
Pria itu memahami jurus tarian dewa angin yang digunakan Sungsang Geni belum sempurna, dengan ilmu kanuragannya dia bahkan bisa mengimbangi tarian dewa angin tanpa perlu mengeluarkan tenaga dalam yang besar.
Namun sedari tadi, dia hanya ingin melihat kemampuan yang dimiliki Sungsang Geni. Orang yang diharapkan Ki Alam Sakti sebagai penerusnya.
Dikiranya, Sungsang Geni yang pernah dibicarakan Ki Alam Sakti beberapa tahun yang lalu hanyalah candaan sahabatnya saja. Tidak disangkanya ternyata Sungsang Geni memang memiliki bakat yang luar biasa.
“Darimana Aki tahu namaku?” Sungsang Geni menyarungkan pedangnya, namun tidak berniat menurukan kewaspadaannya.
“Namaku Darma Guru, aku adalah seorang Mahapatih di Kerajaan Surasena.” Pria tua yang bernama Darma Guru mulai memperkenalkan namanya, kemudian menyembunyikan aura membunuh yang terpancar keluar dari tubuhnya. “Tidak usah cemas, sedari tadi aku hanya mengujimu saja.”
‘Itu bukan ujian saja’ pikir Sungsang Geni, sedikit kesal mendengar perkataan Darma Guru.
“Aki belum mengatakan darimana tahu namaku?” tanya Sungsang Geni yang masih diliputi rasa heran, tapi sekarang hatinya sedikit lega menyadari Darma Guru memang tidak berniat membunuhnya.
“Alam Sakti adalah temanku, meski umurnya lebih tua 20 tahun dariku, dia telah menceritakan padaku perihal dirimu, termasuk berkah matahari dilengan kananmu itu.”
Ucapan Darma Guru membuat Sungsang Geni terkejut, dia hampir tidak percaya, tapi menyadari Darma Guru mengetahui berkah Matahari dilengannya tentu hubungannya dengan Ki Alam Sakti bukan hanya teman biasa.
Melihat Sungsang Geni beberapa kali hampir tersedak oleh napasnya sendiri, Darma Guru lalu menuang air kedalam gelas perunggu, “Minumlah!”
“Eang Guru tidak pernah bercerita mempunyai sahabat dekat,” Sungsang Geni menggaruk dagunya setelah meminum air yang dituangkan kedalam gelasnya.
“Kami bertemu 50 tahun yang lalu, ketika itu usia tua bangka itu sudah tua dan aku baru berumur 40 tahun. Kami bertarung, dan dia berhasil memenangkan pertarungan itu.” ucap Darma Guru. “Setelah pertarungan itu, aku berambisi untuk mengalahkannya dan berlatih lebih giat lagi. Tapi sekalipun aku belum pernah mampu mengalahkan tua bangka itu. Sial! Kekuatannya seperti bukan manusia saja.” ucapnya kesal.
Darma Guru telah puluhan kali menantang Ki Alam Sakti, hingga tanpa disadari hubungan mereka menjadi dekat. Dengan pedang akhirnya mereka saling memahami, dan dengan berjalannya waktu mereka menjadi rival sekaligus sahabat.
__ADS_1
“Tapi aku tidak mengenal ilmu pedang yang Aki Darma gunakan?” tanya Sungsang Geni, dia melirik kearah pedang pendek yang tergeletak diatas meja, pedang yang bergerak sendiri dan nyaris menikam kepalanya. didekat pedang pendek juga tergeletak pedang dengan motip yang sama namun sedikit lebih panjang. Pedang kembar.
“Ilmu pedangku dinamakan Teknik Pedang Emas berasal dari perguruan Bukit emas,” ucap Darma Guru, menjawab rasa penasaran Sungsang Geni.
Sungsan Geni sangat terkejut mendengar hal itu, Teknik Pedang Emas merupakan satu dari tiga teknik terkuat, yaitu Pedang Awan berarak dan Tongkat membelah jiwa dari Lembah Ular.
Sungsang Geni tidak menyangka bertemu dengan pendekar pengguna teknik pedang emas secepat ini, dia memang berniat pergi ke Lerguruan Bukit Emas hanya untuk melihat secara langsung pendekar pedang emas.
Namun Perguruan itu tertutup untuk umum, ilmu itu hanya untuk kalangan keluarganya saja, bahkan tidak ada yang berani bertamu di Perguruan Bukit Emas.
“Aki, bolehkah aku tahu bagai mana anda mendapatkan ilmu pedang emas?” Sungsang Geni yang diliputi rasa penasaran mencoba mengetahui alasannya, “Setauku pedang emas tidak diperbolehkan dipelajari oleh umum.”
“Kau benar nak, tidak ada orang luar yang boleh mempelajari teknik pedang emas, tapi ambisiku membuat aku nekat menikahi seorang wanita dari perguruan Bukit Emas.” Darma Guru mulai mengenang pengalamannya dahulu.
Setelah 20 tahun dia berada disana, akhirnya Darma Guru berhasil menguasai teknik pedang emas dan menjadi salah satu pendekar tanpa tanding yang sangat dibanggakan di Perguruan Bukit Emas.
“Namun, sesutu terjadi di kerajaan Surasena. Membuat perasaanku jadi tidak menentu.” Ucapan Darma Guru berhasil mengernyitkan kening Sungsang Geni.
“Jika boleh tahu, apakah gerangan itu Ki?” tanya Sungsang Geni.
Dia menarik napasnya dalam-dalam, wajah tuanya terlihat sedih. “Setelah aku berhasil mempelajari teknik Pedang Emas dan akan menyempurnakan jurus tertingginya, tiba-tiba adiku Darma Sena tewas dalam medan pertempuran, dan meninggalkan seorang anak yaitu Cakra Mandala yang masih sangat kecil.”
Sungsang Geni sudah dapat menebak kejadian selanjutnya, dan ternyata benar. Darma Guru meninggalkan Perguruan Bukit Emas beserta anaknya yang berumur 15 tahun dan istrinya, dan kembali ke Surasena.
Dia kembali bukan menjadi raja, tapi Senopati yang memimpin pasukan besar dengan ambisi membalaskan dendam kematian adiknya.
__ADS_1
Hampir puluhan tahun yang Darma Guru lakukan hanyalah berperang dan menundukan kerjaan-kerajaan lainnya.
Namun saat ini, dia sudah tua dan kesepian, dia mendapatkan kabar istrinya telah meninggal karena selalu merindukan kepulangannya, meninggalkan seorang putra yang sekarang menjadi tetua Perguruan Bukit emas.
“Aku hanya mendapatkan kabar, bahwa cucuku adalah seorang gadis yang pandai bermain pedang seperti ayahnya.” Guru Darma mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin bunga dari emas, “Hanya inilah peniggalan dari istriku.”
“Karena itulah, Aki mengasingkan diri ditempat ini, hanya untuk penebusan dosa?” terka Sungsang Geni.
Darma Guru mengagguk, dari matanya terlihat air mata yang mengalir membasaih pipi tuanya, “Ah, nasi sudah matang, baiknya kita makan dahulu.” Darma Guru menutup ceritanya.
‘Pemuda ini memiliki aura yang hangat dan bersahabat’ Pikir Darma Guru, tanpa sadar membuat dirinya membuka cerita masa silamnya.
Setelah selesai memakan hidangan yang dimasak Darma Guru yang hanya nasi putih dengan lauk ikan bakar, Sungsang Geni menyenderkan tubuhnya pada dinding gubuk yang terbuat dari anyaman bambu.
“Geni apakah kau tahu Sang Hyang Widhi tidak pernah menciptakan sesuatu yang terdiri hanya satu?” Pertanyaan Darma Guru mengandung makna besar bagi Sungsang Geni.
“Mungkin karena satu itu hanyalah diri-Nya?” jawab Sungsang Geni.
“Benar, tidak ada satu selain Sang Hyang Widhi. Oleh karena itu didunia ini selalu memiliki pasangannya, seperti hidup dan mati, sehat dan sakit.” ucapan Darma Guru membuat otak Sungsang Geni berpikir keras, “Bersamaan dengan cahaya akan ada kegelapan, apa kau mengerti yang kumaksud, Geni?”
Setelah mencerna cukup lama, Sungsang Geni menganggukan kepala. “Aku mengerti Aki Darma Guru. Sang Hyang Widhi memberkahi kekuatan matahari pada diriku pasti memiliki alasan. Aku yakin bersamaan dengan kekuatan matahari ini, telah lahir kekuatan yang sangat mengerikan sebagai tandingannya. Karena tidak mungkin di kehidupan fana ini lahir tanpa ada pasangannya."
“Kau memahaminya dengan cepat, Geni.” Darma Guru kemudian melangkah pergi meninggalkan Sungsang Geni sendirian.
“Alam Sakti, muridmu itu akan menanggung beban yang besar dipundaknya.” Gumam Darma Guru, kemudian tersenyum pahit.
__ADS_1