PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Siapa sebenaranya dia


__ADS_3

Pada saat yang sama, Yunirda berhasil menemukan sosok pemuda yang telah menghabisi hampir seluruh pasukan Kelelawar Iblis di sisi barat dan utara reruntuhan Lembah Ular.


Melihat pemandangan sepi disana, yang ada hanya debu dari mayat yang mati dibunuh Sungsang Geni, membuat Yunirda naik pitam. Yunirda melepas sebuah pukulan energi gelap ke arah Sungsang Geni.


Mendapat serangan tak terduga, pemuda itu menebasnya menjadi dua, tapi mementum serangan Yunirda masih berlanjut. Energi yang ditebas Sungsang Geni kembali lagi, dan berhasil mendarat di tubuh bagian belakang.


Sungsang Geni tersungkur di tanah, pundaknya terasa seperti di hantam palu seberat ratusan kilo. Belum pernah mendengar ada energi yang masih dapat menyerang meski telah dihalau.


Ini adalah pengalaman pertamnya, biasanya setiap energi yang tidak mengenai sasaran akan meledak setelah menyentuh suatu benda. Nampaknya peraturan itu tidak berlaku bagi energi Yunirda.


Pria itu melayang pelan, mendarat tepat di depan Sungsang Geni yang masih tersungkur. Pemandangan itu seperti Sungsang Geni sedang bersujud di telapak kaki Yunirda, dan itu membuat wakil komandan itu bahagia.


“Kau yang menghabisi semua bawahan kami di tempat ini?” Yunirda bertanya, nadanya terdengar berat seakan menahan sesuatu di dalam kerongkongan. “Pemuda yang sangat kuat, tapi sayang aku tidak selemah orang yang pernah kau lawan sebelumnya.”


Sungsang Geni hendak mengangkat tubuhnya, tapi Yunirda meletakan kakinya pada kepala pemuda itu. “Hust...jangan memberontak, atau kau akan mati dengan cepat.”


Cempaka Ayu sekarang telah kehabisan seluruh tenaga dalamnya, berniat melakukan sesuatu. Tapi satu kerikil yang mampu dia gunakan, tidak dapat melukai Yunirda.


“Kau? Gadis yang memiliki kekuatan dewi bulan?” tanya Yunirda, tapi Cempaka Ayu tidak menjawab, “Aku rasa benar, kau gadis yang pimpinan kami cari. Hanya untuk mendapatkan dirimu, kami harus mengorbankan banyak pasukan....”


Sungsang Geni mencengkram kaki Yunirda membuat pria itu tidak lagi melanjutkan ucapannya. Kemudian pemuda matahari itu berhasil memutar tubuhnya lalu mendaratkan tendangan tepat di bagian dagu, membuat lawannya terdongak selanjutnya terhempas.


Pada saat yang sama, pedang watu kencana terbang cepat berniat menikam tubuh Yunirda. Nyaris saja, wakil komandan mati tertancap pedang jika bukan dia menghindari serangan itu tempat waktu.


Pedang watu kencana terpasak di bumi, tapi tidak beberapa lama tercabut dan kembali lagi pada Sungsang Geni.


“Apa itu tadi?” gumam Yunirda, “Pedang yang bergerak sendiri? Mustahil, kau mempunyai kemampuan seperti itu..."

__ADS_1


Yunirda mengingat kembali gerakan pedang Sungsang Geni, dan tidak salah lagi. Dia mengenal teknik itu.


“Teknik pedang pemburu bayangan?” lanjut Yunirda tersenyum pahit, “Apa pemuda ini berasal dari Perguruan Bukit Emas?”


“Bisikan dewa angin!” Sungsang Geni menyerang Yunirda pada saat pria itu sedang lengah.


Serangan ini berhasil melukai tipis wajah Yunirda, sekarang wajahnya terlihat manis dengan beberapa tetes darah yang menghiasi. Pria itu menahan sakit, dia mengeraskan rahangnya sambil menyeka darah.


“Itu adalah jurus dari pedang awan berarak.” Ucap Yunirda tidak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini, “Anak muda, bagaimana kau bisa memiliki teknik bertarung dari Alam Sakti, dan juga perguruan Bukit Emas?”


“Apa itu pentinga saat ini?” Sungsang Geni balik bertanya.


Tentu saja itu tidak penting, tapi Yunirda sangat penasaran kenapa pemuda di depannya memiliki dua teknik bertarung yang berbeda. Di tambah lagi kedua teknik itu sama-sama ilmu pedang tingkat tertinggi.


“Menarik, kau pasti murid sesat?” ucap Yunirda, lalu senyum penuh makna tersungging di bibirnya.“Jika bukan murid sesat maka kau adalah pencuri, aku akan mengakhiri pencuri seperti dirimu.”


Dentingan pedang beradu terdengar ratusan kali. Mereka berdua terlihat seimbang dalam setiap gerakan. Berlari, terbang dan ada banyak lagi gaya bertarung yang keluar dari setiap serangan.


Serangan Yunirda berpola acak, membuat setiap serangannya tidak dapat di prediksi. Kali ini pedang Yunirda nyaris saja menusuk mata Sungsang Geni, tapi pemuda itu sedikit menghindar ke samping dan melakukan hal yang sama terhadap Yunirda.


Yunirda menarik pedangnya ke kiri, pada saat itu beberapa helai rambut Sungsang Geni terpotong rapi. Sungsang Geni membalasnya dengan menukik ke bawah, kemudian melakukan serangan kuat dari sana.


Yunirda secara reflek mengempiskan busung, dan membuat serangan Sungsang Geni hanya merobek baju pria itu, tanpa sempat mengenai kulitnya.


Yunirda mundur ke atas atap rumah, begitupula dengan Sungsang Geni. Yunirda memandangi bajunya yang robek, dan di sisi lain, Sungsang Geni meraba rambutnya yang putus beberapa helai.


Dari yang Cempaka Ayu lihat, pertarungan ini sangat berimbang. Baik Sungsang Geni dan lawannya sama-sama belum mengeluarkan tenaga dalam di setiap serangan, mereka seperti saling menguji teknik pedang secara murni.

__ADS_1


“Teknik itu belum pernah ku lihat?” gumam Sungsang Geni, “Cara dan pola serangannya selalu berbeda disetiap waktu, kenapa aku tidak mendengar teknik itu sebelumnya?”


Yunirda tersenyum kecil, seakan mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Sungsang Geni.


“Kau akan lebih terkejut lagi setelah melihat ini!” ucap Pria itu.


Yunirda melakukan beberapa gerakan, lalu melesat cepat di antara debu yang mengepul, dan secepat kilat dia berhasil mendaratkan tebasan di lengan Sungsang Geni.


Belum selesai sampai disitu, Sungsang Geni dihujani 5 energi berbentuk pedang. Jika bukan menangkis serangan itu dengan pedang watu kencana, pemuda itu mungkin akan menerima 5 luka di dadanya.


Tapi sebagai bayarannya, Sungsang Geni mendarat kasar di reruntuhan bangunan. Hampir saja, sebuah besi menembus lehernya saat ini.


Sungsang Geni belum beranjak dari tempat itu. Bukan karena tidak mampu, tapi dia belum bisa menghilangkan keterkejutan terhadap serangan Yunirda barusan. Dia sangat ingat dengan dua jurus yang dikeluarkan pria itu, sebab salah satunya adalah jurus yang ada pada teknik pedang awan berarak.


“Tadi itu jurus Angin Badai, jurus ke 11 dari pedang awan berarak.” Sungsang Geni tidak menduga ada orang yang menguasai pedang awan berarak selain dirinya dan teman-teman di Majangkara. “Dan yang terakhir, itu adalah jurus yang digunakan Mahapatih Surasena, Darma Guru. Teknik pedang emas....”


“Aku yakin kau terkejut kenapa aku menguasai teknik awan berarak dan pedang emas! Sekarang kau pasti dipenuhi tanda tanya besar, benarkan anak muda?” Yunirda melayang di atas Sungsang Geni. “Apa kau menganggapku murid sesat, atau juga pencuri jurus?”


“Siapa kau sebenarnya, apa kau murid dari Eyang Guru Ki Alam Sakti, atau kau adalah murid dari Perguruan Bukit Emas....?”


“Aku bukan murid dari yang kau sebutkan?” jawab Yunirda mendekati Sungsang Geni.


“Apa gurumu tidak memberi tahu, bahwa teknik yang kalian gunakan dan juga perguruan bukit emas gunakan berasal dari rumpun yang sama?” Yunirda tersenyum kecil, sekarang pandangannya lebih tenang dari pertama kali Sungsang Geni melihatnya. “Bahkan teknik yang kugunakan juga berasal dari rumpun yang sama dengan teknik yang kalian gunakan.”


“Apa yang coba kau katakan?” tanya Sungsang Geni, “Berbicaralah dengan jelas! sebab aku tidak mengerti dengan ucapanmu itu!”


Yunirda kemudian tersenyum kecil, “Oh...rupanya kau sangat penasaran, benarkan?”

__ADS_1


__ADS_2