PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Energi Alam


__ADS_3

Mahluk kerdil itu masih berkata panjang lebar, tapi satu katapun tidak ada yang dimengerti oleh Sungsang Geni. Mendapati lawan bicaranya tidak memberikan respon, mahluk itu menendang sekali lagi kerangkeng penjara pemuda itu.


Tendangan kali ini sedikit lebih sopan, mungkin. Kerangkeng tidak terlempar lebih jauh, hanya bergerak dua hingga tiga meter saja.


Sementara itu, Wulandari menjadi panik luar biasa. Dia bisa melihat dari tempatnya sekarang, Sungsang Geni mungkin akan mendapatkan penyiksaan seperti yang mereka berdua alami.


Dua jam yang lalu, mahluk itu juga menghampirinya mengatakan beberapa kalimat yang sama sekali tidak dimengerti. Mendapati Wulandari tidak mengetahui ucapannya, mahluk itu mendaratkan pukulan beberapa kali dengan berteriak-teriak keras.


“Sebaba....sebaba....” Pemimpin suku itu berkata sekali lagi.


Sungsang Geni berpikir sejenak, jika dia tidak menjawab perkataan mahluk itu maka bukan hal mustahil dia akan dilempar ke lautan yang terpampang luas di depan matanya.


“Se...baba.” Sungsang Geni mengeja kalimatnya, beberapa saat kemudian pemuda itu menunggu hal apa yang akan terjadi, mungkinkah mereka akan memukulnya kembali? Tidak, semua mahluk itu terdiam secara bersamaan.


Pemimpin mahluk kerdil itu lantas kembali mendekati Sungsang Geni, dia mengatakan hal sama kemudian dibalas dengan kalimat sama pula oleh pemuda itu.


Dia tersenyum! Wulandari nyaris tersedak napasnya sendiri, mendapati puluhan mahluk itu tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang telah dilakukan pemuda itu? Wulandari berpikir mungkin jika saja dia melakukan hal seperti yang pemuda itu lakukan, nasipnya tidak seburuk saat ini.


Tidak beberapa lama, Kerangkeng Sungsang Geni dibawa lagi ke tempat asalnya. Sebuah goa kecil yang hanya menampung 4 kerangkeng, tapi hanya dua yang berisi. Kali ini sifat mereka sedikit lebih lunak dari sebelumnya.


“Geni? Apa yang kau katakan kepada mereka?” Wulandari memasang wajah curiga. “Kau bisa mengerti apa yang mereka katakan? Kenapa kau tidak bilang sejak awal?”


“Bagaimana caranya aku mengerti perkataan mereka?” Sungsang Geni menggaruk kepalanya yang terasa sakit. “Aku hanya menuruti semua kalimat yang mereka katakan, dan terlihat berhasil. Saat ini, setidaknya kita akan baik-baik saja selama beberapa waktu kedapan.”

__ADS_1


“Ya, sebelum mereka memutuskan akan memakan kita atau tidak!” Wulandari merasa sedih.


“Tidak masalah, aku akan menyerap energi alam saat ini juga.” Sungsang Geni segera duduk bersila. “Mungkin butuh beberapa jam, tapi jika aku bisa mengumpulkan sekitar 1 jule energi alam, kita akan keluar dari tempat ini.”


Wulandari setuju.


Sungsang Geni mulai lagi dengan ritual penyerapan energi alam, rupanya benar yang dikatakan Wulandari tempat ini menyimpan energi dalam jumlah besar. Mungkin karena letaknya tepat di tengah laut, dengan gunung berapi besar ada di belakang mereka.


Satu jam pemuda itu melakukan hal demikian, sekali lagi tubuhnya mengeluarkan cahaya kehijauan. Tubuhnya mulai terangkat beberapa jengkal dari tanah, menarik perhatian semua mahluk di tempat itu.


Resapan energi mengalir begitu cepat. Dalam keadaan lemah seperti ini, rupanya energi alam lebih cepat terserap ke dalam tubuh. Secara tidak sadar Sungsang Geni merasakan, energi alam itu menutupi semua kekuatan yang hilang dari dalam tubuhnya.


Beberapa bagian tubuh terasa panas, energi alam menyesuaikan diri atau mungkin sedang mengobati tubuh pemuda itu.


Pada kasus Sungsang Geni tenaga dalamnya tidak bisa difungsikan jadi yang akan mengisi kekosongan itu adalah energi alam. Bagi orang biasa, kekosongan energi didalam tubuhnya akan di isi oleh energi dari alam lain, bisa jadi itu adalah bangsa lelembut. Sehingga dia menjadi kerasukan setan.


Satu jam melakukan hal itu, beberapa lebam di tubuh pemuda itu mulai menghilang. Kali ini dia melayang lebih tinggi lagi dari dua atau tiga jengkal.


10 orang mahluk kerdil segera mendatangi kerangkeng pemuda itu, kemudian menanyakan beberapa pertanyaan. Dia menjadi geram kembali, Sungsang Geni tidak menjawab pertanyaan mereka.


Jadi salah satu yang paling kekar diantara mereka kembali mendaratkan tendangan keras. Wulandari begiut terkejut, karena kali ini kerangkeng Sungsang Geni tidak bergeming dari tempatnya.


“AHHHKKK!” Mahluk kerdil itu malah berteriak kesakitan, kakinya tampak patah seperti baru saja menendang bongkahan batu karang. “Sebaba...sebaba....” Dia memaki-maki.

__ADS_1


9 orang temannya berniat membantu mahluk itu, dengan menyentuh tulang keringnya yang terkulai tapi bukan mendapatkan sambutan baik, 9 orang itu mendapatkan tamparan keras di wajahnya.


Kesal bukan main terlihat di raut-raut wajah mereka, 9 orang mahluk itu lantas melakukan hal yang sama -menendang kerangkeng Sungsang Geni. Semuanya berteriak kesakitan, kerangkeng itu tidak kunjung bergerak.


Bahkan saat ini, pedar cahaya yang mengelilingi pemuda itu lebih terang dari sebelumnya. Semua orang bisa melihat, aliran energi seperti aliran air berputar di tubuh Sungsang Geni, seperti pusaran air.


Pemimpin dari mahluk itu segera bergegas mendatangi Sungsang Geni. Dia tampak berpikir lama, kemudian raut panik terlihat jelas di wajahnya. Mahluk itu berteriak, melompat lompat membuat getaran kecil di permukaan tanah.


“Sebaba....sebaba....” Dia berteriak.


Wulandari tidak mengerti apa yang akan terjadi, hingga akhirnya 2 orang mahluk itu membawa kerangkeng tahanannya. Kerangkeng itu dilemparkan ke tengah pelataran, dimana ada batu hitam yang dipenuhi dengan darah. Darah itu terlihat mengering.


“Tidak, apa yang akan kalian lakukan?” Gadis itu menjadi panik. “Hentikan, hentikan hal ini...”


Dua orang itu tidak peduli , dia masih membawa Wulandari dan Panglima Ireng. Salah satu dari mereka membuka pintu kerangkeng tahanan, pada saat yang sama tangan tangan kerdil yang kuat menarik tubuh gadis itu dengan paksa, membuat koyakan di lengan bajunya.


'Mereka akan membunuhku...' Wulandarai secara sadar mengetahui nyawanya tidak akan selamat, sebab salah satu dari mereka mulai menyodorkan kepalanya pada batu yang permukaannya cekung.


Dari posisi seperti itu, Wulandari bisa mencium amisnya bau darah dan melihat beberapa tulang tengkorak yang pecah di sisi berbeda batu itu. Panglima Ireng berniat membantu gadis itu tapi pintu kerangkeng segera ditutup.


Wulandari menoleh sesaat ke arah Sungsang Geni, sinar hijau di tubuhnya semakin terang saja. Ada lebih dari 20 orang juga mengelilingi pemuda itu, berusaha membuka kerangkeng tahan tapi sejauh ini tidak ada yang bisa.


'Setidaknya aku bisa bertemu dengan orang yang benar-benar aku sukai.' Gumam Wulandari, dia tersenyum pahit, pada saat seperti ini terlintas ingatan masa lalunya yang dipenuhi dengan penderitaan. 'Jika ku ingat lagi, tidak ada yang benar-benar aku miliki di dunia ini. Geni... jika kelak kita dilahirkan kembali, aku harap kita akan hidup bersama dan mati bersama sebagai pasangan yang serasi.'

__ADS_1


__ADS_2