PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Prahara Swarnadwipa 7


__ADS_3

Malam itu Sungsang Geni tidak tidur, sementara rakyat belum mengetahui apapun mengenai situasi di dalam Istana, yang menimpa keluarga Saylendra. Mereka masih asyik berteriak, melempar dadu bermain taruhan, atau meminum arak hingga siang hari.


Jika kondisi memungkinkan, besok pagi Saylendra berencana untuk mengadakan puncak pesta, sekaligus menunjukkan cucunya ke depan rakyat Swarnadwipa. Biasanya acara itu akan di pandu oleh seorang ahli spiritual, atau juga ketua adat.


Ritual itu bertujuan agar sang bayi besar dengan tanggung jawab dan memiliki pribadi yang baik. Pada ritual itu juga akan dilakukan pemberian nama kepada sang bayi.


Di malam hari ini , Sungsang Geni kemudian berjalan keluar kamarnya. Panglima Ireng masih asyik mendengkur di depan pintu keluar, pemuda itu harus berhati-hati agar srigala itu tidak terusik.


Di luar kamar, masih banyak pelayan yang sekarang memberi hormat kepada Sungsang Geni ketika dia melewati mereka.


"Sembah kami, Pangeran..." mereka memberi hormat.


Sungsang Geni tidak menjawab, melainkan hanya senyuman kecil.


Pemuda itu kemudian berjalan pada sebuah ruangan besar. Yang dia lihat ada banyak buku di ruangan besar itu.


Ruangan yang berada sedikit tersembunyi di antara ruangan lain, sebuah perpustakaan. Kala itu, masih ada beberapa pelayan yang bertugas merapikan buku-buku di tempat itu. Ketika mereka melihat kedatangan Sungsang Geni, serentak pekerjaan mereka ditinggalkan berganti memberi penghormatan.


“Tidak bisa tidur?”


Sungsang Geni menoleh ke belakang, menemukan Wira Mangkubumi berdiri di salah satu tiang besar di dekat pintu perpustakaan.


“Tidak, aku hanya ingin membaca sesuatu yang mungkin bisa membuat mataku terpejam.” Sungsang Geni memilah beberapa buku-buku untuk dibaca.


Wira Mangkubumi lantas berjalan mendekat, dia juga terlihat sibuk mencari buku bacaannya. Kemudian wajahnya tersenyum setelah berhasil menarik sebuah buku dari himpitan buku-buku yang lain.


Sementara Sungsang Geni masih berusaha menemukan judul yang cukup menarik.


Sebenarnya hampir seluruh dinding di ruangan itu dipenuhi dengan buku-buku. Butuh sekitar 20 orang untuk membersihkan setiap rak buku setiap harinya. Hal ini membuat Sungsang Geni kesulitan untuk menentukan buku mana yang harus dia baca.


“Menyenangkan bukan? Di tempat ini begitu tenang, rakyat bisa tertawa dengan riang.”

__ADS_1


Sungsang Geni akhirnya menemukan sebuah buku yang cukup menarik, catatan mengenai para pahlawan Swarnadwipa.


“Aku yakin kau akan membawa suasana seperti ini pada orang-orang di Negri Surasena.” Wira Mangkubumi lantas menyodorkan beberapa buku yang menurutnya lebih cocok di baca oleh Sungsang Geni.


“Aku tidak sabar kembali ke Dataran Java, ini sudah hampir satu bulan aku meninggalkan mereka semua.”


“Sayang sekali, padahal aku benar-benar mengharapkan kau berada ditempat ini lebih lama lagi.”


Sungsang Geni hanya menimpali dengan senyum kecil, kemudian mulai membuka lembar demi lembar buku ditangannya.


Setelah beberapa lama mereka bercerita panjang lebar, Wira Mangkubumi lantas membawa Sungsang Geni menuju tahanan Minak Singo. Menurutnya, Minak Singo pasti mempunyai beberapa informasi penting mengenai kekuatan Kelelawar Iblis.


Tidak beberapa lama Mereka lantas menuruni tangga yang licin, jalannya sedikit gelap kecuali remang-remang lampu obor yang menyala di sepanjang tangga.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan pada lorong yang panjang, setiap dua puluh meter ada ruang tahanan yang dihuni hampir 10 bahkan 12 orang kriminal.


Mereka orang-orang yang mencoba membuat kerusuhan di Swarnadwipa.


Ini sudah dua kali Sungsang Geni memasuki penjara bawah tanah, jadi dia tidak begitu terkejut ketika melihat ruang tahanan yang ada disana. Jika dilihat, setiap ruang tahanan memiliki 2 orang penjaga bertubuh besar.


Setelah berjalan kurang lebih 5 menit, mereka akhirnya tiba di pintu paling ujung dan paling besar yang terbuat dari baja berat. Pintu itu begitu polos, hitam kemerahan dan terasa sangat dingin.


Wira Mangkubumi telah menjelaskan bahwa bahan yang digunakan untuk membuat ruang tahanan ini, berbeda dengan ruang tahanan yang lain. Bahannya menggunakan 7 macam besi, yang di yakini bisa mencegah pukulan tenaga dalam atau senjata tajam.


Dua penjaga, tidak tapi tiga penjaga besar tinggi dan bengis membuka pintu itu dengan sedikit mengeluarkan keringat. Begitu berat nampaknya, terbukti dari urat-urat leher penjaga yang keluar hampir sebesar jari kelingking.


Sangat gelap dan busuk, Sungsang Geni yakin jika antara Pramudhita atau Panglima Ireng masuk ke dalam ruangan ini, akan muntah saking busuknya.


Wira Mangkubumi mengambil salah satu obor yang terletak di lorong, kemudian berjalan lebih dahulu sementara Sungsang Geni mengiringinya di belakang.


“Lepaskan aku! Lepaskan Aku!” Suara Minak Singo terdengar bergema di dalam ruangan itu. “Apa kalian ingin berperang dengan kami? Akan aku pastikan kerajaan kalian hancur setelah dataran Java kami kuasai!”

__ADS_1


Sungsang Geni melepaskan sebuah pedang energi yang bercahaya lebih terang dari 10 obor di dalam penjara itu. Kemudian pedang itu melayang perlahan, mendekati sumber suara yang setiap waktu berteriak memekakkan.


Ketika pedang itu mendekati mulutnya, Minak Singo barulah berhenti berteriak, berganti ringisan ketakutan.


Setiap kali Sungsang Geni melakukan hal itu, Wira Mangkubumi tidak bisa menyembunyikan ke-kagumannya. Dia beberapa kali menelan air ludahnya, mungkin berharap bisa melakukan hal yang sama terhadap tombaknya.


Jika saja Sungsang Geni memiliki sedikit lebih banyak waktu, dia berniat untuk mempelajari teknik itu.


“Kau...kau lagi?” Minak Singo tidak berniat memandangi wajah Sungsang Geni lebih lama. “Mau apa kau datang ke sini? Ingin membunuhku?”


“Ya, dan tidak.” Sungsang Geni berkata pelan, tapi di ruangan pengap ini suara akan terdengar lebih memekakkan daripada biasanya.


Sungsang Geni mengalihkan mata pedangnya ke wajah Senopati Legam yang nyaris tidak berdaya. Ada balutan besar di lengan kanannya yang terpenggal, berwarna merah karena dara.


Pemuda itu sedikit kasihan melihat Senopati itu, tapi ketika dia mengingat wajah-wajah Surasena kemarahan Sungsang Geni seperti tidak tertandingi.


Jika dia tidak memiliki cukup kekuatan, Sungsang Geni yakin luka itu bisa membuat dia mati dalam beberapa hari lagi.


“Kalian meninggalkan kami berdua di tempat seperti ini?” Senopati Legam berkata lirih. “Kenapa tidak sekalian membunuhku saja, Mangkubumi?”


Terdengar tawa kecil dari mulut Wira Mangkubumi, sebuah ejekan yang merendahkan musuhnya. Dia lantas berjongkok, memandangi wajah Senopati Legam yang gelap dan kusut kemudian berbisik sangat pelan, “Aku tidak akan membunuhmu, tapi jika kau ingin mati aku yakin kau bisa melakukannya sendiri.”


Wira Mangkubumi sengaja tidak menutup mulut Senopati Legam, alasannya sederhana: Jika Legam tidak bisa bertahan di dalam penjara ini, maka jalan kematian paling mudah dengan menggigit lidahnya hingga putus.


Menyadari prajurit Negri Sembilan itu tidak berniat melakukan bunuh diri, Wira Mangkubumi tertawa kecil kemudian memainkan lilitan rantai yang menggelung sekujur tubuh Senopati itu.


“Sebenarnya aku tidak mempunyai urusan dengan kalian berdua, untuk saat ini aku hanya berharap kalian mati dan membusuk di dalam penjara.” Wira Mangkubumi mengarahkan obornya ke wajah Minak Singo, kemudian menyipitkan mata. “Tapi Pemuda yang kubawa memiliki maksud lain, jika tidak ingin ada siksaan yang lebih berat maka aku harap kalian patuh kepadanya.”


Hari ini satu dulu aja ya, author masih belum enakan. yang percaya sukur Alhamdulillah yang gak percaya gak pp...


mungkin besok akan kembali normal.

__ADS_1


author sakit di perut sebelah kanan, tapi untuk ke rmh skit takut, taulah alasannya?.


dukung pdm jika suka, bisa like komen dan vote sebanyak banyaknya.


__ADS_2