
Sungsang Geni meminta seluruh rakyat untuk menunggu beberapa saat, sementara dia dan Panglima Ireng sibuk membuat sesuatu yang dibantu oleh belasan bawahan Brewok Hitam.
Mereka mulai menebang beberapa pohon besar, memotongnya sedemikian rupa. Belum ada yang begitu tahu rencana apa yang akan dibuat oleh Sungsang Geni, dengan batang-batang pohon itu.
“Apa yang akan dilakukan pemuda itu?” mereka bergumam.
“Entahlah, dia bilang lebih baik menunggu beberapa jam untuk memotong beberapa hari.”
“Apa maksudnya itu?”
Banyak celoteh dari rakyat sebab tidak memahami jalan pikiran Sungsang Geni. Tapi pemuda itu hanya tersenyum kecil, mendengar semua bisikan rakyat di belakangnya.
“Potong menjadi 200 bagian!” perintah Sungsang Geni.
Mereka kemudian serentak melakukan perintah pemuda itu, memotong sebuah glondongan kayu yang besarnya hampir seukuran roda kereta kuda. Setelah hampir 2 jam mereka mengerjakannya, sekarang Brewok Hitam mulai mengerti benda apa yang akan direncanakan Sungsang Geni.
“Kita akan membuat gerobak yang mengangkut semua rakyat?” tanya dirinya.
“Tepat sekali, kau sudah mulai cerdas.” Ucap Sungsang Geni, menepuk pundak pria itu, kemudian kembali melakukan pekerjaannya, menebang pohon.
“Ma'af Tuan Pendekar, saya tahu ini adalah rencana besar, Tapi...” Brewok Hitam sedikit ragu untuk berkata, “bagaimana cara kita menarik gerobak yang berukuran besar.”
“Itu sedang dilakukan oleh sahabatku.” Sungsang Geni menunjuk ke sisi terdalam hutan. “Jangat khawatir, semuanya akan menjadi mudah setelah ini.”
Sungsang Geni kembali melanjutkan pekerjaannya. Sebenarnya semua orang menjadi tertegun setiap pemuda itu memotong pohon besar seperti sedang memotong pohon pisang.
Bahkan dalam sekali ayunan pedang energinya, hampir 5 pohon besar tumbang dalam seketika.
“Dia benar-benar kuat?”
“Apa menurutmu dia bahkan bisa menandingi kemampuan, Benggala Cokro?” tanya salah satu dari orang tersebut, sambil sibuk memahat kayu dengan ujung pedangnnya.
“Mungkin dia lebih kuat dari pemuda pedang emas kurang ajar itu. Dia ini berbeda, dia bisa memimpin dan juga sangat bijaksana, sedangkan Benggala Cokro hanya...”
“Ya hanya merayu gadis-gadis yang ditemui dirinya.”
__ADS_1
“Dah macam kelinci saja?”
Setelah beberapa jam, sekarang sesuatu yang dibuat Sungsang Geni mulai berbentuk. Ah, pahatan yang tidak terlalu bagus memang, tapi itu lebih dari cukup untuk mengangkut semua orang hingga melewati pesisir pantai.
Di sisi lain 2 jam yang lalu, Pramudhita beserta Panglima Ireng dan sekawanan srigala mulai mengepung banyak binatang dalam jumlah banyak. Ada banyak jenisnya, bahkan tidak jarang sekawanan landak juga terpaksa kumpul di dalam kawanan.
Pria itu harus melakukan tugas itu dengan secepat mungkin, sebab setelah satu jam maka tubuhnya akan hilang menjadi gaib kembali. Dan ketika hal itu terjadi, yang dapat melihatnya hanya Sungsang Geni.
“Hari pertama keluar ke alam manusia malah menjadi pawang binatang.” Gumam Pramudhita setelah selesai merapalkan ajian ciung wanara.
Sekumpulan binatang di depannya tiba-tiba menjadi tunduk. Pria kekar itu mulai memilah binatang-binatang yang terlihat sangat kuat, seperti belasan rusa, kambing hutan dan beberapa ekor kijang. Ini adalah seluruh binatang yang mampu mereka temukan, selebihnya hanya burung-burung.
“Aku memilih hewan yang mampu berlari cepat.” Ucap Pramudhita, kemudian dia berpaling pada hampir 200 hewan itu. “Aku perintahkan kalian mematuhi seluruh ucapan Sungsang Geni! Ketika aku tidak ada, bukan berarti ajian ciung wanara yang aku miliki juga lenyap. Aku masih memperhatikan kalian semua.”
Seakan paham dengan perkataan Pramudhita, sekawanan binatang itu akhirnya pergi ke arah dimana Panglima Ireng memimpin jalan.
“Tidak...tidak... kalian semua silahkan pergi, tidak ada yang bisa kalian lakukan dengan tubuh-tubuh kecil itu.” Pramudhita berkata pada sekumpulan landak, tupai serta belasan musang yang mengiringi di belakang barisan itu.
***
“Apa itu sebuah gerobak angkut?”
“Hoi..hoi...jangan menghina pekerjaannya. Dia sudah bersusah payah membuatkan benda itu, agar perjalanan kita tidak memakan waktu lama.” Salah seorang berkata sambil berbisik.
Gerobak itu penuh dengan ikatan, rotan dan akar kayu. Sumbu roda yang bahkan tidak begitu lurus mungkin membuat perputaran roda gerobak menjadi timpang.
Meski sama sekali tidak mirip dengan gerobak. Tapi kendaraan itu terdiri dari 50 buah, cukup untuk menampung 10 orang dan ditarik oleh 4 ekor hewan besar seperti rusa.
Sungsang Geni sengaja tidak membuat gerobak berukuran besar, karena akan sangat sulit mengendalikan kendaraan itu pada jalan yang berliku-liku.
Tapi setelah melewati pesisir pantai yang berjalan lurus, kemungkinan gerobak itu melaju sekuat kuda.
“Baiklah kalian semua, silahkan menaiki gerobak ini!” ucap Sungsang Geni.
“Gerr...gerr...”
__ADS_1
Lima ratus orang segera meniki gerobak itu dengan perasaan khawatir, mereka tidak yakin gerobak itu akan bertahan. Sebab itulah, Sungsang Geni menaiki salah satu gerobak yang paling buruk dan memimpin perjalanan.
“Hahaha...ini akan menjadi perjalanan yang menyerukan.” Sungsang Geni kemudian meminta 10 ekor srigala menarik gerobaknya, dan melesat sangat cepat. “Wow...wow...wow...lurus! Bukan menikung, bukan dasar srigala sialan, oh tidak.”
Pemuda itu terbang sesaat ke udara bersama 9 orang yang bersama dirinya kemudian terhempas lagi di dasar gerobak menciptakan pemandangan yang sangat lucu.
Sedangkan Bentara tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah pemuda itu, bahkan lebih tegang dari semua orang.
“Inilah kenapa aku lebih memilih terbang....” gumam Sungsang Geni.
Melihat hal itu, Panglima Ireng berlari lebih dahulu dan memimpin pasukan srigala sehingga laju larinya sedikit melambat. Srigala itu mengerti Sungsang Geni tidak menyukai hal-hal seperti ini.
Pemuda itu bahkan beberapa kali muntah ketika naik di punggung Panglima Ireng waktu itu, sebelum akhirnya serigala hitam itu memperbaiki tempo langkah kakinya.
Sekarang semua orang bisa melihat kelemahan dari pendekar hebat itu.
Panglima Ireng mengatur tempo perjalanan, membuat laju gerobak besar sedikit lebih melambat dari sebelumnya. Ketika rombongan lain sudah mulai menyusul, Sungsang Geni dapat mengetahui wajah-wajah mereka bahkan lebih baik dari sebelumnya.
“Itu tadi benar...benar menakutkan.” Terdengar gelak tawa dari para rakyat. “Apa kalian merasakannya, kita seperti naik di atas punggung gajah gila.”
'Mereka semua tertawa? Baguslah' batin Sungsang Geni tertawa pahit.
“Tuanku Pendekar...apa harus aku memainkan kecapi di perjalanan ini?” Bentara berkata.
“Tentu saja, mungkin itu bisa membuat perutku lebih baik.”
Pada akhirnya perjalanan 10 gerobak itu sudah mulai stabil, sebab jalan sudah cukup datar dan Panglima Ireng pandai memimpin perjalanan.
Di belakang rombongan Gerobak itu, Brewok Hitam beserta bawahannya menarik gerobak makanan yang sudah lebih ringan dari sebelumnya. Selain itu, mereka semua tampak mulai mengagumi sosok Sungsang Geni sebagai pemimpin.
“Dia mungkin beberapa kali melakukan hal yang sedikit gila. Tapi itulah yang membuat dia menjadi menarik.” Brewok Hitam berkata kepada Sibondol.
“Dia adalah orang yang cerdas, jika dia memiliki tim yang kuat mungkin kita memiliki sebuah harapan.”
Jauh melayang diatas angin, Pramudhita yang kembali menjadi wujud halus tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Sungsang Geni. Dia tidak menyangka, pemuda itu mau menaiki gerobak yang membuat dia takut.
__ADS_1
“Tapi mungkin karena itulah, dia dipercaya oleh mereka semua.” Pramudhita menyudahi gelak tawanya.