PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Langit Di Ufuk Timur


__ADS_3

Suasana menjadi sedikit tegang karena kehadiran Wururia, setiap orang mengatakan akan membunuh pria itu dengan kejam. Hanya saja, Lakuning Banyu dan tiga orang penasehtanya yang masih terlihat tenang-tenang saja meski tidak bisa disembunyikan wajah ke empat orang itu sama-sama menahan marah.


“Hentikan!” ucap Lakuning Banyu, seketika semua orang berhenti memperebutkan kematian pria itu. “Ada banyak hal yang sebenarnya mengganjal pikiranku, tentu saja alasan kau membentuk Kelelawar Iblis tidak ingin aku ketahui, penghianatan dirimu adalah cerita lalu. Tapi sekarang, yang ingin aku ketahui adalah mengenai musuh kami, Kelelawar Iblis. Katakan semua yang kau ketahui?”


“Jika kalian mau mengampuni nyawaku, akan kuberikan semua informasi mengenai Kelelawar Iblis.”


“Apa hakmu menentukannya?” Mahesa menggeram, menahan amarah. Jikalah saat itu Wururia ditemukan olehnya, dan bukan Sungsang Geni jelaslah pria ini akan datang ke Surasena dengan kepala tanpa tubuh. Itu sudah pasti.


"Rakryan Rangga Mahesa...” ucap Darma Cokro mencoba menenangkan pria bertubuh keras itu. “Biarkan kita dengan keputusan dari yang mulia Lakuning Banyu.”


Mahesa jelas sangat kesal, tapi saat ini dia tidak bisa melakukan apapun kecuali kembali duduk di kursinya. Wajah pria itu menoleh ke arah Benggala Cokro, tampaknya pemuda itu juga sedang menahan amarah saat ini.


“Aku setuju...” ucap Lakuning Banyu. “Aku akan mengampuni nyawamu, tapi dengan imbalan kau berikan semua informasi yang kami perlukan.”


“Kalau begitu aku setuju.”


Prabu Wururia menjelaskan semua hal dengan sangat teliti dan panjang lebar, bahkan terkesan berbelit-belit membuat semua orang di tempat ini menahan rasa jengkel bukan kepalang. Kenapa tidak langsung intinya saja, pikir mereka.


Tapi lain hal dengan Lakuning Banyu, Sungsang Geni dan tiga sesepuh tua alias penasehat raja. Mereka mendengarkan semua hal dengan teliti, sampai semua orang bertanya apakah mereka tidak bosan mendengar suara serak Wururia?


“Jadi begitu...” Sungsang Geni tersenyum kecil, memotong kalimat yang keluar dari mulut Wururia. “5 Kerajaan tidak bisa menahan Topeng Beracun, kalian benar-benar di khianati. Sekarang bisa aku tebak dari tutur ceritamu, dua temanmu yang melarikan diri pasti sudah mati.”


“Aku juga sependapat dengan Mahapatih Sungsang Geni,” ucap Lakuning Banyu. “Beruntung sekali kau bertemu dengan Mahapatih, jika tidak aku yakin kau sudah berada di alam baka saat ini.”


Mahapatih? Sungsang Geni menutup rapat telinganya ketika mendengar kata itu. Tidak adakah orang ditempat ini yang bisa memanggil namanya saja?

__ADS_1


Entah harus bersikap apa Wururia saat ini? haruskah dia berterima kasih karena Sungsang Geni telah menyelamatkan hidupnya, ya meski harus mengalami beberapa pukulan tepat di wajahnya, membuat batang hidung mancung patah? Atau pula ini adalah bencana lain. Tidak, ini lebih baik dari pada tertangkap oleh Kelelawar Iblis pikir Prabu Wururia.


“Kami semua sepakat pergi dari sana, ketika melihat bagaimana sikap Topeng Beracun yang mulai tidak terkendali.”


“Tidak terkendali?” tanya Lakuning Banyu.


“Benar, dia semakin liar dan ayahnya, Wingkar tidak bisa mengatur dirinya lagi.”


“Sudah kuduga...” Sungsang Geni menggaruk kepalanya. “Tubuh Topeng Beracun adalah wadah, kegelapan berniat lahir ke dunia ini dengan memasuki tubuhnya.”


***


Di ruangan lain, setelah rapat itu selesai dengan keputusan tidak akan menghukum mati Wururia tapi sebagai gantinya dia akan berada di dalam sel tahanan untuk waktu yang belum ditentukan. Barangkali ada keuntungan tersendiri dengan membiarkan orang itu hidup.


“Hentikan Paman Guru...” Sungsang Geni mencegah Sabdo Jagat membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat. “Dimana tata-kramaku, jika membiarkan dirimu membungkuk memberi hormat.”


Sabdo Jagat terdiam dengan senyum kecilnya. Tidak berubah pikir pria itu. Sungsang Geni tetap seperti sebelumnya, pemuda dengan lakon sederhana dan menghormati semua orang orang yang memiliki usia lebih tua darinya.


“Bagaimana keadaan Cempaka Ayu?” tanya Sabdo Jagat, hal itu hendak dia utarakan di dalam rapat tadi, tapi tidak ada kesempatan untuk berbicara. Sungsang Geni jelas mengetahui maksud hati Sabdo Jagat, karena itu malam ini dia bertandang di ruangannya.


“Dia sangat baik paman, hanya saja...” Sungsang Geni menghela nafas berat, pandangannya sedikit sayu dengan wajah merasa bersalah. “Topeng Beracun berhasil mengambil setengah kekuatan Dewi Bulan.”


Mendengar hal itu Sabdo Jagat malah tersenyum senang, tidak masalah baginya Dewi Bulan sudah dikuasai oleh Topeng Beracun. tapi satu hal yang tidak diketahui pria itu, andaikata Dewi Bulan berhasil diserap seluruhnya, maka Cempaka Ayu jelas akan mati.


“Aku meninggalkan dirinya di suatu tempat, Cempaka Ayu akan baik-baik saja di sana. Panglima Ireng dan juga Wulandari bersama dirinya.”

__ADS_1


“Wulandari?” tanya Sabdo Jagat, menaikkan alisnya sebab tidak pernah mendengar ada gadis bernama Wulandari di Surasena.


“Ya, dia adalah gadis yang berhasil menyelamatkan nyawa Cempaka Ayu,” jawab Sungsang Geni.


Sabdo Jagat hendak menanyakan banyak hal mengenai gadis yang dikatakan berhasil menyelamatkan Cempaka Ayu, tapi niat itu diurungkannya. Baginya saat ini, mendengar bahwa Cempaka Ayu baik-baik saja adalah hal yang lebih dari cukup. Mengenai Wulandari, mungkinlah akan ditanyakan langsung dengan Cempaka Ayu.


“Topeng Beracun mulai bergerak mungkin saja...” ucap Sabdo Jagat memandang ke ufuk timur, dimana langit dari arah sana beberapa hari terakhir selalu berawan gelap, seolah matahari enggan menyinari tempat itu.


“Ya...aku yakin dia mulai bergerak maju.” Sungsang Geni memperhatikan kilatan-kilatan ungu dari awan hitam di ufuk timur. “Kita mungkin akan menghadapi perang yang paling besar sepanjang sejarah peradaban di tanah Java. Tidak ada pilihan lain, tentu saja kita tidak akan mundur.”


Sabdo Jagat mengangguk pelan, dia menggenggam tongkat penghancur gunung dengan tangan bergetar. Ada kemelut di benak pria itu, dia berpikir belum sepenuhnya menguasai tongkat penghancur gunung, karena tenaga dalamnya yang tidak cukup besar. Ini adalah hal biasa bagi para pendekar, tenaga dalam yang tidak sebanding dengan pusaka yang dimilikinya membuat senjata itu tidak bekerja secara maksimal.


“Paman Guru, maukah kau aku ajari bagaimana caranya menghimpun energi alam?”


Sabdo Jagat tersentak tidak mengerti, jelas dia tidak pernah tahu menahu mengenai energi lain selain tenaga dalam. Energi alam adalah hal yang tidak ada di dalam Padepokan Lembah Ular.


“Aku tidak mengerti maksudmu, Geni,” ucap Sabdo Jagat sedikit heran. “Apakah gerangan yang dimaksud dengan energi alam.”


Sungsang Geni tersenyum kecil, jelas sadar bahwa mungkin selain dirinya tidak ada manusia yang tahu mengenai cara menghimpun tenaga alam yang luar biasa besar itu.


“Energi alam adalah energi yang ada disekitar kita, kita bisa meminjam kekuatan itu sehingga bisa digunakan untuk tujuan yang lebih baik.”


Sabdo Jagat terdiam sesaat. “Aku tidak yakin bisa mempelajarinya, karena aku bukan orang berbakat seperti dirimu.”


“Kita akan belajar bertahap, jika paman berhasil maka mungkin tongkat penghancur gunung bisa digunakan dengan sebaik mungkin.” Sungsang Geni mengeluarkan aura yang begitu tenang dari telapak kirinya, sebuah energi keluar dari sana berwarna hijau bening. Bergerak halus seperti asap tapi memiliki kepadatan yang luar biasa. “Aku yakin Paman Guru bisa menguasainya.”

__ADS_1


__ADS_2