PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Situasi Buruk


__ADS_3

Jaka Balabala Berteriak keras setelah merasakan ada sesuatu melewati tubuhnya, menerobos setiap urat dan seisi organ dalam.


Dari awang-awang, pria banci itu terjun bebas hingga terhempas di permukaan tanah yang anyir dan berwarna merah gelap karena darah. Teriakan Jaka Balabala mengejutkan semua mahluk di tempat itu.


“Komandan!”


“Apa yang terjadi dengan Komandan kita?”


Belasan pertanyaan keluar dari mulut-mulut prajurit Kelelawar Iblis. Mereka menjadi panik, gusar dan sedikit khawatir. Nyai Siwang Sari tidak kuasa, jadi dia bersegera pergi mendekati adik kesayangan tanpa memikirkan dua larik cahaya datang dan menghempas dirinya.


Bukan hanya teriakan Jaka Balabala, sekarang merintih pula Nyai Siwang Sari. Tersingkap cadar tipis yang menutupi wajah cantiknya. Meski tidak mengeluarkan darah seperti Jaka Balabala, tapi tampaknya serangan yang dilakukan Lakuning Banyu dan Darma Cokro cukup membuatnya terluka ringan.


Untuk beberapa saat pertempuran menjadi tertunda karena hal itu. Semua orang tertegun, dan ada beberapa puluh orang menutup telinga karena tidak tahan dengan gelombang suara yang dihasilkan dari mulut Jaka Balabala.


Ketika Sungsang Geni berniat menggunakan situasi itu untuk menghabisi pria banci itu, tiba-tiba aura kegelapan mulai keluar dari tubuh Jaka Balabala.


Oh tidak, saat ini bukan hanya aura kegelapan keluar dari tubuh Jaka Balabla tapi pada setiap Wakil Komandan dan bahkan Nyai Siwang Sari.


“Aura ini akan membuat penggunanya memiliki kemampuan yang tidak terkira.” Sungsang Geni sudah paham betul, Banduwati dan semua wakil komandannya juga memiliki aura berat yang sangat kuat.


Bahkan beberapa minggu yang lalu, dia baru saja menghadapi Pendekar Pemabuk dengan kekuatan macam iblis.


Aura yang keluar dari tubuh Wakil Komandan sudah membuat semua orang menjadi khawatir, tapi aura yang keluar dari dua Komandan terkuat berhasil menciutkan nyali semua orang.


Pada saat yang sama, sekitar tiga ribu pasukan Kelelawar Iblis -berbagai level, menarik diri dari medan pertempuran. Rupanya mereka tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tidak berniat lagi melakukan pertempuran.


“Kita harus mundur!”


“Benar, jika tidak kita juga akan terkena imbasnya.” Gumaman para prajurit Kelelawar Iblis.


Nyai Siwang Sari dan Jaka Balabala terangkat ke atasa langit dengan aura hitam keunguan bergumpal-gumpal menyelimuti tubuh mereka berdua. Hal yang sama terjadi pada wakil komandan, bedanya tubuh mereka tidak terangkat ke awang-awang.

__ADS_1


“Apa yang terjadi?” bertanya Ki Lodro Sukmo.


“Sesuatu yang buruk...sangat buruk!” jawab Darma Cokro, dia hanya menebak-nebak saja sementara mata hijau Lakuning Banyu seperti akan keluar dari kelopaknya, saking terkejut sekaligus ketakutan.


“Itu adalah kegelapan...”


“Kegelapan?” Ki Lodro Sukmo menoleh ke arah Lakuning Banyu, kemudian menatap ke langit pada dua orang yang bertingkah aneh seperti sedang kerasukan setan.


Sungsang Geni segera terbang mendekati Ki Alam Sakti, wajah pemuda itu cukup panik saat ini. Tentu saja, untuk melawan Pendekar Pemabuk saja dia kesulitan apa lagi saat ini harus menghadapi dua orang Komandan yang kekuatannya jauh di atas Pendekar Pemabuk.


“Geni apa yang harus kita lakukan?” tanya Ki Alam Sakti.


Sungsang Geni tidak menjawab pertanyaan gurunya itu melainkan dengan senyum pahit.


“Tarik semu pasukan!” Perintah Lakuning Banyu. “Jika pasukan musuh saja begitu ketakutan akan sesuatu yang akan terjadi sebelumnya, maka kita harus mengosongkan tempat ini sekarang juga.”


Tidak menunggu waktu lama, Ki Lodro Sukmo dan Darma Cokro melesat pergi meninggalkan mereka bertiga. Dua orang itu mendatangi dua orang peniup terompet perang untuk memberi isyarat untuk mundur.


Seketika juga, sekitar 7 ribu pasukan Surasena bergegas berlari ke dalam hutan rimba. Ada sebuah lembah di sisi utara sebagai tempat perkumpulan. Para komando pasukan berlari memimpin jalan di gelap malam.


Hanya beberapa waktu saja yang tertinggal di tempat itu hanya Sesepuh dan beberapa pendekar ternama.


“Pergi dari sini cepat!” Jelatang Biru meminta Guru Tiraka membawa Gentar Bumi untuk melarikan diri ke dalam hutan rimba.


“Tapi, bukankah kita sebaiknya...”


“Ini bukan main-main, kau harus meninggalkan tempat ini sekarang juga!” Jelatang Biru menaikkan nada suaranya.


Dengan berat hati, wanita itu akhirnya menuruti perkataan Jelatang Biru.


Sehingga saat ini yang tersisa di sana hanya beberapa belas orang saja. Karena situasi telah sepi, saat ini Empu Pelak bisa melihat putranya bersama dengan Nyai Bidara dan Miksan Jaya berdiri sambil menatap ke arah yang sama.

__ADS_1


“Bawa aku kesana!” Empu Pelak memerintahkan kusir kudanya.


Di dalam kekalutan ini, dua orang yang sudah lama terpisah itu akhirnya bertemu. Raka Buana tidak kuasa menahan air mata setelah menemukan kondisi ayahnya sangat baik-baik saja.


“Aku kira ayahanda sudah...” Raka Buana tidak kuasa untuk menahan air matanya, kesedihan sekaligus ketakutan tergambar jelas di wajah pemuda itu.


Empu Pelak segera memeluk anak semata wayangnya itu. Sama hal dengan Raka Buana, Empu Pelak tak menyangka anaknya itu masih hidup dan terlihat lebih kuat dari sebelumnya.


“Keberadaan kita disini hanya akan menjadi beban bagi, Geni...” Cawang Wulan berkata di atas kereta kuda. “Aku tidak berniat mengusik kebahagiaan kalian, tapi lihatlah kesana!” Gadis itu menunjuk ke langit pada dua orang yang telah hilang ditelan gelap asap hitam keunguan. “Kita harus pergi dari tempat ini, itu adalah pilihan terbaik.”


Raka Buana terlihat ragu, dia mencengkram pedang Pusaka cercaran air dengan erat, seolah mengatakan bahwa dia berniat membantu sekuat tenaga. Namun akhirnya Empu Pelak menyarankan sesuatu.


“Bawa pedang ini pada orang tua disana!”


Raka Buana melirik kearah Ki Alam Sakti yang berdiri tepat di samping Sungsang Geni.


“Dialah orang yang paling membutuhkan pedang ini,” lanjut Empu Pelak. “Cepatlah putraku, kekuatan pedang akan maksimal ditangan orang itu.”


Raka Buana terlihat ragu, tapi pada akhirnya dia menuruti permintaan Ayahnya itu. Pada akhirnya Empu Pelak beserta Raka Buana, Pangeran Miksan Jaya dan Cawang Wulan pergi pula meninggalkan pertempuran.


“Geni...” Wira Mangkubumi datang bersama dengan Dewangga dan Gadhing. Mereka bertiga hampir saja mati menghadapi Hulu Maut Berdarah, dan berhasil melarikan diri setelah orang dengan sundulan kepala itu mengalami situasi yang aneh seperti dua komandan diatas awang-awang.


“Kakang Wira, Dewangga, Gadhing.” Sungsang Geni tersenyum pahit, ada banyak hal yang ingin dia katakan kepada Wira Mangkubumi, misalnya mengenai kabar keluarganya di Swarnadwipa tapi pemuda itu menyadari ini bukanlah waktu yang tepat. “Kalian pergilah ke dalam hutan...”


“Tapi Geni...”


Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh gelombang kejut yang terjadi dari atas awang-awang. Gelombang itu berhasil membuat semua batang-batang pohon di wilayah mereka tumbang bak kapas.


Wira Mangkubumi hampir saja melayang jika tidak menekankan mata tombaknya ke tanah, sementara Dewangga dan Gadhing segera ditangkap Ki Alam Sakti sebelum tubuh mereka ikut terhempas.


“Pergilah sekarang!” Teriak Geni.

__ADS_1


__ADS_2