
“Pemuda itu, Sungsang Geni. Dia akan melakukan apapun demi mendapatkan kembali kejayaan untuk semua orang, jika kau mengatakan dia dari aliran hitam karena tindakannya yang sedikit kejam, itu tidak masalah. Dia tidak pernah memikirkan aliran apa saat ini, kau tahu kenapa?”
“Tidak, aku tidak tahu.” jawab Joko Sewu
“Karena kita dalam pertempuran, segala hal harus bisa menjadi senjata.” Empu Pelak kemudian menunjuk busur pusaka yang di bawa Joko Sewu. “Menurutmu apa kau bisa mengalahkan semua orang dengan pusaka itu? Tidak, semua kekuatan ada batasannya. Karena itulah, segala hal yang dilakukan pemuda itu, pada dasarnya untuk memaksimalkan kekuatan yang kita miliki.”
Joko Sewu belum paham dengan apa yang dikatakan kakek tua bungkuk itu. Namun demikian secara garis besar, dia bisa menentukan siapa Sungsang Geni sebenarnya. Pemuda yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kemerdekaan.
“Kalau begitu, kita tidak bisa membuang waktu, mari kita bantu mereka!” Joko Sewu kemudian melaju kudanya lebih dahulu, di iringi 20 pendekar pemanah termasuk Cawang Wulan. “Kita akan rebut apa yang mereka ambil, bagaimanapun caranya.”
Dari jarak sejauh ini, pria itu bisa melepaskan anak panahnya tepat pada bagian leher-leher musuhnya.
Salah satu anak panah meluncur 5 jengkal jaraknya dari wajah Sungsang Geni, dan menancap pada seorang pria yang berniat menyerang pemuda itu.
"Tidak buruk," Sungsang Geni tersenyum kecil.
Hanya dengan waktu kurang dari 3 jam, akhirnya mereka sudah berhasil menguasai desa kecil itu.
Ada hampir 80 orang mati di pihak musuh, tapi tidak ada satu orangpun yang tewas di pihak Bayangkara. Sekitar 25 orang dikumpulkan di tengah-tengah desa, dengan semua senjata dilucuti. Mereka hanya menggunakan celana yang dipotong pendek, dan diikat berbelakang-belakangan.
“Aku bisa membunuh mereka semua, jika kau mengizinkan!” Ratih Perindu meminta izin, dia yakin bisa melakukan itu dengan kapak besarnya yang dipenuhi dengan darah.
“Tidak, kita tidak bisa membunuh orang yang sudah membuang senjata, mengibarkan bendera putih dan mengangkat tangan.” Sungsang Geni duduk di atas kotak kayu kosong.
“Lalu apa yang harus kita lakukan dengan mereka semua?” Joko Sewu juga sedikit heran, kenapa Sungsang Geni tidak membunuh saja semua orang ini. Bukankah mereka juga musuh.
“Kita kan menjadikan mereka budak, jika mereka bisa berbuat baik dan menujukkan perubahan sikap, kita bisa membebaskannya.” Sungsang Geni sudah membaca satu kalimat di dalam buku strategi perang yang di berikan Saylendra. 'Setiap orang memiliki kesempatan kedua, kau harus bersikap bijaksana meski itu dengan musuh.'
__ADS_1
“Tapi kita tidak memiliki cukup makanan untuk diberikan pula kepada mereka.” Joko Sewu masih terlihat bingung.
“Konsepnya sama, kita akan membiarkan mereka menanam padi untuk kita.” Mahesa berjalan mendekati para tawanan itu sambil menekuk jari-jemarinya. “Sekarang aku tanya pada kalian, aku memiliki dua buah pilihan, tentukan dengan cepat. Menjadi budak atau mati?”
“Menjadi budak.” Kedua puluh orang itu serentak berkata, “Tidak masalah jika harus menjadi budak, asalkan kalian tetap membiarkan kami hidup.”
Sungsang Geni kemudian mengernyitkan kening, lalu menatap seorang pria sedikit kekar dan kepala plontos.
“Kau berniat kabur dari sini?” Sungsang Geni mengejutkan pria itu. “Berusaha mencari kesempatan, lalu melarikan diri?”
“T-t-tidak mungkin aku berani melakukan hal itu?” sanggahnya.
“Apa?” Mahesa menarik leher pria itu hingga dia terangkat dan kakinya menjuntai. “Pimpinan kami bisa mengetahui apa yang ada di kepalamu, apa kau ingin mati.”
“Aku mohon ampuni aku..,.. aku mengaku salah...”
Keesokan harinya, semua orang bisa melihat buah dari hasil pertarungan mereka. Lahan padi sudah rata dengan permukaan tanah, dari kuning menjadi debu yang berhamburan diterpa angin.
Puluhan bangunan terbengkalai, nyaris ambruk. Hanya ada satu bangunan lagi yang tersisa, Sungsang Geni tidak melakukan apapun dengan bangunan itu. Gudang beras.
Ketika dibuka mungkin ada sekitar 100 karung beras, mungkin juga lebih, tidak ada yang tahu pasti jumlahnya sebab begitu tingginya tumpukan beras itu.
“Bawa semua beras ini ke pemukiman warga.” Sungsang Geni memberi perintah kepada seluruh prajuritnya. “Setiap orang bawa satu karung beras di atas kuda kalian!”
“Bagaimana dengan kebun jagungnya?” Mahesa melihat kebun jagung yang masih muda terhampar luas. “Kita tidak mungkin pula memanen dan membawanya, bukan?”
“Biarkan kebun jagung itu, tapi aku ingin di sana dan di sana dipasangi ranjau.” Sungsang Geni menunjuk beberapa titik lokasi yang mungkin akan didatangi lawan. “Mereka pasti akan mengambil jagung-jagung ini, tanpa beras maka kebun inilah pilihan satu-satunya.”
__ADS_1
“Selagi belum panen, kita bisa mempelajari situasinya.” Empu Pelak memperhatikan gelempangan mayat yang dikubur oleh Ratih Perindu. “Sayang sekali, mereka harus dikuburkan sia-sia.”
Joko Sewu menaikkan alisnya, tidak mengerti maksud perkataan empu pelak. “Memangnya kenapa jika mereka dikuburkan?”
Empu Pelak ingin mengatakan untuk membuat mayat-mayat itu menjadi bubuk setan, tapi dia tidak ingin mengatakan hal itu. Joko Sewu tidak seperti orang yang berpikiran seperti semua orang di tempat ini.
Sungsang Geni menuju bangunan besar yang sudah setengah ambruk, ketika dia menepuk tiang rumah, terdengar retakan yang berderik.
Pemuda itu lalu masuk ke dalam, sangat hati-hati sekali. Dia berusaha mencari sesuatu yang bisa di manfaatkan, peta contohnya.
Rupanya memang cukup beruntung, pemuda itu menemukan catatan dan beberapa berkas penting. Salah satu catatan itu, mengenai jadwal mereka mengantarkan beras ke markas kecil yang jaraknya 2 hari perjalanan, tapi hanya satu hari jika menunggang kuda.
Ada lencana kelelawar yang dia dapatkan di laci meja, sebuah surat dengan legalitas, tidak ada yang terlalu istimewah. Tapi dengan lencana kelelawar itu, mungkin dia bisa menyusup ke dalam markas kecil.
Setelah dia keluar dari tempat itu, Mahesa menghampiri. “Apa kita akan tinggal di tempat ini?”
“Tentu saja tidak, kita akan pergi dari sini!” Sungsang Geni mengisyaratkan semua orang segera bersiap. “Kita tidak boleh berdiam diri dalam suatu tempat, kita harus bergerak terus.”
"Kami mengerti," ucap mereka serentak.
Pada akhirnya Bayangkara berhasil menguasai satu desa yang berada dalam kekuasaan markas kecil. Ini awalan yang cukup bagus, dan pelajaran pertama bagi siapapun yang belum pernah berperang.
Mereka kembali ke tempat persembunyian Joko Sewu, mereka bisa beristirahat sehari atau dua hari di sana.
Dari jadwal yang di temukan Sungsang Geni, harusnya 5 hari dari sekarang ada tugas mengantar beras menuju Markas Kecil. Itu kesempatan bagus untuk menyusup.
Beberapa orang terpaksa berjalan, kuda-kuda mereka harus membawa para warga yang mulai kelelahan. Pada suatu waktu, Sungsang Geni menghentikan laju Panglima Ireng, lalu memperhatikan pasukannya.
__ADS_1