
Rerintih tidak kuasa melihat Mahesa, gadis itu segera berlari meski tubuhnya dipenuhi dengan luka. Dia segera mamangku kepala kekasihnya, di atas paha. Mulut Mahesa dipenuhi dengan darah, membuat gigi dan semuanya berwarna merah.
“Re...rerintih...” ucap Mahesa, berniat membelai pipi gadis itu.
“Husstt...” Rerintih meneteskan air mata. “Jangan banyak bicara, lukamu akan semakin parah.”
Mahesa tersenyum kecil, kemudian pandangannya segera mumudar. Langit terasa gelap sebelum akhirnya kesadaran pria itu hilang.
“Cepat! Bantu Dia!” pekik Rerintih, meminta pendekar medis untuk memeriksa kondisi tubuh Mahesa.
Berlari tunggang langgang, pria yang merupakan pendekar medis itu datang mendekati.
Dia memeriksa kondisi tubuh Mahesa, kemudian dengan cepat membuka ramuan yang telah diberikan oleh Tabib Nurmanik sang mahluk lelembut. Dengan tenaga dalam, dan ilmu pengetahuan mengenai obat-obatan, sang pendekar medis melakukan tugasnya dengan baik.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Rerintih.
“Lukanya cukup parah, tapi berkat obat yang diberikan wanita lelembut tadi, kita bisa menyelamatkan nyawa tuan Mahesa.”
Mendesah penuh syukur, Rerintih memeluk tubuh kekasihnya dengan perasaan haru. Beberapa ruam di wajah dan tubuh Mehesa mulai memudar bersamaan dengan tenaga dalam sang pendekar medis yang mengalir. Tidak beberapa lama kemudian, pendekar medis berkata.
“Aku hanya bisa memberikan tenaga dalam sampai disini,” Wajahnya terlihat kelelahan yang teramat sangat. “Menyembuhkan tulang rusuk tuan Mahesa membutuhkan tenaga dalam yang besar dan...” pria itu terdiam sejenak. “Obat dari tabib Nurmanik sudah habis, jadi kita hanya mengandalkan obat-obatan biasa.”
“Tidak masalah...” ucap Rerintih. “Mahesa sudah berhasil kau selamatkan, kau adalah orang hebat.” Rerintih kemudian memandang di kejauhan, ribuan orang mulai berkurang jumlahnya baik di kedua belah pihak. “Bisakah kau mengurus dia sebentar, aku harus melanjutkan perang ini.”
Pendekar medis tersentak, Rerintih baru saja pulih dari cidera tapi sekarang sudah mau melanjutkan perang. “Tapi Senopati...”
__ADS_1
“Tidak ada kata tapi...” timpal Rerintih. “Jangan khawatir satu musuh kuat sudah berhasil dikalahkan, aku tidak akan kalah jika menghadapi prajurit level rendah.”
“Aku mengerti...” ucap Pendekar medis itu. “Yang Senopati katakan ada benarnya, perang masih berlangsung dan kita tidak bisa berhenti. Aku akan menjaga tuan Mahesa, apapun yang terjadi akan aku pertaruhkan nyawaku untuk melindunginya.”
Rerintih cukup lega mendengar hal itu, dia segera meraih rantai dengan ujung cerulit sebagai senjata andalan. Kemudian gadis itu tanpa takut maju membantu prajurit yang lain.
***
“Hujan Jarum Beracun!” ini adalah jurus baru yang dipelajari oleh Siko Danur Jaya. Dengan jurus ini dia bisa membunuh sekitar 50 orang dalam sekali serangan. Tapi sayang sekali, jurus ini memiliki jeda yang cukup lama.
Siko Danur Jaya membutuhkan tenaga dalam yang tidak sedikit untuk melepaskan jurus ini. Tapi memang hasil yang di dapatkan setimpal.
“Aku hanya bisa melakukan jurus ini satu jam lagi...” ucap Siko Danur Jaya kepada Ratih Perindu. “Selama itu aku hanya bisa melepaskan jaru-jarum biasa.”
“Itu sudah cukup,” timpal gadis itu. “Aku akan membelah tubuh mereka sementara kau bisa bisa membantuku.”
Sejauh ini, tidak ada lawan yang cukup kuat mampu menghadapi mereka berdua. Dan ini terasa aneh sekali. “Apakah musuh sudah mulai kehabisan orang-orang kuat?” tanya Siko Danur Jaya.
“Lihatlah ke sana!” ucap Ratih Perindu. Dia menunjuk pertarungan yang sedang berlangsung antara pendekar-pendekar hebat Surasena melawan pendekar-pendekar kuat Kelelawar Iblis. Terlihat jelas ada, Ki Lodro Sukmo, Bangau Putih, Ki Alam Sakti dan Lakuning Banyu membabat habis pendekar yang berada di puncak pilih tanding.
Mereka juga bisa mengalahkan pendekar tanpa tanding yang memiliki tenaga dalam sebesar 4 jule kebawah tanpa kesulitan berarti. Pertarungan ini telah membuat ke empat orang itu naik ke level pendekar iblis, tentu saja melawan pendekar tanpa tanding tidak akan sulit.
“Dimana Tuan Darma Cokro?” tanya Siko Danur Jaya, dia tidak melihat pria dengan pedang besar berwarna emas itu dalam pertarungan.
“Mungkin sedang bertarung di sisi lain...” jawab Ratih Perindu.
__ADS_1
Dua orang itu sama-sama tidak tahu jika Darma Cokro sudah gugur dalam pertempuran. Ya, Rakryan Tumenggung Surasena sudah tewas, dan tidak semua orang tahu karena pertarungan mereka berada jauh dari zona pertempuran.
Dua orang Rakryan Rangga sudah berada pada ambang batas kekuatan mereka, orang itu adalah Mahesa dan juga Benggala Cokro. Hanya tersisa satu lagi Rakrya Rangga, yaitu Sabdo Jagat. Dari tiga Rakryan Rangga, hanya pria itu yang tidak diketahui keberadaannya.
“Paman Sabdo Jagat, barangkali sedang menghadapi musuh berbeda di sisi lain.” Ratih Perindu masih tetap berpikir baik, Sabdo Jagat tidak mungkin dapat dikalahkan.
Di sisi lain, terpisah dari beberapa pendekar yang lain, Sabdo Jagat bertemu dengan seorang pria gundul tanpa pakaian. Ya, dia adalah Wakil Komandan dengan nomor urut dua terkuat yang ada di kelompok musuh.
“Tuan Sabdo...” berkata salah satu prajurit di belakang Sabdo Jagat. “Auranya terlihat lebih kuat dari yang lain.”
“Ya, aku tahu itu.” Sabdo Jagat memimpin hampir 100 orang pendekar pilih tanding dan beberapa orang tanpa tanding dengan tenaga dalam 2 jule kurang.
Pasukan yang dipimpin Sabdo Jagat rupanya berhasil mengalahkan ratusan prajurit musuh. Tidak ada yang tahu pergerakan kelompok kecil ini, mereka mengikis musuh dengan pelan dan pasti. Tidak terlalu buru-buru, dan itu rupanya lebih efektif dibanding menyerang terang-terangan seperti yang lain.
“Kalian pergilah dari sini...” ucap Sabdo Jagat. “Jangan berhenti, teruslah menyapu musuh. Aku yang akan melawan pria botak.”
“Tapi...”
“Cepatlah!” perintah Sabdo Jagat.
Dengan berat hati seratus pasukan yang bertempur bersama Sabdo Jagat segera menjauh, dan berperang di sisi lain. Sementara itu di tempat ini tidak ada satupun prajurit Kelelawar Iblis yang tersisa kecuali wakil komandannya.
Sabdo Jagat mengeraskan genggaman tongkat, penghancur gunung. Ini adalah lawan terkuat selama perang ini berlangsung. Wakil komandan kedua tidak jauh berbeda dengan wakil komandan pertama yang berhasil membunuh Darma Cokro. Setidaknya mereka sama-sama berada di puncak pendekar tanpa tanding.
Pria itu bernama Rogo Loro. Senjatanya sudah jelas terlihat, sebuah tombak yang memiliki mata terbelah dibagian ujungnya. Tombak itu terlihat kuat, barangkali sebuah pusaka. Aura yang memancar dari tombak itu sangat berat dan menekan.
__ADS_1
'Kau bertemu lawan yang sepadan,' ucap Sabdo Jagat berkata pada tongkat penghancur gunungnya. Tongkat itu mengeluarkan reaksi ketika bisikan batin Sabdo Jagat menyalur pada relung ruh tongkat penghancur gunung. Reaksi itu berupa pancaran energi berwarna putih. 'Ya, kau sudah sangat siap rupanya?'