PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Ramuan


__ADS_3

Meskipun Sungsang Geni menganggap mereka manusia tapi sebenarnya ada yang aneh dengan tampilan orang-orang di tempat ini, terutama pada pakaian. Mereka manusia yang berada di suku pedalaman, terlihat demikian karena baju dan celana terbuat dari kulit binatang.


Ada satu lagi ciri khas mereka, di bagian kening ada garis lurus berwarna putih. Sungsang Geni tidak mengerti apa maksud garis putih di kening, tapi beberapa orang memiliki garis lurus lebih dari satu.


“Pemuda, aku bertanya padamu? Apa kau tidak mendengarkan aku?” sekali lagi seseorang menepuk pundak Sungsang Geni.


“Sebenarnya aku mendengarkanmu, Paman!” Ucap Sungsang Geni menoleh ke arah orang itu, namun sebelum mengetahui bentuk wajahnya, pemuda itu langsung terkapar.


“Pemuda! Apa yang terjadi denganmu?” ucap pria itu, wajahnya sekarang terlihat panik, setelah beberapa saat kerumunan orang-orang berkumpul untuk melihat orang asing yang terkapar di depan gerbang.


“Kenapa dia? Apa yang terjadi? Ada banyak luka di tubuh pemuda ini?” gumam beberapa orang.


“Apa yang harus kita lakukan?”


“Aku akan membawa dirinya menemui Resi Irpanusa.”


“Bagaimana jika pemuda ini adalah orang jahat yang sengaja datang untuk menghancurkan padepokan Pedang Bayangan?”


“Bodoh? Dengan luka sebanyak ini?” timpal orang yang lainnya, “Lagipula tempat ini dipenuhi pendekar hebat, apa kau tidak tahu hal sesederhana itu?”


“Diam kalian!” Pria yang pertama kali menepuk bahu Sungsang Geni berteriak, “Aku akan membawanya menemui Resi Irpanusa, biarkan pemuda ini ditentukan oleh dirinya.”


“Ma'afkan kami Pramudhita.”


Setelah mengatakan hal itu, pria yang di panggil Pramudhita membopong tubuh Sungsang Geni dengan sangat mudah. Tubuhnya yang kekar tanpa sehelai kain yang menutupinya, membuat orang tidak berani menantang pria itu.


Sebelum pergi Pramudhita menoleh ke arah gerbang yang masih terbuka lebar, diluar sana masih berdiri srigala hitam besar. “Kau tunggu disini! aku akan segera kembali!”


***

__ADS_1


Seorang kakek tua yang bertubuh kurus sedang duduk bermeditasi menghadap telaga yang berwarna biru di halaman belakang rumahnya. Rumah yang sederhana, hanya berdindingkan papan, dengan atap dari ijuk pohon aren.


Dia duduk diatas sepotong kayu bundar sebesar roda gerobak yang ditegakkan. Semilir angin berhembus menerpa kepala yang dipenuhi dengan uban putih. Jika ditaksir dari wajahnya, pria itu mungkin sudah berusia 80 tahun.


Di dekat dirinya berada ada dua orang yang melakukan hal yang sama, tampak masih muda. Sikembar dengan pakaian dari kulit domba yang di buat sedemikian rupa hingga terlihat sangat indah ketika melekat di tubuh mereka.


Di tengah telaga beberapa tangkai bunga teratai berkembang warna warni, dan beberapa ikan mujair tampak riang berenang bersama dua capung yang terlihat sedang asyik bermain air.


“Resi...ma'af jika hamba datang mengganggu meditasimu....” Pramuditha berbicara pelan sekali, dia tidak berani terlalu dekat dengan orang terhebat di Perguruan Pedang Bayangan itu, jadi dia berdiri hampir sejauh 10 meter di belakang Resi Irpanusa.


Butuh waktu beberapa menit bagi Pramudhita untuk mendengar balasan dari Resi Irpanusa, hingga pada akhirnya kakek tua tua itu menyelasikan meditasinya.


“Pramudhita, hal apa yang membuatmu datang menemuiku?”Tanya Resi Irpanusa tanpa membalikan badan, “Pemuda yang kau bawa itu, kenapa kau tidak mengirimkannya kembali ke dunia luar?”


“Ma'afkan hamba Resi Irpanusa, tapi pemuda ini menunjukkan lencana Perguruan Pedang Bayangan. Aku tidak tahu bagaimana dia mendapatkannya, tapi....sekarang dia sedang terluka parah.” Ucap Pramudhita , suaranya terdengar berat karena sedikit takut jika saja Resi Irpanusa menjadi marah.


“Obati dirinya, setelah keadaannya membaik, antar dia ke dunia luar!” Ujar Resi Irpanusa.


Pramudhita mengangguk tanda setuju, dia pamit undur diri dari tempat itu. Tujuannya adalah membawa pemuda asing ke tempat salah seorang tabib terbaik di Padepokan Pedang Bayangan.


Beberapa saat kemudian akhirnya Pramudhita tiba di bangunan cukup besar, dimana ada tulisan 'sumber waras' di papan nama bangunan. Namun seperti bangunan yang lain, rumah sang tabib juga berdinding papan dan ber atap ijuk pohon aren.


Ada banyak tabib muda yang bertugas disana, tapi tentu saja ada lebih banyak pasien yang mereka tangani.


“Nyai, aku membawa pasien yang terluka parah!” ucap Prmudhita, bergegas meletakan Sungsang Geni di tempat pembaringan.


“Pemuda ini memiliki keberuntungan cukup tinggi, masih bisa bertahan dengan luka sebanyak ini.” Seorang perempuan tua, yang usianya mungkin seumuran dengan Resi Irpanusa baru saja memeriksa kondisi Sungsang Geni.


“Apa kita membutuhkan ramuan lelap Nyai?” salah seorang bawahannya bertanya, ramuan lelap adalah obat penghilang rasa sakit yang digunakan untuk membedah pasien.

__ADS_1


“Aku rasa tidak perlu, pemuda ini tidak akan merasakan sakit lagi.”


“Bagaimana jika dia masih merasakan sakit?” tanya Pramudhita penasaran.


“Itu bagus, artinya dia masih hidup.” Setelah mengatakan hal itu, tabib wanita itu tertawa cekikikan, hampir membuat bulu kuduk Prmaudhita berdiri saking takutnya.


Wanita itu bernama Nyai Rumanik, umurnya mungkin terlihat 80 tahunan, tapi kenyataannya dia telah berumur 150 tahun dan masih dalam keadaan bugar di umurnya yang telah senja. Ditempat ini ada banyak orang yang berusia senja tapi memiliki tubuh yang masih sehat dan bugar.


Dan orang yang paling tua adalah Resi Irpanusa, yang umurnya telah genap 200 tahun. Beberapa orang disana mengatakan bahwa Resi Irpanusa adalah anak dari Batara Siwa, sebab selain memiliki umur yang panjang juga memiliki ilmu kanuragan yang sangat hebat.


Ada kalimat yang beredar di wilayah ini mengenai Resi Irpanusa, 'Dia adalah manusia yang berhasil mencuri kematiannya dari tangan takdir.' Ungkapan yang terdengar konyol, tapi ada banyak muridnya yang percaya dengan ungkapan itu.


Penyebabnya adalah karena tanaman kunyir emas yang khasiatnya mampu mengobati segala jenis penyakit dalam dan fisik.


Bagi orang yang rutin mengkonsumsi, bisa dipastikan memiliki otot-otot yang kuat dan dapat membuat seseorang memiliki umur yang panjang.


Tapi efek samping dari penggunaan berlebihan dapat membuat wanita mengalami kemandulan, inilah yang menyebabkan kenapa tidak ada banyak manusia di tempat ini.


Nyai Rumanik meletakkan Sugsang Geni di atas pembaringan dimana ada air mendidih di bawah pembaringan tersebut, yang beraroma wangi. Itu adalah bejana ramuan, dimana Sungsang Geni terpaksa menghirup uap dari ramuan tersebut.


Wanita itu juga melumuri seluruh tubuh Sungsang Geni dengan kunyir emas, dan ketika bubuk berwarna emas itu baru saja menyentuh bagian luka, Sungsang Geni dalam ketidak sadarannya menjerit kesakitan.


Nyai Rumanik kemudian melepas energi dari telapak tangannya, menyalurkan ke seluruh bagian luka sungsang geni agar penyerapan ramuan berjalan dengan cepat. Beberapa kali Sungsang Geni memutahkan darah hitam yang berbau busuk.


“Luka-luka ini mengandung racun yang sangat keras.” Ucap Nyai Rumanik setelah selesai mengobati Sungsang Geni, “Jika terlewat sehari lagi, mungkin nyawanya tidak tertolong lagi.”


“Sekarang bagaimana nyai?” tanya Pramudhita, dia melihat Sungsang Geni masih berteriak kesakitan, dan malah saat ini seluruh tubuhnya di ikat dengan banyak tali agar tubuhnya tidak banyak bergerak.


“Sekarang kita hanya bisa menunggu, hidup dan mati tergantung dari tekadnya.”

__ADS_1


__ADS_2