PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Bantuan Naga


__ADS_3

Pertarungan Sungsang Geni terjadi hanya beberapa menit saja. Mereka lekas berhenti setelah melihat laut berpusar kencang. Pramudhita tersenyum kecil setelah melihat fenomena alam itu.


Sungsang Geni pernah melihat hal itu sebelumnya, dan nampaknya akan ada beberapa mahluk keluar dari dalam laut sesaat lagi. Ketika hal itu terjadi, suara gemuruh ombak menderu, angin tiba-tiba berputar tak menentu.


Jaka Balabala mengernyitkan keningnya, tampak tidak pernah melihat fenomena alam seperti itu. Nyai Siwang Sari menunjukkan ekspresi wajah yang sama. Kedua orang itu sama-sama menerka akan muncul apa dari dalam laut?


Sungsang Geni tidak ingin menunggu lama, ketika dia melihat lawannya sibuk mengalihkan perhatian, pemuda itu langsung memberi beberapa serangan dadakan.


Berhasil, dua tebasan berhasil melukai Jaka Balabala tepat di bagian dadanya, kemudian satu tusukan hampir saja menikam jantung jika bukan karena Nyai Siwang Sari melepaskan sabetan selendang iblisnya.


“Lancang sekali menyerang ketika kami sedang tidak siap.” Suara Nyai Siwang Sari meledak menahan amarah.


“Siapa suruh menurunkan kewaspadaan? Nasib baik adikmu tidak terpenggal lehernya.” Sungsang Geni terkekeh kecil.


Nyai Siwang Sari menggigit bibirnya, lima detik kemudian wanita itu terbang ke langit hitam memainkan selendangnya. Seketika pula, sabetan selendang milik wanita itu laksana petir yang menyambar-nyambar. Sungsang Geni bergerak cepat dari tempat- ke tempat yang lain untuk menghindari serangan itu.


Bersama dengan serangan itu, kipas besar milik Jaka Balabala membabat angin di sekitarnya sehingga terjadi badai besar yang membuat Sungsang Geni sulit untuk bergerak.


Pramudhita seolah tidak ingin ketinggalan, terpaksa menghadapi Jaka Balabala. Masih butuh beberapa menit lagi bantuan dari laut dalam tiba, tapi tidak ada salahnya mengurangi energi lawan.


Pendekar pedang bayangan itu meluncur cepat kemudian menebaskan pedang hitamnya. Jaka Balabala bergerak mundur dua langkah, melentikan tubuhnya sehingga pedang hitam milik Pramudhita terlihat jelas melewati wajah pria banci itu.


Pramudhita menarik kembali serangan, kemudian berputar ke samping dan menyelipkan satu tusukan ke arah tulang iga. Jaka Balabala terpaksa menggunakan kipas besarnya untuk menangkis serangan itu.


Pedang hitam miliki Pramudhita bertemu dengan kipas besar, membuat percikan energi dan gelombang kejut bertekanan kecil. Awalnya Pramudhita bisa menekan Jaka Balabala, tapi itu sebelum pria banci mengalirkan sejumlah besar energi pada kipasnya.

__ADS_1


Pramudhita terpental mundur puluhan depa jauhnya, hingga tubuhnya mendarat di tepi pantai berombak besar. Padahal dia sudah mengerahkan sejumlah tenaga dalam yang sangat besar, tapi rupanya tidak cukup kuat untuk menghadapi komandan Kelelawar Iblis.


“Kau bukan lawanku!” berkata Jaka Balabala. “Kekuatanmu tidak sebanding dengan kegelapanku. Tetaplah diam di sana, dan perhatikan bagaimana caranya aku membunuh pemuda itu.”


Pramudhita berdecak kesal, harusnya dia telah menyempurnakan teknik pedang bayangan dengan bantuan kitab pedang bayangan yang telah diberikan Sungsang Geni. Tapi rupanya menyerap energi alam bukan perkara yang mudah. Ya, tentu saja, jika hal itu semudah membalikkan telapak tangan, maka mungkin saja semua pendekar akan menjadi dewa dalam hitungan hari.


Meninggalkan Pramudhita, Jaka Balabala melemparkan kipas besar ke arah Sungsang Geni. Dan untuk pertama kalinya setelah mereka mendarat di pulau ini, Sungsang Geni terkena serangan.


Pemuda itu terpental ke awang-awang, tubuhnya melesat ke atas langit dengan kipas besar masih melekat di tengah perutnya. Pada saat yang sama, setelah posisi pemuda itu berada di antara Jaka Balabala dan juga Nyai Siwang Sari yang masih melayang di atas awang, Sungsang Geni sekali lagi terkena serangan dari selendang wanita itu.


Dua senjata menghantam tubuh Sungsang Geni, hingga pemuda itu mengeluarkan darah segar dari dalam mulutnya. Dia merasakan sakit di tengah perut untuk beberapa saat, ditambah pula rasa sakit di bagian tulang belakang.


Untuk serangan terakhir, Nyai Siwang Sari menyabetkan lagi ujung selendang membuat pemuda itu jatuh menghantam gunung kecil hingga tercipta kawah kering di tengah gunung.


“Pemakaman siapa yang kau maksud?” Terdengar suara gelegar dari dalam lautan.


Jaka Balabala beserta Nyai Siwang Sari menatap pada tengah pusaran laut, yang saat ini telah hilang berganti dengan tiga naga besar. Pramudhita melayang tepat di tengah tiga ekor naga itu.


“Bangsa lelembut laut dalam?” Jaka Balabala tersenyum kecil. “Apa kau ingin mengalahkan kami? Baiknya kalian pikirkan dahulu keputusan yang akan kalian buat, sebab maut bukan perkara main-main.” Tertawa menggelegar Jaka Balabala.


Naga Paling besar dan memiliki mahkota membuka mulutnya sehingga taring tajam dari lidahnya terlihat dengan begitu jelas. Beberapa saat kemudian, dari dalam mulut naga itu menggumpal cahaya keputihan yang menyilaukan.


Naga Sosro melepaskan semburan energi ke arah Nyai Siwang Sari. Besar semburan energi itu sebesar pohon kelapa berwarna putih dan panjang. Nyai Siwang Sari tertegun untuk beberapa saat, hingga akhirnya serangan itu berhasil mengenai tubuhnya.


“Aku tidak akan mati hanya dengan serangan lemah seperti ini!” Berteriak Nyai Siwang Sari, sorot matanya menjadi lebih dingin dari sebelumnya, kemudian dia menyabetkan selendang.

__ADS_1


Ujung selendang Nyi Siwang Sari sekeras baja, menghantam Nogo Sosro hingga sisiknya terkelupas beberapa bagian dan mundur beberapa depa ke tengah laut. Serentak dua anaknya segera terjun ke medan pertempuran.


“Aku akan menghadapi naga-naga kecil ini,” ucap Nyai Siwang Sari. “Kau habisi saja pemuda di sana!”


Jaka Balabala setuju, dengan rasa bangga dia menoleh ke tengah cekungan tanah, sebelumnya ada Sungsang Geni terkapar di sana tapi sekarang sudah hilang.


“Bersembunyilah kau ke ujung dunia, aku akan menemukanmu!” sesumbar Jaka Balabala.


“Aku katakan hal yang sama kepada dirimu!” Sungsang Geni sudah berada tepat di hadapannya.


Jaka Balabala hendak mengibaskan kipas besarnya, tapi tangan kiri Sungsang Geni menghentikan kipas itu dengan cengkraman. “Bagaimana mungkin kau membicarakan maut, jika tidak pernah menjumpainya?”


“Apa yang...” Senyum Jaka Balabala menjadi kecut, Sungsang Geni sudah mengangkat pedangnya dan menebas pundak pria itu.


Luka di tubuh Jaka Balabala sangat dalam, darah hitam mengalir dengan deras tak terbendung. Dia berusaha menghentikan pendarahan tapi tidak berhasil, yang paling menakutkan dari luka yang diberikan Sungsang Geni adalah; perasaan panas luar biasa.


“Jaka!” Nyai Siwang Sari berteriak keras. “Aku akan membantumu!”


“Kemana matamu tertuju?” Pramudhita melepaskan Murka Naga Bayangan di ikuti dengan dua muntahan energi dari dua kakak iparnya.


Nyai Siwang Sari menyabetkan selendang, mencoba menahan serangan tiga lawan di depannya. Pikiran wanita itu terbagi dua, pertahanannya tidak sekuat sebelumnya sehingga serangan Pramudhita dan saudaranya berhasil membuat tubuh wanita itu setengah hancur.


Wanita itu terjun bebas dan terhempas di permukaan tanah. Dua tangannya hancur tak bersisa, perutnya terbuyar mengerikan.


“Apakah sudah selesai?” nafas Pramudhita terpenggal-penggal, dia menggunakan semua energi yang ada pada serangan barusan.

__ADS_1


__ADS_2