
Sungsang Geni melempar tubuh Asura ke atas langit, dalam keadaan seperti itu Sungsang Geni mengarahkan dua telapak tangannya ke arah tubuh Asura yang tiada berkutik dihadapan matahari.
“Tidak!” ucap Asura, menyadari hal buruk yang bakal terjadi.
Dari dua telapak tangan Sungsang Geni muncul cahaya terang, panas dan kuat mirip seperti bola matahari. Cahaya itu bergerak cepat dan berhasil mengenai tubuh Asura. Apakah langsung mati? Tidak. Sekarang tubuh mahluk itu terkurung di dalam energi panas miliki Sungsang Geni.
Asura berusaha keluar dengan segala kekuatannya, tapi tidak berhasil. Dia memberontak, berteriak keras tapi apapun yang dilakukan oleh mahluk itu tidak bisa keluar dari dalam belenggu api yang panas.
“Kembalilah ke dunia asalmu.” Sungsang Geni menyatukan dua telapak tangannya di tengah dada, seketika energi panas yang membelenggu Asura mulai menyusut setiap detiknya.
Asura memberontak, berusaha menahan dengan semua kekuatan yang ada. Energi yang membelenggu semakin menyusut, membuat tubuh Asura perlahan-lahan mulai terbakar.
Mula-mula bahunya terkoyak, kemudian kakinya mulai terbakar hingga terakhir seluruh tubuhnya hangus tanpa tersisa. Energi panas itu terus menyusut seolah tidak memberikan peluang bagi Asura untuk melakukan Regenerasi.
Beberapa waktu kemudian, energi panas berwarna kuning kemerahan telah menjadi putih bersinar sebesar kepalan tinju.
Sungsang Geni melirik ke bawah, pada awan hitam yang menyelimuti dataran Java. Kemudian pemuda itu melepaskan gumpalan energi itu, membuatnya meledak. Cahayanya begitu terang, merayap memakan awan hitam yang gelap.
Perlahan-lahan dataran java disinari oleh matahari. Sungai-sungai terlihat mengalir dengan jernih di lembah-lembah. Ribuan tumbuhan yang belum terjamah oleh petir Asura kembali terlihat berseri setelah butiran cahaya panas milik Sungsang Geni menyentuh dahan-dahan.
Hanya dalam beberapa menit saja, alam dataran java kembali lagi menghijau kecuali bagi tumbuhan yang telah terlanjur mati. Seolah sekarang tanah Java menjadi dunia baru bagi mahluk yang berdiri di atasnya.
Beberapa burung kecil berkicau, bernyanyi riang di antara dahan-dahan pohon. Binatang yang sempat menjadi setengah mahluk kegelapan, sekarang kembali seperti semula. Beberapa ekor rusa berlarian di tengah dataran hijau, bermain bersama dengan induk mereka.
Sementara itu, di ruangan bawah tanah kastil hitam seluruh makhluk kegelapan tiba-tiba mati seketika tanpa sebab.
Ki Lodro Sukmo tidak percaya dengan pandangannya saat ini, barusan hampir saja dia mati dibunuh oleh mahluk mirip srigala. “Mereka semua telah mati?” ucap Ki Lodro Sukmo tidak percaya.
__ADS_1
“Tampaknya demikian...” Ki Alam Sakti mendesah berat. “Sekarang kita hancurkan gerbang ini.”
Kecuali gerbang kegelapan, tidak ada satupun yang tersisa saat ini. Meski tidak ada lagi mahluk kegelapan yang keluar dari gerbang itu, tapi ketiga orang tersebut sepakat untuk menghancurkannya. Ini demi kebaikan.
Dengan hancurnya gerbang kegelapan, tiba-tiba ruangan bawah tanah mulai bergoyang keras. Semakin lama, langit-langit berjatuhan menimpa mayat-mayat mahluk kegelapan.
“Kita harus keluar dari sini.” Ki Alam Sakti memapah Ki Lodro Sukmo yang telah kehabisan daya. “Tempat ini akan runtuh.”
Dengan sangat kesulitan, mereka bertiga berlari menyusuri lorong panjang, mendaki tangga dan menemukan lorong lain yang mulai runtuh.
“Disana!” Lakuning Banyu menunjuk lorong yang ujungnya terlihat bercahaya terang. “Jangan menyerah, kita bisa melewati tempat ini.”
Runtuhan bangunan terus saja berjatuhan, dan beberapa kali mereka bertiga hampir tertimpa. Hingga pada akhirnya dengan sekuat tenaga ketiga pendekar itu berhasil keluar dari dalam Istana Topeng Beracun.
“Apakah kita telah menang?” KI Lodro Sukmo berdiri diatas bukit kecil tidak jauh dari istana hitam yang mulai runtuh. Suara reruntuhan bahkan masih terdengar dengan jelas saat ini.
“Ya, kita menang...” ucap Ki Alam Sakti. “Geni telah berhasil mengalahkan kegelapan.”
***
Setelah satu minggu lamanya, semua prajurit Surasena berhasil keluar dari gerbang Zambala dengan melalui rute yang sama ketika mereka masuk. Bukan seperti Sungsang Geni yang salah pilih jalan keluar, malah nyasar di Perguruan Lembah Ular.
Tangis haru bergema dari mulut ribuan prajurit yang selamat. Sekarang mereka bisa melihat siang hari, melihat matahari bersinar di ufuk timur dan bisa melihat tumbuhan menghijau. Kupu-kupu terbang diantara bunga-bunga kecil.
Namun kebahagiaan semua orang tidak berlangsung lama, setelah KI Alam Sakti memberi tahu bahwa Sungsang Geni sudah hilang dari dunia ini. Pak tua itu sudah mencari di segala penjuru, tapi hanya menemukan potongan celana yang diyakini milik Sungsang Geni.
“Bisa saja dia pergi...” ucap Mahesa tidak percaya jika sahabatnya telah gugur.
__ADS_1
“Ya, dia tidak mungkin mati...” Ratih membenamkan kepalanya di pelukan Siko Danur Jaya sambil terisak-isak. “Geni tidak mungkin...”
Tiba-tiba semua orang menjadi haru, bahkan Wira Mangkubumi hampir kehilangan kesadaran setelah mengetahui saudara iparnya itu telah pergi. Tidak ada yang ingin percaya jika Sungsang Geni benar-benar mati, tidak ada satupun.
“Kita akan mencarinya, meski harus menyusuri Dataran Java sepetak demi sepetak.” Mahesa berniat pergi, tapi segera dihalangi oleh Lakuning Banyu.
“Tentu saja kita akan mencarinya...” ucap Lakuning Banyu dengan senyum pahit.
“Ini sudah diramalkan...” Ki Alam Sakti berkata dengan dada berdebar. “Untuk mengalahkan Dewa Kegelapan, tentunya Sungsang Geni telah mengambil resiko besar bagi kehidupannya.”
“Apa maksudmu, Guru?” tanya Dewanga. “Apakah Geni benar-benar telah gugur.”
“Tidak ada satu orangpun yang bisa bertahan ketika kekuatan dewa menyatu di dalam tubuhnya.” Ki Alam Sakti menatap semua wajah teman-teman Sungsang Geni. “Mungkin Geni tidak mati, tapi dia tidak mungkin berada di alam ini lagi.”
Semua orang hanya terdiam setelah mendengar penjelasan Ki Alam Sakti. Begitu berat rasanya menerima kenyataan ini, tapi kemudian semua orang sadar bahwa Sungsang Geni telah menukar cahaya di dunia dengan nyawanya sendiri.
Tiga hari kemudian, di Istana Laut dalam.
Wulandari dan Cempaka Ayu hampir jatuh pingsan setelah mendapati kabar bahwa Sungsang Geni telah gugur di dalam medan pertempuran. Ini adalah kabar terburuk yang pernah mereka terima.
Bagi Wulandari, bukan hanya kabar mengenai gugurnya Sungsang Geni tapi juga kabar mengenai sang ayah, Lemah Abang yang sempat menjadi mahluk jahat dan sekarang telah tewas.
Baik Cempaka Ayu dan Wulandari tidak dapat menahan diri. Cempaka Ayu mengurung diri di dalam kamar, hanya sendirian tanpa ada satupun orang berani mengganggunya. Sementara itu, Wulandari duduk dengan tatapan kosong ditemani dengan Panglima Ireng yang meneteskan air mata. Srigala besar hitam itu tentu saja merasakan kehilangan.
“Gerr...gerr...” ucap Ireng meletakkan moncong hitamnya di pangkuan Wulandari.
“Jangan khawatir, aku akan menemanimu menggantikan Geni.” Gadis itu terisak-isak, sambil memeluk leher Panglima Ireng.
__ADS_1