PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Musuh Mendekat


__ADS_3

Di sisi lain, Telik Sandi yang bertugas mencari informasi mengenai Kelelawar Iblis datang menemui Lakuning Banyu dengan wajah pucat luar biasa. Kebetulan sekali di dalam ruangan Lakuning Banyu penuh dengan pendekar-pendekar.


Sebuah meja bundar yang di keliling dengan kursi-kursi. Tampak Lakuning Banyu sedang mengatur rencana dan strategi perang, segera menghentikan perbuatannya.


“Apa yang kau bawa, paman Telik Sandi?” tanya Lakuning Banyu.


Belum menjawab pria kecil itu, dia masih kesulitan mengatur napasnya yang sepotong-sepotong. Setelah dirasa bisa menguasai diri, barulah dia menceritakan semua hal yang diketahuinya.


“Ada dua Komandan Kelelawar Iblis dengan pasukan yang luar biasa banyak.” Berkata pula pria kecil itu, dan berhasil membuat semua orang di dalam ruangan ini terpaku dengan mata terbelalak nyaris keluar dari kelopaknya.


“Dua komandan kelelawar Iblis?” tanya Lakuning Banyu tidak percaya.


“Benar Paduka Raja, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, sungguh. Jumlah mereka ada puluhan ribu, terlihat membawa lebih dari setengah pasukan tempur. Mungkin butuh beberapa hari lagi untuk tiba di tempat ini, tapi percayalah mereka akan tiba kurang dari satu minggu.”


"Satu minggu?” Ki Lodro Sukmo terperanjat, dia menatap Lakuning Banyu beberapa saat kemudian menatap semua sesepuh Surasena secara bergantian, semuanya berwajah cemas dan panik. “Ini gila, mereka akan memusnahkan kita semuanya.”


Wira Mangkubumi yang belum pernah melihat sehebat apa Komandan Kelelawar Iblis tidak memberikan respon terlalu banyak. Tapi dia percaya jika melihat wajah semua orang di tempat ini, pastilah Komandan itu luar biasa kuat.


“Dua Komandan tidak akan bisa dihadapi dengan mudah.” Ki Alam Sakti mengelus dagu, tampak sedang berpikir keras untuk mencari solusi terbaik, tapi tidak menemukannya, guru Sungsang Geni itu bukan orang ahli dalam strategi perang. “Aku dan Darma Guru mungkin bisa bertahan melawan satu dari dua Komandan itu, atau mungkin Darma Cokro dan Ki Lodro Sukmo, tapi jaminan kita menang sangat kecil.”


“Yang anda katakan memang benar, temanku.” Darma Guru mengurut keningnya yang berkerut. “Jika dua Komandan telah bergerak, maka setidaknya ada 8 atau sepuluh wakil komandan yang berada di puncak pendekar Tanpa Tanding.”

__ADS_1


Lakuning Banyu masih terdiam cukup lama, hingga akhirnya rapat itu belum menemukan solusi terbaik kecuali memperbanyak ranjau di dalam hutan.


Sementara itu Sabdo Jagat tidak berdiri dari tempat duduknya sedangkan para Sesepuh yang lain pergi meninggalkan ruangan. Yang tersisa hanya dirinya, Darma Guru dan juga Lakuning Banyu.


“Nak Sabdo Jagat, aku melihatmu sedang memikirkan sesuatu...” Berkata Darma Guru setelah ruangan itu benar-benar sepi. “Kau bisa mengutarakan apa yang ada di dalam pikiranmu, mungkin juga sebuah solusi yang paling baik untuk bisa kita pilih saat ini.”


Sabdo Jagat bingung harus memulai pembicaraannya dari mana, pria itu terlihat sangat ragu. Bahkan selama dirinya di dalam Serikat Pendekar, Sabdo Jagat adalah orang yang paling pendiam dan tidak terlalu banyak komentar.


“Sesepuh Sabdo Jagat, yang dikatakan Maha Senopati ada benarnya, jika kau memiliki solusi mungkin kita bisa membicarakan hal itu.” Menimpali pula Lakuning Banyu.


“Begini, aku rasa satu-satunya cara agar kita bisa mengalahkan mereka dengan meminta bantuan Sungsang Geni. Mungkin ini terdengar konyol, tentu saja, tapi aku pernah melihat kekuatan pemuda itu ketika dia mengalahkan komandan Banduwati.” Sabdo Jagat melirik lawan bicaranya untuk beberapa saat, kedua orang itu tampak mengernyitkan kening, memaksa pria itu tidak melanjutkan kembali perkataan.


“Bukannya aku tidak setuju, tapi pemuda itu berada cukup jauh dari jangkauan kita.” Darma Guru berkata berat. “Tentu saja perkataanmu ada benarnya, bahkan kurasa saat ini dialah orang terkuat di dataran tanah Java.”


“Jadi yang harus kita lakukan adalah, bertahan sekuat mungkin sebelum pasukan itu tiba membantu?” bertanya Lakuning Banyu. “Kalau begitu aku akan mengutus Telik Sandi kita mencari keberadaannya.”


Setelah keluar dari dalam ruangan Lakuning Banyu, Sabdo Jagat segera kembali menemui para sahabatnya di tenda perguruan Lembah Ular. Di dalam tenda tampak Jelatang Biru sedang menyiapkan beberapa ratus jarum, kemudian dia juga memilah jarum-jarum kecil untuk dijadikan gelang tangan.


“Aku tidak memiliki banyak jarum beracun, ini hanya ada 100 jarum yang sangat berbisa.” Dia menunjukkan jarum-jarum kecil yang tersimpan di dalam jubah tebalnya. “Tapi aku tidak yakin jarum-jarum ini bisa melumpuhkan satu komandan mereka, meskipun semua jarum ini menancap di tubuhnya.”


Di sebelah Jelatang Biru, Guru Tiraka sedang duduk bersamedi, sedang mengumpulkan tenaga dalam sebanyak yang dia sanggup. Sampai hari perang terjadi, dia akan terus mengumpulkan tenaga dalamnya.

__ADS_1


Di sudut tenda, Gentar Bumi duduk di atas kayu bulat yang tidak terlalu tinggi. Setelah kembali dari kediaman paduka Raja Lakuning Banyu, pria itu memilah batu asah yang paling baik dan mulai menajamkan kapak besarnya.


Kapak itu sebenarnya sudah dipenuhi dengan retakan, bahkan salah satu sisi dari dua mata kapak itu hampir menyerupai gigi gergaji. Wajahnya tidak tenang, tapi karena dia bisu yang pria itu lakukan hanya bergumam-gumam tanpa ada yang tahu maksud perkataannya.


“Aku memiliki firasat buruk mengenai perang ini...” Jelatang Biru menghentikan kegiatannya, dia menghampiri meja yang di atasnya ada satu kendi arak kemudian menegak minuman itu tanpa menggunakan cawan. “Andai kata kita menangpun, pasukan kita akan banyak terbunuh, itu sudah pasti.”


Sabdo Jagat tidak menimpali perkataan sahabatnya, tentu saja apa yang dikatakan Jelatang Biru adalah benar.


Ada banyak kemungkinan buruk terjadi setelah perang, dan sejauh ini pemimpin tertinggi Kelelawar Iblis belum menunjukkan bagaimana rupanya. Bisa jadi sangat kuat, dan bisa jadi datang dengan bala bantuan lain.


Dari yang dia ketahui, Komandan Kelelawar Iblis berjumlah 7 orang, dan sudah dikalahkan Sungsang Geni satu orang. Satu orang itu bahkan bisa meratakan Perguruan Lembah Ular.


“Jika ada 6 Komandan seperti Banduwati, kita tidak memiliki jalan kemenangan.” Jelatang Biru berkata parau. “Aku tidak takut untuk menemui ajal, tapi bagaimana dengan anak-anak muda?”


“Teman, kita akan melewati semua ini...” Sabdo Jagat menepuk pundak Jelatang Biru. “Apa matahari masih terbit dari timur?”


“Masih?” jawab Jelatang Biru.


“Tugas kita hanya berjuang sekuat tenaga, hingga darah pengabisan.” Sabdo Jagat tersenyum kecil. “Siapa yang menyangka kita masih hidup hingga hari ini? Tidak ada! Takdir memiliki caranya sendiri, kita hanya menjalankan apa yang telah di gariskan.”


Terdiam sangat lama Jelatang Biru setelah mendengar perkataan pemimpin Lembah Ular itu. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya pria itu sudah sangat muak dengan perang ini.

__ADS_1


“Kejahatan memang selalu ada setiap zamannya, tapi perlu kau sadari kejahatan tidak pernah selama-lamanya berkuasa di atas dunia ini, tidak pernah.”


__ADS_2