PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Geni vs Naga


__ADS_3

Sungsang Geni meminta semua orang menjauh ke tempat yang lebih tinggi. Dia menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi beberapa saat lagi.


Itu jelas nampak dari sekumpulan ikan yang bergerombol menjauhi bayangan hitam di perairan.


“Geni itu beberapa ekor naga yang sangat besar...” Pramudhita menjelaskan situasi yang dia lihat. “Sepertinya salah satu dari mereka adalah raja para siluman ular ini.”


“Bagaimanapun aku tidak mungkin mundur, kita harus menyelesaikan kesalah pahaman ini.” ucap Sungsang Geni.


Beberapa menit kemudian 5 ekor naga berukuran lebih besar dari gadis itu muncul ke permukaan. Wajah mereka begitu marah ketika menatap gadis yang tergeletak di depan seorang pemuda.


Salah satu dari siluman itu, menukik cepat, memaksa Sungsang Geni melompat ke daratan sementara mahluk itu segera meraih gadis itu dengan kuku-kukunya yang tajam.


“Nagini...apa kau baik-baik saja?”


“Kakakang Nagawira...” gadis yang dipanggil Nagini tadi berkata terbata-bata.


“Aku akan membawanya kembali ke istana, lukanya harus ditangani dengan cepat.” Nagawira kemudian meliuk beberapa saat, dan menyelam ke dalam laut biru.


Salah satu diantar 4 naga yang tersisa, mungkin adalah rajanya sebab memiliki sebuah mahkota terbuat dari batu permata yang berwarana biru berbentuk seperti kristal es. Dia berjalan mendekati Sungsang Geni dengan tombak trisula yang iya genggam.


“Berani sekali kau manusia hina! Kau sudah melukai putriku, sekarang kau akan kuseret ke dasar lautan, dan kupastikan kau mati dengan ratusan luka dan akan kuberikan dagingmu kepada ikan-ikan di laut!” suara Raja itu terdengar berat dan bergema.


Sungsang Geni merasakan, kekuatan mahluk itu dua kali lebih kuat dari putrinya tadi. Ditambah pusaka yang dia gunakan, menimbulkan aura yang dingin lagi membekukan.


“Biarlah aku yang melawan dirinya, aku akan mencabiknya.” Salah satu naga yang lain mendekati Sungsang Geni, naga itu berwarna keemasan dengan tubuh paling besar diantara yang lainnya.


“Tidak, aku saja. Kakang tidak perlu turun tangan, biarkan aku yang melenyapkan mahluk hina ini!” Salah satu dari yang lainnya berkata, kali ini yang berwarna hijau.


“Ma'afkan aku, para penguasa lautan. Sebenarnya aku tidak pernah berniat menyerang gadis itu, tapi dia mengancam keselamatan semua orang yang sedang aku jaga.”


“Berani sekali kau melukai bangsa kami?” raja dari naga itu berkata geram.

__ADS_1


“Kukatakan yang sama dengan kalian, para siluman.”


Setelah tiga detik berlalu, sang raja mengangkat tongkat trisulanya dia berniat mendaratkan tikaman ke tubuh Sungsang Geni.


Tanpa menunggu lama, Sungsang Geni terbang dengan cepat menghindari setiap serangan dengan mudah.


“Dia berniat melarikan diri, kejar dia!” perintah sang Raja naga.


Sungsang Geni tidak berniat bertarung saat ini. Tidak, dia tidak ingin membahayakan seluruh rakyat yang sedang bersembunyi. Jadi pemuda itu mencari tempat yang cukup jauh dan tidak berpenghuni.


Setelah terbang cukup jauh, Sungsang Geni mendarat pada sebuah pulau yang tidak berpenghuni dimana pohon cemara memenuhi seisi pulau. Belum genap satu menit dia memijak tanah, 4 ekor naga menghempaskan tubuhnya di tepi pantai pulau.


Karena pulaunya yang cukup kecil, jadi ke 4 naga itu membuat formasi melingkar untuk mengepung Sungsang Geni.


“Sekarang kau tidak bisa pergi jauh, manusia!”


“Tidak, aku tidak akan pergi jauh, tapi aku berharap kalian juga sama. Tapi, kali ini aku tidak akan kasihan terhadap kalian.”


Sungsang Geni melepas energi membunuh dengan pekat, kemudian dia melayang beberapa meter dari tanah. Dia mengayunkan pedang beberapa kali, kemudian menunjuk raja para naga dengan pedang itu. “Majulah!”


“Itu adalah racun?” tanya Sungsang Geni. “Itu cukup bahaya, aku tidak punya sesuatu untuk menangkal racun.”


Sungsang Geni melesat di antara sela-sela tubuh mereka, seraya menebaskan pedangnya beberapa kali. Kali ini sisik mereka tidak selembut gadis naga yang dia serang barusan. Sungsang Geni tidak bisa melukai hanya dengan setengah hati.


Ketika pemuda itu berniat memblikan badan, sebuah tamparan ekor mendarat tepat di tengah tubuhnya, memaksa pemuda itu terhempas ke dalam air laut. Bukankah pemuda itu tidak bisa berenang?


Tentu saja, tapi pengalaman dia menahan napas tidak perlu diragukan lagi. Pemuda itu segera melindungi seluruh tubuhnya dengan tenaga dalam, kemudian menghentakkan kaki di dasar laut dangkal, dan meluncur ke permukaan.


Pada saat yang sama, tombak trisula meluncur ke arahnya. Hampir saja pemuda itu tertikam jika sedetik saja dia telat menghidar. Tombak itu tertancap di dasar laut, menciptakan ledakan energi sangat besar.


Gelombang ombak terjadi beberapa kali, menyapu pulau kecil, tanah bergoncang beberapa saat. Dan ketika hal itu terjadi, ke empat naga tersenyum kecil.

__ADS_1


Sungsang Geni menyeka air di wajahnya, kemudian dia bergerak ke samping dengan cepat dan 6 bayangan keluar pada waktu yang sama.


Masing-masing naga terpaksa menghadapi 2 bayangan Sungsang Geni. Sedangkan pemuda itu menyerang Raja Naga dengan kombinasi tiga teknik. Pergerakan pemuda itu semakin sulit dibaca, dan sialnya ke 6 bayangan juga melakukan hal yang sama.


Sungsang Geni melepas 1 pedang, tertuju pada jantung naga itu, beberapa detik dia kemudian melepas satu lagi pedang. Ketika naga itu menghindarinya dengan sulit, pemuda itu bergerak secepat kilat.


“Tarian dewa angin, neraka penyucian.” Sungsang Geni berhasil mendaratkan luka sangat besar di tengah perutnya.


Naga itu berteriak kesakitan, dia melihat luka di tengah perut yang mengeluarkan darah banyak. Mungkin dia berusaha menutup luka itu dengan tangannya yang berkuku tajam, tapi hal itu tidak diberi kesempatan oleh Sungsang Geni.


Pemuda itu terbang ke bagian ekornya, kemudian menarik sekuat tenaga dan menghempaskan mahluk itu tepat di tengah pulau.


Sang Naga meraung kesakitan, tapi Sungsang Geni belum menghentikan serangannya, dia memasak seluruh tangan mahluk itu dengan pedang-pedang panjang.


Ketiga anaknya yang melihat keadaan Sang Ayah berniat menolong, terbukti dari wajah-wajah mereka yang menjadi panik. Tapi pada kesempataan itu, Bayangan Sungsang Geni berhasil menebaskan pedangnya membuat luka-luka di sekujur tubuh mereka.


Ke empat naga tergeletak tak berdaya, bahkan salah satu dari mereka kehilangan tanduk berharga mereka.


Sungsang Geni terbang cukup tinggi, dia memperhatikan tingkah dari lawannya. Pemuda itu tidak berniat melakukan serangan kembali, baginya itu sudah cukup.


“Ayah apa kau baik-baik saja?” wajah mereka semakin panik, setelah melihat wujud sang raja naga perlahan lenyap berganti wujud aslinya, seorang raja dengan tubuh yang kekar.


Raja itu tidak sempat menjawab, dia memperhatikan luka di telapak tangan dan kakinya. Rasanya seperti terbakar dan sangat menyayat. Dia kemudian menatap Sungsang Geni, penyesalannya adalah tidak bisa melepaskan pusaka trisulanya pada jantung pemuda itu.


“Tapi kali ini dia pasti kena!” ucap Sang Raja.


Tombak trisula meluncur cepat dari dalam laut ke arah Sungsang Geni. Pemuda itu tidak menyadari hal itu, jadi dia tidak sempat menghindar. Ledakan terjadi di atas awang, asap tebal dan cahaya kilatan terlihat bahkan dari tempat para pengungsi.


“Matilah kau dasar manusia sampah.” Sosok naga, tak lain yang bernama Nagawira keluar dari dalam air dengan wajah bangga, memperhatikan asap tebal di atasnya. “Aku naga yang paling cepat, tidak mungkin dia bisa meng....”


Ucapan Nagawira terhenti, matanya melotot bak akan keluar dari kelopakanya tapi nampaknya juga demikian terhadap naga yang lain. Dari gumpalan asap yang tebal tersebut, meliuk seekor naga berwarna bening dengan tatapan menakutkan.

__ADS_1


“Manusia itu, siapa dia sebenarnya?”Sang Raja bergetar seluruh tubuhnya.


Ada yang mau ngsih vote? Silahkan! Author gak maksa... Jiahaha


__ADS_2