
Mendengar tutur kata Wira Mangkubumi, rupanya meluluhkan keras kepala Pak tua Ki Lodro Sukmo. Namun demikian, sorot tatapan tajam dirinya masih menyimpan puluhan maksud tertuju pada Guru Sungsang Geni.
Gerbang Besar terbuka lebar sekali lagi, menggiring 1000 musuh yang tiada lagi memiliki senjata dan pakaian perang. Dipihak Surasena dan Sekutunya masih tersisa sekitar 8 ribu pasukan atau mungkin 9 ribu, tiada tahu pasti jumlah mereka, sebab masih banyak pula yang terluka.
1000 tawanan itu diletakkan di tengah dataran, di kelilingi hampir 1000 prajurit bersenjata lengkap. Hidup dan mati belum diputuskan saat ini. Semua orang masih terluka, beberapa orang mungkin akan cacat seumur hidup.
Ratusan pendekar medis tampak kerepotan mengurusi para prajurit yang terluka. Mereka berlarian kesana-kemari, menyiapkan ramuan obat-obatan. Tak ketinggalan pula beberapa prajurit membantu mereka, menyiapkan perban dan mengalirkan tenaga dalam.
Wira Mangkubumi bisa melihat pasukan dibawanya dari Swarnadwipa yang paling banyak memakan korban. Pria itu memang sudah menduga pasukannya akan banyak gugur di medan perang, tapi tak pernah menyangka jumlahnya mencapai 3 ribuan lebih.
Tentu saja karena mereka tidak terbiasa dengan perang, beberapa orang bahkan terlihat ragu untuk membunuh. Sisanya malah kehilangan mental bertarung, sehingga musuh dapat dengan mudah mengalahkannya.
Di luar tembok Surasena, gelimpangan mayat tidak terkira. Belum diputuskan akan di apakan mayat-mayat itu, tapi yang jelas tidak mungkin akan mendapat pemakaman yang layak. Tak seorangpun yang kuat menggali makam untuk belasan ribu orang. Paling-paling akan dibakar agar tidak menimbulkan penyakit yang menular.
Ki Alam Sakti masuk ke dalam tendanya di ikuti oleh Dewangga dan Gadhing. Dua muridnya tahu jika Ki Alam Sakti masih memikirkan ucapan yang keluar dari mulut Ki Lodro Sukmo.
“Guru, apa kau baik-baik saja?” Dewangga bertanya, dia menuangkan secawan air putih untuk meredakan panas di hati gurunya. “Minumlah air ini, tidak usah Guru Pedulikan perkataan Ki Lodro Sukmo.”
Ki Alam Sakti meminum air pelan sekali kemudian menarik napas berat sambil memandangi Dewangga dan Gadhing secara bergantian. “Tiadalah aku memikirkan perkataan Ki Lodro Sukmo, tapi yang menjadi beban pikiranku adalah mengenai lawan selanjutnya. Aku pernah bertarung melawan salah satu Komandan Kelelawar Iblis, dan mereka lebih kuat dari pasukan ini.”
Gadhing terdiam sejenak, sementara Dewangga masih melayani gurunya sepenuh hati.
__ADS_1
“Jika begitu, apa kita akan mengalami kesulitan dan korban jiwa lebih banyak, Guru?” tanya Gadhing.
“Ya, tentu saja.” Ki Alam Sakti berkata yakin. “Jika kita tidak lebih hati-hati dari saat ini , atau malah berselisih paham dengan sesama kita, sudah barang tentu kita akan mengalami kekalahan untuk kedua kalinya.”
Tidak lama setelah itu, Bangau Putih datang membuka tirai tenda Ki Alam Sakti. Hal itu membuat semua orang menjadi terkejut, ya tentu saja. Ini adalah kali pertama pak tua itu bertamu di kediaman Ki Alam Sakti setelah sekian lama.
Dewangga memberi hormat, tapi tidak dengan Gadhing. Pemuda itu tidak akan memberi hormat kepada pak tua yang suka merendahkan perguruan lain.
“Kedatangan saya kali ini tidak bermaksud memperpanjang perselisihan antara kau dan Ki Lodro Sukmo.” Bangau Putih mengutarakan maksud kedatangannya.
“Tiada aku berpikiran seperti itu, Bangau Putih.” Ki Alam Sakti lantas menyodorkan kursi bambu, menuangkan secawan air putih untuk tamunya itu. “Hanya saja, perselisihan di antara kita tiada berguna, kecuali akan menambah kerusakan dan ini akan menjadi ke untungan musuh untuk menghancurkan kita.”
“Jika kau tidak memiliki dendam akibat perkataan pemimpin kami, aku ucapkan terima kasih. Bagaimana pula, aku sepemikiran dengan dirimu. Kita dalam keadaan genting, jadi perselisihan antara kita bisa menjadi keuntungan musuh.” Setelah meminum air yang disuguhkan Ki Alam Sakti, Bangau Putih pamit undur diri. “ Tenang saja, aku akan mengurus Ki Lodro Sukmo.”
***
Di dalam tenda perguruan Macan Putih, Ki Lodro Sukmo masih menahan amarah yang setiap waktu semakin memuncak, seolah tidak akan reda sebelum membunuh seribu tawanan perang.
Beberapa kali dia melirik jauh ke bawah, pada para tawanan yang bertelanjang badan, di ikat dengan akar atau rotan, duduk menjongkok menunggu nasip. Semakin geram saja rasanya, ketika dia melihat pemandangan itu. Luka di pelipis matanya semakin terasa sakit.
Dia lantas mengalihkan pandangan pada kediaman Raja Surasena. Di dalam bangunan itu, Lakuning Banyu beserta pejabat kerajaan dan mungkin saja Wira Mangkubumi sedang berunding mengenai para tawanan.
__ADS_1
“Musuh diberi ampun? Lucu sekali.” Ki Lodro Sukmo menggerutu, mengupat serapah kemudian mendaratkan pukulan pada meja kayu hingga pecah berkeping-keping.
“Teman apa yang kau lakukan?” Bangau Putih tiba-tiba masuk kedalam tenda perguruan Macan Putih, menemukan benda-benda berserakan di lantai membuat perasaannya menjadi gelisah.
“Jika Alam Sakti berada bersama mereka, menentukan rapat atas tawanan, seribu pasukan musuh akan hidup,” gerutu Ki Lodoro Sukmo, berkata tidak ada arah kejelasannya. “Kenapa Paduka Raja tidak mengundang aku, apakah karena Tua Bangak Alam Sakti itu?”
Bangau Putih mendesah pelan, lantas menepuk pundak temannya tiga kali. “Alam Sakti tidak di undang dalam rapat itu, ketentuan nasip para tawanan tergantung Paduka Raja Lakuning Banyu beserta pejabat kerajaan. Kita hanya serikat pendekar, bahkan Darma Cokro tidak di undang dalam rapat itu.”
Ki Lodro Sukmo menatap mata Bangau Putih dengan tajam, untuk beberapa saat tidak berkedip sedikitpun. Lantas mengalihkan pandangan pada seribu tawanan dengan kebencian.
“Tenangkan perasaanmu kawan! Tidak ada gunanya kau menaruh dendam pada tawanan yang tidak lagi berdaya.” Bangau Putih menuangkan arak pada dua cawan, kemudian salah satunya disodorkan kepada Ki Lodro Sukmo. “Akan ada waktunya kau bisa mengamuk sesuka hatimu, tentu saja bukan pada seribu orang di sana yang tidak memiliki kemampuan, atau pula pada tua bangka Alam Sakti.”
Ki Lodro Sukmo terdiam lagi, kali ini urat-urat di keningnya keluar bak cacing dibalik kulit, tampak sedang berpikir mungkin pula mencerna perkataan sahabatnya.
“Perang belum berhenti kawan, akan ada lebih banyak musuh. Pada saat itu luapkan semua kemarahanmu, bunuh semua lawan sebanyak mungkin!”
“Ya...ya...” Ki Lodro Sukmo manggut-manggut tanda mengerti. “Aku berharap hal itu segera terjadi.”
Mendengar ucapan Ki Lodor Sukmo, Bangau Putih hanya tersenyum pahit. Tiada orang yang mengharapkan peperangan lagi. Jika dimungkinkan semua orang jelas berharap ini adalah perang terakhir.
Sudah banyak korban nyawa yang berjatuhan, anak di tinggalkan ayah, istri ditinggal suami siapa orang yang ingin perang terjadi? Ya kecuali Ki Lodro Sukmo yang kehilagan akal.
__ADS_1