
Pertarungan kembali di lakukan dengan sengit, di tengah gelapnya malam itu, beberapa puluh orang hanya bisa mendengar suara benda-benda yang beradu. Kemudian kilatan cahaya karena kekuatan yang saling menekan. Semua mata laksana terpejam, tidak dapat melihat kecuali bagi mereka yang memiliki pandangan paling tajam.
Ribuan pasukan Surasena memilih untuk mundur ke reruntuhan, entah bagaimana nasip para prajurit Kelelawar Iblis, apakah mereka mundur atau mungkin pula bertarung melawan mereka sendiri.
“Kita tidak bisa bergerak dalam kegelapan...” Ratih Perindu menginstruksikan ratusan bawahannya untuk tetap siaga, siapa tahu ada musuh yang nekat masuk kedalam Markas.
Sementara itu dia meminta semua pendekar yang terluka parah di bawa ke ruang penjara bawah tanah. Itu termasuk Benggala Cokro dan juga Mahesa, mereka harus lekas mendapat pertolongan secepatnya. Beberapa ribu prajurit berjaga di luar bangunan, tapi masih dalam lingkupan cahaya remang dari pisau energi di atas menara.
Cawang Wulan berdiri di tempat paling gelap dengan busur panah yang siap memuntahkan amunisi. Mata gadis itu paling tajam setelah Sungsang Geni, tapi masih kesulitan menembus gelapnya malam.
“Adakah yang mendekat?” tanya Rerintih.
“Ya, ada!” ucap Cawang Wulan, ada lebih dari seratus orang berjalan ke arah cahaya. Tentu saja musuh sadar, satu-satunya tempat berlindung adalah reruntuhan Markas yang memiliki cahaya terang. “Tapi aku bisa mengatasi mereka, berikan aku semua anak panah!” ucap Cawang Wulan.
Wush...wush...
Lima anak panah lepas dari tali busur, masuk ke dalam gelapnya malam, selang beberapa menit kemudian terdengar suara jeritan. “Berikan semua anak panah kalian!” pekik gadis itu. “Siapapun bisa menggunakan panah lepaskan anak panah kalian di arah sana!” gadis itu menunjuk ke sisi tenggara, ada lebih lima puluh orang berlari dari sana. “Ikuti gerak busur panahku!”
Hampir dua puluh pendekar panah mengikuti busur panah Cawang Wulan yang tidak terlalu jelas dikeremangan malam. Setelah gadis itu melepaskan anak panahnya, dua puluh pendekar juga melakukan hal yang sama.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Ratih Perindu.
“Ya, belasan dari mereka terkena panah, itu bagus...” ucap gadis itu tersenyum kecil, tapi digelap malam senyumnya tidak terlihat sama sekali.
__ADS_1
***
Sekarang yang masih bertarung tinggal Resi Irpanusa, Ki Alam Sakti, Ki Lodro Sukmo, Bangau Putih, Sungsang Geni yang bertempur sangat jauh dari sekitar mereka dan juga Sabdo Jagat.
Pertarungan Sungsang Geni melawan Topeng Beracun telah berlangsung sangat lama dan nyaris tanpa jeda. Entah sebanyak apa energi pemuda itu, tapi sekarang ini di gelap malam semua orang bisa melihat cahaya kuning terang jauh di ufuk mata sedang bergerak cepat melintasi cakrawala hitam.
Itu adalah Sungsang Geni, semua orang sepakat dengan pengelihatan mereka. Yang memancar terang tentu saja pedang miliknya.
Sementara itu kembali lagi pada pertarungan Sabdo Jagat yang semakin sengit setiap saatnya. Seolah tidak terhalang dengan gelapnya malam, pria itu mulai menyerang dengan jurus-jurus tingkat tinggi.
Sabdo Jagat harus berguling di permukaan tanah, mata tombak musuhnya berniat menikam tubuh ketika pria itu sedang berjongkok. Sekali lagi mata tombak hampir mengenai tubuhnya, tapi Sabdo Jagat menekan ujung tongkat memaksa tubuhnya melayang.
Ujung tombak tidak berhasil menikam tubuhnya, pada saat yang sama ketika tubuh Sabdo Jagat dalam keadaan vertikal, dia mendaratkan satu tendangan tepat mengenai wajah Rogo Loro.
“AHKK..” pekik tertahan Rogo Loro terdengar.
Kepalanya terdongak dengan keras, dan lima gigi depannya patah seketika. Pukulan tongkat penghancur gunung hampir meremukkan dagunya. Sabdo Jagat menyelesaikan serangannya dengan satu tendang kuat tepat mengenai batang leher lawannya.
Entah berapa puluh depa Rogo Loro terjungkir balik di antara mayat, tidak ada yang tahu pasti. Namun sekitar 5 detik setelah serangan Sabdo Jagat, barulah terdengar suara hempasan benda di kejauhan. Itu jelas suara tubuh Rogo Loro.
Kepala Rogo Loro menjadi berat untuk beberapa lama, bahkan dia tidak bisa lagi mengatakan 'A' karena rahangnya seperti tidak bisa terbuka. Bukan hanya itu, tenggorokannya seperti terbakar.
Sabdo Jagat meski tidak bisa melihat di malam hari, tapi dia tahu dengan jelas dari pancaran energi bahwa lawannya belum berkutik untuk saat ini. Dalam hati diam dia berpikir, sebelumnya serangan tidak pernah sekuat ini.
__ADS_1
“Ini adalah energi alam...?” pikir Sabdo Jagat.
Sabdo jagat mulai merasakan adanya lonjakan hawa panas di sekitar dadanya, menjalar hampir disetiap bagian tubuh dan mengalir sampai ke Tongkat penghancur gunung.
Cukup lama mereka berdua tidak saling menyerang. Sabdo Jagat masih berdiri di tempatnya tapi selalu waspada. Sementara itu Rogo Loro mulai beranjak setelah berjungkir balik cukup jauh. Kini kerongkongan sudah lebih baik setelah menyalurkan energi kegelapan, tapi giginya yang lepas tidak akan tumbuh.
“Aku akan akhiri ini...” Rogo Loro membatin, sudah beberapa kali dia terkena serangan Sabdo Jagat. Jadi menurutnya, ini akan menjadi serangan terakhir dan paling kuat yang dia miliki.
Pria itu menancapkan tombaknya tepat di samping, kemudian membuka dua kaki sedikit lebar untuk memasang kuda-kuda. Dua tangannya menyilang di depan dada dengan jari terbuka lebar. Ini adalah cara Rogo Loro menghimpun kekuatan.
“Dia ingin segera mengakhiri pertarungan?” ucap Sabdo Jagat, jelas tahu kondisi energi lawannya yang setiap saat mulai meningkat. Sabdo Jagat tidak mengerti apa yang dilakukan Rogo Loro untuk meningkatkan energinya, tapi dia tahu Rogo Loro akan menyerang setelah energi itu terkumpul.
“Akan kusambut seranganmu!” ucap Sabdo Jagat. Diapun meletakkan tongkat di depan dadanya, membuka dua kaki memasang kuda-kuda. seketika aliran energi dalam tubuh masuk ke dalam tongkat penghancur gunung. Energi alam dan tenaga dalam menjadi satu, memadati di setiap bagian tongkat.
Sekitat 10 tarikan nafas, tongkat itu sudah bercahaya terang dan memperlihatkan sosok Sabdo Jagat.
“Tuan Sabdo Jagat rupanya ada disana!” salah satu prajurit melihat cahaya putih yang terang tepat di ujung mata. Karena suasana sekarang begitu gelap, cahaya itu terlihat sangat terang dan bisa menyinarai wilayah sekitar.
“Dan itu tentu saja lawannya!” ucap satu prajurit lagi, ketika melihat cahaya keunguan tepat berada di dekat cahaya putih.
“Jurus Tongkat Pengahancur Gunung, Retakan Gunung!” Pekik Sabdo Jagat, dia terbang tinggi dengan permainan tongkat yang begitu cepat. Sementara itu, tidak mau ketinggalan Rogo Loro ikut terbang dengan tombak yang bercahaya ungu.
Teng...dam...wush...dua senjata beradu di antara langit dan bumi. gemuruh gelombang yang dihasilkan menyibakan awan gelap untuk sesaat, dari celah awan itu semua orang bisa melihat bulan telah bersinar terang berteman dengan bintang-bintang yang bertaburan. Namun hanya sesaat saja.
__ADS_1