PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pendekar Pemanah


__ADS_3

Gadis itu terlihat sebaya dengan Cempaka Ayu. Wajahnya cukup cantik ketika kain penutup wajahnya terbuka, meski memang dia terlihat masih ketakutan di sergap Panglima Ireng .


“Katakan siapa dirimu?” Mahesa mulai bertanya. “Kenapa kau mengintai perjalanan kami, apa yang akan kau lakukan?”


Butuh beberapa menit bagi gadis itu untuk mengontrol kembali tubuhnya. “Aku Cawang Wulan...” jawabnya pelan.


“Cawang Wulan? Baiklah, kenapa kau bersembunyi di balik semak-semak?” Mahesa mulai merendahkan tutur katanya. “Kau bandit?”


Tatapan Cawang Wulan mendadak sinis mendengar pertanyaan Mahesa. Tapi tidak beberapa lama, mungkin karena menyadari posisinya tidak menguntungkan, gadis itu kembali menundukkan kepala. Menghirup napas berat.


“Kami memang bandit, ya..,..tapi semua korban yang kami jarah milik Kelompok Kelelawar Iblis. Mereka memiliki jumlah makanan yang banyak di gudang penyimpanan barang. Kami sudah pernah melihat gudang itu.”


Sungsang Geni turun dari pundak Panglima Ireng, kemudian memperhatikan situasi di sekelilingnya, lalu kembali menatap gadis itu sambil tersenyum penuh arti. “Kalian melihatnya? Gudang makanan?” Sungsang Geni menggaruk dagunya.


Gadis itu tidak menjawab perkataan Sungsang Geni. Dia bisa menangkap pemuda di depannya bukan orang bodoh. Juga tidak lemah, setidaknya itulah yang dia pikirkan. Jadi gadis itu berusaha sekuat mungkin untuk tidak membuat onar, apa lagi menyinggung pemuda penunggang Srigala itu.


“Tadi kau bilang, 'Kami'. Dimana teman-temanmu?” Mahesa melanjutkan pertanyaannya.


“Mereka..,..mereka....”


“Mereka ada disini.” Sungsang Geni melanjutkan ucapan gadis itu, dia menunjuk beberapa dahan pohon yang bergerak tak lazim. Padahal tidak ada angin. Manamungkin pula tupai yang melakukannya.


Belum kering air liur Sungsang Geni, satu orang pria yang mengenakan pakaian seperti Cawang Wulan turun dari atas pohon, kemudian di ikuti hampir 20 orang lagi dengan busur panah yang ditarik.


Sontak seluruh prajurit menjadi waspada. Mereka mengangkat tameng rotan, melindungi wajah dan tubuh. Sementara itu, Empu Pelak terlihat paling tenang di antara para prajurit itu.

__ADS_1


“Lepaskan dia!” pria itu memberi peringatan. “Atau panahku akan menembus tulang tengkorak kalian. Aku pastikan hal itu bukan gurauan.”


Sungsang Geni tidak bergerak dia sudah tahu ada yang aneh dengan anak panah pria itu. Jelas itu bukan panah biasa, sebuah pusaka level tinggi, mungkin. Ada energi kuat yang menyelimuti anak panah serta busur yang pria itu kenakan.


“Sepertinya kami sudah salah paham, Kisanak.” Sungsang Geni mendekati pria itu tanpa rasa takut. “Kami mengira gadis ini, Cawang Wulan, adalah bandit yang mengintai dan akan menjarah kami.”


Dari celah penutup wajah yang mirip seperti cadar, pria itu menyipitkan matanya. Belum percaya. Dia belum menurunkan panahnya, sekarang anak panah itu malah menghadap ke arah kening Sungsang Geni.


“Siapa kalian? Aku tidak pernah melihat bendera..,..” Pria itu menajamkan matanya pada bendera yang berkibar di paling belakang barisan itu, mengeja tulisan kecil yang tertera di bawah lambang burung elang, “bayangkara? Apa kalian pasukan Surasena, atau pasukan Serikat Pendekar?”


“Tidak penting kami adalah pasukan Surasena atau Pasukan Serikat Pendekar.” Sungsang Geni tidak menghiraukan mata panah yang masih ter arah di wajahnya. “Tujuan kami hanya satu, merebut kembali wilayah yang sudah dikuasi oleh, Mereka!” Pemuda itu menujuk pada puluhan mayat Kelelawar Iblis di belakang pria itu.


Mendengarnya, pria itu baru menurunkan panahnya, kemudian diikuti oleh semua teman-temannya. “Apa kau bercanda anak muda?”


“Tidak...”


Mahesa terlihat masih ragu, tapi Sungsang Geni sudah menaiki Panglima Ireng dan mengikuti pria itu masuk ke dalam semak-semak lebat. Patih itu tidak ingin terburu-buru, jadi dia masih menahan Cawang Wulan.


Setelah beberapa waktu, Mahesa menemukan Sungsang Geni dan pria pengguna panah itu berdiri di puncak bukit yang lumayan tinggi. Hanya ada tanaman berdaun kecil memenuhi seluruh puncak bukit kecil itu.


Permukaannya penuh dengan kerikil kecil, kemudian tanah berwarna merah saking gersangnya. Dari tempat ini, mereka semua bisa melihat ada belasan bukit-bukit kecil di bawah mereka, berwarna hijau, kuning dan hitam.


Kesamaan antara bukit-bukit itu adalah, Gersang.


“Apa itu sebuah Markas?” Sungsang Geni melihat ada tembok yang sudah di bangun mengelilingi tempat yang mengeluarkan asap tipis.

__ADS_1


Tembok itu di kelilingi dengan rumah-rumah yang nyaris hancur tanpa tersisa, kecuali rumah di dalam tembok yang berukuran besar dan kecil.


“Matamu sangat tajam,” Pria itu memuji Sungsang Geni. “Di dalam angotaku, hanya aku yang bisa melihat markas Kelelawar Iblis itu dari bukit ini.”


Tempat yang di katakan Sungsang Geni lumayan jauh jika di tinjau dari bukit ini. Mahesa sudah berusaha menajamkan matanya, menyipit dan melotot, tapi dia tidak bisa melihat satu bentuk bangunan yang mereka berdua katakan. Ini membuat dia sangat kesal.


“Aku sudah pernah melihat langsung markas itu.” Pria itu melanjutkan. “Ada sekitar 500 prajurit berada di dalam tembok. Mereka mempekerjakan wanita desa menanam padi dan ubi-ubian. Kemudian memaksa para pria untuk membangun tembok.”


“Dalam radius 4 hari perjalanan, Markas itu paling penting di wilayah ini.” Cawang Wulan memberanikan diri membuka suara, “Karena mereka memiliki pusat makanan yang paling melimpah. Padi dan sayur mayur tumbuh subur di tanah itu.”


Markas itu merupakan markas paling kecil. Ada hampir 100 markas kecil tersebar di seluruh Dataran Java. Kemudian ada markas yang lebih besar lagi, markas cabang.


Tembok yang mengelilingi markas cabang sudah terbuat dari susunan batu pualam. Setidaknya Minak Singo mengatakan ada sekitar 30 markas cabang.


Di balik 2 bukit di depan mereka, ada sebuah desa kecil yang sangat subur. Kelompok Kelelawar Iblis meletakkan hampir 100 orang penduduk untuk menggarap padi darat, di bekas puing-puing rumah mereka sendiri.


“Kisanak, kita sudah berkata panjang lebar tapi kita belum saling mengenal.” Sungsang Geni tersenyum kecil. “Namaku adalah Sungsang Geni, kau boleh memanggilku Geni atau Jaka Geni. Jika aku boleh tahu siapa namamu?”


Pria itu terkekeh kecil, baru pula menyadari bahwa mereka belum saling kenal. “Aku dijuluki Jaka Sewu,” pria itu mengangkat busur panahnya seraya melepaskan penutup wajah. “Ini adalah Busur Sewu, pusaka yang bisa melepaskan anak panah tanpa henti.”


Benar yang diduga Sungsang Geni, Busur panah yang di pakai pria itu adalah sebuah pusaka.


Busur Sewu bisa melepaskan anak panah tanpa henti, jika tuannya memiliki cukup tenaga dalam untuk menggunakannya.


Tidak semenawan busur panahnya, Jaka Sewu memiliki raut wajah yang terbilang buruk. Ada banyak bekas luka memenuhi seluruh wajahnya. Sungsang Geni yakin pria itu sudah mengalami hal-hal sulit selama hidupnya.

__ADS_1


Pria itu tidak memiliki banyak rambut di bagian depan, kecuali hanya beberapa saja tepat di bagian ubun-ubun. Bukan sebuah kebetulan, Kepala Jaka Sewu dipenuhi dengan luka bakar yang mengerikan. Berwarna merah seperti kulit yang mengelupas.


“Untuk kenyamanan kalian, aku akan kembali mengenakan tutup wajahku.” Jaka Sewu kembali melilitkan kain di kepala, hanya menampakkan dua buah bola matanya yang tajam.


__ADS_2