PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pemilihan Pemimpin


__ADS_3

Ada 10 orang berkumpul dalam gubuk paling besar di tempat itu, 3 diantaranya adalah guru Lembah Ular yang tersisah, 6 diantaranya adalah pendekar pilih tanding. 6 orang itu adalah para pemuda yang menjadi harapan mereka saat ini, menjadi pewaris serta penerus Perguruan Lembah Ular.


Salah satu diantara mereka adalah seorang pemuda yang usianya baru menginjak umur 23 tahun. Siko Danur Jaya, dijuluki lebah emas, merupakan anak dari guru Jelatang Biru, pengguna jurus jarum beracun.


Siko Danur Jaya digadang akan menjadi pendekar Tanpa Tanding dalam usianya yang ke 30 tahun kelak. Jarum beracacun miliknya, ditambah lagi ilmu bela diri yang sangat baik menjadi alasan utama kehebatannya.


Sekarang setelah kematian Suaraya, para petinggi Perguruan Lembah Ular mengadakan rapat darurat. Mereka harus membahas beberapa hal yang cukup mendesak, salah satunya adalah pengganti Mahaguru Suaraya sebagai pemimpin Lembah Ular.


Ada banyak orang hebat sebelumnya yang mampu meggunakan tongkat penghancur gunung. Tapi setelah penyerangan Kelompok Kelelewar Iblis, tidak ada pilihan lain, tongkat itu diserahkan kepada putra Mahaguru Suaraya, Sabdo Jagat.


Pria itu tidak begitu tertarik dengan pusaka itu, tapi tidak ada orang yang lebih pantas menjadi penerus Suaraya kecuali dirinya. Ilmu bela diri menggunakan tongkat miliknya adalah satu-satunya yang tersisah saat ini.


“Kami akan mengakat kau sebagai pimpinan kami!” Guru Tiraka berkata, dia sudah cukup yakin dengan keputusannya, “Dan tongkat penghancur gunung adalah milikmu.”


“Apa kalian yakin, kalian tidak mengingikan Tongkat ini?” Sabdo Jagat merasa dirinya belum mampu untuk menjadi seorang Pemimpin.


Dia tidak yakin dengan kemampunannya, terlebih lagi tidak yakin dengan perasannya. Pada dasarnya, Sabdo Jagat lebih tertarik menjadi pendekar yang berada di garis depan, ketimbang mengatur pasukan.


“Tidak ada yang cocok dengan tongkat itu!” sanggah guru Jelatang Biru, pria itu terlihat menggunakan jubah tebal yang berpungsi menyimpan ratusan jarum, “Kami memiliki cara bertarung yang berbeda, lucu jika aku melempar tongkat yang berlumuran racun?”


“Sabdo Jagat, meski kau bukanlah seorang guru, tapi kemampuan dirimu setara dengan kami.” ucap Guru Tiraka, “Lagipula, tongkat penghancur gunung akan memberi sumbangan kekuatan sangat besar dengan berada di tanganmu, jadi kami mohon terimalah tugas ini!”


“Bagaiman dengan dirimu?” Guru Jelatang Biru menoleh pada seorang pria botak yang menyandang kapak besar di pundaknya.


Setelah nampak berpikir cukup lama, pria yang beranama Gentar Bumi mengagguk. Dia adalah satu-satunya pendekar berkapak di Lembah Ular, kekuatan kapaknya bahkan dapat membuat retakan pada bumi hanya sekali pukul.


Beberapa orang menjulukinya, Sipendiam yang perkasa. Sebutan itu diberikan kepadanya, karena diriya bisu. Tapi dia tetap memiliki banyak murid yang berminat mempelajari cara bertarungnya, salah satunya adalah gadis muda didekatnya, Rati Perindu.


“Baiklah, jika kalian memang memaksa!” Sabdo Jagat berkata setelah menimbang cukup lama, “Tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri, aku butuh bantuan kalian semua.”

__ADS_1


Semua orang tersenyum mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Sabdo Jagat. tidak berbeda jauh dengan Suaraya, dia adalah orang yang suka merendah. Padahal teknik bertarungnya tidak perlu diragukan lagi.


***


Setelah rapat mereka selesai, Ratih Perindu bersama dengan Siko Danur Jaya mendatangi kediaman Sabdo Jagat.


“Paman Guru,” Mereka berkata, mengejutkan Sabdo Jagat, kata-kata mereka menyebutnya sebagai guru membuat pimpinan baru itu tersenyum kecil.


“Aku belum memiliki murid, jadi panggil saja aku Paman Sabdo.” Ucap Sabdo Jagat pelan, “Apa kalian ingin menjenguk Cempaka Ayu?”


“Benar paman, jika boleh kami ingin melihat keadaanya.” Jawab Ratih Perindu.


“Silahkan saja, dia ada ruanganya!” Sabdo Jagat mempersilahkan keduanya melihat kondisi Cempaka Ayu yang setiap hari bertambah parah.


Sudah sewajarnya Ratih Perindu dan juga Siko Danur Jaya mengkhwatirkan Cempaka Ayu, mereka bertiga adalah sahabat baik. Bahkan ada beberapa anggapan, jika mereka bertiga bertarung bersama, maka tidak ada yang bisa mengalahkan tiga sahabat karib itu.


“Sekar Arum,” Ratih Perindu menyapa gadi kecil itu.


Sekar Arum sempat tersenyum kecil, terlihat lebih tabah dari siapapun yang pernah ditemui Ratih Perindu di perguruan Lembah Ular.


“Bibi Ratih, paman Siko.” Ucap Sekar Arum, segera menyeka air mata yang membasahi pipinya, “Kalian ingin melihat bibi Cempaka, silahkan! aku akan keluar, aku sudah selesai dengan tugasku.”


Sekar Arum segera buru-buru keluar ruangan, dia sedikit berlari. Sabdo Jagat hendak menghentikan putri kecilnya itu, tapi Sekar Arum tidak menghiraukan dirinya. Sabdo Jagat sadar putrinya itu masih terpukul atas kematian Kakeknya, ditambah penyakit Cempaka Ayu yang semakin hari semakin parah.


***


“Bibi Indragiiri!” ucap Sekar Arum, menemui wanita tua yang sekarang sedang duduk termenung.


Indragiri menoleh pada gadis kecil itu, dia tidak sempat membalas sapa, sebab Sekar Arum Segera menubruk tubunya dan menangis terisak-isak.

__ADS_1


“Bibi, kenapa aku merasakan sakit di dadaku, aku tidak bisa menahanya!” Sekar Arum berkata terbata-bata.


“Putri kecil, sabar nak!” ucap Indragiri, sekarang perempuan tua itu mulai meneteskan air mata, mengiringi kesedihan Sekar Arum.


Dia tidak bisa mengucapkan kata-kata indah untuk menghibur anak mantan majikannya itu. Tidak, dia tidak bisa melakukan ‘nyanyian nina bobok’ seperti saat Sekar Arum masih memiliki ibunya.


Indragiri tahu persis watak Sekar Arum, karena dia adalah pengasuhnya hingga gadis kecil itu tumbuh sebesar ini. Tidak ada anak yang ingin sepertinya, bahkan mungkin tidak ada yang mengalaminya.


Indragiri mengetahui, Sekar Arum selalu berusaha tegar dan kuat, karena dia selalu menjaga perkataan mendiang ibunya ‘jadilah gadis yang tegar dan kuat, agar bintang-bintang tersenyum padamu.’


Setelah cukup lama mereka berdua berpelukan. Sekar Arum buru-buru menghapus air matanya, “Bintang tidak akan tersenyum padaku jika aku menangis.” Ucapnya.


Indragiri tersenyum kecil, kemudian menyeka air matanya. “Kau benar putri kecil, dia benci orang yang lemah.”


“Bibi, dimana orang itu?” Sekar Arum menanyakan Sungsang Geni, “Aku tidak melihatnya, apa dia sudah mati, atau pergi dari sini?”


Indragiri menggelengkan kepala, “Dia belum mati, juga tidak pergi dari sini. Dia sedang berdiam diri di dalam kamarnya. Jangan mengusiknya, mungkin dia sedang hem...”


“Bermeditasi.” Ucap Sekar Arum.


“Benar, kau putri yang cerdas.” Indragiri mengelus rabut gadis kecil itu, “Sekarang kembalilah kepada ayahmu, aku yakin dia pasti cemas.”


Gadis kecil itu sedikit kecewa mendengar ucapan Indragiri. Kedatangannya selain bertemu dengan bibi pengasuhnya, juga berniat menemui Sungsang Geni. Dia cukup menyukai pemuda itu, mungkin ada sedikit tingkah nakal di pertemuannya lain kali.


Disisi lain, Sungsang Geni merasakan tenaga dalamnya mulai terkumpul, sekitar 60% dari seluruhnya.


Semakin tenang dan hening dia bermeditasi, pemulihan tenaga dalammnya semakin cepat. Puasa, di tidak memakan apapun selama meditasi, itu akan membuat pengumpulan tenaga dalam lebih cepat.


“Tunggulah sebentar lagi, aku akan membantumu, putri kecil.”

__ADS_1


__ADS_2