PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Bebaskan Cempaka


__ADS_3

Di luar alam tersebut, Sungsang Geni menghentikan penyaluran energi panas. Dari caranya, sepertinya Wulandari sudah berhasil melakukan Raga Sukma, barangkali pula sudah berhasil masuk ke dalam dimensi lain.


“Tubuh dua orang ini harus selalu dijaga...” tutur Pramudhita. “Akan berbahaya jika bangsa lelembut berada di sekitar tempat ini, apalagi Wulandari dalam keadaan lemah. Sekarang untuk sementara waktu aku akan kembali ke alam lelembut, beri tahu aku jika terjadi sesuatu.”


“Tentu saja aku akan mengabarimu, Paman,” ucap Sungsang Geni.


Pramudhita kemudian hilang kembali ke dunia lelembut, membuat kejutan kecil bagi Saraswati. Bagaimanapun, meski sudah tahu bahwa pria itu adalah mahluk gaib, tapi menyadari dia bisa hilang dan muncul tiba-tiba tetap saja membuat tengkuk terasa dingin.


Dua hari dua malam Sungsang Geni masih duduk bersila di dekat dua gadis tersebut, tapi sayangnya bagi Wulandari, dua hari di alam nyata terasa seperti baru dua jam di berada di tempat ini.


Gadis itu masih berusaha keras untuk mendekati Cempaka Ayu, dia berjalan mengendap-endap dari balik batu ke batu lain. Jarak antara dia dengan patung besar dimana Cempaka Ayu sedang di belenggu mungkin tinggal 50 depa.


Dia masuk ke dalam tanah bebatu yang sedikit mencekung, bersembunyi di tempat itu ketika salah satu penjaga Dewi Bulan menatap ke arahnya. Nafas Wulandari terlihat tidak beraturan untuk sesaat, hampir saja fikinya.


Dia menyandarkan diri tepat di permukaan batu, memasang telinga dengan tajam. Suara derap kaki mahluk itu terdengar sedikit lebih jelas.


“Dia mendekatiku?” Wulandari bergegas mencari tempat untuk membenamkan seluruh tubuhnya. Ketemu, dia berhasil mendapatkan sebuah batu yang berlubang sedikit lebih besar, sehingga tubuhnya bisa masuk ke dalam.


Derap kaki para penjaga terdengar berhenti tepat di atas batu persembunyian. Wulandari menutup mulutnya, mencoba menahan nafas selama mungkin agar tidak tercium. Barangkali mahluk itu memiliki penciuman yang tajam, pikir Wulandari.


Cukup lama, Wulandari tidak mendengar derap langkah lagi, itu artinya penjaga itu masih berdiri di atas batu persembunyian. Gadis itu mencari sesuatu, sebuah batu sebesar kepalan tinju, melemparnya ke arah sisi yang berbeda.


Suara batu berhasil menarik perhatian mereka, sehingga sekarang bukan hanya satu penjaga tapi ada sekitar 5 penjaga berjalan dengan derap kaki berat ke arah lain. Pada saat yang sama, Wulandari keluar dari persembunyian, berlari sambil menundukkan kepala mendekati Cempaka Ayu.


Sekarang jarak antara dua gadis itu tidak terlalu jauh, hanya saja tempat dimana Wulandari berdiri saat ini tidak seperti sebelumnya. Ini adalah lantai yang sangat datar, terbuat dari batu putih yang tidak diketahui jenisnya.


Dari sini, Wulandari bisa melihat dengan jelas wajah Cempaka Ayu. Dia masih sadar, terlihat jelas mata gadis itu bertemu. Cempaka Ayu hendak terpekik saking terkejutnya, tapi Wulandari segera memberi isyarat untuk menutup mulut.


"Tenanglah...jangan menarik perhatian mereka..." bisik Wulandari.


"Tapi?"


"Hussttt."


Wulandari menoleh ke arah lain, dimana lima penjaga masih memperhatikan lemparan batu miliknya. Kemudian dia memperhatikan lima lagi penjaga yang berada di sisi lain, tapi jika tidak cepat lima penjaga itu akan mengetahui keberadaannya.


Tanpa membuang waktu, Wulandari berlari secepat mungkin dan tiba tepat di hadapan Cempaka Ayu. Pada saat yang sama, salah satu penjaga hampir saja mengetahui keberadaannya.


Wulandari menyelinap di belakang tubuh Cemapak Ayu, yang memiliki rongga seukuran manusia gendut. Disana, dia berdiam diri untuk sementara waktu.


“Cempaka, aku datang untuk membawamu keluar dari tempat ini,” ucap Wulandari.


“Kau? Bagaimana caranya kau tiba di tempat ini?” bisik Cempaka Ayu, suaranya terdengar serak sekali, mungkin karena luka dan rantai yang menjerat di lehernya.


“Tidak penting bagaimana caraku bisa sampai di tempat ini, sekarang yang penting adalah kita harus keluar dari sini secepatnya.


Cempaka Ayu terlihat murung, sementara itu satu penjaga seperti mahluk berkaki laba-laba datang mendekat, menjulurkan lidahnya seperti ular ke arah gadis tersebut. Wulandari terdiam seribu bahasa, begitu khwatir jika keberadaannya di ketahui.

__ADS_1


Dua jilatan lidah mahluk itu membelai tubuh Cempaka Ayu, lendir berwarna biru berbau busuk setengah mati.


Tidak berlangsung lama, mungkin tidak mengetahui aroma Wulandari atau mungkin juga karena mahluk itu sebenarnya sedikit bodoh, jadi tidak menyadari keberadaan gadis tersebut.


“Cempaka Ayu, dengarkan aku baik-baik, saat ini kondisi tubuhmu di alam nyata benar-benar memprihatinkan, Dewi Bulan berhasil mengambil alih tubuhmu, tapi sayangnya tubuhmu tidak bisa menahan beban kekuatan mahluk itu, jadi tubuhmu penuh dengan luka.”


“Aku sudah kalah, dewi bulan berhasil menguasaiku.”


“Belum!” timpal Wulandari. “Kau belum kalah, kita bisa keluar dari tempat ini bersama-sama, bertukar posisi dengan mahluk itu.”


“Bagaimana caranya?” lirih Cempaka Ayu. “Setiap waktu mahluk-mahluk ini menyiksa diriku, aku merasa lapar di sini dan juga merasa haus. Tanpa tenaga aku berusaha membuka rantai ini tapi tidak berhasil. Ini seperti rantai baja.”


“Kita akan berhasil melewati rintangan ini, percayalah kau lebih kuat dari dari mahluk-mahluk ini, ini adalah alam sadarmu, jika Dewi Bulan bisa menciptakan apapun di tempat ini, harusnya kau juga bisa melakukannya."


“Aku tidak bisa, sudah kucoba beberapa kali.”


Mendapati jawaban itu, Wulandari terlihat sedikit kesal, barangkali sedikit marah. Jadi dia dengan sangat nekat, keluar dari dalam balik tubuh Cempaka Ayu.


“Apa yang kau lakukan?” tanya gadis tersebut. “Kau bisa ketahuan.”


“Aku akan melawan mereka!” Wulandari berdecak kesal. “Sebaiknya kau berpikir untuk keluar dari tempat ini, dan buang kesimpulan negatifmu itu.”


Cempaka Ayu bagai tersambar petir, ini kali pertama ada orang yang berani marah kepadanya. Bahkan sang kakakpun tidak pernah melakukan hal itu.


“Siluman sialan!” teriak Wulandari. “Mahluk jelek bodoh dan menjijikkan, aku menantang kalian bertarung.”


Serentak saja 10 penjaga menoleh kearah yang sama, pada gadis kecil yang berdiri di dekat Cempaka Ayu.


Sebuah kapak batu melaju cepat kearah gadis tersebut, hampir saja mengenai kepalanya jika setengah detik saja Wulandari tidak berhasil menghindari benda itu. Gadis itu berbaring di permukaan lantai, berjalan melewati ************ mahluk batu di depannya.


Baru saja dia berdiri, satu tendangan kuat berhasil mengenai tubuhnya, membuat gadis itu terpental puluhan depa dan mendarat di dinding kastil putih.


"Wulan!" pekik Cempaka Ayu, dia meronta-ronta kecil, sehingga rantai di yang melilit tangan, kaki dan leher berbunyi gemerincing. "Jangan paksakan dirimu, kau tidak akan sanggup melawan mereka semua."


"Diam!" Bentak Wulandari. "Ini belum seberapa, aku masih sangat mampun melawan mereka!"


"Tapi!"


“Uhukk...uhukkk...” Wulandari terbatuk kecil, dadanya sedikit terasa sempit, baru pula melihat kondisi lawannya, satu lilitan rantai menjerat kaki, menariknya dengan paksa hingga dia melayang beberapa depa di udara dan terhempas lagi di lantai batu.


“AHKKK!” pekik Wulandari, rasanya seluruh tulang pinggang telah patah.


Cempaka Ayu menutup matanya, tidak sanggup melihat hal buruk yang terjadi pada gadis bodoh di depannya. "Hentikanlah, apa yang kau lakukan? aku tidak mungkin keluar dari tempat ini."


"Apa kau tidak tahu, betapa khawatirnya Geni melihat kondisimu."


"Apa?"

__ADS_1


"Dia bersedih setiap saat, memikirkan keadaanmu, dan itu membuatku sakit. Aku mencintainya, jadi tak akan kubiarkan satu hal pun membuat dia bersedih. ITULAH BUKTI CINTAKU!"


Gadis itu kembali berdiri sementara Cempaka Ayu membuka mulut tak percaya. Hampir saja terkena kapak batu tapi kali ini Wualandari sedikit lebih cerdik, dia berhasil melilitkan rantai di kaki manusia batu, kemudian menghubungkan rantai itu tepat di ujung kapaknya yang besar.


“Mahluk menjijikkan, kau bisa memukulku sekarang!” teriak Wulandari.


Mahluk yang berdiri layaknya gorila, hanya saja terbuat dari batu mengayunkan kapak besarnya, tanpa menyadari ada rantai melilit diujung kapak itu. Ketika kapak diangkat tinggi, dan hampir mendarat di tubuh Wulandari, kaki mahluk itu terangkat pula karena rantai yang melilitnya.


Mahluk batu jatuh tepat di hadapannya, dengan kaki tanggal. “Seperti yang ku duga, mereka ini tidaklah memiliki akal, hanya kuat saja.” Gumam Wulandari, kemudian berpaling pada 9 penjaga yang lain. “Kalian semua, datang kemari!”


Wulandari tampak lebih percaya diri menghadapi mahluk-mahluk kuat tanpa otak. Ya tentu saja, mereka adalah mahluk yang diciptakan oleh Dewi Bulan, hanya memiliki satu tugas yaitu menyiksa tawanan.


Entah berapa hari telah berlalu di alam nyata, tapi pertarungan Wulandari baru saja berlangsung beberapa menit saja. Dia sudah berhasil mengalahkan hampir 5 mahluk penjaga, dengan otaknya. Hingga akhirnya satu mahluk batu dengan tangan setajam pedang mencoba menebas lehernya.


Sayang sekali, Wulandari telah merencanakan semua hal dengan sangat baik. Ketika dia menunduk, tebasan tangan mahluk itu melewati kepalanya, dan tepat mengenai rantai yang membelenggu lengan kiri Cempaka Ayu.


“Berhasil!” Wulandari hampir terpekik menyadari Rencananya berjalan lancar, dia bergerak lagi ke sisi lain sementara tebasan demi tebasan mengarah padanya.


Sekali lagi rencana gadis itu berjalan lancar, meski sekekali tebasan hampir mengenai lengan dan kaki Cempaka Ayu. Tapi sebagai balasan seluruh rantai yang melilit di tubuh gadis tersebut berhasil diputuskan dengan sangat mudah. Oleh tangan musuh tentunya.


Belum selesai disana, dengan tubuh kecilnya Wulandari berlari dari lawan satu ke lawan yang lain, dengan membawa ujung rantai. Ketika kaki-kaki mereka terikat, gadis itu tersenyum kecil. lima mahluk tersisa, mencoba menangkapnya tapi tidak berhasil, rantai yang melilit mereka membuat ruangan gerak menjadi sempit.


“Lari!” teriak Cempaka Ayu.


Wulandari menoleh ke sisi lain, Cempaka Ayu melambaikan tangan.


“Pintu keluar ada di sana, kita harus pergi sekarang!” teriak Cempaka Ayu.


Beberapa saat kemudian, dua gadis itu masuk ke dalam kastil yang semua lantai dan dindingnya bersinar putih, tapi sedikit beraura dingin. Cempaka Ayu memimpin jalan, memasuki sebuah ruangan yang sangat besar, sementara itu lima mahluk yang dirantai masih berusaha mengejar mereka berdua.


“Letaknya ada di atas menara!” ucap Cempaka Ayu, menara yang dimaksud oleh Cempaka Ayu sebenarnya ada di sisi lain Istana ini, hanya dihubungkan dengan jembatan kecil yang letaknya paling tinggi di tempat ini.


“Apa kau baik-baik saja?” Wulandari bertanya, memperhatikan langkah kaki Cempaka Ayu yang sedikit pincang, ada memar di bagian kaki tersebut.


“Aku baik-baik saja...AW...”


Seperti yang diduga Wulandari, Cempaka Ayu tidak sanggup lagi berjalan meniti tangga bangunan ini. Bekas lilitan rantai tentu saja membuat bagian tersebut terasa ngilu.


“Bersembunyi di sini...” Wulandari menarik tubuh gadis itu, membawanya pada ruangan sempit. Dia merobek bajunya, membuat perban pada bagian-bagian luka Cempaka Ayu. “Kita akan baik-baik saja.”


Beberapa saat kemudian, terdengar rentak kaki penjaga, berjalan mendekat ke arah ruangan tersebut. Wulandari berpikir sejenak, kemudian melihat keluar jendela. “Mari ikut aku!”


Cempaka Ayu mengernyitkan kening, tapi tidak berani membantah. Dia mengikuti Wulandari keluar jendela dengan sangat hati-hati, ada bagian yang bisa dipijak tepat di bawah jendela tersebut.


Dua gadis berdiri berhimpitan menyandar pada dinding bercahaya, sementara saat in satu penjaga dengan tiga mata berwarna merah di keningnya berada tepat diatas mereka. memperhatikan dari jendela Istana.


"Mungkin rantai yang melilit di tubuh mereka sudah putus..." bisik Wulandari.

__ADS_1


Tidak berlangsung lama, penjaga itu menarik lagi tubuhnya dan keluar dari ruangan tersebut. Dua gadis bersusah payah masuk lagi kedalam ruangan, berjalan perlahan kearah pintu yang masih terbuka lebar.


__ADS_2