PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Situasi Buruk 2


__ADS_3

“Jangan memintaku!” Cempaka Ayu berkata datar ketika Sungsang Geni mendekati dirinya. Tentu saja gadis itu tidak akan pergi meninggalkan pertarungan. “Aku sudah pernah mengalami hal ini, dan lebih tahu dari siapapun mengenai kekuatan mereka.”


Sungsang Geni menelan ludahnya dan tersenyum pahit, pada akhirnya dia hanya mengangguk pelan tanda setuju.


“Mahesa dan Benggala Cokro...” Sungsang Geni menoleh lagi ke beberapa sisi. “Nyai Bidara, Eyang Guru, serta para sesepuh...Mari berjuang bersama-sama.”


“AHKKK!” Teriakkan dua orang mahluk di atas sana memekakkan telinga, semua orang tanpa terkecuali terpaksa melindungi telinga dengan tenaga dalam .


Sungsang Geni melepaskan aura panas dari tubuhnya, mengeluarkan sebilah pedang bercahaya kuning. Tenaga dalam dan energi alam bersatu padu didalam tubuh pemuda itu.


Total kekuatannya saat ini sekitar 14 jule energi, tapi lawan mereka rupanya memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari pemuda itu. Nyai Siwang Sari, yang lebih lemah dari Jaka Balabala setidaknya memiliki 13 jule tenaga dalam yang telah bercampur dengan energi kegelapan.


Tapi jika dibandingkan dengan Jaka Balabala saat ini, setidaknya kekuatan Sungsang Geni dan pria banci itu tidak terpaut jauh. Tentu saja akan lain cerita jika hanya menghadapi Jaka Balabala saja, atau Nyai Siwang Sari saja, tapi entah apa yang terjadi jika harus menghadapi dua orang itu sekaligus?


Ketika dua energi menyatu di dalam tubuh Sungsang Geni, cahaya emas, hijau dan putih berpedar dari dalam dirinya.


“Berhati-hatilah dengan wakil komandan mereka!” Sungsang Geni mengingatkan, sebab selain Nyai Siwang Sari dan Jaka Balabala, masih ada 9 orang wakil komandan yang saat ini memiliki kemampuan kegelapan.


Baru selesai mengatakan hal itu, Sungsang Geni melesat dengan cepat di udara. Langsung berhadapan dengan Jaka Balabala yang memiliki penampakan wajah teramat seram.


Tidak jauh dari bentuk Pendekar Pemabuk, mata jaka Balabala dan Nyai Siwang Sari juga berwarna hitam dan dingin.


Lima detik setelah Sungsang Geni melesat keatas, sesuatu seperti suara gledek terdengar di langit malam. Menciptakan kilatan yang menyinari permukaan tanah untuk sesaat, menampakkan ribuan mayat bergelimpangan.


Pedang Bercahaya terang bertemu dengan kipas besar beraura hitam. Sungsang Geni kembali memberi serangan demi serangan, tiga teknik pedang menjadi satu di dalam pergerakannya.


Tapi Jaka Balabala dengan wajah bengis dan mata dingin, dengan mudah bisa menahan setiap serangan pemuda itu.

__ADS_1


Nyai Siwang Sari berencana membantu adiknya, tapi sebelum niat wanita iblis itu terjadi sebuah benda berwaran merah berbentuk bulan sabit baru saja menghantam tubuhnya. Gelombang kejut yang dihasilkan dari senjata Cempaka Ayu berhasil melemparkan tubuh wanita itu beberapa puluh depa, tapi tidak terjadi apapun pada tubuhnya.


“Jangan berpikir bisa mengganggu pertarungannya!” Cempaka Ayu berdecak kesal.


Nyai Siwang Sari menyunggingkan senyum kecil, dari balik bibirnya tersungging taring hitam tajam. Dengan selendang miliknya, Cempaka Ayu diserang bertubi-tubi. Meski senjata berbentuk bulan sabit sudah menghadang laju selendang itu, tapi tubuh gadis cantik itu masih pula terpental puluhan meter.


“Kau Bukan lawanku...” Suara Nyai Siwang Sari terdengar seperti geraman binatang.


Ki Alam Sakti tidak tinggal diam, dengan pusaka Cercaran Air di tangannya dia melompat ke atas dengan cepat dan berhasil memberikan satu tebasan di perut wanita itu.


“Pusaka ini sangat kuat.” Ki Alam Sakti memperhatikan pedang Cercaran Air kemudian memperhatikan luka di tubuh Nyai Siwang Sari, menutup dan sembuh seketika. “Apakah dia tidak bisa mati?”


Ki Alam Sakti menguji sekali lagi kekuatan pedang Cercaran Air, dan kali ini dia berhasil menebas tepat di bagian leher wanita itu, nyaris putus. Semua orang bisa melihat darah berwarna hitam keluar dari luka, tapi hanya hitungan detik luka itu sembuh, leher kembali seperti sedia kala.


Melihat hal itu, Darma Cokro juga ikut ambil bagian. Pedang naga emas melewati tubuh wanita itu hingga tembus, tapi sialnya sesuatu seperti tadi terjadi lagi. Luka Nyai Siwang Sari kembali pulih.


Seperti menebas air, setiap luka yang terjadi di tubuhnya akan kembali pulih seperti sedia kala.


Disisi lain, 9 wakil komandan sedang bertarung sengit melawan Mahesa, Benggala Cokro dan beberapa orang lainnya. Pertarungan mereka jelas saja tidak berimbang.


Untuk kali ini, Mahesa terkena tapak setan dari Grahang Jegar dan terpental hampir 50 depa jauhnya. Kulit keras pria itu tampaknya tidak mampu menghadapi kekuatan baru milik Gerahang Jegar.


“Ini adalah pembalasan yang tadi!” Gerahang Jegera tersenyum kecil.


Meski mereka memiliki kekuatan kegelapan, tapi rupa dan sifat para wakil komandan tidak berubah seperti dua komandannya.


Mahesa kesulitan untuk berdiri, dadanya terasa sesak dan sakit. Nafasnya sepotong-sepotong.

__ADS_1


“Mahesa!” Benggala Cokro berniat pula membantu pria itu, tapi sebelum dia beranjak berdiri satu sundulan kepala membuat dia terpental dua belas depa dari tempatnya semula, itu adalah ulah Hulu Muat Berdarah.


“Apa kau pikir kalian akan mengalahkan kami? Tidak...tidak mungkin dasar manusia lemah.” Gerahang Jegar meludah ke tanah beberapa kali, dia berjalan mendekati Mahesa, berniat sekali lagi mendaratkan serangan tapak setan.


Pada saat yang sama, ketika Sungsang Geni melihat hal itu, dia terbang menukik dan berhasil memotong leher Gerahang Jegar hanya satu kali tebas.


“Jangan pernah mengganggu teman-temanku...!” Sungsang Geni mengeraskan rahangnya.


“Bunuh pemuda itu!” Berteriak Jaka Balabala dari atas awang-awang sambil tertawa menakutkan. “Tunjukkan pada dia, kekuatan dari kegelapan tiada yang bisa menandingi!”


Sontak saja 8 orang wakil komandan bergabung menjadi satu untuk mengalahkan Sungsang Geni. Dalam beberapa menit saja, pertarungan antara pemuda matahari melawan kegelapan berlangsung sengit.


Dua tiga kali Sungsang Geni menebaskan pedang tapi sebanyak itu pula, lawan-lawannya dapat menghindar. Rupanya melawan 8 orang menjadi cukup merepotkan, ditambah pula Jaka Balabala sekekali melepaskan kipas besarnya ke arah pemuda itu.


Kali ini Sungsang Geni berhasil menangkis satu serangan kipas besar milik Jaka Balabala. Tapi pada saat yang sama, dua orang wakil komandan hampir saja melukai dirinya jika tidak karena Benggala Cokro berhasil tepat waktu melukai orang itu.


Dua detik kemudian, Mahesa berhasil mendaratkan satu serangan pada wakil komandan yang lain. Meski tidak terlalu parah. Di sisi lain Nyai Bidara tampak sedang bertarung sengit melawan satu wakil komandan yang lain.


Sungsang Geni menoleh ke arah Ki Alam Sakti dan beberapa sesepuh yang lain, dia lantas bergerak cepat menemui mereka.


“Eyang Guru, sebaiknya kalian hadapi para wakil komandan!” Sungsang Geni memberi isyarat.


“Kenapa bisa begitu?” Ki Alam Sakti mengernyitkan kening, dia meragukan keputusan pemuda itu. “Mereka berdua sangat kuat, kau bisa saja kalah!”


Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, tapi tanpa ada yang mengetahui selain Cempaka Ayu tepat di samping kiri Sungsang Geni, Pramudihita sudah berancang-ancang untuk bertarung.


“Kita tidak bisa bertarung di tempat ini.” Pramudhita berkata di dalam benak Sungsang Geni. “Pancing mereka ke pesisir pantai!”

__ADS_1


Author lagi sibuk bantu bantu mutir kawe? Apa kawe? kawa adalag kopi.


__ADS_2