PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Takdir Hidup


__ADS_3

Terang benderang pikiran Pendekar Pemabuk setelah tiga benda kegelapan itu hilang dari kepalanya. Sekarang pikirannya terasa lebih jernih, kepalanya terasa lebih ringan dari sebelumnya.


Seperti yang di ketahui, susuk Magandana tidak akan bisa di cabut kecuali penggunanya akan mengalami kematian. Tapi Sungsang Geni bisa melakukan hal itu, mungkin saja karena energi alam yang bercampur dengan berkah matahari, atau pula karena nasip baik Pendekar Pemabuk untuk menebus dosa-dosannya.


Lidah Pendekar Pemabuk teras kelu untuk beberapa saat, dia hendak mengatakan rasa syukur dan terima kasih tapi suaranya terasa terhenti di kerongkongan. Hanya air mata yang menjawab perkataan Pemuda Matahari itu.


“Terima kasih...terima kasih...” Jambon Barat sujud tiga kali di telapak kaki Sungsang Geni, lalu buru-buru mengangkat tubuh Pendekar Pemabuk.


“Kau harus merawat gurumu dengan baik, lukanya perlu diobati!” ucap Pemuda Matahari.


“Kami akan mengingat kebaikan ini, suatu saat nanti jika takdir menemukan kita kembali aku akan membalas budi baikmu.” Lanjut Jambon Barat.


Beberapa saat kemudian, lesung batu sepanjang satu depa setengah melayang mendekati Pendekar Pemabuk. Sungsang Geni tidak mengerti kenapa benda itu masih utuh, mungkin saja memiliki ruh dan bersembunyi di suatu tempat.


Dengan hati-hati Pendekar Pemabuk beserta muridnya menaiki lesung batu, lalu melayang tinggi dan pergi ke arah barat. Sungsang Geni berpikir sejenak di dalam cekungan tanah yang mirip telaga kering.


'Semoga tindakanku tidak salah.' membatin pemuda itu.


***


Sungsang Geni memperhatikan keadaan di sekitar Markas, tidak ada apapun selain tembok beton yang setengah hancur. Bangunan Markas sudah hilang.


Dia menyapukan pandangan memperhatikan ribuan orang berdiri di balik-balik pohon besar di pinggir hutan.


Para prajurit itu berwajah masam dan diliputi dengan ketakutan. Sungsang Geni tidak berniat mengejar mereka semua, sebab saat ini tiba-tiba tubuhnya jatuh di permukaan tanah. Tangannya bergetar dan sendi-sendi serasa mau lepas.


“Tubuhku sudah berada pada batasnya.” Sungsang Geni mencengkram pahanya, berjalan menuju timur tepatnya ke arah Markas Sekutu.


Semua energi alam seketika lenyap dari tubuhnya, kecuali tersisa sedikit energi panas di lengan kanan.


Nampaknya tubuh Sungsang Geni belum bisa menampung kekuatan sebesar itu, jadi efek sampingnya adalah kesakitan di sekujur tubuhnya. Bersyukur pemuda itu tidak jatuh pingsan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Wulandari meluncur dari atas tembok kayu sebelah timur, dimana bagian itu masih terlihat kokoh tanpa terkena efek pertarungan. Gadis itu memburu pemuda matahari itu, memeluknya dengan erat.


“Aku sangat mengkhawatirkan dirimu...” Gadis itu berkata berat.


“Aku baik-baik saja...” Sungsang Geni menjawab perkataan gadis itu.


Saraswati datang beberapa saat kemudian, wanita itu langsung menudukan kepalanya untuk memberi hormat. “ Terima kasih tuan pendekar telah menyelamatkan aku. Jika bukan karena kebaikan dirimu, aku mungkin sudah terperangkap dan mati mengenaskan.”


Barulah Wulandari melepaskan pelukannya, sementara Sungsang Geni terbatuk kecil. “Tidak usah dipikirkan, sudah sewajarnya manusia saling menolong.”


Saraswati hendak menanyakan banyak hal kepada Sungsang Geni karena sejujurnya dia mulai menaruh rasa terhadap pemuda matahari itu. Tapi menyadari posisinya sebagai guru sekaligus Penjaga Wulandari, wanita itu menyimpan rapat-rapat perasaannya.


'Apa yang ku pikirkan, umurku sudah tua mana pula menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang lebih muda.' Batin Saraswati berkat kecil. 'Aku hanya terbawa suasana.'


Pada akhirnya Sungsang Geni meninggalkan Markas Utama dengan menunggangi kuda bersama Wulandari dan Saraswati.


Berita ini akan cepat tersebar luas di tanah java. Seorang pemuda asing mengalahkan Komandan ke lima Kelelawar Iblis. Bukan hal mustahil Sungsang Geni akan menjadi boronan bagi Pemerintahan baru Kelelawar Iblis.


***


Di Markas Petarangan, Mahesa mengatur beberapa orang untuk meningkatkan penjagaan. Meski kedatangan Benggala Cokro menjadi bantuan kuat bagi mereka, tapi tidak menutup kemungkinan akan kalah mendapati gempuran Kelelawar Iblis.


Pria itu sudah menempatkan hampir 100 buah kereta iblis di atas tembok. Dia juga menempatkan beberapa puluh orang di bukit-bukit kecil, mendirikan post-post jaga di sekeliling markas Petarangan.


Bukan hanya itu, pria itu meminta puluhan prajurit mendirikan menara pengintai yang dua kali lebih tinggi dari menara pengintai sebelumnya.


Letaknya tepat di tengah markas, terbuat dari balok kayu yang tersusun rapi dan kokoh. Menara itu cukup besar. Di atas menara pengintai berdiri sosok wanita muda dengan senjata berupa panah, Cawang Wulan.


Gadis itu pemilik mata paling tajam di Markas Petarangan saat ini, meski tidak setajam Sungsang Geni dan Jaka Sewu. Namun pandangan matanya masih bisa mengenali manusia dengan jelas pada radius 500 meter.


“Bagaimana situasinya!” Berteriak Mahesa dari bawah.

__ADS_1


“Tidak ada tanda-tanda musuh mendekat!” Pekik Cawang Wulan.


“Baguslah...” Mahesa bergumam kecil. “Tempat ini cukup tenang untuk beberapa hari terakhir, apa mungkin informasinya belum sampai ke telinga musuh.”


“Bisa jadi belum sampai, tapi bukankah itu adalah hal yang baik?” Benggala Cokro tiba-tiba menyahut dari belakang.


Sudah dua hari pemuda itu kembali dengan tangan kosong, tidak menemukan jejak Sungsang Geni. apa lagi membawanya pulang.


“Aku sudah menyelusuri sepanjang hutan di sisi utara, tapi tidak menemukan tanda-tanda markas musuh berdiri kecuali beberapa Padepokan lemah.” Benggala Cokro melanjutkan ucapannya. “Padepokan itu nampaknya para bandit, aku tidak tertarik mengajak para bandit bergabung, tapi mungkin keberadaan mereka bisa menguntungkan kita.”


Mahesa manggut-manggut mendengar ucapan pemuda itu, harus dia sadari sikap keras Benggala Cokro sudah mulai berkurang, tapi tentu saja pada sekekali waktu pemuda itu masih bersifat sombong dan sulit diatur.


“Siapa dia tas menara pengintai?” tanya Benggala Cokro, mata genitnya menyipit. “Alamak seorang bidadari? Aku harus menemaninya.”


“Kau...” Belum selesai Mahesa berkata, Benggala Cokro sudah melompat ke atas menemui Cawang Wulan. “Dasar bocah mesum, apa pikirannya selalu dipenuhi dengan wanita. Tidak berguna sama sekali.”


“Hoi, aku mendengar ucapanmu dasar pendekar keracunan.” Benggala Cokro berteriak dari atas menara. “Baiknya kau urus kekasihmu yang berwajah jelek itu, siapa namanya ah dia adalah...”


“Tutup mulutmu dasar pria mesum!” Teriak Mahesa. “Aku akan memberimu perhitungan jika penawar racunnya sudah kudapatkan.”


Setelah kepergian Sungsang Geni Mahesa adalah orang yang bertanggung jawab penuh atas Markas Petarangan. Dia mengatur segala hal sendirian, kecuali jika Empu Pelak sedang memiliki waktu luang untuk memberikan masukan untuknya.


Benggala Cokro memang petarung hebat, tapi dia tidak memiliki otak. Kecuali bertarung dan menggoda gadis-gadis cantik di tempat ini, tiada hal lain yang dilakukan pemuda itu.


Tidak beberapa lama, derap langkah kaki kuda tiba-tiba memasuki gerbang Markas Petarangan. Ada sekitar 20 orang penunggang kuda, dan salah satu dari mereka jelas dikenali oleh Mahesa, Dirga.


“Patih Mahesa,” Dirga memberi hormat. “Setelah mendengar kalian berhasil menaklukkan markas ini, aku segera menyusul bersama dengan beberapa orang yang lainnya. Jangan khawatir, markas kecil di seberang sungai sangat aman terkendali, sekarang Jaka Sewu beserta pendekar pemanah dan beberapa pendekar lain bertugas mengatur markas itu.”


Mahesa menarik napas lega.


Pandangan Dirga disapukan pada markas Petarangan untuk beberapa kali. “Dimana pemimpin kita? Aku ingin bertemu dengannya?”

__ADS_1


Mahesa menggaruk kepalanya, sambil berdecak kesal dia berkata. “Kami semua mendapat masalah, pemimpin kita pergi ke markas musuh seorang diri untuk menyelesaikan masalah itu.”


__ADS_2