PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Bahtera besar


__ADS_3

Sungsang Geni melihat


sebuah kapal baru saja meninggalkan pelabuhan. Kapal besar itu, mengangkut


ratusan penumpang, termasuk Dewangga dan yang lainnya.


Beberapa kargo barang


tersusun, serta beberapa ekor hewan ternak yang berbaris rapi di bawah dek


utama kapal. Sungsang Geni berdecak kagum melihat bahtera sebesar itu.


Layar yang terbentang


bahkan lebih lebar dari atap sebuah rumah. Terdapat 3 layar utama dengan tiang yang


sebesar roda kereta kuda.


Dibagian depan kapal,


sebuah patung singa menjadi aksesoris mencolok kapal itu. Membuat dia terlihat


lebih mewah dan gagah.


Sungsang Geni sempat


melihat, Dewangga melambaikan tangan, memanggil nama dirinya. disebalah


pangeran itu, nampak Mahesa tersenyum lega melihat wajahnya.


Orang-orang yang


mendengar  teriakan Dewangga, sererentak


menoleh pada sosok Sungsang Geni yang sekarang melayang beberapa centi dari air


sungai.


Dari ujung kaki


Sungsang Geni, memancar tenaga dalam yang membuat air beriak pelan. Seperti riak


seekor ular yang mengendapi mangsanya.


“Darimana saja kau?


Kami sudah lama menunggu?” tanya Dewangga, Sungsang Geni masih dapat melihat  raut khawatir dari wajah Pangeran itu.


“Ma’afkan saya


Dewangga, tapi ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan.” Ucap Sungsang


Geni.


“Geni, bagaimana


keadaan temanmu?” Mahesa berbisik ditelinga Sungsang Geni, ketika Dewangga


sudah tidak berada didekat mereka.


“Keadaannya sekarang


telah membaik, mungkin beberapa hari lagi dia akan pulih sepenuhnya.”


“Sukurlah kalau


demikian.” Mahesa mengelus dagunya, lalu mengangguk kepala beberapa kali.


Kapal akhirnya berjalan


seperti seharusnya, melaju dengan angin yang meniup kain layar kearah Surasena.


Memecah sungai, menciptakan buih permata yang laksana ekor berwarna putih.


Berkilauan.


Angin bertiup sepoi,


menerpa wajah dan rambut para penumpang kapal.


Setelah cukup lama, orang-orang


disana mulai terbiasa dengan kehadiran Sungsang Geni, yang sempat menarik


perhatian mereka, namun masih ada beberapa yang terdengar membicarakan pemuda


matahari itu.


“Bu, paman itu hebat,


aku ingin seperti dia!” salah seorang anak kecil yang duduk didepan Sungsang


Geni, sedari tadi selalu saja menghadap kebelakang menatap Sungsang Geni.


“Husttt, jangan


menyinggung seorang pendekar, nanti kita dapat masalah.” Ibunya berusaha


menghadapkan wajah anaknya kedepan, tapi gadis kecil itu tetap menatap Sungsang

__ADS_1


Geni dengan gembira.


Setelah berjalan setengah


jam tiba-tiba kapal berhenti melaju, dan hanya mengambang ditengah sungai yang


luas.


Awalanya penumpang


tidak terlalu menghiraukannya, hal ini sudah biasa terjadi bagi kapal yang


berlayar, namun kali ini kapal berhenti sangat lama, hampir 1 jam lamanya.


Bukan hanya itu,


suasana di kapal terasa sangat pengap, biasanya angin berhebus sepoi namun kali


ini angin sepertinya tidak bersahabat.


“Bagai mana ini? Kami


sudah membayar mahal agar tiba tepat waktu, kenapa kapalnya jadi berhenti


ditengah sungai?” Seorang pedagang kaya mendatangi petugas kapal, dia mulai


memaki dan berkata kasar.


“Tuan dan puan, sungguh


kami minta maaf, tapi entah apa yang terjadi, tiba-tiba tidak ada angin yang


berhembus, sehingga kain layar tidak berpungsi.” Seorang pria gendut dengan


kumis panjang berbicara di depan para penumpang. Dia adalah pemilik kapal,  mengumumkan situasi yang terjadi.


“Alah, mungkin kapal


anda saja yang sudah tua?” pedagang yang terlihat kaya lainnya, mulai berdiri.


Situasi mulai ricuh di atas


kapal, petugas kapal yang berusaha menenangkan nampaknya tidak dipedulikan oleh


para penumpang.


Bukan hanya manusia,


nampaknya para binatang ternak mulai tidak tenang. Bahkan beberapa keledai


meringkih ketakutan.


“Apa yang terjadi


“Suasana terasa pengap, dan sekarang mereka semua malah bertengkar.”


Beberapa saat kemudian


akhirnya kapal berjalan dengan tiba-tiba, membuat para penumpang yang berdiri


terpaksa terhempas di lantai kapal.


Setelah berjalan cukup


jauh, kali ini tiba-tiba kapal berjalan mundur dan kembali di posisi kepal


berhenti sebelumnya.


“Apa kalian


mempermainkan KAMI?” Seorang pedagang berteriak, namun sebelum sempat petugas


menjawab, kapal telah berputar di tempat, seperti ditengah pusaran air.


Suasana mejadi tegang,


gadis kecil yang memandang Sungsang Geni nyaris saja terlempar keluar jika


bukan ditangkap Sungsang Geni.


“Tidak mungkin angin


melakukan ini?” ucap Sungsang Geni, dia kemudian buru-buru keluar ruangan


kapal, melihat situasi yang terjadi. “Ternyata ada seseorang yang dapat


mengendalikan angin diatas sana!”


“Hahaha, kalian seperti


seekor lalat disarang laba-laba.” Seorang wanita berpakaian putih yang umurnya


mungkin sekitar 40 tahunan memainkan jari-jemarinya,  membuat angin  disekitar semakin berbentuk pusaran, “betapa lucunya pemandangan ini.”


“Kau, siapa kau yang


berani menghadang jalan tuan kami?” 5 orang pendekar keluar dari ruangan kapal,


ditangan mereka nampak membawa panah dan pedang. “Turun kau dari sana, hadapi

__ADS_1


kami.”


“Habisi orang itu


secepatnya, aku tidak ingin barang daganganku menjadi rusak karena wanita


sinting itu?” seorang pedagang berkata dibelakang lima pendekar, dia adalah


pedagang yang paling kaya yang menaiki kapal itu. “Aku akan memberi 1000 keping


emas bagi siapapun yang bisa menjatuhkan wanita itu!”


“Ilmu hanya secuil,


berani menantang ku.” Wanita itu lantas tertawa, dia kembali menggerakan


jarinya dan kapal mulai ter-ombang ambing.


Sungsang Geni


memperkirakan 5 pendekar itu levelnya hanya pendekar kelas tanding, sedangkan


wanita diatas sana levelnya pendekar pilih tanding.


Meskipun mereka berlima


adalah pendekar kelas tanding, Sungsang Geni tidak yakin mereka dapat


mengalahkan  wanita itu meski harus


mengeroyoknya.


Bukan hanya tenaga


dalam, wanita itu juga lebih diuntungkan dengan medan pertempuran yang sesuai


dengan cara bertarungnya.


“Sial,  jika


saja berada didataran, aku pasti akan menghajanya.” Mahesa mulai terlihat


kesal, kapal ini hampir saja membuat dia mengeluarkan isi perutnya karena


pusing, “Aku harus belajar meringankan tubuh berat ini.”


Disisi lain, Gadhing,


Durada dan kedua temannya mulai terpental dari tempat duduk, sedangkan


Dewangga, masih menatap wanita itu dengan tajam.


Pangeran itu terlihat


kesal, seakan menyesali rendahnya kemampuan yang dimiliknya saat ini.


Sungsang Geni yakin apa


yang dipikirkan Dewangga sama persis dengan yang dipikirkan Mahesa.


“Jika dia tidak turun,


gunakan panah?” kemudian kelima pendekar mulai mengeluarkan panah, namun tidak


ada satupun anak panah yang mengenai wanita itu, angin yang berhembus membuat


anak panah meleset jauh.


“Apa kalian itu


pendekar, atau hanya penjaga keledai. Kalian tidak tahu caranya menyerang?”


wanita itu berkata sombong, “Beginilah caranya pendekar menyerang!”


Dia mengangkat


tangannya, dengan kelima jari yang terbuka. Dari atas tangannya, gumpalan


energi berwarna putih berkumpul membentuk belasan anak panah yang tajam.


Dia mengarahkan


tangannya kearah kapal, lalu belasan anak panah yang terbuat dari angin


menyerang kelima pendekar itu.


Dengan kecepatan yang


sulit diikuti mata, anak panah itu melesat pada tubuh kelima pendekar.


“Hujan panah anginku


lebih baik dari panah kalian!” Wanita itu tertawa kegirangan, melihat lima


orang lawannya tewas seketika, dengan belasan luka yang mereka terima.


 


diberitahukan kepada teman pembaca, untuk capter besok libur.

__ADS_1


dikarenakan ada urusan yang mendesak, dan tidak bisa ditinggalkan.


sekali lagi, moon maaf atas ketidaknyamannnya.


__ADS_2