
Sehari semalam Sungsang Geni masih mengalami kesakitan dan belum juga sadarkan diri, sedangkan Pramudhita masih menunggu dirinya dengan khawatir. Beberapa kali dia berjalan mondar-mandir, berusaha menenangkan perasannya.
“Kau? Kenapa kau bersikeras untuk menyelamatkan nyawa pemuda itu, bukankah dia orang luar yang tidak ada hubungannya dengan dirimu?” tanya Nyai Rumanik, menjadi sedikit heran dengan kelakuan Pramudhita yang tidak biasanya.
Pramudhita terdiam beberapa saat tampak sedang berpikir.
“Jika kau tidak mau memberi tahuku, tidak masalah...”
“Bukan itu, pemuda itu membawa lencana milik Yunirda, kakakku...” jawab Pramudhita lirih, “Lencana Yunirda berbeda dengan yang lain, ada peta dibelakang lencana miliknya yang dia buat jika suatu saat nanti dia pergi ke dunia luar!”
Mendengar pernyataan Pramudhita, nyai Rumanik hanya tertegun. Dia teringat tentang pria itu, seorang pendekar yang memiliki keahlian dalam menggunakan pedang tapi sama sekali tidak memiliki tenaga dalam.
Dia bahkan masih bisa melihat Yunirda adalah bocah kecil yang paling rajin berlatih diantara teman-temannya. Tingkah konyol Yunirda membuat semua orang menyukai dirinya.
Hingga suatu hari, ketika umurnya telah menginjak usia 25 tahun. Yunirda kalah tanding melawan adiknya sendiri. Karena tenaga dalam yang tidak dimilikinya membuat Yunirda tidak dapat menguasai teknik pedang bayangan tingkat atas.
Yunirda memutuskan pergi dari tempat ini untuk mencari seseorang yang bisa membantu persoalannya, dan setelah itu kabar mengenai Yunirda tidak pernah terdengar lagi.
Pramudhita bertahun-tahun menunggu kepulangan kakaknya, berharap apa yang dicari Yunirda telah didapatnya. Namun tanpa dia ketahui Yunirda sekarang telah mati ditangan Sungsang Geni.
***
Setelah berteriak selama 2 hari dan membuat pita suara Sungsang Geni nyaris hilang, akhirnya pemuda itu mulai pulih seutuhnya. Hari ini, dia sudah bisa berjalan tanpa merasakan sakit dan pedih.
Beberapa luka, juga sudah menutup rapat tapi ada luka yang tidak hilang bekasnya, seperti 3 luka di wajah dan juga 4 luka silang di lengan kiri.
“Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya tabib wanita yang sedang memeriksa kondisinya.
“Terima kasih telah membantuku... Tapi jika boleh aku tahu, siapa nama anda?” tanya Sungsang Geni.
__ADS_1
“Panggil aku Nyai Rumanik. Jika aku boleh tahu lengan kananmu terbuat dari apa?” tanya Nyai Rumanik penasaran, “Aku telah memeriksanya, tapi lengan itu seperti sebuah batu keras, dan juga setiap kau berteriak cahaya kuning selalu keluar dan menyilaukan.”
Sungsang Geni hanya terdiam tidak menjawab, hal ini membuat Nyai Rumanik menjadi lebih penasaran lagi. Seumur hidupnya yang sudah setua ini, belum pernah dia melihat kondisi tubuh seseorang seperti yang pemuda itu alami.
Apa yang harus dikatakan Sungsang Geni? Mengatakan bahwa lengan kanannya dan roh pedang menyatu? Atau mengatakan bahwa ada berkah dari dewa surya di lengan kanak-kanak? Tidak. Sungsang Geni tidak mungkin mengatakan hal itu untuk sekarang.
Situasi saat ini belum diketahui Sungsang Geni, bisa jadi semua orang di tempat ini akan menjadi musuhnya ketika dia memberi tahu hal itu. Sekarang bukanlah saatnya untuk bertarung, dengan kondisi tubuh yang masih sangat lemah.
Apalagi wajah-wajah orang ditempat ini sedikit aneh dengan garis-garis lurus dikening mereka, seperti Nyai Rumanik yang memiliki 4 garis saat ini.
'Apa itu menujukan jumlah cakra yang telah mereka buka?' batin Sungsang Geni mengira-ngira.
“Tidak masalah jika kau tidak mau memberi tahuku!” ucap Nyai Rumanik, kemudian tersenyum, “Orang yang membawamu ke tempat ini sedang menunggumu diluar sana.”
Sungsang Geni lantas di antar kepada Pramudhita, pria kekar itu terlihat senang mendapati Sungsang Geni telah pulih, dan hal itu membuat Sungsang Geni sedikit heran. Namun saat pemuda itu hendak berpikir lebih jauh, kepalanya tiba-tiba menjadi sakit.
“Jangan dipaksakan, meski racun dalam tubuhmu telah hilang sepenuhnya, tapi kondisi tubuhmu masih sangat lemah.” Ucap Nyai Rumanik, kemudian wanita itu menoleh kepada Pramudhita, “Bawalah dia ke tempat tenang, itu akan membantu memulihkan tenaganya. Dan ini adalah sebuah pil yang bisa digunakan untuk mengembalikan sedikit tenaga dalamnya.”
***
Karena tempatnya cukup tinggi, suasana sedikit lebih tenang. Dari sini Sungsang Geni bisa melihat hutan kayu mati yang gelap terbentang di ujung matanya, dia juga bisa melihat srigala hitam besar yang sedang mendengkur di pintu gerbang yang tertutup.
Dia baru menyadari bahwa di sisi timur hutan kayu mati, ada sebuah puncakt tinggi yang dipenuhi bebatuan dan mengeluarkan asap putih yang tebal. Dia yakin itu adalah puncak gunung semeru.
“Aku sangat berterima kasih karena kau telah membawaku pada seorang tabib hebat.” Ucap Sungsang Geni sambil memperhatikan Pramudhita yang sedang sibuk di dapurnya. “Bagaimana aku memanggilmu?”
“Namaku Pramudhita, terserah kau mau memanggilku dengan sebutan apa kecuali Nyai dan Dinda.” gurau Pramudhita diselingi tawa kecil.
“Kau ternyata suka bercanda? Apa dia selalu diluar, binatang besar itu?” tanya Sungsang Geni, menunjuk pada sosok Srigala Hitam.
__ADS_1
“Dia bernama Panglima Ireng, dia selalu diluar dan menjaga tembok jika saja ada musuh yang datang menyerang.” Jawab Pramaudhita, pria itu tampak sedang membuat sesuatu dengan air panas dan cawan besar.
Panglima Ireng adalah srigala terbesar yang berhasil dijinakkan oleh Resi Irpanusa 30 tahun yang lalu.
Salah satu spesies binatang besar yang hidup di wilayah ini, srigala itu bukan binatang biasa tapi juga bukan siluman. Dia memiliki kecerdasan lebih tinggi dari srigala liar yang sering Sungsang Geni temui di dunia luar.
Sebenarnya ada banyak hewan dan tumbuhan yang memiliki kondisi berbeda di wilayah ini, salah satunya ialah srigala hitam dan kunyir emas. Penyebabnya belum dapat dipastikan, tapi beberapa orang berpendapat, bahwa penyebabnya adalah tiga cristal suci.
Adanya 3 cristal suci ini bertujuan untuk menyegel kitab pedang bayangan yang tersimpan di goa berapi di kawah puncak semeru. Sampai sekarang tidak ada yang sanggup mengambil kitab pedang bayangan.
“Tiga cristal suci yang menyegel kitab pedang bayangan?” ucap Sungsang Geni, sedikit penasaran.
“Bagaimanapun itu hanya cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi.” Ucap Pramudhita menjawab rasa penasaran yang tergambar di wajah Sungsang Geni, “Sekarang minumlah! ini adalah ramuan yang diberikan Nyai Rumanik.”
“Pahit!” Ucap Sungsang Geni, hampir memuntahkan ramuan yang baru saja diberikan oleh Pramudhita.
“Hahaha! Tidak ada obat yang manis.” Timpal Pria kekar itu sambil terkekeh kecil, “tapi tunggulah beberapa saat lagi.”
“Seluruh tubuhku menjadi hangat. Aku merasakan tenaga dalamku sedikit demi sedikit menjadi pulih. Ramuan ini benar-benar hebat.” Ucap Sungsang Geni, terkagum dengan ramuan itu.
“Tentu saja, tempat ini menyediakan tanaman yang berguna bagi....”
“Hoi paman! ma'af memotong perkataanmu!” Sungsang Geni menunjuk pasukan putih terbang melayang di kejuhan mendekati mereka, “Apa mereka musuh yang kau sebutkan tadi?”
Pramudhita menyipitkan mata mencoba melihat ke arah telunjuk Sungsang Geni, tapi tak ada satupun benda yang dikatakan Sungsang Geni nampak di matanya. Namun tidak beberapa lama, Srigala Hitam, Panglima Ireng berdiri dengan tatapan tajam, lalu mengaum dengan keras.
“Celaka, itu benar-benar pasukan yang Besar!” Pramudhita kemudian membunyikan lonceng perunggu besar di atas atap rumahnya sebagai prigatan bahaya.
Ayo dong dukung author dengan kasih vote dan like tiap capternya. Makasih...
__ADS_1
Oh ya, ditempat author corona dah mulai masuk, mungkin ditempat teman teman juga, jadi jaga kesehatan dan jangan keliaran rumah. Semoga obatnya lekas ditemukan. Aamiin.