
Sungsang Geni kembali ke Telaga Kehidupan, di dalam rumah batu yang tersusun dari batu balok besar dan licin.
Pemuda itu menyadari bahwa mungkin sakit yang akan di alaminya tidak akan terkira, dia bahkan merinding hanya membayangkannya saja.
Namun tidak ada cara lain, tidak ada tempat lain dan tidak ada waktu lain, Sungsang Geni harus kembali ke dunia luar dengan kekuatan yang lebih besar.
Ketika tepat berada di depan telaga, tanaman rambat seperti tumbuhan karnivora mulai membuka mulutnya. Tutup botol kecil yang diberikan oleh tabib Nurmanik terbuka sendiri, kemudian ramuan di dalam botol terhisap ke dalam mulut tumbuhan. Ramuan itu seperti madu, berwarna kuning cerah dan terlihat kental.
"Apa kau sudah siap, Geni?" Pramudhita membantu Sungsang Geni melepaskan seluruh pakaiannya.
Sejujurnya Pramudhita tidak begitu yakin akan keputusan Sungsang Geni. Belum pernah ada orang segila dirinya melakukan ritual dalam sekaligus yang bahkan bagi orang biasa membutuhkan 200 kali ritual.
"Aku sudah siap kapanpun, Paman!" Sungsang Geni memantapkan tekadnya.
Sungsang Geni masuk kedalam telaga, perasaan ini sudah pernah dia rasakan, jadi tidak terlalu terkejut ketika akar sulur melilit seluruh tubuhnya. Pemuda itu hanya pasrah, dia menatap ke atas, pada bayangan Pramudhita yang membungkuk memandangnya.
Namun perlahan, bayangan mereka mulai hilang berganti cahaya telaga yang bersinar terang. Dan pada saat yang sama, dia merasakan setiap urat didalam tubuhnya tersambung dengan akar berduri yang tajam yang kemudian tercabut secara perlahan.
Sungsang Geni berteriak, menjerit dan meronta kesakitan. Ternyata benar, rasa sakit ini lebih parah dari sebelumnya. Tapi tentu saja, tidak ada cara untuk kembali, Sungsang Geni tidak akan dilepaskan oleh akar sulur sebelum seluruh energi yang tersebar di seluruh telaga masuk sepenuhnya.
Sementara itu pada saat yang sama, Resi Irpanusa bahkan dibantu dengan Pramudhita berusaha memasukkan seluruh energi itu.
"Ini adalah enrgi yang benar-benar besar!" ucap Pramudhita. "Bahkan kami berdua kesulitan untuk melakukan ritual ini."
Saking kuatnya energi yang terpancar dari air telaga bahkan mulai keluar dari rumah batu, dan ini tidak terlalu bagus. Jika energi itu tidak dapat masuk kedalam tubuh Sungsang Geni seutuhnya, maka hanya akan terbuang sia-sia.
Melihat cahaya pijar keluar dari dalam rumah batu, Tabib Nurmanik bergegas membantu bersama dengan Sikembar.
Setelah berjuang cukup keras akhirnya mereka berhasil menekan energi putih itu, dan bersama-sama memadatkan kembali ke dalam telaga kehidupan.
__ADS_1
"Berjuanglah lebih keras!" Resi Irpanusa memberi instruksi.
Cukup lama, mungkin 3 jam atau mungkin 4 jam lamanya, mereka berlima pada akhirnya bisa menyelesaikan ritual itu meski harus menguras banyak tenaga dalam.
"Dia akan mengalami kesakitan selama 3 hari lamanya!" ucap Pramudhita, memandangi Sungsang Geni yang menggelepar di dalam telaga, "Bahkan 10 jam saja, aku tidak akan mampu melakukannya."
Tabib Nurmanik tidak berniat melirik ke dalam telaga, dia sudah cukup yakin dengan bayangannya sendiri, jadi wanita tua itu hanya memejamkan mata sambil berharap Sungsang Geni bisa melalui semua ini.
Selama 1 jam mereka berlima masih berada di tempat itu, memperhatikan keadaan Sungsang Geni dari atas permukaan telaga. Air telaga sejak tadi selalu beriak kecil, karena munculnya gelembung angin tepat di tengahnya.
Namun Pada akhirnya mereka pergi meninggalkan Sungsang Geni sendiri. Sebelum Pramudhita melangkah keluar dari dalam rumah batu, Panglima Ireng menggeram kecil menghadangnya.
"Kau ingin menjaga dirinya?" tanya Pramudhita.
"Ger...gerr..." Srigala Itu menatap ke dalam rumah batu, dengan tatapan sayu.
"Silahkan! Sepertinya kau menemukan teman berharga saat ini!" Pramudhita mengelus kening Srigala sesaat kemudian segera berlalu.
Setelah tiga hari tiga malam lamanya, Panglima Ireng mengaum dengan keras. Suara Srigala hitam besar, terdengar di setiap sisi Padepokan Pedang bayangan. Membuat semua orang menjadi keheranan, karena tidak biasanya srigala itu mengaum di dalam Padepokan.
Resi Irpanusa bersama Pramudhita dan beberapa orang yang lain bergegas menuju ke telaga kehidupan. Mereka cukup yakin, bahwa suara auaman Panglima Ireng adalah tanda bahwa ritual Sungsang Geni telah berakhir.
Setibanya di rumah batu Prmudhita dan yang lainnya, menemui Sungsang Geni sudah berada di pinggir bibir telaga.
"Apa kau yang menariknya keluar?" tanya Pramudhita, kembali mengelus kening Panglima Ireng, "Kerja bagus, kau benar-benar teman yang baik."
Pramudhita lalu mengenakan pakaian Sungsang Geni, tentu saja pemuda itu sekarang tidak sadarkan diri. Tapi setelah merasakan jantung Sungsang Geni yang berdetak kuat, Pramudhita tersenyum kecil.
"Kau kembali, anak muda!"
__ADS_1
Sungsang Geni akhirnya dibawa ke rumah Resi Irpanusa, di diletakkan diatas pembaringan dimana semua orang yang datang menjenguknya harus bergantian, sebab ruangan tidak terlalu luas.
Semua orang terlihat sangat penasaran dengan pemuda yang mampu melakukan ritual seberat itu. Sebenarnya berita mengenai ritual yang dilakukan Sungsang Geni telah menjadi buah bibir dikalangan pendekar.
Beberapa orang menghina Sungsang Geni sebagai orang gila dan nekat, tapi tentu saja ada lebih banyak orang yang memuji tekad gila pemuda itu.
"Menurutmu berapa lama lagi dia akan sadarkan diri, Resi?" Pramudhita bertanya kepada Resi Irpanusa.
Resi Irpanusa tersenyum kecil, "Dia sudah sadar dari tadi, sekarang pemuda itu sedang tertidur, jangan diganggu biarkan dia istirahat!"
Pramudhita yang mendengarnya sambil meminum segelas air, mendadak terkejut membuat air didalam cawannya tumpah dan mengenai wajah Sungsang Geni. Dia sudah tersadar dari tadi? Padahal Pramudhita mengira butuh waktu berminggu-minggu agar Sungsang Geni bisa kembali sadarkan diri.
"Apa sedang hujan?"
"Geni?"
"Kenapa ada air, apa sedang hujan?" tanya Sungsang Geni, sambil menyeka air yang tumpah di wajahnya, setelah mendapati cawan air dipegang Pramudhita, Sungsang Geni menghela napas berat. "Paman? Apa kau tidak bisa membiarkan diriku istirahat sedikit lebih lama?"
"O'...ini, aku tadi tidak sengaja menumpahkannya ke wajahmu...Lupakan itu! Tidak peduli aku menumpahkan air atau tidak, tapi sekarang aku sangat senang melihat dirimu kembali dengan wajah berbeda."
Sungsang Geni hanya tersenyum, kemudian memandangi satu persatu orang yang sedang mengelilinginya, ternyata sangat banyak.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Geni?" suara serak terdengar, itu adalah Suara Resi Irpanusa yang sedang duduk bersila di belakang Sungsang Geni.
"Resi, maafkan aku yang membelakangi dirimu." Sungsang Geni segera sujud memberi hormat. "Perasaanku sangat baik, bahkan lebih baik dari yang pernah aku rasakan. Terima kasih atas bantuannya!"
"Sekarang tugas kami sudah selesai, Geni." Resi Irpanusa menepuk pundak Sungsang Geni, "Tapi tugasmu baru saja dimulai, entah kau bisa memenuhi takdirmu atau tidak, itu ada di tanganmu sendiri."
"Resi, apakah boleh aku memanggilmu guru?"
__ADS_1
Resi Irpanusa terkekeh kecil, "Setiap orang yang memberi satu pelajaran bagi kita adalah guru, bahkan jika itu adalah anak kecil sekalipun."