
Beberapa menit benturan energi itu membuat hampir semua pendekar yang memiliki garis 3 jule ke atas datang berbondong-bondong ke pusat pertempuran. Tidak terkecuali Sriyu Kuning.
Sebelum semua orang tiba di tempat ini, Prama Londro berniat menyudahi pertarungan, takut semua orang menggunjing dirinya lemah, karena kesulitan mengalahkan pemuda yang hanya memiliki tenaga dalam jauh lebih rendah darinya.
Prama Londro mengerahkan semua energi pada batas terakhir yang dimilikinya, membuat Sungsang Geni tertekan mundur.
Ketika harapan kemenangan mulai tergambar di wajah Prama Londro, sebuah energi kuning seperti urat keluar dari lengan Sungsang Geni.
Energi itu merayap pada sekujur lengan kanannya, dan terus menjalar pada pedang energi.
Perasaan Sungsang Geni sama seperti dia dalam keadaan melawan Komandan Kelelawar Iblis Banduwati, tapi tampilannya kali ini tidak sebaik saat itu. Setidaknya tidak ada sayap kuning yang terbentuk.
Pada saat yang sama, pedang energi mulai meretakkan gigi Naga Bayangan. Semakin energi berbentuk urat menjalar menyelubungi lengan kanannya, kekuatan yang didapat semakin bertambah besar.
Lalu beberapa detik kemudian, mungkin 3 detik atau 5 detik paling lama, naga bayangan terbelah menjadi dua bagian, dan Sungsang Geni tepat berada di tengahnya, masih melaju cepat kearah Prama Londro.
Namun sangat disayangkan, sebelum pedang Sungsang Geni berhasil menikam dada lawannya, sosok orang tiba-tiba berada tepat diantara mereka berdua dan melepaskan tapak dengan kekuatan sangat tinggi.
Sungsang Geni terlempar puluhan meter ke belakang, dan akhirnya berhasil ditangkap oleh Pramudhita. Pria itu tepat waktu, karena jika terlambat beberapa detik saja, tubuh Sungsang Geni pasti terhempas pada beberapa batang pohon.
“Uhuk...uhuk...” Sungsang Geni batuk kecil, memang dia tidak mengalami pendarahan tapi tapak itu masih membekas di dadanya, membuat luka tebasan Prama Londro semakin besar.
“Kau baik-baik saja?” tanya Pramudhita, kemudian mengeluarkan sebungkus bubuk dan mengoleskan pada luka Sungsang Geni, “Tahanlah sedikit!”
Sungsang Geni menggigit bibir menahan perih obat itu, rasanya lebih perih dari pertama kali Prama Londro menebasnya.
Setelah beberapa saat, pendarahan di dadanya segera berhenti dan lukanya mulai mengering, hanya menunggu satu jam saja luka itu akan sembuh total.
“Dia memiliki energi jauh lebih kuat dari yang pernah aku lawan...” ucap Sungsang Geni, menunjuk seorang pria tua yang penuh dengan uban sedang mengobati Prama Londro.
“Dialah yang bernama Sriyu Kuning. Wajar saja jika dia kuat, tapi melihat dirimu tidak terluka dalam akibat serangannya membuatku cukup terkejut.” Ucap Pramudhita memperhatikan lengan kanan Sungsang Geni, 'jadi yang tadi itu adalah kekuatan dewa surya? Dia belum bisa mengendalikannya?'
__ADS_1
Tabib Nurmanik datang terlambat, dia segera masuk dalam kerumunan orang yang memapah Sungsang Geni. Wanita tua itu memberi sesuatu, Sungsang Geni hanya perlu menelannya kemudian tenaga fisik pemuda itu akan pulih setelahnya.
"Tidakkah ada obat yang rasanya cukup manis? Semuanya luar biasa pahit!" Gerutu Sungsang Geni.
"Kau masih sempat bercanda pemuda asing?" Tabib Nurmanik menghela napas panjang, "padahal nyaris saja mati!"
Serangan tersebut membuat seluruh tenaga dalam yang baru saja di dapatnya, terkuras habis. Tapi jika harus bertarung kembali, Sungsang Geni masih sangat sanggup, karena dia menyadari energi api nampaknya terhimpun dengan sendirinya.
“Aku tidak takut jika harus menghadapi kalian semua!” tiba-tiba Sriyu Kuning melepas tekanan besar dari tububuhnya, tekanan itu tertuju pada hampir 100 orang pendekar yang ada di belakang Sungsang Geni.
Sriyu Kuning memperhatikan setiap wajah lawannya, nampaknya Resi Irpanusa tidak berada disini jadi dia bertambah congkak saja.
“Kakek tua itu tidak disini? Mungkin dia menjadi pengecut?”
“Jaga bicaramu Sriyu Kuning!” teriak Pramudhita, sambil mengeluarkan sebilah pedang energi, “Atau aku sendiri yang akan menutupnya!”
Sriyu Kuning tertawa terbahak-bahak, pemandangan itu seperti dia adalah seorang kakek gila, “Menutup mulutku? Bahkan pedangmu itu tidak layak berhadapan dengan jari telunjukku, lawan aku dengan segenap kemampuan kalian...”
"AHKKK!" teriak Prama Londro
Prama Londro berusaha mencabut pedang bercahaya itu keluar dari tubuhnya, tapi mustahil pedang itu lebih kuat, terasa panas dan mulai membakar organ dalamnya, “Lepaskan benda ini, Guru!”
Sebelum Sriyu Kuning beraksi, pedang itu telah tercabut sendiri dan melesat cepat nyaris saja memenggal kepalanya dan tertancap pada salah satu pohon besar, membuat pohon itu terbakar hingga kemudian pedang itu lenyap dengan sendirinya.
Sriyu Kuning sangat murka melihat hal itu, menyerang muridnya sendiri ketika dia sedang menjaganya adalah penghinaan yang luar biasa.
“Siapa yang melakukan ini?!” teriak Sriyu Kuning, dia melepaskan tekanan tenaga dalam lebih besar lagi.
Suara tawa kecil membuat semua orang serentak menghadap pada pemuda itu, Sungsang Geni. Tentu saja itu adalah ulah dirinya sendiri, tidak ada yang bisa mengendalikan sebuah pedang kecuali dirinya di tempat itu.
Menyerang bawahan ketika pimpinannya sedang menyombongkan kekuatannya, adalah penghinaan yang paling menyakitkan. Wajah Sriyu Kuning menjadi kesal luar biasa.
__ADS_1
“Jadi kau yang menghina diriku barusan, pemuda asing?!” Sriyu Kuning berjalan mendekati Sungsang Geni, membuat Pramudhita dan Tabib Nurmanik sedikit panik, “Apa kau pikir bisa mengalahkan aku dengan permainan kecilmu itu?”
“Ma,af Aki, tapi permainan kecilku tadi nyaris saja membunuh murid kesayanganmu!' Sungsang Geni tidak menghentikan tawa kecilnya, di sisi lain Pramudhita mulai bertanya tindakan Sungsang Geni.
"Kenapa dia memancing kemarahan Sriyu Kuning?" Gumam Pramudhita panik.
“Apa kau mau mengujiku?” tanya Sriyu Kuning, jarak antara mereka mungkin hanya 5 langkah lagi.
“Tentu saja tidak!” Sungsang Geni menghentikan tawanya, “Mengalahkanmu pasti akan sangat menyulitkan, meski sebenarnya itu bukan hal yang mustahil.”
“Kalau begitu....”
“Kalau begitu bertarunglah denganku, Sriyu Kuning!” tiba-tiba saja Resi Irpanusa telah berada di tengah rombongan mereka, dengan dua gadis yang bersama dengannya.
Dua gadis itu adalah si kembar, wajah mereka terlihat lebam karena siksaan yang dilakukan pihak Sriyu Kuning. Bahkan salah satu dari mereka mendapat luka tebasan pedang di bagian paha.
“Nurmanik, segera obati Sikembar!” perintah Resi Irpanusa.
Dengan bergegas Tabib Nurmanik memberikan beberapa ramuan untuk dioleskan ke bagian luka mereka. wanita itu juga memberi cairan yang diminumkan.
Sungsang Geni telah mengetahui Resi Irpanusa sedang pergi menuju Padepokan Cabang Utara seorang diri, karena itu Sungsang Geni dengan segala cara mengalihkan perhatian Sriyu Kuning.
Karena sekarang telinganya menjadi tajam, Sungsang Geni dapat mendengar permintaan Resi Irpanusa untuk bertahan beberapa menit saja, sebelum Sikembar dapat dibebaskan.
Jika saja Sikembar belum bebas, maka mereka berdua akan menjadi tawanan ketika pertarungan benar-benar terjadi.
Kedatangan Sriyu Kuning ke tempat ini membuat padepokan cabang utara tidak dijaga, dan kesempatan itu segera dimanfaatkan Resi Irpanusa untuk bertindak. Resi itu juga berhasil menemukan Guci Perunggu, dan menghancurkannya.
Sekarang, tinggal menunggu waktu hingga seluruh mahluk hasrat menghancurkan Padepokan Cabang Utara. Namun nampaknya sudah dimulai.
Kudusia berlari tunggang langgang dengan wajah penuh bengkak melaporkan sesuatu yang sedang terjadi di Padepokan Cabang Utara, nafas pria itu terdengar tersengkal-sengkal.
__ADS_1
“Resi itu, Resi itu menghancurkan guci perunggu!” ucap Kudusia, setelah sadar ternyata Resi Irpanusa berada di depannya, pria itu tertunduk ketakutan, nampakanya dia juga baru saja dihajar oleh pimpinan Padepkoan Cabang Selatan tersebut.
“Dasar tidak brguna!" teriak Sriyu Kuning.