PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 31


__ADS_3

“Kau sudah menemukan takdirmu hingga hari ini.” ucap Ruh api. “Kau pernah bertemu dengan tiga ruh unsur yang lainnya, dan kenapa sekarang kau tampak gusar?”


“Aku tidak bisa mengalahkan mahluk itu...” Sungsang Geni menyadari ketidak berdayaannya


“Ya, tentu saja.” Ruh Api mungkin sedang tersenyum kecil atau mungkin sedang mengejek, tapi di pandangan Sungsang Geni ruh api yang di temuinya saat ini hanya berbentuk seperti manusia yang sekujur tubuhnya dipenuhi api berwarna putih kemerahan.


“Apa yang harus aku lakukan?” Sungsang Geni berlutut tepat di hadapan Ruh Api, dengan segala ketidak berdayaannya pemuda itu berharap penguasa Unsur Api bisa memberikan satu jalan keluar untuk menyelamatkan bumi dari kegelapan.


“Aku tidak yakin kau mau memenuhinya, tapi ini adalah satu-satunya cara agar kegelapan bisa dikalahkan.”


“Katakanlah! Semoga saja aku bisa menurutinya.”


“Ruh unsur tidak bisa menyatu pada manusia dengan kekuatan sebenarnya, kecuali hanya memberikan sedikit saja kekuatan pada manusia tersebut. Dalam hal ini, lengan kananmu hanya sebagian kecil dari kekuatanku.”


“Bagaimana jika ruh unsur masuk ke dalam tubuh manusia?” tanya Sungsang Geni.


“Dia akan mati,” jawab Ruh Api.


Sungsang Geni berpikir sesaat. Dia sadar apa yang dimaksud dengan ruh api. Jika ruh api meminjamkan semua kekuatannya, maka dia akan mati. Karena sejatinya tubuh manusia tidak akan sanggup untuk menahan kekuatan besar itu.


“Aku akan menerimanya...” Sungsang Geni akhirnya memutuskan langkah terakhir yang harus dia tempuh. “Jika itu demi kebaikan seluruh dunia, aku akan menerimanya.”


***


Asura sekarang mulai jenuh menunggu sebab sudah satu jam lamanya dia melayang di atas magma tapi tanda-tanda Sungsang Geni akan muncul tidak ada.


“Kau mungkin sudah mati di dalam sana!” ucap Asura menyeringaikan taring di balik bibirnya yang pucat. “Aku pikir inilah saatnya menguasai dunia.”


Setelah dia mengatakan hal itu, dari tubuh makhluk itu keluar cahaya keunguan yang berbentuk seperti sebuah bola energi. Ukuran bola energi tersebut sebesar roda kereta kuda. Dari dalam bola energi itu, muncul percikan petir berwarna ungu.

__ADS_1


Energinya sungguh luar biasa berat, jika diletakkan pada puncak gunung, maka puncak gunung itu akan runtuh karena tidak kuasa menahan beratnya energi kegelapan itu.


Energi itu melayang tinggi dari permukaan tanah, menggantung seperti bulan di tengah malam di antara awan hitam yang gelap gulita.


Satu menit setelah energi itu berada di antara awan, tiba-tiba ledakan besar terjadi. Suara dentuman benda itu berhasil menjangkau seluas dataran java, bahkan dentuman yang terjadi terdengar sampai di Swarnadwipa.


Di puncak Swarnadwipa, keluarga Sungsang Geni bisa melihat awan hitam memercikkan petir ungu di ufuk timur. “Semoga tidak terjadi apapun terhadap Geni dan Wira.” Saylendra bergumam kecil sambil meremas pundak istrinya yang membenamkan kepala di tengah dada.


Bukan hanya di Swarnadwipa, suara dentuman terdengar di beberapa negri tetangga. Di Negri Sembilan, dentuman itu hampir saja membuat Putra angkat Lemah Abang jatuh pingsan.


“Tampaknya kegelapan sudah dimulai,” ucap Tanjung Benawa.


Situasi saat ini di atas langit dataran Java, dipenuhi dengan kilatan petir yang menghantam apapun benda di permukaan tanah. Pohon, bangunan, hewan dan tak jarang manusia terkena simbaran petir.


Ketika petir itu berhasil mengenai sebuah benda, seketika benda itu hancur menjadi abu. Tapi bagi binatang yang terkena simbaran petir, binatang itu menjelma menjadi mahluk setengah kegelapan. Berperangai buas, liar dan saling bunuh.


Asura berniat membuat Istana di atas dataran Java. Istana kegelapan yang sesungguhnya, dipenuhi dengan mahluk-mahluk mengerikan. Tidak ada harapan lagi bagi manusia untuk melarikan diri.


“Kita tidak memiliki tempat untuk berlindung saat ini...”


“Kita akan mati, kita akan tamat hari ini.”


“Tidak ada tempat lagi untuk melarikan diri, kegelapan sudah menjangkau semua tempat.”


Riuh suara prajurit panik dengan tanggapan mereka masing-masing, membuat kepala Mahesa terasa sakit. Sebagai salah satu pemimpin tertinggi, pria itu harus mencari cara agar bisa terhindar dari kilat petir yang menyambar-nyambar.


“Lihatlah di sana!” salah satu prajurit kembali berteriak. “Mahluk apa itu!”


“Harimau?”

__ADS_1


“Bukan, harimau tidak memiliki wajah seperti itu....itu jelas mahluk kegelapan.”


Situasi mulai mencekam sekarang, tiga ekor harimau yang telah menjadi setengah kegelapan muncul menghadang pasukan Surasena yang berniat mengungsi ke Negri Tumenang.


Wush...wush...dua anak panah melesat, dua ekor mahluk itu jatuh ke tanah dan mati. Semua orang melihat pada Cawang Wulan yang baru saja melepaskan serangan. “Jangan takut, mereka masih bisa di bunuh seperti binatang pada umumnya, gunakan senjata kalian untuk membunuh mereka.”


Sementara itu, Sabdo Jagat mendekati Mahesa untuk mengatur rencana.


“Kita tidak bisa berada di dalam hutan terus menerus...” ucap Pemimpin Perguruan Lembah Ular itu. “Hutan ini akan terkikis dan lenyap akibat petir kegelapan.”


“Kita cari sebuah goa, hanya itu satu-satunya tempat yang bisa melindungi kita.” Ketika mengatakan hal itu, wajah Mahesa menjadi murung, sebab dia tahu tidak ada goa yang begitu besar sanggup dimasuki oleh ribuan prajurit Surasena. “Sial sekali, kita bahkan belum setengah jalan menuju Tumenang.”


“Kita bisa mencoba gerbang itu!” Rerintih tiba-tiba membuka suara. “Reruntuhan Tombok Tebing berada di sisi utara, tidak jauh dari tempat ini.”


“Hanya Sungsang Geni yang berhasil masuk kedalam Gerbang Zambala.” Mahesa memang terkejut setelah menyadari ada gerbang besar diseberang tebing Kerajaan Tombok Tebing, dan seingat dirinya kegelapan tidak berhasil menghancurkan gerbang itu.


Namun yang menjadi beban pikiran Mahesa adalah, gerbang itu tidak pernah terbuka kecuali ketika Sungsang Geni melepaskan energi panas pada tungku perapian.


“Kita tidak punya pilihan, kecuali mencobanya.” Rerintih meyakinkan Mahesa. “Ini adalah pertaruhan yang besar, tapi memang kita tidak memiliki jalan keluar yang lain.”


“Aku juga sepakat.” Sabdo jagat menoleh ke arah Benggala Cokro yang tampak sedang berpikir.


“Berada di tempat ini juga hanya membuang nyawa.” Benggala Cokro kemudian membuka suara. “Kita pergi ke reruntuhan Tombok Tebing, dan bersembunyi di dalam Gerbang Zambala.”


Seketika arah pergerakan prajurit Surasena berubah. Mereka mengarah ke Reruntuhan Tombok Tebing, tepatnya menuju Gerbang Zambala. Itu adalah gerbang misterius yang belum pernah terbuka kecuali oleh Sungsang Geni.


Semua orang memantapkan jiwa. Berjalan dengan buru-buru sambil membunuh binatang-binatang yang telah menjadi mahluk setengah kegelapan. Beberapa kuda yang mereka miliki juga menjadi mahluk jadi-jadian setelah disimbar petir.


Puluhan prajurit bahkan lenyap seketika ketika satu kilatan ungu mengenai rombongan mereka.

__ADS_1


“Jangan takut, kita mungkin bisa tiba di Gerbang Zambala satu hari perjalanan lagi!” Teriak Mahesa. Tapi satu hari terasa seribu tahun saat ini, semua nyawa berada di ujung tanduk.


__ADS_2