
“Aki, kenapa kita tidak berbicara lebih tenang saja? aku tidak berniat membuat masalah dengan dirimu,” Sungsang Geni mengingatkan.
Nampaknya Pendekar Pemabuk tidak menghiraukan ucapan Sungsang Geni, dia terus memberi tekanan dengan mengeluarkan aura membunuh yang besar. Ketenangan akhirnya mulai terusik, suasana menjadi berat, dan seluruh pelayan dan pengunjung yang lain segera berhamburan keluar karena takut.
Empat orang Prajurit di luar penginapan Bunga Mawar segera bersiaga, mereka telah melepas pedang dari sarungnnya. Tetapi tidak ada yang berani memasuki Penginapan itu, tidak ada yang punya nyali.
Dari bawah, mereka hanya dapat melihat dari jendela penginapan yang terbuka, Sungsang Geni masih duduk diatas bangku sedangkan pria tua mulai berancang untuk menyerang.
Sungsang Geni nampaknya tidak berhasil menenangkan Pendekar Pemabuk, jadi dia mengeluarkan aura api matahari sangat besar, membuat aura membunuh dapat ditekan dan akhirnya lenyap.
“Aura apa yang baru saja kau pancarkan?” tanya Pendekar Pemabuk, wajahnya menjadi tegang, matanya terbelalak.
Sungsang Geni kembali tersenyum, masih berusaha mencairkan suasana. “Hanya aura biasa Ki?”
“Aura biasa?” tanya Pendekar Pemabuk.
“Benar.”
Pendekar pemabuk tidak percaya itu adalah aura biasa. Dia lalu mengernyitkan keningnya, mulai mengingat-ingat masa, kalau saja pernah merasakan aura itu. Tapi dia tidak memiliki ingatan mengenai aura Sungsang Geni.
‘Pemuda ini siapa dirinya, aku merasakan tiba-tiba aura yang keluar dari tubuhnya menenangkan pikiranku’ batin Pendekar Pemabuk.
“Baiklah Ki, sebaiknya kita lupakan saja kejadian barusan. Lalu ceritakan padaku kenapa kau mengetahui jubah yang ku pakai?” Sungsang Geni berusaha mengalihkan tema obrolan.
Pendekar Pemabuk terdiam sesaat, kepalanya masih sedikit condong. Setelah beberapa menit wajahnya terlihat bersahabat.
“Apa kau tidak mengetahui namanya?” Tanya Pendekar Pemabuk, “Jubah yang kau pakai itu?”
“Tidak Ki, aku baru dua dua hari mengenakannya,” jawab Sungsan Geni.
“Jubah itu bernama Kilatan Naga, kilatan artinya cahaya petir, karena dia mampu membuat penggunanya terbang dengan cepat, sedangankan kata Naga, karena memang bahannya berasal dari kulit ari seekor naga. Jubah ini, membuat orang yang memakianya dapat terbang, dan membuat gerakan menjadi cepat, beruntung sekali kau yang dipilihnya.”
Sungsang Geni tercengang dengan bahan yang digunakan untuk membuat jubah yang dipakainya, pada priode ini tidak ada lagi Naga yang masih hidup. Mereka mungkin telah kembali ke alam mereka, atau mati sebagai petapa.
“Ternyata meski kau seorang pemabuk, tetapi pengetahuan dirimu sangat banyak, Aki” Sungsang Geni berdecak kagum.
__ADS_1
Kakek Segala tahu. Pendekar Pemabuk juga dijuluki demikian, karena dirinya hampir mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu kanuragan.
Di Desanya, Panorma. Pendekar Pemabuk, atau Kakek Segala Tahu merupakan ketua dari Kuil Pengetahuan. Kuil yang memiliki ratusan ribu buku mengenai Ilmu Kanuragan dan juga obat-obatan.
Namun nahasnya 30 tahun yang lalu, ribuan prajurit dari kerajaan yang tak dikenalnya, menyerang desa kecil itu dan membakar Kuil Pengetahuan.
Diantara ratusan penduduk Desa Panorama, Pendekar Pemabuk termasuk dari segelintir manusia yang selamat.
Dia telah kehilangan istri dan putri tercintanya, membuat Pendekar Pemabuk prustasi dan memilih arak sebagai teman seumur hidup.
Melihat mata Pendekar Pemabuk bercahaya melihat jubah yang dikenakannya, Sungsang Geni menawarkan jubah itu padanya. “Apa Aki menginginkannya?”
“Tidak, dahulu aku pernah memakainya secara paksa, dan jubah itu malah mencekikku.” Jawab Pendekar Pemabuk, “Aku hanya tertarik dengan lesung batu, meski tidak dapat terbang secepat jubah Kilatan Naga, tapi dia akan membawaku terbang. Berjalan ditanah sangat membosankan.” Kemudian Pendekar Pemabuk terkekeh.
“Akik bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Sungsang Geni
“Tentu saja, aku juga dijuluki Kakek Segala tahu.” Pendekar Pemabuk terkekeh, sekekali terdengar suara batuk dari mulutnya yang bergigi ompong.
Sungsang Geni sedikit ragu, namun akhirnya tetap bertanya.“Apa Aki, mengetahui kelompok kelelawar iblis?”
“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu anak muda?” tanya Pendekar Pemabuk, tatapannya berubah dingin.
“Aku hanya penasaran dengan Kelompok itu? Orang-orang mengatakan, kelompok kelelawar iblis semakin berkembang dan mulai meresahkan beberapa pihak.” Sungsang Geni mengelus dagunya.
“Apa kau ingin melawan mereka anak muda?” Pendekar Pemabuk kembali bertanya.
“Entahlah, kabarnya mereka memiliki pasukan yang sangat kuat. Aku tidak berniat mencari masalah dengan mereka. Kecuali...”
“Kecuali apa?”
“Keculai jika mereka bergerak kearah Kerajan Majangkara, tentu saja aku harus menghadapi mereka, meski mereka sangat kuat.” Jawab Sungsang Geni, dia tersenyum kecil tetapi penuh makna.
“Apa kau berasal dari Majangkara?” kali ini wajah Pendekar Pemabuk semakin tidak tenang, sekekali aura membunuh keluar dari tubuhnya, namun sebelum sempat membesar dia segera menyembunyikan aura itu.
“Aku berasal dari sana!” jawab Sungsang Geni.
__ADS_1
“Anak muda, aku harus segera pergi dari sini. Aku baru ingat ada urusan yang harus kuselesaikan.” Tiba-tiba saja Pendekar Pemabuk beranjak dari bangkunya kemudian melangkah menuju pintu keluar.
Tubuhnya yang tidak seimbang karena mabuk, berjalan terhuyung-huyung menyenggol beberapa bangku didekatnya.
“Aki pemabuk!” sungsang Geni melempar kendi labu yang tertinggal, “kau melupakan kendi labumu, aku telah mengisinya.”
“Terima kasih anak muda. Aku harap pertemuan kita selanjutnya sama seperti saat ini.” Pendekar Pemabuk mengangkat kendi labunya, “Dan juga mengenai pertanyaanmu itu, aku tidak memiliki informasi mengenai kelelawar Iblis. Maafkan aku.”
Pendekar Pemabuk segera pergi dari tempat itu, berjalan menuju jalan utama kota Tenggang dan hilang ditelan kegelapan malam.
“Tidak Aki Pemabuk, sepertinya pertemuan kita selanjutnya tidak akan berjalan baik.” Ucap Sungsang Geni, “Sebenarnya? Apa yang kalian rencanakan, Kelelawar Iblis?”
Sungsang Geni masih terpaku menatap jalan dimana Pendekar Pemabuk tadi melewatinya, dirinya masih bisa merasakan tenaga dalam kakek tua itu yang mulai berangsur menghilang.
Dipinggir kota Tenggang yang berjarak 1mil dari penginapan Bunga Mawar, 10 orang pria dengan level pendekar pilih tanding menunggu didekat gerbang kota.
Wajah-wajah mereka sangat menyeramkan, tatapan yang bengis, rahang yang keras dengan lengan-lengan yang besar dan berotot. Tidak ada satupun dari mereka yang lemah.
Goresan pedang telah menghiasi pos penjaga gerbang kota, dan kini berwarna merah karena darah dari orang yang mereka bunuh. Delapan orang telah meregang nyawa dengan kepala telah terpisah dari tubuhnya.
Salah seorang dari mereka, memainkan kepala-kepala yang terpenggal dengan kakinya. Dia tampak bahagia melakukan itu, gigi-giginya yang hitam menyembul keluar ketika dia terseyum menakutkan.
“Komandan darimana saja anda, kenapa lama sekali mencari arak?” salah seorang dari mereka dengan wajah penuh dengan luka sayatan, mendekati Pendekar Pemabuk yang berjalan keluar dari Kota Tenggang.
“Dimana lesung batuku?” tanya Pendekar Pemabuk.
“Lesung itu meninggalkan kami, menuju kedalam hutan.” Pria itu menjawab, “Kenapa wajah anda terlihat risau Komandan?”
Pendekar Pemabuk tersenyum “Aku menemukan pemuda yang sangat menarik, dengan kekuatan yang sangat aneh. dia sangat tenang, namun menakutkan, seperti sungai yang dalam, tenang dan menghanyutkan.”
“Apakah dia memang masih muda Komandan? Apa bukan orang tua yang terlihat muda karena tenaga dalam yang dimilikinya?” pria itu nampak meragukan ucapan komandanya, mungkin karena kakek tua itu masih dalam keadaan mabuk.
“Tidak, dia masih muda! Aku bisa memastikan itu. Dia berasal dari Majangkara, nampaknya Ki Alam Sakti telah mendidik seoarang murid yang berbakat?” Pendekar Pemabuk lalu berjalan kearah hutan, “Majangkara akan semakin sulit untuk ditaklukan.”
“Apa maksud anda Komandan?” pria itu kembali bertanya, membuntuti pendekar Pemabuk diikuti orang-orang yang lainya.
__ADS_1
“HAHA, kita akan melihat seberapa riang takdir menari diatas langit. Dia pemuda yang baik hati, aku menyukainya, tapi sayang kami berada pada jalan berbeda.” Kemudian Pendekar Pemabuk terkekeh didalam hutan, suaranya lebih menakutkan daripada lolongan srigala.