
Sungsang Geni tidak berkata lebih jauh, perang kata dengan Benggala Cokro hanya akan menimbulkan masalah yang lain, lagi pula kondisi mental pemuda itu belum kembali seutuhnya.
“Ki Darma Guru!” Sungsang Geni meletakkan botol obat diatas telapak tangan Mahapatih Surasena itu. “Gunakan obat ini untuk mengembalikan kondisi cucumu! Aku tidak memiliki benda berharga untuk diberikan kecuali obat ini, aku harap kau menggunakannya.”
Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni memberi hormat kepada Mahapatih Surasasena tersebut, sementara orang tua itu tidak membuka mulut meski sepatah katapun.
“Eyang Guru, sebaiknya murid mengantar Eyang ke tenda pengungsi...” ajak Sungsang Geni, pemuda itu sudah mengetahui gelagat Darma Guru yang tidak menyukai kedatangan Ki Alam Sakti.
Sebelum meninggalkan tenda, Sungsang Geni kembali menoleh ke arah Benggala Cokro beberapa saat. “Aku harap pertemuan kita lain kali tidak seburuk hari ini dan hari kemarin. Semoga kalian semua memahami perkataanku.”
***
Setelah mengantarkan guru kembali ke tendanya, Sungsang Geni berpamitan untuk pergi menemui pejabat Tombok Tebing. Bagaimanapun dia memiliki tanggung jawab besar yang harus dipikul diatas pundaknya.
Sungsang Geni tiba di tenda besar dimana beberapa pengawal sudah sangat lama menunggu kedatangannya. Pemuda itu masuk kedalam tenda, dan menemukan Patih Mahesa dan 4 senopati serta beberapa pejabat memberi hormat untuknya.
“Selamat datang Yang Mulia Tuanku Sungsang Geni.” Rerintih adalah orang yang pertama kali memberikan salam, diikuti dengan senopati yang lain. “Apa kau masih mengenaliku, Yang Mulia?”
“Tentu saja, kau adalah senopati pertama dan sekaligus...” Sungsang Geni tidak melanjutkan perkataannya, melainkan melirik Mahesa sambil berdehem-dehem.
Mendapati hal itu, baik Mahesa dan Rerintih sama-sama tersipu malu. Nampaknya hubungan asmara kedua orang tersebut semakin erat, tapi entah kenapa Mahesa belum menikahi gadis tersebut? Pikir Sungsang Geni.
“Yang Mulia, silahkan duduk!” Mahesa menyodorkan sebuah kursi yang terbuat dari pahatan kayu sehingga mirip dengan sebuah singasana usang. “Kami tidak menemukan tempat duduk yang layak di tempat ini, jadi aku harap kau memakluminya.”
“Hahaha...Ini lebih dari cukup. Kalian semua berhentilah bersikap formal seperti ini, aku tidak menyukainya.” Pemuda itu segera memeluk tubuh Mahesa dengan sangat erat kemudian berbisik kecil. “Kau...belum menikahinya? Jangan sampai dia dilirik orang lain...”
Mahesa tersenyum tertahan dengan rahang keras dan mata melotot dan berbisik kecil, “Ah kau masih memiliki sifat jahil sama seperti yang dulu? Ini menjengkelkan, kukira kau sudah berubah?”
__ADS_1
“Hahaha...jangan begitu patih.” Sungsang Geni melepaskan pelukannya kemudian duduk pada kursi yang telah mereka siapkan. “Kalian semua silahkan duduk!”
Sungsang Geni diam cukup lama, pada saat itu tidak ada yang mencoba bertanya ataupun menegur pemuda itu, tidak ada yang cukup berani. Hingga beberapa menit kemudian pemuda matahari itu membuka mulut.
“Aku ingin tahu rencana apa yang akan dilakukan Raja Lakuning Banyu kedepannya? Tindakan apa yang akan dia ambil pada kondisi seperti ini?” tanya Sungsang Geni.
“Sejauh ini tidak ada rencana yang cukup besar kecuali meminta bantuan kepada kerajaan Suarnadwipa.” Mahesa menjawab perkataan pemuda itu.
“Bagaimana perkembangannya?”
“Semua orang yang dikirim ke pegunungan Kerakatau tidak pernah kembali, kau mungkin sudah mengetahui alasannya?” Mahesa mengelus dagunya beberapa kali. “Serikat pendekar juga mengirim beberapa pendekar pilih tanding, tapi mereka juga mengalami nasip yang sama.”
Mahesa menjelaskan, semenjak ratusan pendekar gagal dalam menaklukkan pegunungan Kerakatau, Raja Lakuning Banyu seperti menemui jalan buntu. Pemimpin dataran java tersebut nampak sangat prustasi.
Lakuning Banyu tidak ingin mengambil resiko untuk mengirimkan pendekar hebat seperti Sesepuh Gentar Bumi, Bangau Putih atau pula Benggala Cokro. Raja tersebut tidak hendak mengambil resiko kehilangan orang-orang hebat lagi.
Bukan sebuah keputusan buruk memang? Tapi peluang kalah sangat besar, ketika Kelelawar Iblis menemukan lokasi ini, maka pasukan besar-besaran akan datang menyerang dan tidak ada jalan melarikan diri dari tempat ini.
Sungsang Geni memikirkan beberapa cara, membuat kepalanya sedikit sakit hingga akhirnya dia memutuskan melakukan dua tindakan.
“Tempat ini memang bagus sebagai tempat bertahan, sekaligus menjadi tempat terburuk,” ucap Sungsang Geni kemudian menatap tajam pada para senopati di depannya. “Aku memiliki dua rencana, aku harap kalian semua setuju.”
“Kalau begitu katakan apa rencana yang anda miliki?” Rerintih bertanya penuh penasaran.
“Rencana pertama, aku akan pergi menuju kerajaan Swarnadwipa dan rencana kedua kedua, setelah aku kembali siapkan pasukan dan kita lakukan perlawanan.”
Seketika seisi tenda menjadi terkejut bukan kepalang, mata-mata mereka melotot bak akan keluar dari kelopaknya, sementara beberapa pejabat Tombok Tebing hampir muntah darah mendengarnya.
__ADS_1
Sungsang Geni sudah menduga ekspresi para bawahannya akan sangat terkejut mendengar rencana yang dia kemukakan. Bahkan keterkejutan itu tergambar pula di wajah Mahesa.
“Aku akan menjelaskannya!” ucap Sungsang Geni.
Kepergian dirinya menuju dataran Swarnadwipa semata-mata untuk menghargai rencana yang dimiliki Lakuning Banyu. Sungsang Geni tidak mengetahui apakah kerajaan itu akan menerima permintaan mereka atau tidak, sebab informasi mengenai dataran Swarnadwipa sangatlah sedikit.
Tapi bukan sebuah masalah untuk mencobanya, jika saja para pengungsi dapat di pindahkan ke dataran Swarnadwipa maka beban mereka sedikit berkurang. Sungsang Geni tidak menjamin mereka mau meminjamkan bala tentara untuk membantu, tapi menerima para pengungsi sudah lebih dari cukup.
Dan perihal ucapannya untuk melakukan perlawanan bukanlah tanpa pemikiran yang matang. Sungsang Geni percaya tidak akan dapat menghalau jika Kelelawar Iblis dan sekutunya tiba-tiba menemukan mereka.
Salah satu cara agar bisa terhindar dari bencana itu adalah mulai melakukan perlawanan dan perlahan-lahan menaklukkan wilayah yang telah mereka kuasai. Konsep perang griliya akan diterapkan pemuda itu dalam pasukannya.
Setelah mendengar pernyataan Sungsang Geni, Mahesa mendesah napas pelan kemudian tersenyum kecil, “Aku setuju, menurutku itu lebih baik dilakukan daripada berdiam diri di tempat ini menunggu kematian.”
Sungsang Geni menatap para senopatinya yang lain. Diantara 4 senopati tersebut tampaknya hanya Rerintih dan senopati muda, Dirga yang setuju akan hal itu.
Dirga adalah senopati yang pernah dikirim Mahesa untuk menjemput Sungsang Geni di Perguruan Lembah Ular setahun yang lalu. Dilihat dari tampangnya, Dirga mungkin seusia dengan Sungsang Geni.
Semenjak diangkatnya dia menjadi Senopati Baru oleh Mahesa atas rekomendasi Sungsang Geni, pemuda itu menekankan jiwanya hanya untuk mengabdi kepada Tombok Tebing dengan segenap jiwa raga.
“Aku akan mengikuti semua perintah anda Yang Mulia...” ucap Senopati muda itu kemudian menundukkan kepalanya memberi hormat.
“Aku tidak memaksa bagi siapapun yang keberatan untuk turun ke medan perang. Kalian boleh menentukan apa yang ingin kalian lakukan tanpa paksaan.” Tutup Sungsang Geni.
Percuma saja mengajak orang berperang jika tidak ada tekad didalam diri mereka, ujung-ujungnya hanya akan mengantar nyawa saja. Setelah mereka keluar dari tembok ini, maka tidak akan ada jalan kembali sebelum benar-benar menaklukkan musuh sampai ke akar-akarnya.
“Ayo dukung terus PDM siapa tahu tumbuh lebih subur dari sebelumnya.”
__ADS_1