
“Ireng, apakah dunia ini begitu rumitnya?” gumam kecil Wulandari, mencoba menahan air matanya, tapi tidak berhasil. Isak tangis gadis itu begitu memilukan, meski tidak terdengar oleh Cempaka Ayu dan Sungsang Geni, tapi cukup memilukan bagi mahluk lain yang mendengarnya.
“Gerr...gerr...”
“Tidak Ireng, aku berharap penuh agar Cempaka Ayu sembuh seperti sedia kala. Kau mungkin akan menganggapku gadis bodoh saat ini, terserahlah. Namun, semakin kuliat raut sedih Geni, semakin rasanya dada terasa sakit. Ini bahkan lebih sakit lagi ketika kami berpisah.”
Panglima Ireng tidak menggeram, melainkan melolong kecil mengarah ke lembah hijau. Lolongannya begitu pilu, seolah turut bersedih dengan nasip manusia yang menjadi teman-temannya.
Di sisi berlainan pula, Saraswati mengumpulkan ilalang. Dua pemuda pemudi sedang di landa penyakit, pikirnya. Jadi terpaksa, dia harus berbenah atap sendirian. Ini sudah biasa, dia pula yang membuat gubuk ini, sedangkan Wulandari hanya membantu sedikit saja.
“Ah...apa yang terjadi sebenarnya?” ratap wanita berambut putih itu. “Ku bawa muridku jauh meninggalkan dunia luar, Rencananya agar bisa hidup tenang dan damai, tapi takdir berkata lain. Di dalam gubukku, terbaring gadis malang. Diluar gubukpun, ada dua orang berhati malang. Nasip tiada orang yang dapat menebaknya?”
Gumaman Saraswati hampir mirip seperti lantunan syair. Dibawanya seikat ilalang, dianyamnya sedemikian rupa agar bisa diletakkan di atas atap gubuknya. Sementara itu, dinding gubuk yang berlubang akan membutuhkan cukup waktu utuk memperbaikinya. Tidak ada batang bambu di tempat ini, selain di lembah hijau. Butuh dua sampai tiga jam ke lembah hijau.
Kembali ke pemuda matahari. Sungsang Geni merapalkan aji ciung wanara, mencoba memanggil Pramudhita. Kiranya pria itu memiliki solusi atas masalah yang dihadapi olehnya.
“Kau memanggilku, Geni.” Terdengar suara di dalam benaknya, Sungsang Geni masih terpejam, perlahan membuka mata. Pramudhita terlihat melayang di depan mata. Tubuh pria itu terlihat sudah cukup pulih setelah pertarungan di pulau kecil melawan dua Komandan Kelelawar Iblis.
“Ma'afkan aku paman, karena mendadak memanggilmu. Tapi saat ini aku butuh seseorang untuk diajak berbicara.”
“Kenapa tiba-tiba sikapmu menjadi begitu? Tentu saja kau boleh memanggilku kapan perlu.”
“Kau mungkin sudah tahu mengenai Dewi Bulan, dari Kakek Nogo Sosro.”
“Dia mengatakan wanita putih, yang menakutkan, bukankah itu adalah Cempaka Ayu? Gadis cantik yang selalu bersamamu?” ujar Pramudhita. “Aku hanya mendapatkan kabar, jika dia pergi setelah pertarungan kalian selesai? Apakah kau belum menemukan keberadaannya?”
“Dia sudah kutemukan paman, di dalam gubuk itu terbaring tubuhnya. Namun sayang sekali, kesadaran Cempaka Ayu sudah diambil alih oleh Dewi Bulan. Bagian terburuknya, ketika Dewi Bulan mengambil alih tubuhnya, sekujur tubuh Cempaka Ayu akan terluka.”
“Karena tidak kuasa menahan kekuatan itu?”
__ADS_1
“Benar. Aku sudah berusaha untuk...” Sungsang Geni menarik nafas berat sebelum melanjutkan kembali ucapannya. “Kau tahu, tidak berhasil. Dewi Bulan bahkan menyerangku. Sekarang menurutmu, apa yang harus aku lakukan?”
Pramudhita terlihat berpikir sejenak, dia tampaknya tidak begitu tahu mengenai hal demikian. Ini merupakan hal baru bagi dirinya.
“Sayang sekali aku tidak bisa memberi tahumu, apa yang harus kau lakukan...” ujar pria itu setelah terjaga dari lamunannya. “Tapi tenang saja, akan kucoba bertanya dengan Maha Resi di Padepokan Pedang Bayangan, kirannya dia pernah menemui hal semacam ini. Tunggulah sebentar.”
***
Ketika malam mulai datang, Sungsang Geni belum beranjak dari tempatnya semula. Terlihat masih bersemadi, mengumpulkan energinya atau mungkin sedang berpikir keras mencari jawaban. Mana yang paling mungkin dilakukannya?”
Sementara itu, Pramudhita belum kembali membawa informasi seperti yang diharapkan. Cukup jauh memang Gunung Semeru dari tempat ini. Meski Pramudhita menggunakan ilmu meringankan tubuh, tetap saja butuh banyak waktu untuk tiba di Padepokan Gaib Pedang Bayangan.
“Aku membawakanmu Sup jamur...” terdengar suara seorang gadis di belakang dirinya, tentu saja Wulandari.
Di tangan gadis itu ada semangkuk sup jamur hangat. “Kau belum memakan apapun selama diperjalanan, karena kau tidak bisa memakan daging hewani. Jadi jangan tolak sup ini, ini adalah makanan kesukaanmu, bukan?”
“Terima kasih.” Sungsang Geni mengulurkan tangan, mengambil sup dan menyuap dengan perlahan.
Tidak selang beberapa lama, Panglima Ireng datang pula dengan geraman kecil. Dia merebahkan diri di belakang Sungsang Geni, memberikan tubuh pemuda itu kenyamanan, juga kehangatan dengan bulu-bulunya.
“Kau semakin pintar setiap harinya, Ireng.”
“Gerr...gerr...”
“Tidak teman, aku baik-baik saja. Hanya saja, ada beban di dalam pikiran ini.”
“Kau belum mendapatkan petunjuk atau jalan keluarnya?” Wulandari duduk di dekat Sungsang Geni, memandangi gelapnya langit malam tanpa bintang.
Malang sekali malam ini, bahkan langit sepertinya bersedih pula.
__ADS_1
Sungsang Geni tersenyum pahit, menandakan dia belum mendapatkan petunjuk mengenai obat untuk menyembuhkan penyakit Cempaka Ayu.
“Tapi aku yakin, kita bisa menyembuhkannya.” Wulandari tersenyum manis, tapi senyum gadis itu tidak akan nampak diremangnya malam ini.
Hingga tidak lama kemudian, tengkuk gadis itu terasa dingin, bulu kuduknya mulai berdiri. Beberapa saat kemudian, sesosok manusia berpakaian hitam seperti peradaban kuno muncul di depan dirinya.
Gadis itu menutup mulutnya, dengan mata terbelalak menahan takut.
“Kau bisa melihatku?” tanya Pramudhita, seolah tidak percaya. “Wujudku ini masih halus, aku tidak datang ke dunia manusia, bagaimana bisa kau melihatku?”
Wulandari menelan ludah beberapa kali, matanya masih terbuka lebar. Dia pernah melihat pria ini sebelumnya, ketika Sungsang Geni menyerang Markas Petarangan, tapi tidak menduga jika dia bukanlah manusia.
Bukan hanya Pramudhita, Sungsang Geni juga menujukkan ekspresi yang sama. Tidak ada orang yang bisa melihat Pramudhita dalam wujud lelembutnya, kecuali jika seseorang sudah membuka cakra ajna.
“Ten...tentu saja aku bisa melihatmu...” Wulandari berkata lirih.
“Apa?” Sungsang Geni semakin terperanjat.
Jelas saja, ketika Pramudhita berada dalam wujud Lelembutnya, suara pria itu terdengar seperti bisikan di dalam kepala Sungsang Geni. Artinya Sungsang Geni bahkan tidak bisa mendengar suara Pramudhita ketika dia berada di alam lelembut, kecuali seperti bisikan di dalam kepala.
Tapi ada yang berbeda dengan Wulandari. Dia bisa mendengar dengan jelas suara Pramudhita dengan wujud lelembutnya.
“Cakra Ajnamu membuka mata batin dan juga telinga batinmu, barangkali terbuka penciuman batinmu...” ucap Pramudhita. “Kau gadis yang dekat dengan alam lelembut, ini cukup langka. Cakra Ajna kadang hanya memberikan manusia kelebihan untuk melihat saja, atau mendengar saja bangsa lelembut.”
“Apa maksudnya itu?” tanya Sungsang Geni.
“Jika dia bisa menguasai kekuatan itu, bukan mustahil dia bisa masuk ke alam lelembut sesuka hatinya. Bahkan lebih dari itu, barangkali dia bisa meraga sukma. Satu jenis ilmu yang jarang di ketahui oleh pendekar. Tunggu...” Pramudhita tertegun sejenak. “Kaulah yang bisa mengobati Cempaka Ayu, ya dengan kekuatan itu.”
"Paman, apa maksudmu?" Sungsang Geni diluputi dengan tanda tanya.
__ADS_1