
Seperti yang telah di jelaskan Ki Alam Sakti, Surasena sekarang kembali menata sistem yang lebih tersetrukur. Memang kemenangan belum di dapatkan secara penuh, tapi setengah tanah java sudah dapat di kuasai.
Akan sulit mengatur pasukan tanpa sistem yang jelas, dan tentu akan terjadi sedikit ketegangan antar prajurit.
Setelah menetapkan Sungsang Geni sebagai Mahapatih Hamangkubumi, Lakunig Banyu juga menetapkan beberapa nama dalam tata keprajuritan Kerajaan Surasena.
Rakryan Tumenggung yang di berikan kepada Darma Corkro, adalah gelar tertinggi keprajuritan. Hanya satu tingkat dibawah Mahapatih. Darma Cokro sebenarnya merasa berat hati menerima jabatan ini, sebagai Sesepuh Perguruan Bukit Emas, rasanya tanggung jawab atas gelar itu lumayan besar.
“Terima saja, Nak Darma Cokro...” usul Ki Alam Sakti. “Tentu saja, setelah perang ini selesai, kita bisa mengatur ulang tatanan sistem di Surasena. Kau memiliki kemampuan yang sangat hebat, patutlah kau yang memimpin semua prajurit di Surasena.”
“Kalau begitu baiklah, saya akan terima tanggung jawab ini, tapi demikian saya bukan orang yang begitu cakap dalam sebuah tatanan negara, mohon dimaklumi.”
Bukan hanya itu saja, Mahesa, Sabdo Jagat, dan juga Benggala Cokro diangkat sebagai Rakryan Rangga, satu tingkat dibawah Gelar Tumenggung. Mereka bertiga diberi hak untuk memilih siapa yang akan menjadi Senopati yang akan menjadi bawahan Rakryan Rangga.
Mahesa, memilih Dirga dan juga Rerintih sebagai senopati perang. Sementara itu, Sabdo Jagat meminta Guru Tiraka, Gentar Bumi dan Juga Jelatang Biru. Sementara Benggala Cokro kesulitan untuk memilih siapa gerangan yang akan menjadi senopatinya.
“Aku akan mengangkat kalian berdua sebagai Senopati!” Benggala Cokro tersenyum kecil ke arah Siko Danur Jaya beserta Ratih Perindu. “Jangan menolak, mereka semua sudah tua, jadi kita adalah kumpulan para pemuda dan pemudi kuat, Bagaimana?”
“Mungkin kau hanya ingin memerintah kami sesuka hatimu, aku tidak setuju.” timpal Ratih Perindu.
“Sudah kuduga pikiranmu selalu memandang diriku buruk. Tapi tidak masalah, aku akan berjanji tidak akan memperlakukan kalian dengan sewenang-wenang, bagaimana?”
“Baiklah, ini demi kebaikan kita semua, aku setuju,” ucap Siko Danur Jaya.
Setelah beberapa point itu di jelaskan oleh Lakuning Banyu, acara pelantikan bagi para pendekar terpilih dilaksanakan di halaman depan bangunan paling besar di Markas Petarangan. Masih ada banyak daftar sistem yang perlu dibuat, tapi itu akan dijelaskan seiring waktu.
Setiap Senopati akan memerintah seribu pasukan, bertambah ataupun berkurang jumlah prajurit yang mereka pimpin, akan terlihat di pertempuran yang akan datang. Sementara itu, tiga sesepuh tua, Ki Alam Sakti, Ki Lodro Sukmo dan Bangau Putih ditugaskan menjadi penasehat raja.
Mereka sudah tua, tentu saja tidak baik bergerak aktif dalam kemeliteran.
***
__ADS_1
Tinggalkan dahulu Surasena yang sibuk mengurusi tatanan organisasi mereka yang baru. Kembali lagi pada Sungsang Geni yang tanpa diketahuinya, telah bergelar Mahapatih Hamangkubumi.
Dua hari dua malam mereka melaju tanpa istirahat, kecuali untuk makan dan minum. Dengan kecepatan seperti ini, perjalanan mereka bertiga lebih cepat dari yang diduga sebelumnya.
Panglima Ireng sudah terlihat sangat letih saat ini, langkah kakinya mulai melemah. Pasti karena Wulandari berada di atas punggungnya.
“Kita berhenti dahulu di tempat ini!” ujar Sungsang Geni, memelankan langkah kaki di tepi sungai kecil.
“Gerr...gerr...” Panglima Ireng begitu setuju.
Setelah Wulandari turun dari punggungnya, Panglima Ireng jatuh ke bebatuan kecil dengan lidah menjulur keluar. Seperti tidak akan sanggup lagi berjalan menuju aliran sungai.
“Ireng, kau baik-baik saja? Ma'afkan aku karena telah membebanimu!”
“Gerr....” Panglima Ireng hanya menjawab dengan geraman pendek.
“Aku akan mencarikanmu makanan, tunggu saja!” ucap gadis itu, berlari kecil ke arah hilir dimana sungai mengalir lebih dangkal.
Tidak butuh waktu lama, pemuda itu sudah kembali lagi mendekati Panglima Ireng dengan serenteng ikan segar. “Makanlah ikan ini, sepertinya perutmu tidak akan sanggup menunggu hingga aku membakarnya.”
“Gerr....gerr...”
Tidak beberapa lama, Wulandari kembali dengan wajah murung.
“Sial sekali, aku tidak bisa mendapatkan satu ekor ikanpun untukmu.”
“Gerr...gerr...” Panglima Ireng menunjukkan dua ekor ikan segar, dengan lahap dua ikan itu masuk pula kedalam mulutnya.
Wulandari menoleh ke arah Sungsang Geni, pemuda itu tampak sedang mencari beberapa kayu bakar. Di dekat dirinya, serenteng ikan putih tergantung di atas pohon kecil.
“Kenapa kau tidak bilang di sana tempat yang banyak ikannya? Sekarang aku jadi malu,”
__ADS_1
“Jangan terlalu dipikirkan, yang penting kita mendapatkan ikan untuk disantap hari ini.” Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, masih memotong beberapa ranting kecil di sekitaranya, hingga tiba-tiba gadis itu datang menyerobot.
“Biarkan aku yang membuat bara api, aku tidak enak hati melihat Panglima Ireng kelelahan karena aku. Jadi sekarang biarkan aku memanggangkan ikan untuknya,” crocos gadis itu.
Sungsang Geni menggaruk kepala, terpaksa menyingkir dan duduk di akar-akar besar yang keluar dari permukaan tanah. Sementara itu Wulandari terlihat membuat api dengan dua batu yang dibenturkan.
“Butuh bantuan?”
“Tidak, aku sudah biasa melakukan hal ini.”
Berhasil, api unggun kecil menyala pula setelah gadis itu berusaha keras untuk menyalakannya. Dengan riang, dia menusuk beberapa ikan, memanggang di atas kobaran api.
“Terakhir kita bertemu, kau tidak bisa membuat api unggun.”
“Kenapa tiba-tiba kau mengungkit hal yang sudah lalu, semua orang perlu berubah.”
Sungsang Geni menaikkan alisnya, jawaban dari Wulandari selalu saja ketus.
“Kau lihat bukit itu!” Wulandari menunjuk bukit yang letaknya mungkin tidak jauh lagi jika ditempuh dengan ilmu meringankan tubuh, tapi mungkin masih 2 hari lamanya agar sampai ke puncak dengan berjalan kaki. “Di balik bukit itu, ada dataran luas yang berwarna kuning dan merah. Di atas daratan tinggi itu, berdiri gubuk sederhanaku.”
“Tempatnya benar-benar tersembunyi, jadi selama ini kau berada di balik bukit itu?”
Wulandari tidak menjawab melainkan dengan desahan kesal. Dia sibuk meniup api unggun, membalik ikan panggang beberapa kali.
“Kau sedang kesal saat ini, apa karena kita sudah dekat dengan gubukmu?”
“Ya, setelah kita tiba nanti, kau tidak akan bersamaku lagi. Lebih dari itu, mungkin kau akan pergi dari gubukku bersama dengan Cempaka.” Wulandari mendesah kesal, hampir mematahkan tusuk ikan panggang. “Aku bisa melihatmu, begitu mengkhawatirkan Cempaka Ayu, dia benar-benar beruntung.”
Sungsang Geni tersenyum kecil, bibir gadis itu manyun untuk beberapa saat. Ada pula air mata menetes dari pangkal matanya, tapi buru-buru diseka agar pemuda itu tidak mengetahuinya.
“Kau tahu, beberapa minggu yang lalu, kami baru saja berperang melawan dua komandan Kelelawar Iblis. Tapi ketika situasi begitu genting, kekuatan Cempaka Ayu keluar tak terkendali. Kekuatan itu disebut, Dewi Bulan. Hal yang paling kami takutkan adalah, jika Dewi Bulan berhasil direbut oleh Topeng Beracun, maka mungkin dunia ini akan kacau.”
__ADS_1