
Sungsang Geni melihat
sebuah kapal baru saja meninggalkan pelabuhan. Kapal besar itu, mengangkut
ratusan penumpang, termasuk Dewangga dan yang lainnya.
Beberapa kargo barang
tersusun, serta beberapa ekor hewan ternak yang berbaris rapi di bawah dek
utama kapal. Sungsang Geni berdecak kagum melihat bahtera sebesar itu.
Layar yang terbentang
bahkan lebih lebar dari atap sebuah rumah. Terdapat 3 layar utama dengan tiang yang
sebesar roda kereta kuda.
Dibagian depan kapal,
sebuah patung singa menjadi aksesoris mencolok kapal itu. Membuat dia terlihat
lebih mewah dan gagah.
Sungsang Geni sempat
melihat, Dewangga melambaikan tangan, memanggil nama dirinya. disebalah
pangeran itu, nampak Mahesa tersenyum lega melihat wajahnya.
Orang-orang yang
mendengar teriakan Dewangga, sererentak
menoleh pada sosok Sungsang Geni yang sekarang melayang beberapa centi dari air
sungai.
Dari ujung kaki
Sungsang Geni, memancar tenaga dalam yang membuat air beriak pelan. Seperti riak
seekor ular yang mengendapi mangsanya.
“Darimana saja kau?
Kami sudah lama menunggu?” tanya Dewangga, Sungsang Geni masih dapat melihat raut khawatir dari wajah Pangeran itu.
“Ma’afkan saya
Dewangga, tapi ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan.” Ucap Sungsang
Geni.
“Geni, bagaimana
keadaan temanmu?” Mahesa berbisik ditelinga Sungsang Geni, ketika Dewangga
sudah tidak berada didekat mereka.
“Keadaannya sekarang
telah membaik, mungkin beberapa hari lagi dia akan pulih sepenuhnya.”
“Sukurlah kalau
demikian.” Mahesa mengelus dagunya, lalu mengangguk kepala beberapa kali.
Kapal akhirnya berjalan
seperti seharusnya, melaju dengan angin yang meniup kain layar kearah Surasena.
Memecah sungai, menciptakan buih permata yang laksana ekor berwarna putih.
Berkilauan.
Angin bertiup sepoi,
menerpa wajah dan rambut para penumpang kapal.
Setelah cukup lama, orang-orang
disana mulai terbiasa dengan kehadiran Sungsang Geni, yang sempat menarik
perhatian mereka, namun masih ada beberapa yang terdengar membicarakan pemuda
matahari itu.
“Bu, paman itu hebat,
aku ingin seperti dia!” salah seorang anak kecil yang duduk didepan Sungsang
Geni, sedari tadi selalu saja menghadap kebelakang menatap Sungsang Geni.
“Husttt, jangan
menyinggung seorang pendekar, nanti kita dapat masalah.” Ibunya berusaha
menghadapkan wajah anaknya kedepan, tapi gadis kecil itu tetap menatap Sungsang
__ADS_1
Geni dengan gembira.
Setelah berjalan setengah
jam tiba-tiba kapal berhenti melaju, dan hanya mengambang ditengah sungai yang
luas.
Awalanya penumpang
tidak terlalu menghiraukannya, hal ini sudah biasa terjadi bagi kapal yang
berlayar, namun kali ini kapal berhenti sangat lama, hampir 1 jam lamanya.
Bukan hanya itu,
suasana di kapal terasa sangat pengap, biasanya angin berhebus sepoi namun kali
ini angin sepertinya tidak bersahabat.
“Bagai mana ini? Kami
sudah membayar mahal agar tiba tepat waktu, kenapa kapalnya jadi berhenti
ditengah sungai?” Seorang pedagang kaya mendatangi petugas kapal, dia mulai
memaki dan berkata kasar.
“Tuan dan puan, sungguh
kami minta maaf, tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba tidak ada angin yang
berhembus, sehingga kain layar tidak berpungsi.” Seorang pria gendut dengan
kumis panjang berbicara di depan para penumpang. Dia adalah pemilik kapal, mengumumkan situasi yang terjadi.
“Alah, mungkin kapal
anda saja yang sudah tua?” pedagang yang terlihat kaya lainnya, mulai berdiri.
Situasi mulai ricuh di atas
kapal, petugas kapal yang berusaha menenangkan nampaknya tidak dipedulikan oleh
para penumpang.
Bukan hanya manusia,
nampaknya para binatang ternak mulai tidak tenang. Bahkan beberapa keledai
meringkih ketakutan.
“Apa yang terjadi
“Suasana terasa pengap, dan sekarang mereka semua malah bertengkar.”
Beberapa saat kemudian
akhirnya kapal berjalan dengan tiba-tiba, membuat para penumpang yang berdiri
terpaksa terhempas di lantai kapal.
Setelah berjalan cukup
jauh, kali ini tiba-tiba kapal berjalan mundur dan kembali di posisi kepal
berhenti sebelumnya.
“Apa kalian
mempermainkan KAMI?” Seorang pedagang berteriak, namun sebelum sempat petugas
menjawab, kapal telah berputar di tempat, seperti ditengah pusaran air.
Suasana mejadi tegang,
gadis kecil yang memandang Sungsang Geni nyaris saja terlempar keluar jika
bukan ditangkap Sungsang Geni.
“Tidak mungkin angin
melakukan ini?” ucap Sungsang Geni, dia kemudian buru-buru keluar ruangan
kapal, melihat situasi yang terjadi. “Ternyata ada seseorang yang dapat
mengendalikan angin diatas sana!”
“Hahaha, kalian seperti
seekor lalat disarang laba-laba.” Seorang wanita berpakaian putih yang umurnya
mungkin sekitar 40 tahunan memainkan jari-jemarinya, membuat angin disekitar semakin berbentuk pusaran, “betapa lucunya pemandangan ini.”
“Kau, siapa kau yang
berani menghadang jalan tuan kami?” 5 orang pendekar keluar dari ruangan kapal,
ditangan mereka nampak membawa panah dan pedang. “Turun kau dari sana, hadapi
__ADS_1
kami.”
“Habisi orang itu
secepatnya, aku tidak ingin barang daganganku menjadi rusak karena wanita
sinting itu?” seorang pedagang berkata dibelakang lima pendekar, dia adalah
pedagang yang paling kaya yang menaiki kapal itu. “Aku akan memberi 1000 keping
emas bagi siapapun yang bisa menjatuhkan wanita itu!”
“Ilmu hanya secuil,
berani menantang ku.” Wanita itu lantas tertawa, dia kembali menggerakan
jarinya dan kapal mulai ter-ombang ambing.
Sungsang Geni
memperkirakan 5 pendekar itu levelnya hanya pendekar kelas tanding, sedangkan
wanita diatas sana levelnya pendekar pilih tanding.
Meskipun mereka berlima
adalah pendekar kelas tanding, Sungsang Geni tidak yakin mereka dapat
mengalahkan wanita itu meski harus
mengeroyoknya.
Bukan hanya tenaga
dalam, wanita itu juga lebih diuntungkan dengan medan pertempuran yang sesuai
dengan cara bertarungnya.
“Sial, jika
saja berada didataran, aku pasti akan menghajanya.” Mahesa mulai terlihat
kesal, kapal ini hampir saja membuat dia mengeluarkan isi perutnya karena
pusing, “Aku harus belajar meringankan tubuh berat ini.”
Disisi lain, Gadhing,
Durada dan kedua temannya mulai terpental dari tempat duduk, sedangkan
Dewangga, masih menatap wanita itu dengan tajam.
Pangeran itu terlihat
kesal, seakan menyesali rendahnya kemampuan yang dimiliknya saat ini.
Sungsang Geni yakin apa
yang dipikirkan Dewangga sama persis dengan yang dipikirkan Mahesa.
“Jika dia tidak turun,
gunakan panah?” kemudian kelima pendekar mulai mengeluarkan panah, namun tidak
ada satupun anak panah yang mengenai wanita itu, angin yang berhembus membuat
anak panah meleset jauh.
“Apa kalian itu
pendekar, atau hanya penjaga keledai. Kalian tidak tahu caranya menyerang?”
wanita itu berkata sombong, “Beginilah caranya pendekar menyerang!”
Dia mengangkat
tangannya, dengan kelima jari yang terbuka. Dari atas tangannya, gumpalan
energi berwarna putih berkumpul membentuk belasan anak panah yang tajam.
Dia mengarahkan
tangannya kearah kapal, lalu belasan anak panah yang terbuat dari angin
menyerang kelima pendekar itu.
Dengan kecepatan yang
sulit diikuti mata, anak panah itu melesat pada tubuh kelima pendekar.
“Hujan panah anginku
lebih baik dari panah kalian!” Wanita itu tertawa kegirangan, melihat lima
orang lawannya tewas seketika, dengan belasan luka yang mereka terima.
diberitahukan kepada teman pembaca, untuk capter besok libur.
__ADS_1
dikarenakan ada urusan yang mendesak, dan tidak bisa ditinggalkan.
sekali lagi, moon maaf atas ketidaknyamannnya.