PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kematian Wingkar


__ADS_3

Tepat tengah malam, Sungsang Geni terjaga dari tidurnya. Tatapan pria itu menyapu seisi ruangan kamar tidur, memperhatikan dengan seksama gerangan apa yang sedang terjadi. Namun tidak ada hal apapun, dia tidak melihat ada hal-hal aneh kecuali Panglima Ireng yang tidur mendengkur di tempat tidurnya.


“Aneh...aku mendengar ada seseorang yang memanggil namaku?” pikir pemuda itu. "Apakah itu tadi hanya mimpi, tapi kenapa begitu jelas terdengar?"


Suasana saat ini sedikit remang-remang, hanya ada penerangan dari lilin minyak di atas meja bundar. Hanya saja, suasana sedikit lebih dingin dari pada di permukaan luar, barangkali karena berada di dalam laut.


“Pemuda itu lantas beranjak dari pembaringan, berjalan-jalan kecil memperhatikan langit-langit kamarnya. Ikan dengan mata bercahaya sekekali datang mengejutkan pemuda itu, hal yang membuat perasaannya sedikit terganggu.


Cukup lama, hingga pemuda itu melihat sosok manusia tua dengan pakaian serba putih sedang bermain pedang. Ini jelas hanya perasaannya saja, atau pandangan matanya yang sedikit salah.


Jelas pandangan Sungsang Geni tertuju pada dinding kamar, hanya saja sekarang dinding itu tidak ada lagi, berganti dengan cahaya putih yang membentuk sebuah pusaran besar. di dalam pusaran itulah, Sungsang Geni mendapati seorang pria tua berlatih pedang dengan sangat lihai.


Sungsang Geni mengedipkan mata untuk beberapa kali, bahkan dua tangannya digunakan untuk mengucek kelopak matanya, takut jika ini hanya ilusi saja. Tapi tidak, semakin dia mengedipkan mata semakin jelas terlihat pak tua itu. Dengan pedang berwarna putih, dia melompat lembut dan cepat seperti teknik pedang awan berarak.


Semakin lama pusaran cahaya putih semakin terang, membesar hingga menelan seisi ruangan. Sekarang pemuda itu telah berada di suatu tempat, yang dipenuhi dengan cahaya terang. Dataran luas yang di kelilingi dengan bukit dan pohon jarang yang tinggi.


Kali ini Sungsang Geni tidak berkedip sedikitpun, dia malah membuka matanya lebar-lebar menangkap semua gerakan yang diperagakan pak tua itu.


“Ini teknik pedang awan berarak?” gumam kecil pemuda matahari itu. “Ya, tapi ada beberapa bagian yang tidak aku pelajari, apakah mungkin...”


“Apa kau melihatnya?” tanya pak tua itu, berhenti seketika seolah mendengar gumaman kecil Sungsang Geni. “ Yang kugunakan adalah inti dari pedang awan berarak...”


Sungsang Geni terkejut bukan kepalang, jelas beberapa hari ini dia berusaha mencari inti dari teknik tersebut, tapi tidak berhasil menemukannya.


“Anda adalah Sri Jaya Nasa?” tanya Sungsang Geni.


Pak tua itu tersenyum sahaja, mengangguk pelan kemudian mendekati Sungsang Geni. Dia memiliki mata yang kecil tapi sangat tajam, rambutnya panjang sebahu dengan warna putih bersih.


Janggutnya lebih panjang lagi, hampir menyentuh perutnya. Hal yang jarang dilihat oleh Sungsang Geni adalah; pak tua ini memiliki alis yang lebat lagi panjang, dan juga lubang telinga yang memiliki bulu, mirip seperti bulu yang ada di lubang telinga macan atau kucing.


“Sudah sangat lama ilmu pedang tersimpan dengan rapi, kematianku bahkan seperti tiada bekasnya. Tiga orang muridku berseteru, dan menghancurkan teknik pedang yang aku ciptakan. Ini benar-benar miris sekali, tidak kuduga manusia tidak berubah dari zaman ke zaman meski peradaban sedikit lebih maju.”


“Ma'afkan hamba Eyang, tapi niat hamba untuk mempelajari pedag Sapuan Jagat semata-mata hanya untuk mengalahkan kemungkaran, kegelapan yang muncul di muka bumi ini," Sungsang Geni berkala pelan, sambil membungkukan badan memberi hormat.


Pak tua itu tersenyum kembali, seolah sudah mengetahui semua pikiran Sungsang Geni. “Teknik sapuan jagat hanya dapat dipelajari oleh orang-orang yang berbudi luhur. Aku akan menunjukkannya padamu, jika hatimu cukup bersih semua gerakan ini akan kau ingat tapi jika hatimu kotor, semua ini hanya seperti tontonan belaka tanpa tersimpan di dalam hati dan pikiranmu.”


Sungsang Geni hanya mengangguk dan terdiam tanpa tahu harus menjawab seperti apa, pada saat seperti ini dia bahkan berpikir tidak layak untuk menguasai teknik tersebut. Ada ketakutan di dalam hatinya, apakah dia benar-benar berjiwa bersih atau mungkin kotor.


“Apa kau siap?” tanya Eyang Sri Jaya Nasa.


“Aku siap Eyang...”


Pak tua itu tersenyum kecil, mundur beberapa langkah ke belakang kemudian bergerak cepat mengayunkan pedang putihnya. Dia bergerak lebih cepat kemudian lebih cepat lagi dan lebih sulit. Setiap gerakan yang ditujukan mungkin akan membuat seluruh sendi di dalam tubuh bekerja lebih berat dari sebelumnya.


Pak tua itu melompat di atas awang-awang, laksana bertengger di atas angin. Dia menukik cepat, tapi langsung saja berhenti ketika ujung mata pedangnya hampir mengenai permukaan tanah. Hanya berjarak sebesar rambut saja, mata pedang pak tua itu berada dari permukaan tanah.


Sungsang Geni menelan ludahnya, hampir tidak percaya dengan kecepatan seperti itu bisa berhenti mendadak. Belum sampai disitu, Sri Jaya Nasa kemudian melepaskan sebuah tebasan kuat ke arah Sungsang Geni.

__ADS_1


Gemuruh energi melesat lebih cepat lagi, membuat pemuda matahari itu tidak berkutik. Dia tidak tahu harus melakukan apa, mengelak mungkin tidak sempat menangkispun mungkin tidak sanggup.


Namun sebelum serangan laksana mata sabit itu hampir memeggal kepalanya, tiba-tiba berhenti mendadak tepat satu jari di tengah batang leher Sungsang Geni. Pemuda itu jelas berkeringat dingin, meski hanya satu jari seolah tebasan itu telah memenggal kepalanya.


“Inti dari pedang adalah, menebas apa yang harus ditebas, dan mengampuni siapa yang pantas diampuni.” Sri Jaya Nasa berkata dengan nada serak. “Jika kau tidak bisa menghentikan tebasan yang mengarah pada batang leher musuhmu, maka pedangmu kehilangan sifat pengampun.”


Mustahil, batin Sungsang Geni memekik. Bagaimana seseorang bisa menghentikan anak panah yang sudah lepas dari busurnya? Tapi Sri Jaya Nasa menunjukkannya sekarang, tepat di hadapannya sendiri. Bagaimana mungkin sebuah serangan dengan cepat dan kuat yang lepas dari pedang, tidak mungkin bisa di hentikan.


“Setiap gerakan harus menyatu dengan pikiran dan perasaan, seolah pedang itu adalah bagian dari tanganmu, bagian dari matamu dan juga bagian dari hatimu.” Sri Jaya Nasa mengangkat pedang ke samping, seketika energi pedang mirip mata sabit itu bergerak pula ke samping dan hilang menjadi butiran cahaya terang.


Dua inti gerakan yang ditunjukan oleh Sri Jaya Nasa adalah tusukan dan juga tebasan, tapi kali ini dia menunjukkan satu jurus yang mungkin tidak berhubungan dengan pedang. Pak tua itu menancapkan pedang putihnya tepat di depan.


Dengan mata tajam, dia menyatukan dua telapak tangan di depan dada. Seketika aura dari tubuhnya menjalar kuat membuat getaran kuat di sekitar Sungsang Geni. Tubuh pak tua itu seperti beruap.


“Perhatikan hal ini baik-baik Geni...” ucapnya.


Sungsang Geni hanya mengangguk pelan, suasana di tempat menjadi sangat berat. Satu menit kemudian dari tubuh pak tua itu, keluar energi seperti ratusan larik cahaya terang. Setiap cahaya sangat tajam.


Cahaya itu menebas apapun yang dilewatinya, pohon-pohon jauh di ujung mata. Bukit-bukit kecil dilewati, puluhan siring tercipta dari pancaran energi itu. Jangkauan serangan yang sangat luas, lagi sangat kuat. Hingga tiba saatnya, puluhan larik cahaya sampai ke tubuh Sungsang Geni.


Tapi anehnya, sedikitpun tubuh pemuda itu tidak terluka, bahkan tidak ada satu helai benang dari bajunya yang putus. “Inilah puncak dari Sapuan Jagat, Pedang yang bisa memotong apapun tapi juga bisa menyelamatkan siapapun.”


Sekali lagi Sungsang Geni menelan ludah pahit, jelas sekali dia tidak bisa melakukan hal itu.


***


Semua penjelasan yang diucapakan, serta segala gerakan yang ditunjukan oleh Sri Jaya Nasa telah diserap oleh Sungsang Geni tanpa kesulitan berarti. Hingga pada saat siang mulai datang, pak tua itu pamit kembali ke alam nirwana dengan tenang.


“Aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu, sekarang tinggal kau yang harus melatihnya. Dan ingatlah satu hal anak muda, meski kau memiliki kekuatan yang luar biasa, dunia ini butuh ketentraman, jadi gunakan kekuatanmu untuk mewujudkan hal itu.”


“Aku akan menggunakan kekuatan ini pada jalan kebenaran, akan aku ingat semua pesan-pesanmu Eyang Sri Jaya Nasa.”


“Sekali lagi, agar Teknik Sapuan Jagat bisa dimaksimalkan, kau harus memiliki energi yang sangat besar.” Pak tua itu kemudian tersenyum kecil. “Menyatulah dengan pedangmu anak muda...!”


Setelah itu, dunia yang semula terang benerang kembali menguncup. Pusaran cahaya perlahan kecil dan hilang di hadapan Sungsang Geni bersama dengan sosok gaib Sri Jaya Nasa. Kini tinggallah kamarnya yang sekarang mulai terkena cahaya.


“Hari sudah siangkah?” pemuda itu bergumam kecil, menoleh ke arah Panglima Ireng tapi srigala hitam besar tidak ada lagi di tempatnya. “Dia sudah lebih dahulu bangun, apakah kondisinya sudah lebih baik?”


***


“Putraku, dengarkan ayahmu ini...” Wingkar berusaha mengendalikan situasi putranya. “Aku tahu kau sudah tidak sabar menyerang Surasena, tapi berpikirlah sekali lagi! Kita tidak memiliki pasukan yang cukup, sementara Surasena pastilah memiliki sekutu?”


Namun perkataan Wingkar hanya dibalas dengan cekikan di batang lehernya. Topeng Beracun menyunggingkan senyum sinis, dari balik bibirnya dua taring tajam seolah siap mencabik leher raja itu.


“Tidak ada yang bisa menentang keputusanku...” suara Topeng Beracun terdengar berat lagi memekakkan gendang telinga. “Setelah semua pasukanku terbentuk, akan aku hancurkan dataran ini beserta se-isi manusianya. Jadi sekarang pak tua, dengarkan aku baik-baik, jika kau tidak diam aku pastikan kau mati. Dan satu hal, putramu sudah tiada.”


Wingkar tidak bisa menjawab perkataan Topeng Beracun, lehernya tercekik sangat kuat. Lidahnya hampir menjulur dengan biji mata mendelik ke atas.

__ADS_1


“Kau mengerti?” tanya Topeng Beracun.


“A...a...ak...aku...” untuk melanjutkan kalimatnya, Wingkar menganggukkan kepala tanda mengerti.


Putranya melempar tubuh Wingkar ke lantai Istana, terpental sekitar lima depa jauhnya dan terhempas tepat di tiang bangunan itu. Dari mulut Wingkar keluar darah merah bercampur air. Tentulah dia meringis kesakitan, batang lehernya seperti akan remuk di tangan putranya tersebut.


Bahkan meski menurut Topeng Bercun dia tidak mengeluarkan energi saat melempar ayahnya sendiri, tapi efek yang ditimbulkan cukup parah. Setidaknya Wingkar mengalami luka dalam ringan saat ini.


“Sekarang pergilah kau dari hadapanku!” bentak Topeng Beracun.


Dengan berat hati Wingkar berjalan tertatih-tatih menjauhi Topeng Beracun dengan ratapan penuh pilu. Itukah anak yang dibanggakannya? Wingkar tidak pernah menduga keadaan putranya sudah seperti kerasukan iblis. Iblis?


Wingkar hampir lupa jika dia memang bersekutu dengan iblis untuk menjalankan rencana jahatnya menaklukkan Surasena. Benar, keputusan itu rupanya berbuntut penyesalan saat ini.


“Kegelapan telah memanfaatkan diriku...” ratap Wingkar, berjalan buru-buru ke arah bangunan, niat hati ingin bertemu dengan tiga temannya.


Namun setelah membuka pintu, tiga teman yang dimaksud sudah tidak ada lagi. Wingkar mencari ke beberapa tempat, hingga dia sadar tiga temannya pasti sudah pergi meninggalkan dirinya saat ini.


“Teman macam apa kalian bertiga?” Wingkar duduk meratapi nasip.. “Oh tidak, mereka tentu bukanlah teman. Mereka berteman denganku karena mengharapkan imbalan setelah Kelelawar Iblis bisa menguasai dunia. Ini salah, ini benar-benar salah.”


Wingkar tidak berpikir panjang, jadi dia berjalan tak tahu arah keluar dari wilayah Kelelawar Iblis tanpa ada bekal sedikitpun. Puluhan prajurit bahkan tidak terlalu mempedulikan pria itu, seolah Wingkar hanya lalat lalu.


Semenjak Putranya mendapatkan kekuatan Dewi Bulan, tiada lagi yang memandang dirinya saat ini. Jangankan menghormati, menganggap keberadaannya di tempat inipun sudah tiada.


Dalam keadaan seperti ini, entah kenapa wajah sang istri dan anak gadisnya datang menghantui. Ini membuat dia sedikit takut, Wingkar telah menumbalkan nyawa keluarganya hanya karena ambisi memiliki kekuatan tiada tara.


“Pergi...pergii kau dari sini...” pekik Wingkar menampar kepalanya sendiri beberapa kali. “Jangan ganggu aku...kalian pergi dari sini...”


“Wingkar....Wingkarr....kami datang Wingkar...” suara seperti itu begitu jelas di telinga Wingkar.


“Kami datang untuk mencabut nyawamu... kami datang Wingkar...”


“Tidak, hentikan...aku tidak akan mati, aku tidak ingin mati. Pergi kalian semua hantu jahanam.” Tapi ucapan pria itu hanya rancuan seperti orang gila, dia memukul kepalanya lebih keras dari sebelumnya. Bahkan tidak segan mengambil sebongkah batu, memukul bagian samping kening agar suara-suara di kepalanya segera hilang, tapi tidak berhasil.


“Suamiku, hari ini kau harus mati. Kau harus mati untuk menebus semua dosamu.”


Bukan hanya wajah keluarga, satu persatu wajah orang-orang yang telah dibunuhnya datang menghantui. Dipandangan Wingkar, semua orang berwajah seram dengan banyak bekas luka dan pakaian serba hitam. Mereka datang mencekik, jadi Wingkar menahan cekikan itu di batang lehernya.


Tapi rupanya, semakin kuat dia menahan cekikan para hantu semakin keras. Wingkar menggeliat, menjulurkan lidahnya, berguling di tanah baru kemudian matanya mendelik ke atas. Wingkar mati dibunuh oleh hantu? tidak, sebenarnya dia mati karena mencekik lehernya sendiri, hanya saja perasaan pria itu para hantulah yang mencekiknya.


Kematian raja itu berada di pinggir jalan setapak, di pinggirnya ada hutan belantara sementara itu tepat di samping kirinya ada bibir jurang. Tiada orang yang mengurus jenazahnya, sehingga beberapa menit kemudian sekawanan hewan buas datang mengendus.


Tubuh Wingkar menjadi santapan lezat bagi mereka, tanpa tersisa kecuali tulang belulang yang berserakan.


Jauh dari dunia ini, kegelapan tersenyum tipis melihat tindakan raja itu.


Note: Teman-teman boleh tanya, obat sakit gigi tak? Palak ini rasanya pecah, tidurpun tidak nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2