PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Hutan Kehidupan


__ADS_3

Apa yang dimaksud dengan hasrat yang diucapkan Pramudhita? Sungsang Geni menanyakan hal itu, tapi pria kekar di depannya tertawa cekikikan.


“Kau tidak mengetahui hal itu?” Pramudhita balik bertanya.


“Tidak, aku tidak mengetahui hal itu!” jawabnya singkat.


Hasrat yang dimaksud dengan Prmaudhita adalah sebutan bagi musuh-musuhnya yang seperti asap dengan mata merah yang tadi baru saja datang menyerang.


Sebenarnya mereka adalah mahluk yang tercipta dari hasrat jahat manusia yang telah mati di sekitar wilayah gunung semeru. Tentu saja manusia ini berasal dari dunia luar, beberapa orang mengatakan mereka adalah roh gentayangan.


Dendam, marah benci dan juga iri yang menjadi penyakit hati menjelma menjadi mahluk lain yang sangat jahat ketika seseorang telah mati. Sejauh ini ada ribuan mahluk hasrat yang telah dihancurkan Pramudhita.


Kebanyakan tidak begitu kuat, tapi Pramudhita pernah menemukan beberapa kali hasrat yang benar-benar kuat dan nyaris melukai dirinya. Semakin besar penyakit hati seorang manusia yang mati di wilayah Semeru, maka semakin kuat pula mahluk hasrat yang tercipta.


Sekarang Sungsang Geni menyadari bahwa pendekar pedang bayangan mungkin memiliki musuh yang tidak pernah ada habisnya, lebih mengerikan dari pada dunia luar.


Beberapa saat Sungsang Geni menemukan jalan bercabang, dia bisa melihat jalan menuju tempat awal mula dirinya datang jika belok ke kiri, tapi entah kenapa tampilannya tidak seperti pertama kali dia melihatnya. Dan dia yakin, jalan itu tidak akan membawanya kembali ke dunia luar.


Pramudhita berjalan lurus, menuju tempat yang terang benerang. Sungsang Geni pernah berniat pergi ke tempat itu sebelumnya, hingga memutuskan untuk tidak.


“Kenapa tempat itu sangat terang?” tanya Sungsang Geni.


“Itulah hutan kehidupan, meski terlihat indah tapi sekarang tempat itu adalah sarang dari para hasrat.”sambung Pramudhita, “Kami telah berperang dengan mereka sejak ratusan tahun lalu, atau mungkin sejak kitab pedang bayangan di segel.”


“Kenapa mereka hanya tercipta ditempat ini, maksudku kenapa tidak ada hasrat di tempat lain?” tanya Sungsang Geni.


“Aku tidak tahu alasannya, tapi mungkin ada hubungannya dengan 3 kristal suci.”


Sungsang Geni tidak berkata lebih lanjut, sebab Pramudhita mulai memelankan langkah kakinya dan masuk ke beberapa pohon berdaun lebat. “Hust...kita akan mencari ramuan yang memiliki energi kehidupan di hutan ini, jangan membuat keributan atau kita dalam kesulitan!”

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa tahu tanaman memiliki energi kehidupan yang besar?”


“Carilah yang paling pendek dan kecil, serta berbentuk aneh. Umumnya berdaun keras, beberapa mungkin dijaga oleh binatang buas.” Ucap Pramudhita, pria itu lalu pergi ke sisi lain, “aku akan mencari di tempat lain, kau pergilah ke arah sana!”


Setelah bayangan Pramduhita hilang, Sungsang Geni bernafas kesal. Mana dia tahu seperti apa jenis tumbuhan yang sedang dia cari? Tapi intinya yang berdaun kecil juga terlihat aneh, tapi ada banyak tumbuhan aneh di tempat ini.


“Awww!” Sungsang Geni terkejut, srigala besar hitam mengendus kepalanya, “Apa yang kau lakukan, diam dan tenang! Bukan...bukan, tenang jangan berisik dasar hewan sialan.”


Sungsang Geni hampir saja mengeraskan suaranya, sebab Srigala Hitam Besar atau juga Panglima Ireng tidak mempedulikan ucapannya, masih sibuk mengendus tubuh Sungsang Geni. “Heh...baiklah lakukan apa yang kau mau!”


Sungsang Geni berjalan pelan, menyusuri hutan rimba belantara dengan pohon putih besar dan tinggi. Jika diperhatikan tidak ada warna lain pada batang pohon di tempat ini selain warna putih perak, dan daun kecil berwarna kuning.


Beberapa saat kemudian perjalanan pemuda itu sudah semakin jauh, tapi dia belum menemukan satu tumbuhan yang mirip dengan kreteria yang disebutkan Pramudhita. Ini sedikit membuatnya kesal.


“Apa kau tahu dimana kita harus menemukannya?” ucap Sungsang Geni tapi dibalas dengan geraman dari Panglima Ireng, “Aku anggap tidak. Dan berhentilah menggeram kearahku! Itu menjengkelkan.”


Panglima Ireng mulai menunjukkan ekspresi wajah gusar. Dia mulai mengendus dan berjalan mengendap-endap dibalik rumpun semak yang lebat, Sungsang Geni mengikti hewan itu.


Ketika pemuda itu menyodorkan kepala dibalik rumpun semak, Sungsang Geni menjadi terkejut. Ada setangkai bunga mawar yang hidup di atas batu besar, mekar dan harum semerbak, berwarna emas dan tanpa ada daun. Tapi yang jadi masalah adalah, sekitar 9 mahluk hasrat mengelilingi bunga itu.


“Mahluk itu menjaganya?” ucap Sungsang Geni, belum sempat dia berpikir panjang, Panglima Ireng melompat lebih dahulu dari rumpun semak, dan mengacaukan mereka semua.


Sungsang Geni menarik napas berat, itulah kenapa dia benci bekerja sama dengan hewan. Dia akhirnya mengeluarkan sebuah pedang energi dari telapak tangan, dan terpaksa menyerang mereka semua.


“Padahal aku berniat mengirit tenaga dalamku!” ucap Sungsang Geni setelah selesai menebaskan pedang pada hasrat yang terakhir.


Sungsang Geni mengeluarkan sebuah kantong besar terbuat dari kulit ular, dengan sangat hati-hati pemuda itu mencabut mawar emas dan memasukkan ke dalamnya.


“Apa kau yakin bunga ini memiliki jumlah energi kehidupan?” tanya Sungsang Geni kepada Panglima Ireng, dan meski tidak mendapat jawaban tapi Sungsang Geni kembali berkata, “Yap, seperti yang kuduga.”

__ADS_1


'Sekarang aku hanya perlu mencari tumbuhan dimana ada penjaganya!' Sungsang Geni tersenyum kecil kemudian menatap Panglima Ireng dengan penuh makna, “Kau tahu bau para hasrat? Cari dan temukan dengan hidung besarmu, mereka pasti menjaga tumbuhan ini.”


Seperti mengetahui apa yang dibicarakan Sungsang Geni, Srigala Ireng menggeram pelan kemudian berjalan lebih dahulu dengan hidung yang selalu mengendus ke depan. Dengan begini tidak akan terlalu sulit mencari tumbuhan itu.


Hampir tiga jam lamanya, Sungsang Geni telah mendapatkan beberapa tumbuhan yang memiliki energi kehidupan. Mungkin sekarang dia telah mendapatkan 10 atau 11 tumbuhan, dan membunuh sekitar 40 hasrat bersama dengan Panglima Ireng.


Tapi mungkin malam akan segera datang, sebab cahaya matahari mulai condong ke arah barat. Sungsang Geni tanpa sadar telah masuk kedalam hutan rimba yang sangat dalam.


Dia tidak menyadari jika di malam hari para hasrat akan menjadi lebih kuat dari pada sebelumnya.


Srigala Hitam Besar mulai menggeram beberapa kali, mungkin mengajak Sungsang Geni untuk kembali menemui Pramudhita. Tapi pemuda itu malah tersenyum kecil, “Kau tahu yang sedang kupikirkan? Kita akan bermalam di tempat ini!”


Panglima Ireng menggeleng tanda tidak setuju.


"Kalau begitu kau pergi temui paman Pramudhita!" sambung Sungsang Geni, "Tidak mau? kau tidak harus menjagaku, aku akan baik-baik saja, kita akan berada disini beberapa minggu."


Srigala Hitam sedikit keget dengan perkataan Sungsang Geni, terlihat dari alis matanya yang tiba-tiba naik. Sekarang dia mungkin ingin segera kembali menemui Pramudhita, tapi kabut tipis putih mulai merusak penciuman hidungnya.


“Tenanglah, kita akan mencari tempat untuk bermalam!” ucap Sungsang Geni. Kemudian memimpin jalan.


Sekarang mungkin waktu telah menunjukkan pukul 5 sore, kabut tipis berubah menjadi kabut tebal, pandangan mereka mulai terbatas. Sungsang Geni memutuskan untuk menaiki Panglima Ireng, dan hal ini membuat srigala hitam besar menjadi kesal.


“Kau tahu apa yang aku pikirkan? kita harus sedikit lebih akrab, dan juga saling memahami. Begitulah harusnya kita berteman.” ucap Sungsang Geni sambil menepuk pelan kepala hewan itu.


Setelah hari benar-benar gelap, Sungsang Geni merasakan energi para hasrat mulai datang mendekatinya. Dan pada saat yang sama, pemuda dan srigala hitam menemukan sesuatu yang tidak terduga.


Sungsang Geni mendekatkan mulutnya ke telinga srigala hitam besar, “Panglima Ireng, menurutmu apa itu?”


Selamat membaca bisque...

__ADS_1


__ADS_2