PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menuju Markas Petarangan


__ADS_3

Setelah semua urusan selesai, Sungsang Geni berpamitan untuk kembali lagi ke Markas kecil. Saat ini ada 5 karung sufur yang disusun rapi di dalam kereta kuda.


Siko Danur Jaya beserta Basupati mengantar kepulangan teman-temannya di pangkal tangga.


“Brlatihlah dengan giat, teman!” ucap Sungsang Geni, kemudian dia berujar kepada Basupati. “Kami titip Siko Danur Jaya, Paman. Semoga apa yang menjadi tujuannya, segera tercapai.”


Basupati kemudian berujar pula, “Setelah Siko Danur Jaya kembali dari latihan panjangnya, maka beberapa puluh pendekar dari Rajawali Hitam akan bergabung bersama dengan Bayangkara untuk menumpas tirani di Negri ini. Aku harap pada saatnya nanti, Pemimpin Bayangkara mau menerima kami.”


Sungsang Geni sangat mendukung rencana Basupati, mereka akan memiliki tambahan kekuatan yang cukup baik.


Setelah beberapa puluh jam, mereka akhirnya kembali lagi ke Markas Kecil. Cempaka Ayu dan Ratih Perindu adalah orang-orang pertama yang menyambut kedatangan mereka.


Namun lekas tampak di wajah Ratih Perindu kegusaran mendapati Siko Danur Jaya tidak lagi bersama mereka.


“Apa yang terjadi dengan Kakang Siko? Apa dia....jangan-jangan....”


“Dia baik-baik saja, Ratih.” Sungsang Geni segera menjelaskan keputusan yang telah diambil oleh Siko Danur Jaya, meski terlihat kecewa akhirnya Ratih Perindu dapat pula memperlihatkan senyum kecil di bibirnya.


“Aku sangat mengkhawatirkan dia.”


“Bersabarlah, dia akan kembali dengan kemampuan yang baru.” Sungsang Geni mencoba menghibur gadis itu.


Kemudian mereka membawa angkutan di dalam kereta menuju halaman belakang Markas. Empu Pelak sudah menyiapkan banyak sekali kebutuhan yang diperlukan untuk menciptakan Bubuk Setan.


Selama itu pula, dia tidak membiarkan siapapun masuk dan melihat apapun yang telah dia lakukan di halaman belakang, kecuali Mahesa.


“Geni, kau sudah kembali?” Empu Pelak kemudian memperhatikan lima karung Sufur di belakang pemuda itu. “Ah, ini dia bahan yang akan menentukan segalanya. Kau membawanya dengan jumlah banyak, kita akan memiliki jumlah bubuk setan yang melimpah.”

__ADS_1


Mahesa memandangi Sungsang Geni dengan heran, pria itu tidak menyangka akan diminta bantuan oleh Empu Pelak untuk mengurus para mayat dan juga tanah dari kotoran hewan dan manusia. Beberapa kali pria itu muntah saking jijiknya.


Raut wajah terkejut juga tergambar dari Dirga. Pemuda itu tidak menyangka bubuk setan yang selama ini digunakan berasal dari bahan-bahan yang 'menjijikkan' tapi demikian mereka akhirnya dengan terpaksa membantu Empu Pelak menciptakan bubuk itu.


Selama beberapa hari, mereka berempat memproses bahan-bahan. Tidak ada yang boleh melihat prosesnya kecuali hari ini, karena bubuk setan sudah berbentuk adonan yang tinggal menunggu kering.


“Kita akan memiliki 40 tong bubuk setan, satu tong bubuk setan bisa meratakan tempat ini hanya dalam hitungan menit.” Empu Pelak tertawa terbahak-bahak, bangga sekali dengan senjata pemusnah yang diciptakannya.


Keesokan harinya, Sungsang Geni meminta Dirga untuk membawa 30 prajurit Bayangkara.


Dia harus kembali ke markas kecil yang pernah dipimpin Buyung Upiak, bersama dengan seluruh rakyat yang mereka bebaskan dan juga para budak.


“Aku ingin kau mengamankan tempat itu.” Sungsang Geni memberi perintah. “Bangun pertahanan kuat di sana, sungai akan menjadi tembok alami. Bawa juga 20 tong bubuk setan.”


Empu Pelak kemudian meyerahkan cetak biru dari kereta iblis yang sudah dimodifikasi sedikit lebih modern. “Kereta-kereta iblis ini kau letakkan di tempat strategis, aku yakin meski mereka memiliki kemampuan setingkat tanpa tanding dengan 2 jule tenaga dalam tidak akan mampu menahan ledakan dari bubuk setan.”


Kemudian 30 kuda pergi meninggalkan tempat ini, bersama dengan mereka juga ada 5 kereta kuda yang membawa budak dan rakyat.


***


Sungsang Geni kemudian kembali bergerak meninggalkan markas kecil, sebelum hal itu dia sudah mengubur semua harta di halaman belakang, kemudian menandainya seperti pemakaman.


Mereka juga menguburkan semua perlengkapan perang dalam peti-peti besar. Akan berguna suatu saat nanti ketika jumlah mereka sudah sangat banyak.


Setelah melihat peta beberapa kali, Pemuda itu berniat menyerang langsung markas cabang.


Jaraknya dari tempat ini sekitar 10 hari perjalanan dengan kuda yang berlari pelan. Tidak ada markas kecil yang mereka lewati setelah ini, kecuali beberapa desa kecil yang sudah tidak berpenghuni.

__ADS_1


“Lawan kita sekitar 2000 orang, dari catatan ini kita mungkin akan bertemu dengan belasan pendekar tanpa tanding, bahkan mungkin pemimpin dari markas cabang adalah pendekar level iblis.” Sungsang Geni mengingatkan pasukannya.


“Tidak masalah, kita akan menaklukkan tempat itu dengan sedikit strategi.” Empu Pelak lebih percaya diri lagi setelah memiliki Stock Bubuk Setan.


Setelah lima hari mereka berjalan, ada pria menunggangi kuda melaju dengan cepat menghadang langkah kaki Bayangkara. Dari tampilan orang itu, jelas saja adalah prajurit Kelelawar Iblis yang ditugaskan untuk memantau markas kecil.


“Siapa kalian ini?” tanya orang itu terlihat gusar melihat ratusan rombongan yang dibawa Sungsang Geni. “Apa yang akan kalian lakukan?”


Sungsang Geni tidak menjawab perkataan pria itu, dan sebagai gantinya dia segera melepaskan aura membunuh. Mendadak kuda yang ditunggangi orang itu berdiri ketakutan, membuat penunggangnya jatuh ke tanah.


Sungsang Geni dengan duduk di atas Panglima Ireng berjalan perlahan mendekati pria itu, wajah srigala menambah kesan angker yang membuat anggota Kelelawar Iblis itu tidak bisa menggerakkan seluruh sendinya.


“Apa-apa kalian, Surasena?” dia bertanya gagap.


“Tidak penting siapa kami.” Sungsang Geni segera turun dari atas punggung Panglima Ireng, kemudian melakukan beberapa gerakan dan mendaratkan tapak tepat di beberapa sisi tubuh orang itu. “Aku sudah membuang seluruh ilmu kanuragan yang kau miliki, kau tidak akan bisa lagi mengeluarkan tenaga dalam.”


Menyadari hal itu, pria itu mencoba menyalurkan tenaga dalamnya, hanya untuk menguji apakah perkataan Sungsang Geni benar, tapi dia langsung pucat pasi mengetahui tidak ada satupun ajian yang bisa dia gunakan saat ini. Semuanya telah lenyap.


“Kau adalah tawanan kami,” Sungsang Geni meminta prajuritnya untuk membawa orang itu, “Kau akan menjadi kunci kami menaklukkan Markas Cabang.”


Orang itu tidak berkutik setelah dua orang menyeret tubuhnya dan meletakkan di dalam kereta yang mengangkut makanan. Padahal tubuh orang itu sangat kekar dan tinggi, berwajah luar biasa hitam dan berkumis lebat, tapi tampang menyeramkannya menjadi ciut seketika.


“Kalian tidak akan sanggup menghancurkan Markas Petarangan, bahkan kekuatan kalian tidak akan sanggup menghancurkan satu markas kecil.”


“Dasar bodoh, apa kau tahu? Kami sudah menghancurkan dua markas kecil di belakang rata dengan tanah, dasar bodoh, bodoh! Menurutmu kenapa kami sampai di tempat ini, jika bukan karena berhasil menguasai dua markas kecil?” Empu Pelak terkekeh kecil, suaranya yang parau menjadi ciri khas sendiri untuk melunturkan mental lawannya. “Sekarang kau diam saja bersama kami, dan akan kau lihat bagaimana kami juga menghancurkan markas apa tadi? Ah ya, Markas Petarangan.”


sebelum lanjut membaca, berikan like dan coment kalian. sebagai bentuk apresiasi kalian terhadap tulisan sederhana ini.

__ADS_1


__ADS_2