
Sekitar 2 jam sebelum mentari bersinar terang, Banduwati akhirnya tiba di atas bukit batu. Tapi keterkejutan dirinya tidak dapat disembunyikan, ketika dia menemukan Sabdo Jagat telah menunggunya di atas.
Sabdo Jagat mengernyitkan kening, jelas dia terkejut melihat kedatangan wanita itu. Banduwati adalah orang yang selalu menemani ibunya. Tapi dua tahun yang lalu, dia sudah berhenti bekerja dengan keluarga mereka.
Namun Sabdo Jagat berpikiran aneh dengan wanita itu, ada banyak darah di tubuhnya dan juga aura membunuh yang keluar dari wanita itu sangat pekat. Sedikit berbeda dengan Banduwati yang dia kenal dahulu.
“Sabdo Jagat, ternyata itu kau.” Ucap Banduwati, dia menyapukan pandangannya ke beberapa sisi kemudian tersenyum sinis, “Kalian tinggal disini rupanya, pantas saja puluhan prajuritku tidak pernah kembali setelah melewati jalur hitam.”
“Puluhan prajurit?” Sabdo Jagat mulai berpikir, lalu dia mulai menemukan titik terang dari keraguannya, “Kau, tidak mungkin...”
“Ya, itu aku. Aku menyamar sebagai ibumu selama 2 tahun lamanya, dan kalian semua tidak menyadarinya. Ini adalah sandiwara yang aku buat.” Ucap Banduwati.
“Kau yang membunuh orang tua kami! Dan juga istriku!” Sabdo Jagat nyaris tidak percaya dengan kenyataan ini, beberapa kali dia mengutuk ibunya sendiri tapi pada akhirnya wanita di depannya, yang sekarang terseyum bangga adalah akar dari kehancuran Lembah Ular.
“Sekarang katakan padaku, dimana Cempaka Ayu?” Banduwati mengeluarkan energi hitam, merayap di sekujur tubuhnya , berusaha mengintimidasi Sabdo Jagat. “Dan juga, pemuda bertangan api. Aku ingin membunuh...”
Suara hempasan dari tongkat penghancur gunung mendadak menghentikan mulut wanita itu, menghujan tepat di dadanya bertubi-tubi. Sabdo Jagat terlihat sangat marah saat ini, matanya tajam seakan mengoyak keberanian Banduwati.
Wanita itu tidak sempat menghindar, dia sudah lebih banyak mengeluarkan seluruh energinya untuk melawan Sungsang Geni dan Cempaka Ayu. Dengan energi yang tersisa sedikit, mustahil dia bisa menghadapi Sabdo Jagat dengan tongkat penghancur gunungnya.
Banduwati sebenarnya sudah menyadari akan kesalahannya ini, tidak bisa menahan emosi dan mengejar Sungsang Geni dengan kemampuannya sekarang.
“Akan aku pastikan kau mati disini!” Sabdo Jagat menghantam wanita itu bertubi-tubi, “Tidak, tapi akan aku buat kau menderita sebelum ajal menjemputmu.”
__ADS_1
Banduwati memiliki kesempatan untuk menghindar, dia terbang menjauh menuju reruntuhan Lembah Ular, tapi Sabdo Jagat berhasil menarik kakinya, menyeretnya dan menghempaskan ke bebatuan. Darah segera membanjiri tubuh dan wajah wanita itu.
Banduwati kali ini tidak dapat bergerak lagi, bahkan dia tidak sanggup untuk berteriak setiap tongkat penghancur gunung menghujani tubuhnya. Namun, pada saat genting itu, dan pada saat Sabdo Jagat menggunakan jurus tongkat pembelah jiwa sekelebat bayangan berhasil menarik tubuh Banduwati.
Jurus tongkat pembelah jiwa tidak mengenai sasarannya, dan malah menghantam batu besar hingga hancur berkeping-keping, bahkan terlihat retakan pada bukit gersang itu.
“Hampir saja, serangan itu bisa saja membunuh Komandan Banduwati.” Seorang laki-laki sekarang sedang merangkul tubuh Banduwati yang mulai kehilangan kesadarannya, “Tongkat penghancur gunung, dan jurus tongkat pembelah jiwa. Luar biasa, meski belum sempurna tapi serangan pria itu sangat berbahaya.”
Mereka adalah Kaki Baja dan Mata Setan. Kedua orang itulah yang berhasil menyelamatkan Banduwati barusan. Sekarang situasinya sedikit berbeda, Sabdo Jagat harus menghadapi dua wakil komandan yang setingkat, tidak, tapi lebih tinggi dari dirinya.
“Apa kita akan mengalahkannya disini?” tanya Mata Setan.
“Tentu saja, jika dibiarkan hidup pria itu bisa menimbulkan masalah dikemudian hari. Kita akan membunuhnya, dan mengambil tongkat itu.” Jawab Kaki Baja yakin, “Lagipula dia hanya sendirian.”
“Siapa bilang sendirian!” tiba-tiba saja Guru Jelatang Biru terbang mendekat dengan guru Gentar Bumi yang dijinjing seperti barang.
Gentar Bumi melihat temannya dengan kesal, selalu saja ketika berurusan dengan terbang pria itu menunjukan wajah jeleknya. Namun kekesalan dirinya kepada Jelatang Biru tidak berlangsung lama, tidak setelah melihat kedua lawannya memiliki energi hitam yang menggelora.
“Sekarang dua lawan tiga,” ucap Kaki Baja, “Tidak masalah, kalian boleh maju! Akan aku perlihatkan perbedaan diantara kita.”
Jelatang Biru segera menyerang dengan jarum beracunnya, dua tiga jarum melayang dengan cepat kearah Kaki Baja.
“Awas!” Mata Setan mendorong Kaki Baja sedikit menjauh, jarum yang sangat kecil hampir saja mengenai dirinya. “Kau tidak bisa melihat jarum beracun miliknya di kegelapan malam ini, tapi mata setan bisa melihat semuanya. Sebaiknya kau mencari lawan lain, karena pria dengan jarum beracun itu bagianku.”
__ADS_1
Kaki Baja mengumpat dalam hati, dia yang terbiasa tenang dalam segala kondisi mendadak kesal. Tidak pernah diduganya, dia harus diselamatkan oleh Mata Setan setelah dia berkata sedikit sombong kepada lawannya.
Mata Setan Menyerang lebih dahulu, sebuah pisau kecil keluar dari jubahnya yang gelap. Pisau itu terbang berbenturan dengan belasan jarum Jelatang Biru, meciptakan percikan api kecil di kegelapan.
Di sisi lain, Guru Gentar bumi mengayunkan kapaknya ke tanah berbatu, menciptakan getaran dan membelah tanah cukup dalam. Kaki Baja melompat kebelakang agar tubuhnya tidak tertimbun kedalam tanah, tapi pada saat yang sama Sabdo Jagat mendaratkan tongkatnya.
Kaki Baja masih sempat menangkis serangan itu dengan kakinya yang keras, tapi karena momentumnya tidak pas dia terpaksa terpundur beberapa langkah ke belakang.
Selanjutnya terjadi pertarungan hebat diatas bukit. Dalam lima menit saja, kedua belah pihak sudah bertukar ratusan jurus, dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda dari keduanya akan menyerah.
Sabdo Jagat menggunakan jurus tongkat membelah jiwa, kemudian dengan gerakan cepat sebuah energi berbentuk tongkat yang besarnya hampir dua kali pohon kelapa menyerang Kaki Baja. Tapi pria itu tidak bergeming, dia menyambut serangan itu dengan kaki iblis mencuri nyawa.
Ledakan energi terjadi akibat dua kekuatan seimbang itu, Sabdo Jagat hampir tidak percaya pria itu bisa menangkis jurus terkuatnya.
Kaki baja adalah pendekar pilih tanding yang telah membuka 5 cakra dalam tubuhnya, dan jika berhasil membuka 2 cakra yang tersisa maka kesempatan dirinya menjadi Komandan Kelelawar Iblis sangat besar. Dia sangat bersukur dengan susuk yang diberikan Banduwati, mampu melipat gandakan tenaga dalamnya. Setidaknya kekuatan pria itu sekarang setara dengan mendiang Suaraya.
Guru Jelatang Biru masih bermain dengan jarum beracun, serangan dirinya tidak cukup efektif menghadapi seorang yang mampu melihat segalanya. Dan bukan hanya itu, Mata Setan bisa mengimbangi serangannya, hanya dengan 3 buah pisau kecil.
Setelah hampir satu jam lamanya mereka bertarung, dan belum ada satu orangpun yang terlihat terluka, kecuali kapak gentar bumi yang terpaksa terpental jauh karena tendangan Kaki Baja. Akhirnya kekuatan dari tongkat penghancur gunung mulai bangkit.
“Apa kau sudah mulai terjaga dari tidur panjangmu!” ucap Sabdo Jagat kepada tongkat itu, tepatnya kepada roh yang bersemayan di dalam tongkat penghancur gunung, “Tunjukan kekuatanmu setelah 300 tahun lamanya, kau tertidur!”
**Akhir akhir ini, author tidak bisa tidur. Kira kira apa penyebanya ya man teman?
__ADS_1
Terus obatnya apa?
Oh ya, makasih yg udah vote. Semoga rezekinya di tambah tuhan yang maha esa**.