PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Tiba Di Surasena


__ADS_3

Dengan bantuan Wururia, Sungsang Geni menemukan Markas Petarangan. Hanya saja kali ini dia menjadi sedikit terkejut, tembok besar Markas Petarangan lebih tinggi dari kali terakhir dia melihatnya. Bukan hanya itu, tembok itu tampaknya mengalami sedikit rekonstruksi, bertambah lebar dan memiliki banyak senjata mirip seperti duri-duri. Mungkin agar orang dari luar tidak bisa memanjat tembok itu.


Sungsang Geni mendongak keatas, tembok malah lebih mirip cadas tinggi. Ada dua orang berjaga di atas menara pengintai, tapi terlihat tidak peduli dengan dirinya yang ada di bawah sini.


“Mereka tidak melihatku?” tanya Sungsang Geni. “Kisanak...hai Kisanak bisakah kau membuka gerbang untukku!”


Tidak terdengar suara sahutan, mereka malah asik ngobrol di atas sana. Kurang ajar sekali memang, tidak tahukah oleh mereka Mahapatih Mangkubumi berada di bawahnya? Jika sampai ada orang yang tahu, nasib sial pasti mereka dapatkan. Paling tidak hukuman tidak mendapat jatah makanan selama tiga hari tiga malam.


“Apakah ini Istana Surasena?” Wururia bergumam kecil, wajahnya penuh pukulan yang membuat satu biji matanya seperti mata panda. Pria itu harus berjalan tunggang langgang selama lima hari lamanya dengan tangan di ikat dengan rotan, sementara Sungsang Geni berjalan seolah sedang melayang di atas permukaan rumput.


“Setahuku ini bukan Istana, hanya sebuah Markas Cabang yang kami ambil alih...” Sungsang Geni tidak sengaja menjawab pertanyaan pria itu. “Sial, kenapa aku malah menjawab perkataanmu, dan siapa suruh kau bertanya.”


“Ampun...ampun...” Wururia menelan ludah pahit, baginya sudah lebih dari cukup Sungsang Geni mendaratkan dua pukulan yang membuat struktur tulang tengkoraknya menjadi berubah. Ya, dia memiliki hidung mancung tapi kini sedikit condong ke kiri karena pukulan Sungsang Geni mematahkan tulangnya. Benar-benar sakit.


Sungsang Geni mengambil satu kerikil kecil, kemudian menjetiknya ke arah dua prajurit di atas menara pengintai. Tepat terkena salah satu kening mereka, membuat wajah pria itu sedikit merah, dan pasti akan marah.


“Kurang ajar, siapa yang berani sekali melempar kerikil ke arahku?” pekik dirinya dari atas sana.


“Aku...kisanak...” menyahut Sungsang Geni di bawah. “ Ma'afkan aku, tapi bisakah kau membuka pintu gerbang ini, aku sudah menunggu cukup lama di sini tapi kalian berdua tidak mendengar teriakanku.”


Dua pria itu menoleh kiri kanan, mencari siapa gerangan yang memiliki suara berat lagi dalam itu, tak kala pandangan mereka jatuh ke bawah tembok tepatnya di depan gerbang, salah satu dari mereka hampir jatuh dari menara karena terkejut.


“Cak...cak...itu Mahapatih?”

__ADS_1


“Benar cak, kita sudah meneriaki orang yang salah...”


“Bisakah kalian buka pintu gerbang ini!” ucap Sungsang Geni sekali lagi.


“Ten...tentu tuan...” menyahut salah satu dari mereka dengan wajah pucat pasi.


Beberapa saat kemudian, gerbang bergetar kuat, kemudian perlahan terangkat ke atas hingga terlihat barisan prajurit rapi menyambut kedatangan pemuda itu.


Sungsang Geni jelas menaikkan alis, tidak pernah kedatangannya disambut oleh sepasukan prajurit berseragam lengkap. Seingat dia, setiap kedatangannya ke Surasena hanya seperti angin lalu saja.


Pemuda itu berjalan dengan wajah penuh keheranan, di belakangnya dengan wajah takut dan khawatir Wururia berjalan dengan kaki sedikit menjijit. Ada luka tepat di keki raja itu.


“Selamat datang kembali Yang Mulia Mahapatih...” Mereka semua serentak membungkuk, membuat Sungsang Geni kembali merasakan ada sesuatu yang salah dengan otak mereka. mungkinkah dia sudah salah masuk ke Negri orang? Pikir pemuda itu, tapi tidak mungkin tempat ini jelas Markas Petarangan.


“Tunggu tunggu...apa yang kalian berdua lakukan?” Sungsang Geni mencegah niat dua orang temannya itu. “Hentikan bersikap aneh seperti ini, dan kalian semua cepat kembali ke tempat kalian!” Pemuda itu meminta semua prajurit membubarkan diri.


Beberapa prajurit terlihat ragu, tapi setelah melihat sorot mata tajam pemuda itu tiada pilihan lain selain pergi membubarkan diri.


“Mereka semua terlihat aneh?” tanya Sungsang Geni. “Kalian berdua tidak kalah aneh dengan mereka.”


Siko Danur Jaya tersenyum kecil, jelas dia menyadari bahwa Sungsang Geni tidak tahu mengenai pangkat yang ada di pundaknya saat ini. Mahapatih Mangkubumi adalah jabatan tertinggi di struktur Kerajaan. Hanya ada satu orang yang bisa memerintahkan dirinya, yaitu sang raja penguasa negri ini.


“Ikut kami...” Siko Danur Jaya berkata pelan, penuh dengan hormat. “Agar kau tahu apa yang telah terjadi di tempat ini.”

__ADS_1


***


“Tidak mungkin!” Sungsang Geni hampir terpekik setelah mengetahui kebenarannya. “Bagaimana mungkin kalian menunjukku sebagai Mahapatih? Dan...aku bahkan belum mengatakan setuju atau tidak.”


Di ruangan besar yang sekarang menjadi Singasana Lakuning Banyu, Sungsang Geni berdiri tiba-tiba dari kursi setelah mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya. Ini benar-benar buruk, pikir pemuda itu. Terakhir dia dipaksa menjadi pemimpin Kerajaan Tombok Tebing dan kali ini dia terpaksa menjadi Mahapatih Surasena, menggantikan Mendiang Darma Guru.


“Mengenai hal itu, akulah yang telah mengangkat dirimu secara sepihak.” Lakuning Banyu menimpali, wajah pria itu terlihat sedikit merasa bersalah. “Karena menurutku, kau adalah satu-satunya yang pantas menyandang gelar itu.”


“Geni, tidak sepenuhnya ini salah Yang Mulia Lakuning Banyu,” ucap Ki Alam Sakti. “Seperti yang semua orang tahu, kau adalah satu-satunya orang yang telah berhasil menyelamatkan kami dari amuk Komandan Kelelawar Iblis, jelas itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Surasena. Dengan adanya dirimu, setidaknya musuh-musuh kita akan sedikit lebih memandang tinggi, dan menaruh segan.”


Sungsang Geni kembali terdiam lalu duduk lagi di kursi yang lebih besar dari kursi orang lain di tempat ini, hampir sebesar Singasana Lakuning Banyu. Dengan nafas berat, dia memandangi setiap wajah teman-temannya, terlihat sangat menaruh hormat. Ini benar-benar mejengkelkan, pikir pemuda itu.


“Baiklah kita lupakan hal itu...” ucap Sungsang Geni mendesah dengan nafas berat. “Aku telah membawa seseorang bersamaku.” Pemuda itu lantas meminta salah satu prajurit membawa Wururia masuk kedalam ruangan. “Kalian kenal dengan orang ini?”


Beberapa orang terlihat mengernyitkan kening, tampak memperhatikan wajah pria dengan penuh luka bonyok itu. Tidak ada yang mengenalinya.


“Prabu Wururia...?” ucap Ki Alam Sakti. “Benar, kau adalah Wururia penguasa Negri Limanjang?”


Mendengar hal itu, sontak saja Lakuning Banyu berdiri dari singasana kebesarannya. “Apakah itu benar Mahapatih Sungsang Geni?”


Sungsang Geni mengangguk. Sial, setelah mendengar kata mahapatih dia menjadi kesal, tidak bisakah semua orang di tempat ini memanggilnya dengan nama saja. “Ya...seperti yang di ucapkan Eyang Guru, dia adalah Wururia penguasa dari Negri Limanjang.”


“Jika tidak salah, negri itu merupakan salah satu pelopor terbentuknya Kelelawar Iblis?” Benggala Cokro menggaruk-garuk dagunya. “Jadi pria ini adalah musuh, kurang ajar sekali. Biar ku beri ****** saja dia sekalian...”

__ADS_1


__ADS_2