PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Geni VS Wakil Komandan


__ADS_3

Sungsang Geni tersenyum kecil, “Kau, apa kau berniat melarikan diri dari pertarungan ini?”


Retenah terkejut mendengar pertanyaan Sungsang Geni, bagaimana bisa pemuda itu mengtahui rencananya? Pikir Retenah, disatu sisi pernyatan itu membuat Srigala Hitam terlihat marah kepada wanita itu.


“Apa itu benar? Kau berniat melarikan diri?” tanya Srigala Hitam.


“Tentu saja tidak, pemuda itu ingin membuat kita saling membunuh jangan percaya dengan perkataan musuh, kau sendiri yang mengatakan hal itu.” Suara Retenah terdengar gagap ketika berbicara. “Lagipula, kenapa aku harus melarikan diri, kita bisa membunuh pemuda itu dengan mudah, benarkan?”


'tidak, meski ada tiga wakil komandan saat ini, kami tidak memiliki kesempatan membunuh pemuda itu. Cara dia bertarung jauh diatas kami.'


“Yah! Tidak masalah kalian akan kabur atau saling membunuh!” Sungsang Geni mengayunkan pedangnya, “Kalian akan tetap mati, aku bisa pastikan itu!”


Retenah terlihat pucat pasai mendengar perkataan pemuda matahari itu, dan entah mengapa tiba-tiba luka yang diberikan Sungsang Geni tempo hari mendadak sakit. 'Sial, pemuda ini bukanlah manusia biasa, dia adalah monster.'


“Dan kemana wajahmu yang kemarin sangat menakutkan?” Sungsang Geni tiba-tiba telah berada di depan Retenah, membuat wanita itu sepontan menyerang pemuda itu dengan membabi buta, “Ya ampun, kau terlihat menakutkan!”


Sadar akan permainan yang di ciptakan Sungsang Geni membuat Srigala Hitam membentak Retenah, “Kau kendalikan dirimu, wanita sialan! Kita akan membunuhnya, jadi berhentilah takut atau apalah itu! ”


“Benar, kita sedang bertarung!” Sungsang Geni berkata dingin, lalu menyerang mereka lebih kuat lagi dari sebelumnya, tempo tebasan pemuda itu juga lebih cepat dan mematikan.


Dalam beberapa menit saja, antara Sungsang Geni dengan kedua wakil komandan itu telah terjadi pertukaran ratusan jurus.


“Srigala bulan sabit.” Srigala Hitam melepaskan tembakan bertubi-tubi kearah Sungsang Geni, dan sekali lagi pemuda itu menghindarinya dengan mudah, ini membuat pria itu semakin kesal.


“Murka dewa angin!” Sungsang Geni mencoba jurus ke 21 dari teknik pedang awan berarak, jurus ini efektif untuk menyerang musuh yang lebih dari satu orang, dan hasilnya tidak terlalu buruk.


“AHK...!” Retenah meraung kesakitan.

__ADS_1


Di depan mata wanita itu tergeletak lengan kirinya, wanita itu tidak dapat melihat serangan itu, serangan pola acak yang menipu mata, dan tiba-tiba tebasan cepat mengenai lengan kirinya. Retenah tidak sempat menghindar.


Serangan itu bukan hanya membidik Retenah, tapi juga Srigala Hitam. Pria itu menjadi terkejut melihat gerakan Sungsang Geni, tapi dia masih cukup waktu untuk menangkis serangan itu, namun sebagai gantinya tongkat kesayangannya kini terpotong menjadi dua.


“Ti...tidak mungkin!” Pria itu terbata-bata, “Kami tidak memiliki peluang untuk dapat mengalahkannya, dia berbeda dengan kami, kekuatannya setingkat pendekar Iblis.”


“SIALAN, Matilah kau, matilah, matilah!” Retenah menembakkan seluruh energi yang ada dalam tubuhnya tanpa tersisa, berbentuk kilatan cahaya ungu yang menyambar Sungsang Geni bertubi-tubi.


“Geni!” Cempaka Ayu terpekik melihatnya, pemuda itu dihujani belasan energi membuat tanah bergetar.


Napas Retenah menjadi tidak beraturan setelah selesai melakukan serangan itu, dia beberapa kali mendesah sambil meringis menahan sakit pada lengannya yang putus, darah nampaknya tidak berhenti mengalir dari sana.


“Bagaimana rasanya?” ucap Retenah, “Sekarang kau tidak bisa berbicara sedikitpun bocah, matilah kau...”


Seketika perkataan Retenah terhenti setelah pedang Sungsang Geni menebas lehernya. Entah sejak kapan, tapi Sungsang Geni telah berada di belakang wanita itu tanpa disadari oleh semua orang disana, termasuk Cempaka Ayu.


“Tentu saja aku masih bisa bicara!” Sungsang Geni tersenyum sinis, “Tapi kau tidak bisa mendengarnya lagi.”


Di sisi lain, Srigala Hitam tidak dapat berbuat apapun, nyalinya sekarang sudah ciut. Satu-satunya cara agar tetap hidup adalah melarikan diri dari sini. Jadi dia tidak menunggu waktu lama, dia mengerahkan serangan paling besar pada jarinya yang berbentuk cakar.


“Cakar Srigala, mengoyak mangsa.” Pria itu melepaskan serangan terkuat yang dia miliki, sebuah cakar berwarna ungu menghantam Sungsang Geni hingga pemuda itu terpundur tiga langkah ke belakang.


Pada saat yang sama, Srigala Hitam segera terbang dari tempat itu. Pria itu cukup yakin dengan ilmu meringankan tubuhnya, meski Sungsang Geni memiliki ilmu bela diri yang hebat, tapi dia yakin pemuda itu tidak dapat mengejarnya.


Srigala Hitam menoleh ke belakang, dan benar Sungsang Geni tidak berusaha mengejar laju terbangnya, ini membuat dia menjadi lega Tapi, tiba-tiba dia mendengar suara ribuan lebah berdengung dari samping.


Srigala Hitam terkejut bukan kepalang, pedang watu kencana melaju cepat ke arahnya. Pria itu tidak bisa berbuat banyak saat berada di udara, dia tidak bisa menghindari serangan pedang itu. Lalu, pekikan keras bersatu dengan ledakan bubuk setan.

__ADS_1


“Geni! Pria itu melarikan diri!” ucap Cempaka Ayu, “Aku akan mengejarnya!”


“Tidak usah, riwayat pria itu sudah selesai.” Ucap Sungsang Geni, “Serangannya cukup kuat, jika bukan karena pedang watu kencana mungkin aku sudah terluka dalam.”


Cempaka Ayu tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Sungsang Geni, tidak sebelum akhirnya dia mendengar suara berdengung datang mendekat. “Itu adalah pedang watu kencana?”


“Aku belum terbiasa menggunakan teknik ini!” Gumam Sungsang Geni, “Tapi untuk sekarang, ini lebih dari hebat . Teknik ini sangat berguna untuk menyerang mereka dari jarak jauh.”


Sekarang Cempaka Ayu sadar, Sungsang Geni telah membunuh Srigala Hitam, terbukti dari darah yang masih berceceran di seluruh bagian pedang itu.


Pemuda matahari itu lalu melanjutkan aksinya, dia membunuh beberapa mayat hidup yang berada di atas bangunan, dengan mengendalikan pedangnya. Semuanya tewas seketika, dan ini membuat Cempaka Ayu tidak bisa menyembunyikan wajah terpukau.


“Itu hampir sama dengan teknik bertarung yang aku miliki!” ucap Gadis itu, “Mengendalikan benda?”


“Bukan, aku tidak bisa mengendalikan benda seperti dirimu!” Sungsang Geni menjawab pertanyaan Cempaka Ayu, “Aku hanya bisa mengendalikan pedang watu kencana saja, itu karena kami terhubung. Dia adalah tangan dan mataku saat ini.”


Teknik seperti itu memang bisa dilakukan Cempaka Ayu dengan tenaga dalamnya, tapi serangannya tidak sekuat miliki Sungsang Geni. Dan lagipula, Sungsang Geni tidak menggunakan tenaga dalam dengan jumlah besar, berbeda dengan dirinya.


“Jika kau bertemu dengan pendekar dari Bukit Emas, Teknik ini akan kau lihat di perguruan itu.” Tutup Sungsang Geni menjawab pertanyaan Cempaka Ayu.


Sekarang Sungsang Geni menghabisi seluruh mayat hidup yang terlihat oleh mata hanya menggunakan gerakan jari telunjuknya. Pedang watu kencana mengikuti setiap gerakan jari pemuda matahari itu, melesat di antara bangunan dan menusuk tubuh lawannya hingga tembus.


Tanpa disadari mereka, Siko Danur Jaya dan Ratih Perindu yang melihat pemandangan itu hanya terpaku dengan mata melotot. Sekarang Sungsang Geni telah menghabisi 100 orang mayat hidup hanya dengan gerakan jari telunjuknya dalam waktu hanya 1 menit atau mungkin kurang, tidak ada orang yang sehebat itu dalam mengendalikan sebuah pusaka.


“Apa kau melihatnya, Dinda?” Siko Danur Jaya bergumam, “Sungsang Geni, apa kau yakin dia itu manusia? Aku meragukan darah yang mengalir dalam tubuh pria itu? Jika bukan dewa maka dia adalah iblis.”


**Kakak-kakak yang baik, sebelum like capter ini mohon untuk like capter sebelumnya ya... Hehehe please.

__ADS_1


Kebiasaan kakak, lupa like capter sebelumnya.


Oh ya, trima kasih buat yag udah kasih vote, ya ampun author bahagia banget. Semoga yag udah vote, rezekinya diganjar berkali lipat**.


__ADS_2