PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Tawaran


__ADS_3

Pemilik warung membungkukkan badan sekali lagi sebelum akhirnya dia membawa anak gadisnya berlari keluar, melangkah buru-buru dan menyandung beberapa kursi yang berjejer.


Sementara itu, para bandit menatap kepergian pemilik warung dengan kesal kemudian mereka melampiaskan kemarahan dengan menyerang Cempaka Ayu bersamaan.


“Kalian tidak malu menyerang seperti anak kecil?” Cempaka Ayu lantas menggerakkan ujung telunjuknya, seketika kursi dan meja melayang menyerang para bandit.


Sungsang Geni masih menyantap nasi di dalam piring, memilah sayur diatas meja sambil sekekali melirik Cempaka Ayu menghadapi para bandit.


Para bandit berniat menyerang, tapi percuma saja, jika mereka tidak bisa mendekati Cempaka Ayu lebih dari 5 meter maka tidak ada peluang untuk mereka mengalahkan gadis itu.


Salah satu dari mereka melemparkan golok, namun disambut dengan meja lebar yang menghalangi laju senjata itu. belum sempat pria itu menelan ludah, meja lebar melayang cepat lalu terbelah menjadi dua setelah menghantam tubuhnya.


“La...lari...lari!” perintah pemimpin bandit, sambil berlari tunggang langgang meninggalkan rumah makan.


Tidak ada pilihan, melihat pimpinan mereka lebih dahulu kabur meninggalkan mereka, para bandit yang masih sempat berdiri ikut melarikan diri.


Cempaka Ayu berniat mengejar mereka, tapi Sungsang Geni segera menghentikan tindakan gadis itu. “Biarkan mereka, kita tidak datang ke sini untuk membunuh!”


Cempaka Ayu akhirnya berdecak kesal, “Aku akan menghajar mereka jika bertemu lain kali.”


Gadis itu menghempas punggung dengan kasar di kursi, wajahnya masih kesal dan merah. Sementara Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, lalu menuangkan air ke dalam cawan bambu. “Minumlah dulu! Kau membuat semut di dinding menjadi takut!”


Tidak lama kemudian, pemilik warung makan datang dengan sungkan bersama anak gadisnya yang mungkin berumur 20 tahun atau lebih. Sungsang Geni tidak memandang gadis itu, dia cukup yakin Cempaka Ayu akan semakin kesal atas sikapnya, jadi dia masih melanjutkan makanan seakan tidak peduli.


“Tu...tuan pendekar...anu, kami berdua mengucapkan banyak terima kasih...” Pria itu berkata terbata-bata. “Jika saya boleh tahu, bagaimana cara kami membalas budi kalian.”

__ADS_1


Sungsang Geni menyudahi makannya, kemudian baru menatap wajah pria itu. “Sekarang kau bersikap baik setelah nyawa anakmu terancam? Lain kali cobalah untuk bersikap lebih baik pada setiap orang, karena kau tidak akan tahu kapan dan dimana membutuhkan pertolongan orang lain!”


“Saya mengerti Tuan.” Pria itu hanya tertunduk, tanpa berani lagi menatap wajah Sungsang Geni. “Jika kami boleh tahu, dari mana gerangan asal tuan pendekar ini, dan kemana tujuan kalian?”


“Kami adalah pengembara, tujuan kami adalah Istana Swarnadwipa.” Jawab Cempaka Ayu.


“Banyak orang yang akan menuju ke sana, karena ingin melihat pesta yang akan di adakan Raja Saylendra.” Pria itu kemudian terdiam sejenak, tampak berpikir lalu kemudian dia menawarkan sesuatu. “Bagaimana jika saya mengantar tuan pendekar ke sana? Kebetulan saya akan membeli beberapa barang dari Ibukota Swarnadwipa?”


“Kau tidak membeli barang ke ibukota kerajaan, itu hanya alasanmu saja bukan?” Sungsang Geni lantas tersenyum kecil.


Wajah pemilik warung makan terlihat merah, dia tidak menyangka pemuda di depannya bisa menebak jalan pikirannya. Ya, dia tidak memiliki keperluan di Ibukota Kerajaan, tidak membeli barang dan tidak pula ada hal penting. Pria itu hanya ingin membalas budi.


“Tapi aku harus membalas budi kalian,” sambung pemilik warung. “Jadi biarkan aku mengantar kalian ke Ibukota Kerajaan, ada jalan yang lebih cepat untuk tiba di sana.”


“Baiklah, aku terima tawaran Kisanak.” Sungsang Geni kemudian tersenyum kecil. “Lalu siapa nama Kisanak ini?”


“Surailarang.” Pria itu menjawab, wajahnya terlihat lebih bercahaya dari sebelumnya, kemudian dia meminta anaknya untuk menyiapkan dua kamar terbaik yang mereka miliki.


“Kita akan berangkat besok pagi.” Tutup Sungsang Geni.


***


Di dalam kamarnya, Sungsang Geni kembali membuka salinan kitab pedang bayangan. Mulai mempelajari teknik penghimpunan energi alam, yang sejauh ini belum berhasil dia lakukan.


“Padahal aku sudah mengikuti petunjuk didalam kitab ini.” Sungsang Geni mengelus dagunya. “Apakah ada yang salah dengan catatan ini?”

__ADS_1


Dia duduk bersila, kemudian menutup mata dan menghilangkan segala hal di dalam pikirannya. Pikiran kosong dan tenang adalah kunci dari sebuah meditasi.


Dia kemudian berusaha merasakan setiap hembusan angin yang bergerak di sekitar tubuhnya, atau merasakan napas dari setiap tumbuhan yang bergerak-gerak di luar kamar. Sungsang Geni berusaha merasakan energi alam yang mengalir memenuhi se isi bumi.


Tidak berhasil, setelah hampir 4 jam dia melakukan meditasi, tidak ada aliran energi dari luar tubuhnya yang dapat diserap, kecuali tenaga dalamnya yang kembali terhimpun. Dia kemudian kembali membuka matanya sambil berdecak kesal.


“Mungkin harus dilakukan di alam terbuka, atau mungkin dengan cara berbeda.” Sungsang Geni kemudian menutup kembali salinan kitab pedang bayangan.


Dia keluar dari dalam kamarnya, berjalan mendekati gerobak angkut dimana suara dengkuran Panglima Ireng cukup memekakkan telinganya yang sensitif. Pemuda itu tidak berniat mengusik, dia kemudian berjalan mendekati bibir pantai yang menderu.


Malam ini bulan sabit bersinar terang seperti menggantung diatas permukaan laut, ditemani dengan bintang yang berkerlip indah di langit tanpa awan. Sekarang mungkin pukul 2 malam, suasana tampak sepi, tidak terdengar lagi derap langkah kuda yang berlalu-lalang di jalanan.


Pemuda itu mencari sesuatu untuk diduduki, lalu menemukan sebongkah batu cukup besar yang sedikit menjorok ke pantai. Duduklah dia di atas batu itu, sambil bersila dan mulai memejamkan mata.


Sekekali pemuda itu kembali merasakan negri ini tidak asing lagi bagi dirinya, seakan dia pernah memijakkan kaki di tempat ini, melakukan meditasi seperti ini dan di pinggir pantai ini.


Namun perasaan itu segera ditepisnya, dia kembali memejamkan mata untuk merasakan aliran energi alam pada bentangan luas lautan malam.


Sungsang Geni mulai menarik napas dalam 100 hitungan detak jantungnya, sangat pelan sekali kemudian dia menahan napas pada hitungan 100 detak jantung pula lalu menghembuskannya dengan hitungan yang sama.


Teknik seperti ini sudah biasa di lakukan para pendekar, tapi umunya hanya 10 hitungan detak jantung. Bagi orang biasa, cara seperti ini terasa membakar seluruh rongga paru-parunya. Bukan hanya sulit, tapi semakin lama melakukan meditasi maka semakin lama pula tempo jantung akan berdetak.


Jika 10 detak jantung membutuhkan waktu 10 detik di awal-awal meditasi, maka setelah 30 menit melakukan hal itu, 10 detak jantung bisa membutuhkan waktu 20 detik. Sebab tempo jantung memompa darah akan semakin lambat.


Sungsang Geni sudah berlatih meditasi dan pernapasan seperti ini selama di bukit batu ketika awal pertama dia berlatih bersama Ki Alam Sakti. Bagi pemuda itu, selain untuk menenangkan pikiran, teknik seperti ini juga bisa membuat aliran tenaga dalamnya terhimpun dengan lebih cepat.

__ADS_1


__ADS_2