
Mendengar laporan Karang Dalo, Dewangga sontak berdiri. “Apa maksudmu Senopati Karang Dalo? saya mengetahui bahwa Kerajaan kalian tidak begitu akrab dengan Majangkara, tapi fitnah yang kau katakan tidak dapat aku terima.”
Suasana ruangan menjadi tegang, Dewangga menjadi terbakar api emosi, jadi dia tidak mempedulikan lagi statusnya di Istana Surasena.
Disisi lain, Warkudara tersenyum senang. Memang dia memiliki sebuah rencana besar untuk Surasena, tapi tidak menyangka Kerajaan Majangkara yang malah memulai rencananya dengan baik.
‘Sepertinya kami berhasil menaklukan salah satu lawan yang tangguh, Cih, sekali mendayung dua tiga pulai terlampaui.’ Batin Warkudara tertawa gembira.
Warkudara kemudian berusaha terlihat panik seperti yang lainnya, wajahnya dibuatnya tegang. “Apa...apa maksudmu Senopati Karang Dalo? meski hubunganku dengan Pangeran Dewangga tidak begitu baik, tapi aku percaya prajurit Majangkara tidak mungkin melakukan hal yang memalukan.”
“Benar! Apa maksud perkataanmu itu, Senopati?” Suara Raja Cakra Mandala menjadi berat dan paru, tatapan hangatnya berubah jadi sinis.
“Ma’afkan saya Yang Mulia, tapi yang saya katakan memang benar. Ada banyak saksi mata yang melihat perbuatan merka. Awalnya saya juga tidak percaya dan berusaha menangkap mereka dengan baik-baik, tapi mereka melakukan perlawanan tanpa rasa bersalah, jadi aku membunuh mereka semua.” Ucap Karang Dalo.
Kemudian puluhan prajurit memasuki ruangan itu, dengan tombak yang terhunus kearah Dewangga.
“Sekali lagi ma’afkan saya yang mulia, tapi Putra Mahkota Dewangga harus ditahan hingga kasus ini selesai diselidiki.”
Raja Cakra mandala menatap Dewangga dengan tajam, beberapa waktu tadi dia sempat berpikiran Dewangga adalah calon suami yang cocok untuk putrinya, tapi pandangannya sekarang berubah menjadi amarah.
“Bawa Pangeran Majangkara ini menuju ruang Tahanan Politik!”
Cakra Mandala berniat menjebloskan Dewangga kedalam tahanan kriminal, tapi keputusannya segera diurungkannya menyadari bahwa Dewangga merupakan Putra Mahkota Majangkara yang terikat politik dengan Surasena. Jadi tahannan Politik, sudah cukup bagi pangeran Majangkara itu.
“Hamba mengerti Yang Mulia.” Ucap Karang Dalo, kemudian mengerahkan seluruh prajuritnya untuk membawa Dewangga menuju ruang tahanan.
Dewangga tidak bisa melakukan apapun saat ini, selain menerima keputusan dengan lapang dada. Dia melirik Warkudara sejenak sebelum dipaksa para prjurit berjalan meniggalkan ruangan rapat itu.
Disisi lain batin pangeran Nala Setya mengatakan kerajaan Majangkara memang sengaja dijebak oleh Karang Dalo, tapi tentu saja dia tidak memiliki bukti untuk membenarkan batinnya itu.
__ADS_1
“Begini yang Mulia, bagaimana jika kita melanjutkan pembahasan mengenai lamaran putri Yang Mulia.” Seperti tidak ada masalah, Warkudara berkata demikian kepada Raja Cakra Mandala.
Raja Cakra Mandala tidak menjawab, dia menatap Warkudara tidak senang kemudian lekas berbalik badan, pergi meninggalkan ruangan dengan diikuti para pengawalanya.
“Lamaran ini dibataklan!” ucap Pangeran Lakuning Banyu, kemudian berlalu meninggalkan Warkudara dan Nala Setya di ruangan itu.
Pangeran Lakuning Banyu meski usianya seumuran Dewangga, tapi ucapannya telah mewakili ayah handanya Cakra Mandala. Karena kejeniusannya, Lakuning Banyu telah banyak mewakili Surasena berhubungan dengan masalah politik dan ekonomi ketika melakukan kerjasama dengan kerajaan yang dikuasainya.
Lakuning Banyu memang tidak pandai bertarung, tapi dia dikatakan akan menjadi orang yang paling jenius mengatur strategi dalam peperangan.
***
Dewangga didorong oleh 3 prajurit bertubuh kekar, memasuki ruangan yang dipenuhi dengan jeruji besi. Itu adalah penjara bagi tahanan politik, cukup besar namun cukup pula untuk mempermalukan martabat Dewangga.
Dia berjalan pelan menuju jendela kecil yang dipenuhi dengan jeruji besi, suara rantai yang menjerat kakinya bergemerincing. Rantai itu tersambung kepada dua tangannya, tidak pernah diduga Dewangga akan memakai benda ini seumur hidupnya.
Dari balik jendela kecil itu, dia bisa melihat kaki-kaki penjaga tahanan sedang berlalu lalang. Ruangan tahanan Dewangga rupanya didalam tanah, dengan jendela ruangan yang menghadap kepermukaan.
“Pangeran Dewangga!” tiba-tiba terdengar suara dari ruang tahanan yang berbeda, “Apa kau baik-baik saja?”
Dewangga segera menoleh kearah sumber suara, kemudian menemukan orang yang telah dikenalnya mengenakan rantai yang sama seperti dirinya. “Mahesa, Gadhing?”
Ketika mengatakan nama Gadhing, wajah Dewangga menjadi kesal. Bukan hanya terlihat santai, Gadhing malah sempat tidur didalam penjara ini.
“Mahesa?” tanya Dewangga, “Jelaskan padaku apa yang telah terjadi sewaktu aku berada diistana.”
Mahesa kemudian mulai menjelaskan secara garis besar, dia tidak begitu tahu semua masalahnya dengan rinci. Namun secara umum, Karang Dalo menuduh Kerajaan Majangkara berusaha mencuri dan membunuh pangeran Warkudara.
“Jadi Durada dan keempat prajurit telah tewas?” tanya Dewangga, wajahnya terlihat sedih, sebagai Pangeran Majangkara dia telah gagal melindungi bawahannya. “Lalu, bagaimana kabar Sungsang Geni?”
__ADS_1
“Belum ada kabar mengenai dirinya, dia pergi hampir bersamaan dengan anda, Pangeran.”
“Aku berharap tidak terjadi masalah dengan dirinya.” ucap Dewangga, saat ini dia menaruh harapan besar kepada Sungsang Geni.
“Kita telah dijebak Pangeran!” ucap Mahesa, wajahnya memerah membayangkan kejadian yang baru saja dialaminya, “Aku yakin Karang Dalo itu, sengaja memfitnah demi keuntungannya.”
Dewangga berpikiran sama dengan Mahesa, bahkan Dewangga membayangkan tujuan Karang Dalo bukan hanya sebatas pernikahan Pangeran Warkudara saja, mungkin lebih dari itu. Tapi Dewangga belum dapat menyimpulkan apa tujuan Karang Dalo sebenarnya.
Setelah 2 jam mereka berada didalam penjara, tiba-tiba terdengar suara lonceng perunggu berbunyi sebanyak 4 kali. Lalu diikuti dengan riuh suara prajurit yang bergerak tergesa-gesa.
“Mahesa! Itu adalah tanda Kerajaan yang sedang berkabung!” ucap Dewangga. Dia sangat yakin bunyi empat kali pada sebuah lonceng menadakan kematian, 9 kali tanda penderitaan sedangkan 8 kali adalah tanda keberuntungan.
“Sekarang apa lagi yang terjadi di istana ini? kenapa kedatangan kita tidak beruntung?” keluh Mahesa.
Samar-samar Dewangga dan Mahesa mendengar teriakan dari luar penjara, beberapa orang terdengar menangis kemudian beberapa yang lain mengeluh sambil berteriak histeris.
“Celakalah kita...!”
“Kita harus mencari pelakunya secepat mungkin, tangkap semua orang yang mencurigakan!”
Mahesa menaikan alisnya, otaknya mulai berputar mencoba menerka siapakah gerangan yang telah meninggal. Suara gaduh juga membangunkan Gadhing yang sedang tertidur pulas, ketika dia beranjak suara ratai di kaki dan tanggannya bergemericing .
“Tunggu! Apa yang terjadi?” Mahesa berhasil menarik kerah baju salah seorang prajurit yang berlari melewati pintu penjaranya, dari balik jeruji prajurit itu berusaha memberonta. “Katakan apa yang terjadi?”
“Surasena dalam kekacuan, Yang Mulia Raja Cakra Mandala telah tewas dikamarnya!” ucapan prajurit itu terbata-bata.
Mendengar ucapan itu, Mahesa tanpa sengaja melepaskan cengkramannya membuat prajurit itu segera berlari menjauh.
Baik Mahesa dan Dewangga sama-sama terkejut , mata mereka melotot dan saling tatap. Sekerang ada banyak urat biru yang keluar dari kening Dewangga, kepalanya terasa sakit. Kejadian ini akan menyeret masalah lain ke dalam Istana Surasena.
__ADS_1
“Kematian Cakra Mandala secara mendadak membuat kekuasaan Surasena menjadi timpang.” ucap Dewangga, dia membayangkan hal-hal jauh kedepan, seperti akan ada beberapa kerjaan yang mencoba melepaskan diri, atau Kelelawar Iblis yang mulai berani menampakan diri.