PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 20


__ADS_3

Waktu berlalu begitu lambat, langit tertutup mendung sekarang menjadi semakin gelap. Tampaknya matahari sudah benar-benar tenggelam, dan kondisi dunia mulai benar-benar mencekam. Beberapa prajurit Surasena tidak memiliki jangkauan pengelihatan yang baik, mereka lebih memilih mundur daripada bertarung tanpa tahu lawan ataupun teman.


Beruntung sekali, tiga diantara lima pisau energi Sungsang Geni yang berada di puncak menara masih menyala. Banyak ratusan prajurit kembali lagi ke dalam reruntuhan Markas Petarangan.


Udara mulai terasa lebih dingin dari sebelumnya, satu-satunya tempat hangat adalah berlindung di bawah sinar pisau energi Sungsang Geni.


“Kalian dalam ketakutan!” ucap Rogo Loro, terlihat berbasa-basi sebelum bertarung melawan Sabdo Jagat. “Langit semakin mencekam, pandangan mata terbatas dan dunia terasa dingin.”


“Ya, aku setuju dengan pendapatmu, tapi...” Sabdo Jagat berkerlit sesaat, meski pandangannya juga terbatas tapi energi yang terpancar dari tubuh dan senjata lawan ketara lebih jelas, “itu tidak akan merubah pertarungan kita berdua.”


“Sombong sekali...” Rogo Loro menyerang Sabdo Jagat lebih dahulu. Dengan tombaknya, dia berusaha menusuk dan juga membabat. Tapi Sabdo Jagat tidak semudah itu untuk dikalahkan, dia bergerak cepat pula menangkis dan menghindar, sekekali dia melancarkan serangan balasan.


Dentingan dua senjata memercikkan cahaya, untuk sekejap tempat dimana mereka bertarung terkena sinar cahaya, menampakkan mayat-mayat yang bergelimpangan dan tanah penuh darah.


Sabdo Jagat melompat ke atas, kemudian membabatkan tongkat penghancur gunung ke bawah. Serangan itu mengarah pada kepala, tapi Rogo Loro menahan serangn tersebut dengan melintangkan ombak di atas kepala. Sekali lagi percikan cahaya terang terlihat.


Tum...tumm...dua benturan terjadi cukup keras. Sabdo Jagat terpukul mundur dua depa sementara itu lawannya tiga depa. Hampir seimbang, meski sebenarnya Sabdo Jagat lebih unggul. Energi alam yang ada didalam tubuhnya mulai seirama dengan tenaga dalamnya.


Sungsang Geni butuh beberapa hari agar tubuhnya beradaptasi ketika kali pertama mempelajari energi alam, jadi hal wajar bagi Sabdo Jagat jika belum bisa mengendalikan energi alam saat ini.


Semakin sengit pertarungan, Sabdo Jagat merasakan aliran energi alam semakin seirama dengan tenaga dalam miliknya. Bahkan beberapa kali, tongkat penghancur gunung memiliki kerusakan dua kali lipat dari sebelumnya.

__ADS_1


Sabdo Jagat membabat kebawah, tapi tubuh musuhnya melompat satu depa dari tanah kemudian menyisipkan serangan. Mata tombak hampir mengenai wajah Sabdo Jagat, lewat dua jari dari pipinya.


Tidak berhenti disana, Rogo Loro menyerang lebih cepat ke arah bagian wajah dan leher. Sabdo Jagat terpaksa mengehentakkan kakinya, dan melayang mundur. Mehindar sambil menangkis serangan. Cukup jauh dia mundur, hingga tubuhnya terhalang oleh sesuatu.


Sabdo Jagat tidak tahu benda apa yang menghadang di belakangnya, hingga dia merasakan desiran angin begitu dingin datang dari arah depan. Paman Guru Sungsang Geni tersebut, segera menarik kepala ke samping. Tombak Rogo Loro tertancap dalam pada benda di belakangnya.


Pada saat yang sama, sebelum mata tombak dicabut. Sabdo Jagat berhasil menghantam musuh dengan ujung tongkatnya.


Rogo Loro terpukul mundur belasan depa, hingga tubuhnya hilang dari pandangan di telan gelapnya malam. Suasana hari sudah memasuki malam seutuhnya, pandangan benar-benar terbatas. Tapi, karena musuh memancarkan energi Sabdo Jagat bisa memprediksi serangan dengan tepat.


'Ini lebih mirip bertarung dengan mata terpejam.' Ucap Sabdo Jagat, teringat ketika dulu ayahnya mengajari cara menggunakan tongkat dengan mata ditutup kain hitam.


Kala itu latihan yang diberikan oleh sang ayah benar-benar berat. Ratusan pukulan menyerang tubuhnya yang belum genap 18 tahun. Kuncinya waspada dan rasakan keberadaan musuh. Kalimat itu selalu di ucapkan sang ayah.


Beberapa saat kemudian, tidak ada pergerakan musuh akan datang menyerang. Sabdo Jagat menjadi sedikit lebih waspada kali ini, sesuatu sedang direncanakan Rogo Loro. Dan dugaannya benar, tiga serangan datang tapi sama sekali tidak memiliki energi.


Sabdo jagat baru sadar jika musuh menyerang setelah tiga benda berjarak hanya tiga jengkal dari kepalanya. Dua benda dapat dihindari dengan mudah, tapi satu benda berhasil memotong beberapa helai rambutnya.


Rupanya Rogo Loro sengaja melempar tombak biasa yang banyak berserakan di sekitar mereka. Taktik pria itu cukup licik, tapi benar-benar berhasil mengecoh Sabdo Jagat.


Dua kali serangan tombak biasa hampir mengancam Sabdo Jagat, ini benar-benar membuat pemimpin Lembah Ular itu kesal bukan kepalang. Dengan melompat dua depa dari permukaan tanah, dia menghantam permukaan tanah. Tercipta percikan cahaya terang untuk beberapa saat, gelombang kejut meledak membuat Rogo Loro mundur beberapa langkah.

__ADS_1


“Kena kau!” tanya Sabdo Jagat, secepat kilat dia bergerak ke arah lawannya, dan memukulkan tongkat penghancur gunung. Percikan dari benturan dua senjata membuat kilatan-kiltanan lain.


Hanya ini cara agar pria itu tidak berlaku licik, Sabdo Jagat tidak akan berpisah jarak. “Pukulan tongkat mengalahkan ular.” Ucapnya, “ Tongkat menggetar bumi.”


Dua serang itu berhasil mengenai tubuh lawannya, membuat Rogo Loro terpukul mundur puluhan depa jauhnya dari tubuh Sabdo Jagat. Tidak, jangan boleh puluhan depa, jadi Sabdo Jagat terus mengikuti tubuh Rogo Loro. Memukulnya lagi dan lagi.


“Kurang ajar!” pekik Rogo Loro, wajahnya barangkali merah karena menahan amarah. Tidak mungkin pikirnya, Sabdo Jagat berhasil melepaskan dua serangan berturut-turut. Dadanya terasa sesak, tongkat pusaka ditangan Sabdo Jagat benar-benar luar biasa kuat.


Mulutnya Rogo Loro sekarang terasa sedang menggigit besi karena darah menerobos keluar dari kerongkongan.


“Aku akan membalasmu dua kali lipat.” Rogo Loro menghindari serangan yang datang, kakinya menyapu ke tanah memaksa Sabdo Jagat melompat, tapi pada saat lompatan Sabdo Jagat belum sampai satu depa, Rogo Loro menyelipkan serangan.


Berhasil, Sabdo Jagat terkena mata tombak. Tidak terlalu dalam memang, hanya sebuah tusukan kecil yang tidak seberapa.


Serangan tadi membuat lawannya tidak puas, terlihat dari serangan Rogo Loro yang semakin gesit dari sebelumnya.


“Tombak dari neraka!” Rogo Loro melepaskan serangan lima kali lipat dari serangan sebelumnya.


Sabdo Jagat tidak sempat menghindar ketika serangan itu menerobos udara dingin di tengah malam gelap gulita. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah menangkis serangan itu dengan tongkatnya.


Teng...Sabdo Jagat terpukul mundur hampir 30 depa jauhnya. Meski dia berhasil menangkis serangan tersebut, tapi posisi dirinya memang kurang beruntung, Sabdo Jagat baru saja menyeimbangkan badan setelah melompat, lagipula dia tidak sempat menyalurkan tenaga dalam pada tongkat penghancur gunung.

__ADS_1


Dari mulut Sabdo Jagat keluar cairan darah merah, tidak banyak hanya beberapa tetes saja. Serangan tadi memang sangat kuat, jika saja yang terkena adalah pendekar yang berada pada level awal tanpa tanding, barangkali sudah pecah pembuluh darah di sekitar dadanya.


__ADS_2