PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Siluman Singa Merah


__ADS_3

Sungsang Geni merasakan tubuhnya seperti terendam air saat memasuki gerbang Zambala.


Gerbang ini tidak sesederhana yang dia bayangkan, ada energi yang memenuhi jalannya, dengan liukan cahaya warna warni, seperti pusaran.


Beberapa saat kemudian, dia mendarat pada permukaan yang kasar dan keras. Sungsang Geni merasakan kepalanya sedikit pusing, perjalannanya memasuik Gerbang Zambala hampir membuat dia memuntahkan isi perutnya.


Dia masih butuh waktu beberapa saat untuk memperjelas pandangannya yang terasa kabur. Setelah cukup lama, akhirnya pemuda itu dapat melihat dengan jelas situasi di sekitarnya saat ini.


Dia terdampar pada ruangan luas, terlihat seperti halaman sebuah Istana yang dikelilingi bebatuan berwarna hitam.


"Ada tempat seperti ini di dalam goa?"


Ruangan itu cukup terang, sesuatu bersinar kuning di atas kepalanya, tepatnya di lelangit goa yang cukup tinggi. Seperti buntut kunang-kunang yang bercahaya, hanya saja tanpa berkedip.


Sungsang Geni menyapukan pandangnnya, puing-puing bebatuan, dan benda terlihat mirip kursi dan meja berhamburan. Dan yang takalah mengejutkan Sungsang Geni, ada banyak tengkorank manusia, bukan tapi tengkorak Sebaba yang jumlahnya puluhan.


Rata-rata tulang tengkorak mereka, memiliki dua buah lubang sebesar ibu jari manusia dewasa.


“Singa itu membunuh mereka dengan menggigit kepala.” Gumam Sungsang Geni.


Dia kemudian berjalan menuju Istana, yang terlihat seperti setengah piramida. Sungsang Geni tidak dapat melihat ujung Istana yang nampaknya menyatu dengan langit-langit goa.


Setelah tiba di depan Istana, pemuda itu merasakan energi besar dari dalam. Energi siluman yang tidak bisa dia ukur kekuatannya. Sungsang Geni belum pernah melawan Siluman, tapi menurutnya tidak akan mudah melawan mahluk setengah jadi-jadian itu.


Pemuda itu sekarang memasuki Istana Saka. Di dalam ruangan cukup gelap, sebab cahaya yang terlihat seperti matahari di halaman Istana tidak ditemukan di dalam sini.


Pemuda itu kemudain menjentikan jari telunjuk, membuat obor dengan api matahari. Sekarang dia bisa melihat, ruangan itu lebih kacau dari halaman luarnya.


Ada lebih dari 300 tengkorak yang berserakan, mungkin. Jumlahnya belum bisa dipastikan sebab di mana Sungsang Geni menghadap tidak ada pemandangan lain selain tulang belulang.


Bomm...5 buah tungku perapian menyala tiba-tiba, mungkin karena api ditangan Sungsang Geni menyambar tungku-tungku itu.

__ADS_1


“Tempat ini seperti tumpukan mayat!” gumam Sungsang Geni, dia kembali melangkahkan kaki menuju ruangan yang lebih dalam, dimana energi siluman semakin terasa kuat.


Bom...bom...bom...setiap pemuda itu melangkah, beberapa tungku perapian menyala, seakan membimbing jalan Sungsang Geni menuju Siluman Singa Merah.


Setelah berjalan beberapa lama, Sungsang Geni tiba di gudang harta. Ada segunung emas saat ini di depan matanya, dengan ratusan batu kerlap kerlip seperti bintang di malam hari.


Sungsang Geni melangkah dengan pelan, instingnya mengatakan akan ada masalah yang akan datang. Dan benar, Sungsang Geni tanpa sengaja memijak sesuatu, berbentuk wajik. Setelah wajik itu terpijak, warnanya berubah menjadi kuning.


3 detik kemudian, ratusan anak panah tiba-tiba muncul dari langit menghujani Sungsang Geni. dengan cepat pemuda itu menghindari semua anak panah tanpa kesulitan, tapi sebelum dia berdiri tenang, pemuda itu kembali mengijak lantai wajik yang sekarang menyala dengan warna hijau.


Sebuah kapak besar mengayun kearahnya, ada tiga kapak, tunggu, ada 5 kapak yang sekarang mengarah pada pemuda itu, membuat Sungsang Geni harus melompat kebelakang, dan tersandar di dinding ruangan.


Sekarang selesai? Belum, pemuda itu malah menyentuh wajik yang lain di bagian dindingnya, mencipatkan semburan api yang besar dari bawah.


“Oh, api? Sebaiknya ranjaunya adalah air...” Ucap Sungsan Geni, tanpa berusaha menghindari api yang mengarah kepadanya.


“Sudah selesai?” dia bergumam, menunggu beberapa saat jika saja ada ranjau susulan, “tidak ada? Baiklah, aku langsung ke...”


“HEM...MANUSIA?”


Sungsang Geni mendengar suara bergema berasal dari atas, tepatnya dari tumpukan emas yang menjulang tinggi.


Seekor Singa dengan bulu yang menyala dan ekor yang mengeluarkan api seperti sumbu obor, memandangi Sungsang Geni dengan ******. Taringnya yang panjang, mengintip dari balik bibirnya yang berkumis merah dan keras.


“Hem...Kucing bertubuh besar?” ucap Sungsang Geni, “Astaga apa kau yang menyiapkan semua ranjau ini?”


“Ranjau ini dipasang oleh leluhurku, para Sebaba...Ah, sebelum pada akhirnya aku membunuh semuanya tanpa tersisah.” Siluman Singa Merah berkata, hampir seperti manusia, tapi ada yang salah dengan perkatannya, Leluhur?


“Kau...Si Anak Sulung?” Tanya Sungsang Geni, “Cerita mengenai bangsa kalian ternyata benar?”


“Tidak lagi, aku bukan lagi si Anak Sulung, tapi juga bukan Singa Merah. Setelah jiwaku menyatu dengan tubuh ini, aku adalah mahluk lain.” Ucapan Si kucing besar berhasil membuat kening Sungsang Geni mengernyit, saking bingungnya. “Aku adalah Raja Saka, Siluman Singa Merah!”

__ADS_1


“Bukan, kau kucing besar yang bisa bicara.”


Setelah berkata demikian Sungsang Geni segera menyerang si kucing besar lebih dahulu.


Mendapati pemuda itu terbang menuju dirinnya, siluman Singa Merah mengaum dengan keras, membuat gelombang suara bertekanan tinggi. Menghempaskan Sungsang Geni ke dasar.


“Mahluk kecil, yang lemah.” Ucapnya, lalu melompat di depan Sungsang Geni yang berusaha berdiri.


Plak... kucing itu berhasil menapar tubuh Sungsang Geni. Pemuda itu melayang beberapa saat, sebelum kemudian terhempas pada gundukan peti yang berisi perhiasan.


“Huh...” Sungsang Geni mendesah, “Kekuatan fisiknya 10 kali dari gajah.”


“Aku terkejut kau masih bernapas setelah serangan itu, Manusia.” Kucing besar berjalan mengelilingi Sungsang Geni, “Kau adalah orang pertama yang bisa bertahan dari serangan fisikku, tapi bagaimana jika aku menggunakan energi silumanku.”


“Entahlah, mari kita coba apakah kekuatanmu sebesar omong besarmu.” Sungsang Geni menyelimuti seluruh pedangnya dengan tenaga dalam, membuat pedang itu terlihat berwarna biru.


Mereka kembali melakukan pertarungan, dalam beberapa menit saja, Sungsang Geni telah melepaskan puluhan tebasan, tapi tak satupun yang dapat melukai mahluk itu.


Sungsang Geni tidak ingin, serangan mahluk itu mengenai dirinya, lagi. Tidak setelah melihat kukunya telah berubah warna menjadi merah bara.


“Kekuatan yang sangat besar?” ucap Sungsang Geni, "dia tidak membual dengan energinya."


Sungsang Geni tidak memiliki pedang yang cukup keras. Serangannya tidak begitu efektip dengan pedang biasa ditangannya. Beberapa tebasan lagi, Sungsang Geni tidak dapat menjamin pendang itu masih bertahan.


“Aku tidak bisa menggunakan jurus tingkat tinggi dengan pedang ini,” gumam Sungsang Geni, “tidak cukup kuat, tenaga dalamku semakin boros.”


“Apa yang kau pikirkan , Manusia?” Kucing Besar kembali mengayunkan cakarnya, kali ini Sungsang Geni tidak memiliki waktu menghindarinya, jadi dia lebih memilih menangkis kuku-kuku itu dengan pedangnya.


Ting...pedang Sungsang Geni terpotong menjadi dua, membuat ledakan kecil diantara mereka berdua. Membuat Sungsang Geni terpental beberapa meter, sedangakan mahluk itu hanya terpundur 2 langkah kebelakang.


“Mahluk kerdil yang kuat, tapi sayang senjatamu sudah hancur.” Siluman Singa Merah menunjukan kukunya yang bertambah panjang, “tapi senjataku masih sangat banyak, Mahluk Kerdil.”

__ADS_1


__ADS_2