
Suasana lantai tiga menjadi hiruk piruk kala ini. Ledakan-ledakan yang terjadi menarik perhatian para pelayan dan beberapa prajurit tersisa di sana. Mereka mulai berkumpul, mengelilingi pintu gudang harta dan mengintip dari kejauhan.
Tiada yang berani mendekat, setelah mereka tahu salah satu penjaga harta sudah mati bersimbah darah, dan nampaknya yang satu lagi juga akan mengiring ke alam baka.
“Panggil prajurit di bawah, cepat! ada penyusup yang hendak mencuri gudang harta paduka Raja.” Berkata salah satu ketua pelayan pada prajurit di belakangnya.
Baru saja hendak menuruti perintah, Langgis dan 6 temannya yang lain datang dari lantai dua dengan darah masih menodai pakaian.
“Tiada tersisa di lantai dua!” ucap Langgis. “Semuanya sudah tewas.”
Ketua pelayan tidak percaya, dia sekali lagi melirik pada belasan prajurit tersisa untuk menangkap Langgis dan teman-temannya, tapi sebelum itu terjadi pekik suara Penjaga Gudang Harta bergema di ruangan itu.
Semua orang menoleh ke arah yang sama, pada pemuda dengan pedang bercahaya yang baru saja melepaskan satu pisau kecil dan menancap pula di bagian paha.
Langgis menutup mata untuk sesaat, melihat kekejaman Sungsang Geni semua orang bergidik ngeri hampir tidak mau melihatnya.
“Prajurit sepertimu tidak bisa diberi kehidupan,” ucap Sungsang Geni. “Kau makan enak di tempat busuk ini, perutmu besar karena kenyang sementara saudaramu yang lain kelaparan. Kau tidak kasihan? Tapi malah menikmatinya? Apa kau tidak mendengar puluhan gadis belia menjadi tumbal untuk dewa pujaan kalian? Menjijikkan!”
Pria dengan tombak bermata dua tidak sanggup untuk menjawab perkataan Sungsang Geni, lagi pula pemuda itu sebenarnya tidak pula meminta jawaban. Ini jarang terjadi, tapi pemuda itu begitu marahnya.
Jika saja semua orang di tempat ini bersatu dan tetap setia kepada Garis Keturunan yang sah, Miksan Jaya. Negri ini tidak akan sebusuk ini, pikir Sungsang Geni.
“Kau tidak melihat kemampuan mereka...kau akan menyusulku di alam baka!” Meludah pula pria penjaga gudang harta, dan itu adalah ucapan terakhir untuknya setelah Sungsang Geni melemparkan pedang di bagian jantungnya.
Pria itu mati dengan mata melotot, empat luka karena pisau kecil dan satu tusukan pada bagian jantung.
"Aku sudah pernah melihat kekuatan mereka."
Baru saja selesai melakukan hal itu, Sungsang Geni bergerak cepat. Dimana dia? Pemuda itu telah berdiri tepat dihadapan Ketua Pelayan dengan pakaian putih dan wangi sekali.
“Kau juga layak untuk mati!” Sungsang Geni menikam perut pria itu dan melemparkan tubuhnya, hingga berguling di tangga dan jatuh ke lantai dua .
__ADS_1
Semua orang prajurit dan puluhan pelayan menahan pekik, menutup mulut mereka dengan kedua telapak tangan. Tidak ada yang berani melihat tatap mata pemuda itu, tidak ada.
Sementara itu, matahari sudah mulai bersinar terang. Cahayanya menembus Istana hingga mengenai wajah-wajah busuk para pelayan. Di luar Istana semua rakyat mulai sibuk melakukan banyak aktivitas seperti biasa, suara mereka sampai terdengar di dalam Istana ini.
Pintu Istana belum terbuka, itu hal biasa tapi puluhan prajurit yang berjaga malam di tiang Istana mulai menaruh curiga. Rupanya sudah waktunya berganti jaga, tapi prajurit ganti belum menunjukkan wajahnya.
“Ini sudah siang!” berkata salah satu penjaga. “Kenapa kita belum diganti, aku sudah lapar lagi haus.”
“Mungkin sedang ada sesuatu di dalam Istana!”
“Ketua pelayan yang mengurusi hal ini, dia menjadi sedikit sombong setelah di beri mandat oleh paduka raja.”
“Pria beruntung, tapi kita yang sengsara.”
Tanpa mereka duga, ketua pelayan sudah mati belasan menit yang lalu, jika mereka tahu tentulah tidak akan berpikiran menjadi 'Ketua Pelayan yang beruntung.'
Sementara itu Sungsang Geni masih memperhatikan puluhan pelayan yang begitu ketakutan dan belasan prajurit yang tidak berkutik.
“Aku bisa membunuh kalian semua, seperti hal prajurit di lantai bawah,” ucap Sungsang Geni. “Tapi tidak kulakukan, bukan karena aku memiliki sifat kasihan, tapi jika kalian memang ingin mati, majulah semuanya.”
Tidak ada yang menjawab perkataan pemuda itu, bahkan Langgis tidak bergerak.
“Kau! Kemarilah!” Sungsang Geni menunjuk satu prajurit yang memiliki tenaga dalam sedikit ketara dibanding yang lainnya. “Ada apa di lantai atas?”
“Tidak ada tuan, hanya kamar bagi Paduka Raja dan pejabat tinggi..,..” jawabnya gagap.
“Aku ingin melihat semua tahanan, bawa aku ke ruang penjara!”
Wajah pria itu terlihat sedikit buruk, tapi tidak berani membantah perkataan Sungsang Geni. Di ikuti dengan puluhan pelayan yang disandera Langgis, mereka kembali lagi ke lantai satu membuka satu pintu rahasia.
“Aku tidak tahu mengenai pintu ini...” gumam Sungsang Geni, “hampir saja terlewat.”
__ADS_1
Sungsang Geni menoleh ke arah Langgis, kemudian menoleh pada pelayan dan prajurit. Mata pemuda itu masih saja tajam, belum menunjukkan keramahan. “Kalian tunggu di sini, jika ada yang melawan bunuh saja!”
“Aku mengerti...” jawab Langgis.
Sungsang Geni masuk ke dalam lorong pengap bersama dengan satu prajurit sebagai penunjuk jalannya. Tidak butuh waktu lama, pemuda itu sudah bisa mednengar suara-suara rantai bergemerincing, atau bau anyir darah.
Tidak selang beberapa waktu, pemuda itu melihat empat penjaga penjara berbadan gemuk sedang tertidur pulas dengan wajah di atas meja. Empat orang itu memiliki kesamaan, yaitu mendengkur keras dan memekakkan.
Empat orang itu mendapatkan pukulan keras, memaksa tidur mereka lebih panjang dari hari-hari biasanya.
Diraih kunci besar yang tergantung di lehernya, Sungsang Geni membuka pintu tahanan. Di ruangan lain, dengan cahaya redup dari obor yang tertempel di dinding, Sungsang Geni menemukan sekitar 70 orang lebih pria di dalam sel tahanan.
Wajah-wajah mereka tertutup rambut panjang dan kusut, tapi Sungsang Geni bisa melihat ada banyak luka di bagian mata dan bibir.
“Buka rantai mereka!” perintah Sungsang Geni.
“Tapi!”
Prajurit itu kembali hendak membantah, tapi tidak jadi. Dengan terpaksa dia melepaskan semua rantai yang menjerat kaki para tahanan. Cukup lama, akhirnya tugas sudah selesai kecuali satu orang pria dengan rambut putih lebat yang tergantung di tiang.
Nasip pria itu terlihat lebih buruk dari teman-temannya, selain Sungsang Geni tidak ada yang tahu bahwa dia masih hidup dan bernafas.
“Tidak ada kunci untuk pria di sana...”berkata prajurit itu.
Sungsang Geni melepaskan dua pisau kecil, menghancurkan gelang besi yang menjerat tangan orang itu kemudian dengan cepat meraih tubuhnya yang terhuyung-huyung hampir jatuh ke lantai.
“Paman, aku tahu kau masih hidup, tapi tenanglah aku akan membantumu...” ucap Sungsang Geni.
Dalam beberapa saat, setelah semua tahanan keluar dari penjara, puluhan pelayan dipaksa memasak apapun bahan makanan yang ada didalam gudang. Semua tahanan dalam keadaan kelaparan, jadi tidak mungkin bisa bertarung dengan perut kosong.
Sungsang Geni beberapa jendela Istana, sehingga ruangan dimana dia berada saat ini diterpa cahaya terang.
__ADS_1
Pemuda itu melirik kebawah, memperhatikan belasan puluhan prajurit penjaga yang terlihat kesel. Dia juga memperhatikan rumah bordil di seberang jalan, gadis-gadis tidak tahu malu yang menari di jalanan.