PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pramudhita vs hasrat2


__ADS_3

“Paman, aku rasa dia memiliki kemampuan yang lebih hebat daripada ketika dia hidup dahulu,” sambung Sungsang Geni. “Tapi aku yakin kau lebih hebat dari dirinya, aku percaya itu.”


“Oh...tentu saja, aku tidak akan kalah.”


“Paman, dia datang!” Sungsang Geni lekas melompat beberapa langkah ke belakang, menghindari serangan yang sebentar lagi datang, dan ternyata.


“AHK!”


Serangan itu berhasil mendarat tepat di wajah Pramudhita, membuat pria itu terlempar beberapa puluh meter kebelakang.


“Paman kau baik-baik...”


“Aku baik-baik saja, bocah sialan!” teriak Pramudhita sangat kesal, “Lebih baik kau diam saja, dan jangan meng...AHK!”


Sungsang Geni menutup matanya, pada serangan kedua yang berhasil mendarat tepat di bagian perut. Sekali lagi, pria itu terlempar beberapa meter ke belakang.


“Aku sudah muak dengan semua ini!” teriak dirinya, seraya mengepalkan tinju dan memukul tanah dengan keras, “Kalian berdua membuat aku semakin jengkel!”


Setelah mengatakan hal demikian, Pramudhita mengeluarkan pedang dan meluncur menuju mahluk itu. Dia mengerahkan segenap kemampuannya, pada serangan kali ini.


Beberapa gerakan tingkat tinggi mulai dia keluarkan, teknik serangan jarak pendek dan jarak jauh mulai dia kombinasikan. Dan hal itu, membuat Mahluk Hasrat mulai mendapatkan luka-luka yang cukup dalam.


Ketika lawannya mulai mengobati luka, Pramudhita dengan cekatan memberi luka pada bagian yang lain.


Serangan tak berkesudahan pada akhirnya berhasil melukai mahluk itu cukup parah, kali ini Pramudhita menancapkan pedangnya tepat pada bagian leher.


“Aku tidak akan kalah semudah ini!” suara geraman keluar dari mulut mahluk hasrat, dan seperti Pramduhita, Sungsang Geni merasa ngilu mendengar nada suaranya.


“Tidak ada pilihan lain!” ucap Pramudhita mundur beberapa langkah ke belakang, “Kau tidak akan mati terkena tebasan, tapi bagaimana jika seluruh tubuhmu hancur?”


Pramudhita naik di awang-awang, ini adalah jurus murka naga bayangan. Sungsang Geni telah menunggu jurus ini, melihat bagaimana kekuatan bayangan naga milik Pramudhita.


Di lain sisi, mahluk hasrat juga melakukan hal demikian, sesuatu yang besar keluar dari dalam tubuhnya. Sebuah tombak terbuat dari batu hitam pekat. Tanpa menunggu lama,tombak itu melesat ke arah lawannya.

__ADS_1


Benturan tombak dan naga bayangan beradu diatas sana. Ini adalah kesekian kali Sungsang Geni merasakan tekanan yang sangat kuat, membuat dia menjadi terbiasa.


Hanya saja kerisauan Sungsang Geni mulai tergambar sebab tombak itu mulai menekan serangan Pramudhita. Tombak itu, mulai meretakkan gigi taring naga bayangan, dan ini bukan hal yang baik.


Jika dibiarkan lagi bukan hal mustahil Pramudhita bakalan kalah, jadi Sungsang Geni melepaskan aura panas tertuju pada hasrat yang sedang tertawa riang.


Aura panas itu berhasil mengganggu aliran energi kegelapan miliknya, dan hal itu membuat Pramudhita tidak membuang kesempatan. Naga Bayangan mematahkan tombak hitam, kemudian meliuk cepat dan menerabas lawannya.


Hanya beberapa menit saja, mahluk itu lenyap seketika bersamaan dengan naga bayangan yang hilang. Pramudhita tersenyum pahit, kemudian turun ke permukaan tanah dengan napas yang masih memburu.


“Terima kasih telah membantuku!” ucap Pramudhita merebahkan tubuhnya ke permukaan tanah, “Dia ternyata memang sangat kuat!”


“Aku tidak melakukan apapun, kau yang mengalahkannya Paman!”


“Tidak, ini adalah pesta kita berdua.” Pramudhita terkekeh kecil, “Ternyata kemampuanku tidak cukup kuat!”


“Tidak banyak orang seperti dirimu di dunia kami, mungkin hanya 2 atau tiga orang saja!” sambung Sungsang Geni. “Tenaga dalammu luar bisa besar, kau akan menjadi orang terkenal jika berada diluar sana!”


“Kau pintar berbicara anak muda.”


***


3 hari kemudian, Sungsang Geni sudah mengumpulkan kembali tenaga dalamnya. Setelah pertempuran itu, dia melakukan meditasi di ruangan Pramudhita selama 3 hari 3 malam lamanya.


Dan hari ini, dia diundang untuk menghadiri perkumpulan yang diadakan di balai Padepokan, letaknya di tengah-tengah Padepokan ini.


Awalnya Sungsang Geni merasa sungkan, tapi perwakilan yang menemui dirinya mengatakan bahwa ini permintaan Resi Irpanusa.


Ketika dia tiba di tempat itu, semua orang sudah berkumpul dan menunggu kedatangannya. Balai pertemuan yang cukup besar, setidaknya ada 100 pendekar sedang duduk bersila dengan posisi melingkar.


“Duduklah di dekat diriku!” ucap Resi Irpanusa, menyilahkan Sungsang Geni duduk pada tempat yang masih kosong di sebelah kirinya.


“Terima kasih Resi!”

__ADS_1


Sungsang Geni duduk bersila, diapit Resi Irpanusa dan juga Tabib Nurmanik. Di sisi kanan Resi itu, duduk pula Pramudhita yang tersenyum kecil kepadanya.


Semua orang nampak sudah pulih dari luka-luka yang mereka alami. Wajah Tabib Nurmanik terlihat lebih ceria seperti sedia kala, tapi ternyata hanya luka di mata Resi Irpanusa yang tidak kembali pulih.


Sungsang Geni menanyakan tentang hal itu, tapi Resi itu membalasnya dengan nada menyentuh hati.


“Aku memang selalu memejamkan mata di setiap meditasi yang aku lakukan!” jawab Pimpinan Padepokan itu, “Aku tidak membutuhkan kedua bola mataku. Terkadang kita bisa melihat kebenaran, ketika matamu tertutup rapat. Karena mata hati yang bersih, kita bisa melihat segalanya.”


Sungsang Geni hanya menganggukkan kepala, kehidupan sepiritual Resi Irpanusa jauh diatas dirinya bahkan mungkin jauh diatas Eyang Gurunya, Ki Alam Sakti.


“Kami semua mengundangmu, karena ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Berkat bantuan dirimu kami bisa menyatukan kembali padepokan cabang utara dan selatan.” Ucap Resi Irapanusa.


“Aku tidak melakukan apapun, Resi.”


Semua orang tersenyum mendengar perkataan Sungsang Geni, jelas saja dia telah melakukan banyak hal. Mungkin bagi dirinya tidak terlalu nampak, tapi bantuan Sungsang Geni merubah pola pikir semua pendekar di sana.


Selama dia melakukan meditasi, hampir seluruh pendekar yang memihak Sriyu Kuning yang selamat meminta perlindungan dan menyerahkan diri. Dan itu dipenuhi oleh Resi Irpanusa, bagaimanapun mereka adalah pendekar yang lahir dari didikkan yang sama.


Beberapa pendekar kelas tinggi seperti Prama Londro dan Kudusia berada di dalam tahanan penjara bawah tanah, mereka akan dibebaskan setelah berhasil melakukan tapa ampunan kepada dewa Siwa.


Ini adalah tradisi di tempat ini, mereka akan melakukan ritual puasa selama satu tahun penuh, dengan doa-doa yang dirapalkan setiap waktu.


Tapa ampunan mungkin membutuhkan waktu 1 tahun lamanya, tapi selagi mereka melakukannya dengan ikhlas, 1 tahun bukanlah waktu yang lama.


Pada saat perkumpulan itu, Tabib Nurmanik mengeluarkan dua buah kotak yang terbuat dari anyaman bambu kuning. Didalam setiap kotak ada 5 botol kecil ramuan yang memiliki energi kehidupan sangat besar.


“Ambilah 10 botol ramuan ini!” ucap Wanita itu, “Ini adalah ramuan yang aku teliti dan disimpan selama 100 tahun. satu ramuan setara dengan 30 kunyir emas, atau setara dengan 10 buah tumbuhan jahe merah darah.”


Sungsang Geni merasa ragu untuk menerima pemberian itu, dia tidak memiliki hak dengan penghargaan sebaik ini, tapi Resi Irpanusa menepuk pundaknya sambil tersenyum sahaja.


“Dengan ini, tenaga dalamu mungkin bisa naik hingga mencapai 6 atau 7 jule, tentu saja jika kau siap menanggung rasa sakit yang lebih dari sebelumnya,” ucap Resi Irpanusa. “Mungkin kau harus memiliki tenaga dalam hingga 9 jule untuk menguasai teknik sapuan jagat, tapi kau tidak memiliki waktu sebanyak itu, Bukan?”


“Benar Geni!” sambung Pramudhita, “Kita tidak tahu membutuhkan waktu berapa lama untuk mempelajari kitab pedang bayangan? Tapi sebaiknya kau harus memulainya hari ini.”

__ADS_1


Hai, semoga teman teman terhibur dengan tulisan ini.


Terima kasih karena sudah mendukung, dalam bentuk apapun.


__ADS_2