap bebatuan atau
tumbuhan yang terekena bisa itu, menjadi hancur dan mengeluarkan aroma yang
busuk.
“Rupanya duri yang dimaksud
tabib adalah bisa ular ini. Aku benar-benar tidak menyangka puncak bukit adalah
seekor ular besar yang sedang tidur. Pantas saja tidak ada tanaman yang tumbuh
dibukit ini.” gumam Sungsang Geni.
Ular itu bukanlah
siluman atau naga, hanya ular biasa dari spesies pedak. Spesies ular yang
paling malas mencari makan, namun memiliki bisa paling mematikan. Ada banyak
ular dari spesies pedak hidup dengan waktu yang cukup lama, umumnya 90 tahun.
Namun, Sungsang Geni
mengira ular pedak didepannya sekarang, mungkin telah berusia 200 tahun bahkan
lebih. Beberarapa wilayah Kerajaan menamai ular sebesar ini sebagai naga.
Tapi tentu saja, ular
ini belum termasuk naga yang hidupnya lebih dari 1000 tahun. Namun bisanya
racunnya.
Sungsang Geni tidak
ingin pertarungan ini menjadi lama, sebab satu detikpun sangat ber-arti bagi
Nyai Bidara, jadi dia segera menarik pedangnya.
‘Aku harus mengerahkan
seluruh tenaga dalamku, aku butuh sekali tebasan saja’ gumam Sungsan Geni.
“Bisikan kematian.”
Dengan cepat serangan Sungsang Geni telah memotong kepala ular menjadi dua, dan
jatuh tepat didepan sang tabib.
Melihat kemampuan
Sungsang Geni yang dapat menebas ular berumur ratusan tahun, membuat tabib gila
terjelit tak percaya.
“Kemampuanmu luar biasa
anak muda, bertahun-tahun aku berusaha mengambil tanaman ini dengan menyewa
para pendekar, tapi tidak ada yang sanggup mengalahkan ular ini, hingga membuat
akalku menjadi gila,” ucapnya Gembira, seraya memetik bunga-bunga kecil pada
tanaman itu.
Sekarang terbongkar penyebab
tabib itu menjadi gila, rupanya karena prustasi tidak dapat mengambil bunga-bunga
itu.
“Apakah tanaman ini
mampu menyembuhkan Nyai Bidara paman tabib?” tanya Sugsang Geni.
“Tentu saja, tanaman
__ADS_1
ini dapat mengobati penyakit dalam dan juga racun yang mematikan. Namanya saja bunga Tugumanik Jayakusuma, atau
bunga yang bangkit dari kematian,” ucap sang tabib.
Kemudian sang tabib
menjatuhkan setangkai bunga ke mulut ular yang dipenuhi bisa, “Lihatlah! bisa
ular menjadi kering karena bunga ini.”
Setelah selesai
mengambil bunga itu, mereka segera kembali kerumah sang tabib dengan buru-buru.
***
Setelah tiga hari menunggu akhirnya Nyai Bidara
tersadar juga, Miksan Jaya terlihat sangat bergembira, lalu bersujud dikaki sang tabib.
“Tidak usah melakukan itu, jika bukan anak muda ini
yang mengambil bunga tugumanik jayakusuma, nyawa wanita itu tidak akan
selamat.” Sang Tabib meenunjuk kearah Sungsng Geni.
“Tuan, bagai mana caranya
agar aku bisa membalas kebaikanmu ini?” Miksan Jaya mendekati Sungsang Geni,
“Sedangkan seluruh hartaku telah raib dirampok bandit.”
Sungsang Geni tersenyum, “Tak usah dipikirkan, sudah
sepatutnya kita saling tolong menolong.”
“Paman tabib! Berapa uang yang harus saya bayar atas
pengobatan Nyai Bidara?” Sungsang Geni berniat kembali ke penginapan pangeran
Dewangga, semenjak Nyai Bidara dirawat Sungsang Geni belum kembali ke
penginapan.
“Tidak perlu, kau telah membantuku mendapatkan bunga
ini aku sangat berterima kasih.” Ucap sang tabib.
“Kalau begitu saya akan permisi, teman-temanku pasti
sudah sudah menunggu.” Sungsang Geni kemudian memberi hormat.
“Ini, ambilah,” sang tabib memberikan kendi kecil
terbuat dari giok, “Didalamnya terdapat ramuan bunga tugumanik jayakusuma,
mungkin nanti ada temanmu yang terkena racun.”
“Terima kasih paman tabib,” ucap Sungsang Geni, dia
melihat ada askara aneh di kendi giok itu, seperti lambang sebuah perkumpulan.
Sungsang Geni mendekati Nyai Bidara, nampaknya
wanita itu belum memiliki tenaga untuk
mengenali dirinya, dia kemudian mendekati Miksan Jaya kemudian menyerahkan
sisah uang yang dimilikinya, “Aku tidak memiliki banyak uang, namun kuharapa
ini dapat membantu.”
“Sekali lagi
terimakasih tuan, jika nanti tuan memiliki kesempatan, pergilah ke kerajaan
Tumenang dilembah hantu.” Kemudian pangeran Miksan Jaya menyodorkan sebuah
lencana ungu, “Tunjukan ini kepada penjaga gerbang, mereka akan mengizinkan
dirimu masuk.”
Sungsang Geni memasukan
lencana itu kedalam saku bajunya, meskipun nampaknya benda itu tidak akan
terlalu berguna, namun mungkin suatu hari nanti dia akan mengunjungi Kerajaan Tumenang.
Sungsang Geni segera
menuju penginapan pangeran Dewangga, tapi nampaknya mereka telah pergi, dia
segera menuju kapal-kapal yang mulai meninggalkan pelabuhan.
“Geni!” terdengar suara
__ADS_1
teriakan Dewangga, “Geni, kami disini !”