
Adipati Lingga tidak percaya dengan perkataan pemuda di depannya, tidak ada orang yang memiliki kekuatan cukup hebat sehingga bisa meruntuhkan lembah hantu ini.
Sebelum Sungsang Geni meninggalkan tenda darurat, Adipati Lingga mengisyaratkan 4 pendekar suci untuk menyerang pemuda itu.
“Sepertinya kalian terlalu lama berada di dalam negri ini.” Sungsang Geni menggelengkan kepala, ketika satu tebasan mengincar lehernya. “Sekekali kalian harus melihat dunia luar, agar pikiran kalian tidak sesempit tempat ini.”
“Jangan banyak bicara setan alas, aku akan menutup mulutmu.”
Satu serangan hendak menikam jantung pemuda itu, tapi dia bisa membungkukkan tubuh sehingga ujung pedang hanya berada tiga jari dari dadanya. Melihat hal itu, satu lagi pendekar suci mengambil kesempatan untuk memotong kakinya, tapi Sungsang Geni memutar tubuhnya, berjungkir balik di udara dan hingga tepat di atap tenda darurat.
Empat orang itu melepaskan serangan tebasan, sehingga tercipta 4 larik energi berbentuk bulan sabit mengarah pada Sungsang Geni. Sebelum serangan itu tiba, Sungsang Geni mengehentakkan kakinya dan melompat lagi ke tenda darurat yang lain. Tenda sebelumnya hancur terbakar karena serangan itu.
“Serangan kalian sangat lambat.” Sungsang Geni mengejek mereka, membuat raut wajah semua orang menjadi merah.
“Jangan menghina pendekar suci, kau bukan tandingan mereka!” berteriak puluhan prajurit menyumpahi Sungsang Geni.
“Jika kekuatan kalian hanya seperti ini, wajar saja sangat mudah musuh menguasai kalian.”
“Setan alas, sombong sekali dirimu. Memangnya kekuatanmu seperti apa?” salah satu pendekar suci membentak Sungsang Geni, dia melepaskan serangan lebih kuat dari sebelumnya, tapi serangan itu hanya lewat 1 jari dari pipi Sungsang Geni.
“Seranganmu sangat lambat, itu karena kau tidak bisa memadatkan tenaga dalam pada serangan ini.” Sungsang Geni memberi nasehat, tapi pria itu menjadi lebih geram dari sebelumnya.
“Kalian ini!”
Tiga dari mereka lebih memilih serangan jarak dekat, mereka mengincar titik-titik vital pemuda itu, tapi tidak ada yang berhasil, bahkan mustahil akan berhasil. Sungsang Geni belum mengeluarkan satu juruspun untuk melawan mereka, kecuali gerakan dasar untuk menghindar.
Namun kali ini dia berhasil mendaratkan tapak tangan pada empat orang itu, membuat mereka terseok ke permukaan tanah. Beberapa saat kemudian, belum ada satu orangpun dari mereka ber empat yang berdiri, semuanya masih mencengkram dada dengan erat menahan sakit.
__ADS_1
“Hemm...padahal aku tidak menggunakan tenaga dalam, kenapa efeknya sangat serius?” bergumam kecil Sungsang Geni, wajahnya menjadi khawatir untuk sesaat tapi setelah melihat satu dari empat orang itu berdiri meraih pedang, wajah pemuda itu menjadi lebih baik.
“CUKUP!” ucap Sungsang Geni. “Berhenti di sana dan jangan lanjutkan!”
Bak kerbau di congok hidung, pria itu berhenti tepat di hadapan Sungsang Geni dengan pedang terkulai dan wajah linglung.
“Apa kau sudah mengeluarkan semua teknik bertarungmu?” tanya Sungsang Geni.
Pria itu tidak menjawab kecuali mengangguk kecil, wajahnya masih linglung, tidak bergerak dari tempatnya semula.
Sungsang Geni menggelengkan kepala, mendekati pria itu dengan santai. Tanpa di duga, pemuda itu membenarkan posisi kuda-kudanya, pegangan pada gagang pedang di perbaiki, bahu dan tangan di sesuaikan.
“Sekarang serang aku!” ucap Sungsang Geni.
Sekali lagi bak kerbau dicongok lubang hidungnya, pria itu kembali menyerang Sungsang Geni. “Ah... tanganmu bukan seperti itu.” ucap Sungsang Geni. “Seperti ini...” dia membenarkan. “Sekarang coba sekali lagi serang aku!”
Adipati Lingga tidak bergerak, dengan wajah bodohnya dia mengedipkan mata beberapa kali. Mana pernah ada orang mengajari musuhnya cara bertarung, dan menyempurnakan teknik berpedang lawannya.
“Apa aku ...tidak bermimpi?” Adipati Lingga bergumam seperti orang gila.
“Hemm...sudah lumayan bagus,” ucap Sungsang Geni sambil menggaruk daggu dan menghindari serangan demi serangan lawannya. “Tapi teknik pedang yang kalian berempat pelajari sangat mudah di baca, bukan aku merendahkan teknik kalian, tapi jika kalian ingin bertambah kuat, kalian harus merubah sedikit gaya bertarung.”
“Pendekar...” mendekat pria kecil yang baru saja di latih Sungsang Geni. “Aku mohon, biarkan aku berlatih kepadamu, aku menyadari teknik ini terlalu banyak kekurangan.”
“Apa yang kau lakukan? Apakah kau tidak malu berlutut di hadapan musuh?” pendekar suci yang memiliki wajah penuh brewok mengupat panjang pendek, dia bahkan mengancam akan membunuh temannya sendiri jika lancang belajar dari Sungsang Geni.
“Apa kalian buta? Jika dia hendak membunuh kita, sudah dilakukannya dari tadi,” timpal pria kecil itu. “Apa kalian tidak menyadarinya, sedari tadi dia belum mengeluarkan kemampuan, tapi aku, kau...kita semua sudah kalah hanya dengan satu tapak tangan saja.”
__ADS_1
Pendekar dengan brewok lebat hendak memaki lagi, tapi niatnya segera urung setelah merasakan aura membunuh tiba-tiba menyelimuti tempat ini. Dia menjadi lebih ciut lagi, setelah mengetahui aura itu berasal dari tubuh pemuda di hadapannya.
“Aura apa ini?” Adipati Lingga tertegun tak tahu harus berbuat apa.
“Dengarkan aku, kedatanganku ke sini tidak ada maksud untuk berlaku buruk pada kalian semua. Aku tidak peduli dengan kitab yang ada di dalam sana...” pemuda itu menunjuk ke arah air terjun. “Aku memiliki kitabku sendiri yang harus ku pelajari, benar sekali aku memiliki musuh, tapi bukan kalian.”
“Jika demikian, apakah kau mau melatih kami semua!” berkat lagi pendekar dengan tubuh lebih kecil dari 4 pendekar lainnya.
Sungsang Geni tidak menjawab pertanyaan itu, dia balik memandangi Adipati Lingga yang masih berpikir keras untuk meyakini ucapan Sungsang Geni. “Keputusan itu bukan miliku.”
Setelah mengatakan hal itu, aura membunuh lenyap dari tubuh Sungsang Geni. Dia mendekati Panglima Ireng, mengeluarkan sebilah pedang bercahaya kuning dari telapak tangannya, dengan pedang itu dia memutuskan semua tali yang melilit di leher sahabatnya, hanya dengan sekali tebas.
“Batunya ikut terpotong menjadi dua bagian?” semua orang bergidik melihat kemampuan pendekar itu.
“Kekuatannya mungkin lebih tinggi dari Nyai Bidara?”
“Jadi di pertarungan tadi, dia sengaja tidak menyerang, karena kekuatannya terlalu besar dan membahayakan empat pendekar suci?”
Adipati Lingga sekali lagi dibuatnya takjub, sekarang pikirannya sudah mulai meragukan keputusan yang baru saja dia ambil, mencurigai Sungsang Geni. Barangkali, dewa memang mengirim seseorang untuk menyelamatkan Negri Tumenang dari jerat kegelapan, pikirnya.
“Mungkin pemuda ini adalah jawaban dari doa yang kami panjatkan.” Adipati Lingga jatuh ke permukaan tanah, menopang tubuhnya dengan dua lutut. “Apakah kau mau melatih kami? Memberikan pengarahan bagi pasukan ini?”
Sungsang Geni berbalik badan, lantas tersenyum kecil mendekati pria itu, dia mengangkat tubuhnya. “Satu-satunya musuhku adalah kegelapan, tentu saja aku akan melatih kalian semua, jika menurutmu itulah yang terbaik. Tapi aku tidak akan melatih caraku bertarung, aku hanya akan menyempurnakan teknik yang kalian pelajari saja.”
“Tidak masalah, kami yakin dibawah bimbinganmu kekuatan kami akan meningkat.”
Bukannya Sungsang Geni tidak ingin melatih mereka dengan teknik Pedang awan Berarak atau pula, Pedang Bayangan. “Mereka tidak akan sanggup mempelajarinya dalam waktu singkat.” Batin Sungsang Geni bergumam.
__ADS_1
S**ekali lagi PDM up setiap jam 8 malam. jadi yg koment nanya kapan up mungkin kalian adalah pembaca baru. jadi saya ucapkan selamat menikmati, tulisan ala kadarnya ini**.