
“Apa kau bilang? Dewi Bulan?” mereka sangat terkejut mendengar ucapan yang barusan keluar dari mulut Sungsang Geni. “Jangan bercanda anak muda, kau pikir kami akan tertipu?”
Sungsang Geni tertawa cekikikan, “Siapa yang menipu kalian, tidak percaya denganku ya sudah! Lagipula jika dewi bulan tidak membunuh kalian, maka aku akan tetap membunuh kalian.”
“Setan alas, kau pikir kami akan....”
Pria itu mendadak berhenti berkata, wajahnya terlihat panik setelah pedang yang digunakannya untuk mengancam Cempaka Ayu tiba-tiba terasa berat.
Suasana di sekitar Cempaka Ayu mulai menjadi berat, beberapa kerikil mulai terangkat dan juga cahaya segel di kening gadis itu menyala terang. Tiga orang yang berada di dekat gadis itu mengeluarkan keringat dingin, seluruh sendi bahkan terasa lepas.
Pedang yang tadinya melekat di leher gadis itu, perlahan mulai menjauh bersamaan dengan tubuh pria itu yang melayang.
Gadis itu memang tidak memiliki cukup tenaga dalam, tapi jika untuk membunuh selusin pendekar pilih tanding dia masih bisa melakukannya dengan mudah.
“Hah...kalian benar-benar membuat dia marah!” Sungsang Geni mendesah pelan, “Cempaka apa kau bisa mendengarku?”
“Cempaka...!”
“Aku masih sadar Geni, setelah pria ini melakukan hal ini padaku, aku tidak akan menahan diri.” Suara Cempaka Ayu terdengar berat.
Mendengar ucapan itu, membuat Sungsang Geni menjadi lega. “Syukurlah, kau boleh mengurus tiga orang di sana, tapi jangan terlalu memaksa. Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi...”
'Geni tidak ingin kehilangan diriku. Apakah ini tandanya dia mencintaiku. Dia benar-benar romantis.' Gumam kecil batin Cempaka Ayu, itu membuat dia tersipu malu dan hampir melupakan lawan di dekatnya.
“Celaka wajah wanita itu terlihat merah. Mungkin dia juga bisa mengeluarkan api seperti pemuda ini.”
Sungsang Geni hanya menggeleng menatap beberapa lawan di dekatnya yang ketakutan. Tindakan Cempaka Ayu ternyata berhasil menghilangkan mental mereka, sekarang mereka terlihat tidak memiliki lagi tulang punggung, lunglai dan ciut .
Pedang-pedang mulai berjatuhan dari genggaman. Bersamaan dengan itu, Cempaka Ayu melempar ketiga orang tadi seperti melempar buah mangga, mereka bertiga mendarat pada bangunan dan tewas seketika.
__ADS_1
“Lari, lari sekarang dari tempat ini secepatnya!” mereka berteriak keras, tapi bersamaan dengan hal itu tiba-tiba semua orang yang memutuskan berlari dari sana, mendadak melayang di udara dan terhempas keras di permukaan tanah, lalu mati seketika.
Sungsang Geni mengira bahwa itu adalah perbuatan Cempaka Ayu, tapi gadis itu sama sekali tidak melakukan apapun sekarang. Jadi itu jelas dilakukan oleh orang lain, yang memiliki kemampuan sangat hebat.
Sungsang Geni mulai menyapu pandangan, tetapi tiba-tiba dia merasakan energi kegelapan menyelimuti seluruh Reruntuhan Lembah Ular. Pada saat yang sama, setiap kelompok Kelelawar Iblis yang berniat melarikan diri, mereka melayang dan terhempas ke permukaan tanah sampai mati.
Jika tidak mati, maka akan kembali melayang dan dihempaskan lagi ke tanah. Begitu seterusnya hingga orang itu mati.
***
Sebelah selatan reruntuhan, Sabdo Jagat dan Gentar Bumi telah kelelahan. Hampir 1000 orang lebih mereka hadapi hari ini, dan untungnya tidak ada yang cukup hebat yang mereka lawan. Jadi serangan yang mereka keluarkan terkadang hanyalah serangan fisik belaka.
Selama mereka belum menemukan Banduwati, mereka tidak akan menguras tenaga dalam lebih banyak. Namun nampaknya pertarungan yang sesungguhnya baru akan dimulai
2 orang telah berdiri di atas atap rumah, orang itu adalah wakil Komandan Iblis. Sabdo Jagat yakin tentang hal itu. Dilihat dari energi hitam yang terpancar dari tubuhnya, mereka berdua bukanlah lawan yang mudah.
Sebenarnya dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang muda untuk dilawan. Lembah Ular telah bertarung selama 2 jam tanpa jeda, tentu saja menguras seluruh energi mereka.
“Tentu saja, susuk yang tertanam di dalam tubuh mereka akan melakukan tindakan jika sampai penghianatan itu terjadi.” Sambung teman Yunirda yang bernama Giantoro.
Sekarang telah terjawab kenapa banyak kelompok Kelelawar Iblis yang dihempaskan ke tanah hingga mati. Itu karena pengaruh susuk yang tertanam di tubuh mereka akan membunuh mereka sendiri, jika terlintas untuk melarikan diri meniggalkan Banduwati.
"Tidak ada yang sadar dengan hal itu!"
“Lawan kita adalah pimpinan Lembah Ular, dengan tongkat pusaka di tangannya membuat dia cukup kuat.” Ucap Yunirda,
“Lalu kenapa tidak kita coba saja kekuatan itu.” Giantoro menyerang Sabdo Jagat lebih dahulu.
Pimpinan Lembah Ular segera menghindar setelah serangan enrgi berwarna ungu melesat munuju ke arahnya. Belum sempat pria itu membalas, sebuah energi berbentuk ular tiba-tiba berhasil mendarat di tubuhnya.
__ADS_1
Sabdo Jagat terhempas belasan meter ke permukaan tanah. Serangan itu sangat kuat, tentu saja.
Banduwati telah menambahkan susuk lagi pada kedua orang tersebut. Susuk baru yang mereka gunakan, dapat membuat kekuatan mereka bertambah 30% dari sebelumya.
Gentar Bumi bergegas berlari menuju Sabdo Jagat, tapi Yunirda mendaratkan tendangan tepat di wajah pria itu hingga bonyok. Gentar Bumi yang paling banyak menguras tenaga dalam disetiap serangannya tadi tidak mampu menahan kerasnya pukulan itu.
Sebelum tubuh Gentar Bumi jatuh ke tanah, Yunirda mendaratkan tendangan keras di busungnya yang besar. Tubuh Gentar Bumi melayang sesaat, lalu segera disambar dengan pukulan energi oleh Giantoro.
Serangan kombinasi kedua wakil komandan itu berhasil melemparkan tubuh Gentar Bumi puluhan meter.
Seluruh tubuh pria itu bergetar, dia merasakan seluruh tubuhnya terasa dingin dan tidak bisa digerakkan. Pandangannya mulai buram, tapi nampaknya derita yang akan dialaminya belum berhenti, sebuah serangan energi sekarang menuju ke arahnya.
Sebelum serangan itu berhasil mencabut nyawa Gentar Bumi, Sabdo Jagat menangkis dengan tongkat penghancur gunung.
“Jangan kalian pikir bisa membunuh temanku! Aku tidak akan membiarkan kalian merebut semua keluargaku lagi!” ucap Sabdo Jagat bergetar.
“Orang lemah seperti dirimu tidak pantas berbicara seperti orang hebat.” Yunirda tersenyum sinis, “Kematian dan kehancuran Lembah Ular adalah bukti dari kelemahan dirimu. Bahkan meski tongkat penghancur gunung bersama dirimu, tidak menjamin kau menjadi kuat.”
Wakil komandan itu lalu melayang mendekati Sabdo Jagat. Dengan teknik aneh tiba-tiba dia menyerang dengan kepalan tinju, Sabdo Jagat menagkis kepalan tinju itu dengan tongkat penghancur gunung, tapi.
“Tidak mungkin,” pria itu terkejut, tinju Yunirda lebih keras dari yang dia bayangkan.
Yunirda memutar tubuhnya, kemudian sedikit jongkok dan mendaratkan tendangan ke arah perut. Sabdo Jagat menahan serangan itu, sekali lagi dia berhasil menangkisnya. tapi ternyata tidak, serangan itu berhasil membuatnya terpental belasan meter.
Genggaman tangannya terhadap tongkat penghancur gunung menjadi sedikit longgar, dan pada saat yang sama Giatoro melepaskan sebuah serangan dadakan dari tanah berbentuk tangan manusia dan berhasil memisahkan Sabdo Jagat dengan tongkatnya.
Giantoro memungut tongkat yang tergeletak di tanah. Setelah di mengangkatnya, rasanya lebih berat dari yang dia duga.
Giantoro memang tidak bisa menggunakan tongkat dalam pertarungannya, jelas saja tongkat itu tidak berguna meski memiliki kemampuan dahsyat.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Sabdo Jagat, tongkat itu adalah pusaka terbaik yang dia miliki. Seseorang berhasil mengambil harta berharga itu dari tangannya, adalah sebuah penghinaan.
“Sekarang aku ingin melihat bagaimana kau bertarung tanpa menggunakan tongkat?”