PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Bukit Atau Naga?


__ADS_3

Bersamaan dengan


berkumpulnya para Komandan Kelelawar Iblis. Sungsang Geni saat ini sedang


menemani tabib gila mencari obat untuk Nyai Bidara.


Sungsang Geni telah


berjalan selama 5 jam, tapi bukit yang dikatakan sang tabib tidak kelihatan,


dan meskipun terlihat idiot nampaknya sang tabib cukup hebat dalam ilmu


meringankan tubuh.


Mereka menyusuri anak


sungai yang tenang, semakin kehulu semakin dangkal dan deras. Sungsang Geni


telah menemui vegitasi berbeda, batu berlumut dan berukuran besar, serta


tanaman rambat yang bergelantungan disisi pepohonan yang tumbuh di pinggir


Sungai.


Beberapa kali tabib


gila menarik beberapa tumbuhan yang dilewatinya, memasukan pada keranjang besar


terbuat dari jalinan rotan.


“Ini berguna!” ucap


tabib Gila, sembari memotong akar panjang yang melintang di jalan, potongan


akar itu mengeluarkan air yang jernih. Tanpa menunggu lama, sang tabib segera


meminum air akar itu hingga kering. “Ah....tanaman ini berguna untuk mengobati


luka dalam.”


Sungsang Geni tidak


terlalu peduli dengan kelakuan tabib itu, tidak dengan akar, tidak pula dengan


air, atau tidak pula dengan obat luka dalam. Yang dipedulikannya adalah, dimana


letak tanaman yang dapat mengobati Nyai Bidara.


“Paman Tabib apakah


tempat yang dimaksud masih jauh?” Perasaan Sungsang Geni tidak tenang sebelum


obat itu didapatkannya.


“Anak Muda, kau sangat


tidak sabaran. Lihatlah kesana!” Tabib itu kemudian menunjuk bukit kecil yang


terjal berada didepannya, “Kita telah sampai.”


Memang ada banyak bukit


kecil didepan mereka, tapi bukit yang ditunjuk tabib itu yang paling aneh. Bukan


hanya terjal, puncak bukit itu dipenuhi batu yang berukuran sama dan licin. Dan


membentuk sebuah corak yang aneh.


 “Paman Tabib, tunjukan padaku tanamannya!”


Sungsang Geni tidak sabar, “ biarlah aku yang mengambilnya.”


Tabib gila menunjuk


pada tanaman yang letaknya paling tinggi diatas bukit, “Kau lihat, tanaman


 yang berbunga kecil itu, jangan sentuh durinya karena sangat beracun,


kau hanya perlu mengambil semua bunga yang ada.”


“Baiklah, saya


mengerti,” ucap Sungsang Geni.


Berkat jubah kilatan


naga, tidak butuh waktu lama bagi Sungsang Geni untuk tiba di puncak bukit.


Setibanya disana, Sungsang


Geni terkejut bukan kepalang, dia tidak menyangka dan tidak pernah melihat


sesuatu yang dilihatnya seperti saat ini.


Ternyata batu licin

__ADS_1


yang berukuran sama yang dilihat Sungsang Geni dari bawah, merupakan sisik


seokor ular yang sangat besar.


Rupanya tanaman itu


hanya akan tumbuh pada sisik ular yang telah berumur ratusan tahun. Mirip


seperti benalu yang hidup diselah-selah sisik yang besar.


Melihat kedatangan


Sungsang Geni, ular itu segera menyemburkan racunnya yang berbisa.


Sungsang Geni bergegas


mundur sejauh mungkin, menghindari bisa berwarna biru yang mengarah kepadanya.


Setiap bebatuan atau


tumbuhan yang terekena bisa itu, menjadi hancur dan mengeluarkan aroma yang


busuk.


“Rupanya duri yang dimaksud


tabib adalah bisa ular ini. Aku benar-benar tidak menyangka puncak bukit adalah


seekor ular besar yang sedang tidur. Pantas saja tidak ada tanaman yang tumbuh


dibukit ini.”  gumam Sungsang Geni.


Ular itu bukanlah


siluman atau naga, hanya ular biasa dari spesies pedak. Spesies ular yang


paling malas mencari makan, namun memiliki bisa paling mematikan. Ada banyak


ular dari spesies pedak hidup dengan waktu yang cukup lama, umumnya 90 tahun.


Namun, Sungsang Geni


mengira ular pedak didepannya sekarang, mungkin telah berusia 200 tahun bahkan


lebih. Beberarapa wilayah Kerajaan menamai ular sebesar ini sebagai naga.


Tapi tentu saja, ular


ini belum termasuk naga yang hidupnya lebih dari 1000 tahun. Namun bisanya


racunnya.


Sungsang Geni tidak


ingin pertarungan ini menjadi lama, sebab satu detikpun sangat ber-arti bagi


Nyai Bidara, jadi dia segera menarik pedangnya.


‘Aku harus mengerahkan


seluruh tenaga dalamku, aku butuh sekali tebasan saja’ gumam Sungsan Geni.


“Bisikan kematian.”


Dengan cepat serangan Sungsang Geni telah memotong kepala ular menjadi dua, dan


jatuh tepat didepan sang tabib.


Melihat kemampuan


Sungsang Geni yang dapat menebas ular berumur ratusan tahun, membuat tabib gila


terjelit tak percaya.


“Kemampuanmu luar biasa


anak muda, bertahun-tahun aku berusaha mengambil tanaman ini dengan menyewa


para pendekar, tapi tidak ada yang sanggup mengalahkan ular ini, hingga membuat


akalku menjadi gila,” ucapnya Gembira, seraya memetik bunga-bunga kecil pada


tanaman itu.


Sekarang terbongkar penyebab


tabib itu menjadi gila, rupanya karena prustasi tidak dapat mengambil bunga-bunga


itu.


“Apakah tanaman ini


mampu menyembuhkan Nyai Bidara paman tabib?” tanya Sugsang Geni.


“Tentu saja, tanaman

__ADS_1


ini dapat mengobati penyakit dalam dan  juga racun yang mematikan. Namanya saja bunga Tugumanik Jayakusuma, atau


bunga yang bangkit dari kematian,” ucap sang tabib.


Kemudian sang tabib


menjatuhkan setangkai bunga ke mulut ular yang dipenuhi bisa, “Lihatlah! bisa


ular menjadi kering karena bunga ini.”


Setelah selesai


mengambil bunga itu, mereka segera kembali kerumah sang tabib dengan buru-buru.


***


Setelah tiga hari menunggu akhirnya Nyai Bidara


tersadar juga, Miksan Jaya terlihat sangat bergembira, lalu bersujud dikaki  sang tabib.


“Tidak usah melakukan itu, jika bukan anak muda ini


yang mengambil bunga tugumanik jayakusuma, nyawa wanita itu tidak akan


selamat.” Sang Tabib meenunjuk kearah Sungsng Geni.


“Tuan, bagai mana caranya


agar aku bisa membalas kebaikanmu ini?” Miksan Jaya mendekati Sungsang Geni,


“Sedangkan seluruh hartaku telah raib dirampok bandit.”


Sungsang Geni tersenyum, “Tak usah dipikirkan, sudah


sepatutnya kita saling tolong menolong.”


“Paman tabib! Berapa uang yang harus saya bayar atas


pengobatan Nyai Bidara?” Sungsang Geni berniat kembali ke penginapan pangeran


Dewangga, semenjak Nyai Bidara dirawat Sungsang Geni belum kembali ke


penginapan.


“Tidak perlu, kau telah membantuku mendapatkan bunga


ini aku sangat berterima kasih.” Ucap sang tabib.


“Kalau begitu saya akan permisi, teman-temanku pasti


sudah sudah menunggu.” Sungsang Geni kemudian memberi hormat.


“Ini, ambilah,” sang tabib memberikan kendi kecil


terbuat dari giok, “Didalamnya terdapat ramuan bunga tugumanik jayakusuma,


mungkin nanti ada temanmu yang terkena racun.”


“Terima kasih paman tabib,” ucap Sungsang Geni, dia


melihat ada askara aneh di kendi giok itu, seperti lambang sebuah perkumpulan.


Sungsang Geni mendekati Nyai Bidara, nampaknya


wanita  itu belum memiliki tenaga untuk


mengenali dirinya, dia kemudian mendekati Miksan Jaya kemudian menyerahkan


sisah uang yang dimilikinya, “Aku tidak memiliki banyak uang, namun kuharapa


ini dapat membantu.”


“Sekali lagi


terimakasih tuan, jika nanti tuan memiliki kesempatan, pergilah ke kerajaan


Tumenang dilembah hantu.” Kemudian pangeran Miksan Jaya menyodorkan sebuah


lencana ungu, “Tunjukan ini kepada penjaga gerbang, mereka akan mengizinkan


dirimu masuk.”


Sungsang Geni memasukan


lencana itu kedalam saku bajunya, meskipun nampaknya benda itu tidak akan


terlalu berguna, namun mungkin suatu hari nanti dia akan mengunjungi Kerajaan Tumenang.


Sungsang Geni segera


menuju penginapan pangeran Dewangga, tapi nampaknya mereka telah pergi, dia


segera menuju kapal-kapal yang mulai meninggalkan pelabuhan.


“Geni!” terdengar suara

__ADS_1


teriakan Dewangga, “Geni, kami disini !”


__ADS_2