PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Serangan


__ADS_3

Dengan hilangnya Pangeran Miksan Jaya, merupakan kabar terbaru yang pernah didengar. Banyak orang mengatakan kerajaan Tumenang sengaja diri memihak kelompok Kelelawar Iblis.


Alasan itu memang masuk akal, disamping kerajaan itu letaknya memang tersembunyi, para prajuritnya juga banyak yang menguasai seni bela diri aliran hitam. Bahkan Kerajaan Tumenang satu-satunya yang memperbolehkan prajuritnya menggunakan ilmu aliran hitam. Misal Nyai Bidara.


Sungsang Geni terdiam sejenak, tampak sedang berpikir di bawah pohon rindang yang berbuah merah.


“Tuan sekalian, jika kami boleh tahu kemana arah tujuan kalian semua. Dengan pasukan sebanyak ini, apa kalian akan mengejar Kelompok Kelelawar Iblis yang baru saja menyerang desa ini?” Orang kekar dari Tumenang bertanya, tampak tertarik untuk mengikuti Sungsang Geni.


“Dugaanmu tidak salah anak muda, kami memang berniat menghancurkan kelompok itu.” Mahesa yang menjawab pertanyaannya.


“Mustahil!” timpal pemuda itu. “Mereka memiliki pasukan yang kuat dan laki-laki tua itu, ilmu kanuragannya sangat hebat.” Yang dimaksudnya adalah Buyung Upiak.


“Apa kau bilang? Kau meragukan kami semua. Dasar kau ini, badan saja yang besar tapi penakut.” Mahesa menghardik pria itu.


“Kisanak, siapa namamu?” tanya Sungsang Geni.


“Pandia, tuan.”


“Baiklah Pandia, kami tidak bisa terlalu mengulur waktu lagi.” Sungsang Geni lantas mendekati Panglima Ireng, sementara srigala itu merendahkan punggungnya. “Kami hargai kebaikanmu dengan memperingatkan kami. Tapi kami akan tetap pergi.”


Sebelum langkah Panglima Ireng meninggalkan kampung ini, Pandia tiba-tiba bersujud. Kemudian diikuti oleh semua orang prajurit dari Kerajaan Tumenang.


“Tuan, mohon izinkan kami ikut bersama kalian.” Pandia berujar. “Kami akan ikut berperang, kami sudah lama menderita. Mungkin ini adalah kehendak takdir, bertemu dengan kalian. Mungkin nyawa kami ada gunanya suatu saat nanti.”


Sungsang Geni tampak berpikir sejenak, dia menatap Mahesa kemudian kembali menatap Pandia dan teman-temannya.


Butuh beberapa waktu bagi pemuda itu untuk menentukan keputusan, tapi pada akhirnya dia menyetujui mereka semua. Dengan catatan, mereka akan patuh dengan perkataan Sungsang Geni.

__ADS_1


***


Buyung Upiak kembali menghancurkan setiap desa yang dia lewati, sekarang desa ke tiga yang rata dengan tanah. Orang tua itu mengincar semua prajurit Kelelawar Iblis, jika mereka tidak tunduk dibawah kakinya, maka tidak ada jalan untuk hidup.


Pertarungan berdarah sekarang terjadi di desa keempat itu. rupanya meski satu golongan, mereka tidak setuju tunduk dibawah kaki Buyung Upiak. Orang tua itu benar-benar marah, tentu saja.


Kismojoyo tidak segan-segan untuk membunuh siapapun yang berniat melarikan diri dari desa itu. Sambil tertawa terbahak-bahak, dia terus melakukan pembantaian.


Hingga beberapa jam kemudian, desa itu tumbang pula. Semuanya rata dengan tanah, kemudian Kismojoyo membakar gudang dan apapun yang berharga di sana.


Mereka melanjutkan perjalanan, sekarang di depan mata sudah terlihat markas kecil yang bertembok beton dan tinggi. Buyung Upiak mengeraskan rahangnya, sangat iri melihat markas kecil itu terlihat lebih baik daripada miliknya.


“Markas cabang memperlakukan mereka lebih baik daripada kita.” Gumam Buyung Upiak. “Lihatlah seluruh dinding markas itu, semuanya terbuat dari beton, bukan malah papan seperti punya kita.”


“Yang kau katakan benar pemimpin, Markas cabang pasti pilih kasih. Tapi tidak masalah, kita akan merebut markas itu, dan meratakannya sampai ke tanah.” Kismo Jaya menekankan suaranya pada kata 'tanah.'


“ADA PENYERANG!” Teriak penjaga menara pengintai, kemudian dia segera membunyikan lonceng beberapa kali. “BERSIAP BERTAHAN!”


Semua prajurit di markas itu tidak pernah menduga akan ada orang yang berani menyerang mereka dengan terang-terangan. Salah satu penjaga tidak bisa menemukan identitas pasukan itu, selain zirah warna hitam yang sama dengan yang mereka kenakan.


“Apa itu Surasena?” Salah satu pria dengan tubuh kekar dan kepala botak, tidak! Orang itu tidak botak hanya saja rambutnya sangat tipis dan jarang, ketika dilihat dari jauh seperti botak.


“BU-bukan, tuan. Itu seperti Kelelawar Iblis.”


“Apa maksudmu setan alas?! mustahil kita diserang oleh kelompok kita sendiri.”


“Tuan Darshini, jika tidak percaya silahkan tuan lihat sendiri.” Penjaga tembok itu berkata gagap.

__ADS_1


Darshini terlihat sangat ragu, tapi pada akhirnya dia melayang dan hinggap di atas tembok Markas. Selang tiga detik atau mungkin 2 detik, pria tidak bisa menghilangkan wajah terkejutnya, melihat Buyung Upiak berada dibarisan paling belakang. Memberi Instruksi


Darshini beberapa kali mengedipkan matan, mungkin mengira pengelihatannya sedang bermasalah, tapi untuk kesekian kalinya dia yakin itu adalah Buyung Upiak.


Jarak mereka mungkin 300 meter lagi, itu mungkin hanya membutuhkan waktu 3 menit atau kurang, pasukan yang dibawa Buyung Upiak akan tiba di depan tembok Markas.


“Tahan mereka, dengan panah!” Teriak Darsihni. “Orang tua gila itu, kenapa dia menyerang kita? Ini berita buruk, aku harus melaporkan kepada pimpinan kita.”


“TUTUP GERBANG!” teriak salah satu dari prajurit. “SIAPKAN PANAH! HUJANI MEREKA DENGAN API!”


Darshini melayang lagi, masuk ke dalam pintu Markas yang terbuka lebar. Sementara itu semua prajurit yang mungkin berjumlah 500 orang sedang sibuk berlalu lalang, menyiapkan senjata.


Seorang pria yang mungkin berumur 40 tahun sedang melakukan meditasi di dalam ruanganya. Tubuhnya melayang beberapa jengkal dari tempat duduk, sementara itu aura dan energi tenaga dalam meluap-luap keluar dari tubuhnya.


Dia adalah Chandrak, pemimpin markas kecil ini. Meski masih cukup muda, tapi ilmu kanuragan pria itu sangatlah hebat. Orang itu sama seperti Buyung Upiak, berasal dari Negri Sembilan, sekutu dari Kelelawar Iblis.


Mendengar ketukan pintu di luar kamar, terpaksa menjagakan pria itu dari meditasinya. Dengan wajah kesal, diaturnya napas lalu buru-buru membuka pintu.


“Celaka Pemimpin, Buyung Upiak membawa hampir 1000 pasukannya untuk menyerang kita,” ucap Darshini. “Sekarang prajurit kita sedang menahan mereka, tapi aku tidak yakin akan bertahan lama hingga akhirnya Buyung Upiak menjebol gerbang.”


Chandrak sebenarnya bermata sayu, jadi saat ini tidak ada yang tahu apakah mata itu sedang marah atau sedih. Tapi kemudian pria itu tersenyum kecil, sambil mengambil tombak emas yang terletak di atas mejanya.


“Tidak penting siapa yang menyerang, kita akan membunuh mereka semunya,” Chandrak berjalan lebih dahulu. “Kebetulan sekali, tenaga dalamku sudah meningkat. Buyung Upiak adalah orang yang cocok untuk menguji kemampuanku saat ini”


Barus saja mereka keluar dari markas kecil, mendadak terdengar ledakan di gerbang tembok utama. Asap putih mengepul dari arah sana, tiga detik kemudian muncul bayangan orang sambil berteriak menyerukan perang.


“TEMBOK SUDAH HANCUR, GUNAKAN PEDANG KALIAN, TINGGALKAN PANAH!” teriak penjaga gerbang yang masih berada di atas menara pengintai, tapi beberapa menit kemudian orang itu jatuh dengan panah menancap tepat di pangkal lehernya.

__ADS_1


“CHANDRAK!” teriak Buyung Upiak. “Aku akan membunuhmu.”


__ADS_2