PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Redupnya Sinar Surya


__ADS_3

“Ambil Dewi Bulan!” perintah Topeng Beracun kepada dua komandannya.


“Dengan senang hati Tuanku Paduka Raja.”


Dua orang itu melayang dengan cepat, hal ini membuat perasaan Saraswati menjadi ketir. Sudah pasti dua orang itu akan merebut tubuh Cempaka Ayu darinya. Sementara itu Panglima Ireng pasang badan paling depan, seolah akan siap menghadapi dua lawan yang jelas bukan tandingan.


Dengan sekali kibas menggunakan telapak tangan, tiba-tiba saja seluruh atap rumah terbang bahkan setengah dinding gedek bambu ikut raib seperti baru saja terkena sapuan angin kencang.


"Kalian seperti tikus kecil yang bersembunyi dari tangan seekor kucing." Tertawa kecil Komandan Pertama, dialah yang telah melakukan serangan barusan.


Terlihatlah dengan jelas dua gadis sedang terbaring di tempat itu, satu wanita berambut putih dengan pedang dan tangan bergetar, serta srigala besar hitam bersorot mata tajam.


“Aku tidak menyukai ada hewan menjijikkan ini!” ucap Komandan keempat, bertubuh lebih langsing dari komandan Pertama hanya saja memiliki rambut keriting riap-riap hingga sebahu.


Dialah orang pertama yang berniat membunuh Panglima Ireng dengan cambuk hitam yang keluar dari jubah tebalnya. Cambuk itu seperti seekor ular, karena terlihat bersisik sedangkan tepat di ujung cambuk terdapat satu senjata mirip seperti jangkar kapal.


Hampir saja mata cambuk membelah Panglima Ireng menjadi dua bagian, jika bukan karena satu pedang bercahaya kuning terbang dengan cepat menghalau laju senjata itu.


“Jangan mencoba mengusik teman-temanku...” lirih Sungsang Geni. Dua Komandan melirik keatas, terlihat dua orang Sungsang Geni sedang berdiri diatas sana.


“Ilusi?” tanya Komandan Pertama.


“Ilusi atau bukan, tidak penting kita hancurkan saja!” timpal Komandan Keempat.


“LARI!” teriak Sungsasang Geni.


Dengan segera mungkin Saraswati membopong tubuh Cempaka Ayu dan melayang secepat yang dia bisa. Sementara itu Panglima Ireng terpaksa menerkam tubuh Wulandari ke dalam mulutnya. Sangat hati-hati sekali srigala itu agar taring dan giginya tidak melukai tubuh gadis tersebut.

__ADS_1


Mereka berdua berlari ke arah bukit tinggi, masuk ke dalam hutan belantara dengan nafas terengah-engah. Laju Panglima Ireng lebih lambat dari Saraswati, itu karena dia harus mengatur tempo agar tidak melukai gadis yang dia bawa.


“Larilah kemana kalian suka, aku akan menemukannya!” teriak Komandan Pertama, bergerak dengan cepat.


Bayangan Sungsang Geni datang menghadang, menghentikan niatnya.


“Kau, kejar mereka semua!” perintah Komandan Pertama kepada Komandan keempat. “Dua bayangan ini biar aku yang menghadapi!”


Tanpa menunggu lama, komandan ke empat melaju dengan cepat. Bayangan Sungsang Geni tidak dapat mencegah karena tiba-tiba satu buah senjata mirip seperti pedang yang besarnya dua kali lipat miliki Darma Cokro turun dari langit.


Mula-mula dua pedang menusuk bumi, hampir saja menghancurkan dua bayangan Sungsang Geni.


“Ajian pasak bumi...” ucap Komandan Pertama. “Kau tidak akan sanggup menahan serangan ini.”


Sementara itu tubuh Sungsang Geni yang asli berusaha lebih keras lagi menghadapi Topeng Beracun. Dia melepaskan banyak sekali serangan. Tiga teknik pedang menjadi satu. Pemuda itu melayang ke langit, melepas tiga pedang bercahaya kuning, kemudian bergerak cepat menukik bersama tiga pedang tersebut, melancarkan satu tebasan ke arah pria itu.


Gagal, satu saja serangan pemuda itu tidak berhasil melukai Topeng Beracun kecuali hanya membuat pria itu mundur satu depa saja.


Sekali lagi ujung pedang Sungsang Geni terhenti tepat di hadapan Topeng Beracun. Tubuh pemuda itu berhenti bergerak, setelah kabut hitam tiba-tiba datang seperti ular melilit tubuhnya.


Topeng beracun membuka telapak tangannya, membuat tubuh Sungsang Geni terseret puluhan depa. Kemudian, satu pukulan menghentak tubuhnya membuat pemuda itu memuntahkan darah segar.


Semakin tubuh nyata Sungsang Geni mendapat banyak luka, dua bayangannya semakin melemah.


Komandan pertama mengarahkan tangan berbentuk cakar ke atas langit, kemudian dengan cepat mengarahkan cakar itu ke bumi. Beberapa saat kemudian, dari langit gelap datang ratusan tombak menghujani bayangan Sungsang Geni hingga lenyap tak tersisa.


“Chhhh...” Pria itu meludah ke tanah menyunggingkan senyum sinis. “Paduka Raja, serahkan saja pemuda ini kepadaku, baiknya anda mengejar mereka. Bukannya aku tidak percaya dengan Komandan ke empat, hanya saja untuk berjaga-jaga jika Surasena datang membantu. Kali ini jangan sia-siakan kesempatan.”

__ADS_1


“Yang kau katakan ada benarnya!” ucap Topeng Beracun.


“Siapa yang menyuruhmu pergi dari sini!” ucap Sungsang Geni, pemuda itu menyerang Topeng Beracun sekali lagi, tapi sebelum serangan itu sampai ke tubuh lawannya, sebuah senjata mirip seperti keris datang dari langit. Berhasil menusuk tepat di di pundak pemuda itu.


“Ahkkk!” pekik Sungsang Geni, dia jatuh ke tanah dengan darah berceceran di sekujur tubuhnya. Keris itu menancap cukup dalam, pandangan pemuda itu menjadi sedikit gelap.


“Tunggu...tunggu!” ucapnya, melihat Topeng Beracun pergi begitu saja mengejar Saraswati beserta Panglima Ireng.


Komandan Pertama datang mendekat, menarik keris yang tertancap di tubuh Sungsang Geni. Pekik panjang terdengar keras dari mulut pemuda itu, memekakkan dua domba yang begitu gelisah di dalam kandangnya.


Satu tendangan mendarat tepat di bagian dagu, membuat tubuh Sungsang Geni terdongak ke atas dua depa. Kemudian serangan susulan datang tepat di bagian perut, membuat ia terlempar hampir 20 depa jauhnya dan terseok-seok di permukaan tanah.


“Aku tidak mengerti kenapa kau bisa mengalahkan semua Komandan dengan kekuatan yang hanya setinggi ini?” pria dengan kumis lebat itu terkekeh kecil, menarik wajah Sungsang Geni dengan cengkramannya. “Aku belum menggunakan seluruh kegelapan yang ada, bahkan ini belum kuanggap pemanasan.”


Sungsang Geni tidak menjawab kecuali dengan ringisan, pemuda itu sudah terlanjur kalah di menit awal. Sekarang seluruh tenaga dalamnya terkuras habis, tenaga fisiknya juga demikian.


Kekuatan Komandan Pertama jelas berbeda dari komandan-komandan yang lain. Pantas saja dia bisa menghancurkan satu negri hanya sendirian, senjata yang turun dari langit seperti batu meteor yang membumi hanguskan apapun.


“Kau benar-benar mamalukan, seperti sampah yang tidak berguna." Satu tendangan membuat pemuda itu telempar belasan depa.


Pria itu lantas melayang ke awang-awang, mengarahkan cakar ke arah langit, kemudian dari sana, bergumpal awan hitam seperti pusaran. Dari pusaran itu, muncul sebuah mata pedang hitam pekat.


Kilatan petir menyambar dari pusaran. “Dari semua komandan Kelelawar Iblis, aku adalah satu-satunya orang yang berhasil menyerap 60 bagian kekuatan kegelapan.”


Secara umum kekuatan Komandan Pertama bahkan lebih besar dari Topeng Beracun. Bagaimana bisa? Topeng Beracun memang memiliki 100 bagian kekuatan hitam, tapi pria itu hanya mampu mengendalikan 50 bagian saja. Ketika menggunakan lebih dari 50 bagian kekuatan, dia akan menjadi pria yang tidak memiliki akal pikiran, membunuh apapun yang berada didepannya.


Untuk bisa mengendalikan kekuatan itu secara penuh, Topeng Beracun butuh Dewi Bulan, dewi penguasa malam. Dengan demikian, dia bisa mengendalikan 100 bagian kegelapan dan menguasai dunia.

__ADS_1


Setelah sesumbar dengan kekuatannya, senjata besar laksana pusaka yang turun dari alam nirwana datang mengarah tepat di atas Sungsang Geni. Kecepatan senjata itu tiada terkira, dan hanya beberapa detik saja, dataran tinggi bergetar hebat setelah benda itu memasak sangat dalam. Rekahan tanah tercipta lebar lagi panjang, debu berhamburan di tempat itu. segala macam benda masuk kedalam rekahan tanah.


Pria itu tersenyum sinis. “Pergilah temui alam baka!” kemudian pergi meninggalkan dataran tinggi, menyisakan gemuruh tanah longsor.


__ADS_2