PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Empu Pelak


__ADS_3

Ciptorogo kembali membuka lembaran buku yang dia baca, memperhatikannya dengan teliti. Jari telunjuknya menjadi acuan tiap kalimat yang dia baca.


“Disini dijelaskan, batu itu merupakan jantung dari sebuah bintang yang mati selama jutaan tahun yang lalu, yang kemudian jatuh menimpa bumi, ” ucapnya.


“BOMM!” Ciptorogo berkata dengan tangan yang menirukan ledakan besar, membuat Sungsang Geni terkejut atas tingkah Tukang Batu itu.


“Bukankah ada banyak bintang yang jatuh setiap malamnya, Paman?” Sanggah Sungsang Geni, “Beberapa orang melihat bintang jatuh, menyatukan telapak tangan, kemudian meminta keberkahan kepada Sang Hyang Widhi.”


“Benar, tapi semuanya hanya batu biasa yang mudah terbakar, tapi bintang kemulung berbeda.” Ucap Ciptorogo, kemudian membuka lembaran kertas yang lainnya.


“Tapi catatan ini menyebutkan teori lain yang mengatakan batu bintang kemulung merupakan air mata dari Dewi Laksmi yang jatuh dari kahayangan menimpa bumi, yang kemudian menjadi cristal yang sangat keras.” Ciptorogo membaca lembaran baru pada buku itu, “Tapi meskipun berbeda atas asal muasalnya, kedua catatan ini bermuara pada hal yang sama. Batu kuat yang mampu menyerap dan menyimpan panas.”


“Dan mencari tuan!” sambung Sungsang Geni, dibalas anggukan Ciptorogo.


“Jadi sekarang, aku akan berkata jujur kepadamu, Yang Mulia.” Ucap Ciptorogo, “aku tidak akan sanggup memenuhi keinginanmu, membuat pedang dengan benda ini. Tidak ada benda yang bisa meleburnya.”


Ciptorogo mengeluarkan pahat yang terselip dipinggangnya, dia memilih pahat yang paling besar dan nampak paling keras, kemudian mencoba memahat pada ujung batu yang terlihat paling rapuh.


Ting...ting.... “Lihatlah! sekarang batu ini merusak mata pahatku.”


Sungsang Geni mendesah napas, wajahnya terlihat lesu, harapannya untuk memiliki senjata dari batu ini nampaknya tidak berjalan seperti keinginannya.


“Paman! Jika kau bisa membuat gagangnya saja, aku sudah sangat bersyukur.”


“Paman Raja.” Ucap bocah lelaki di belakangnya, “Kau tidak dengar, tidak ada benda yang bisa memahatnya, tidak ada api yang bisa meleburnya, sebaiknya kau menyerah saja, Paman.”


“Tapi mungkin mereka bisa melakukannya...” ucap Ciptorogo.


“Mereka, siapa yang kau maksud, Paman?” tanya Sungsang Geni. Sekarang ada harapan menghiasi wajah pemuda matahari itu.


“Empu Pelak! Adalah seorang yang paling hebat dalam membuat senjata, bahkan satu dari 5 senjata tingkat tertinggi adalah hasil dari tangannya.” Ciptorogo mengelus kumisnya lagi, “Bukan, tapi 2 senjata tingkat tertinggi, salah satu pedang yang dia ciptakan kabarnya dari tulang seekor naga.”


“Dimana aku bisa menemukan Empu itu, Paman?” Sungsang Geni semakin bersemangat mendengarnya.

__ADS_1


“Di Perguruan Lembah Ular.” Jawab bocah kecil.


Sungsang Geni menaikan alisnya, tidak menduga bocah itu sangat pintar, terutama dalam bidang berbicara.


“Kundil!” Ciptorogo menjelitkan matanya kepada bocah itu, kemudian menggelengkan kepala mengisyaratkan untuk tidak menyinggung Raja baru itu.


“Tidak masalah paman, jadi namamu Kundil?”


“Benar, Paman Raja!”


“Hem...baiklah nampaknya kau bocah cerdas. Apa kau ingin menjadi penasehat di Tombok Tebing, jika kau bersedia sebaiknya mulai hari ini kau lebih giat lagi belajar, karena posisimu akan banyak diincar orang.” Sungsang Geni berkata seraya mengacak rambut bocah itu.


Sikundil tersenyum riang, kemudian bergegas berlari ke lantai bawah, dia berteriak. “Aku akan belajar dengan giat, lalu menagih janjimu, paman Raja.”


“Yang Mulia Geni, sekali lagi ma’afkan kelakuan anak kami. Dia sedikit nakal...”


“Tidak masalah, lagi pula aku serius dengan perkataanku barusan.” Sungsang Geni tersenyum kecil, “ Jadi paman, perguruan Lembah Ular? Jelaskan hal itu?”


“Empu Pelak, memang berada di Perguruan Lembah Ular, salah satu perguruan paling besar saat ini. tempat yang jauh dari Surasena, mungkin butuh waktu 1 bulan agar kau bisa tiba di sana.” Ciptorogo mulai menjelaskan.


“Jadi dia adalah temanmu ?” Tanya Sungsang Geni, “Berarti...”


“Aku berasal dari perguruan Lembah Ular, tapi aku lebih memilih tinggal di Surasena karena bidangku memang menuntutku harus di sini,” lanjut Ciptorogo.


Sungsang Geni mengerti apa yang dimaksud dengan Ciptorogo. Dengan menjadi tukang batu di Surasena, Ciptorogo akan lebih mudah menjual patungnya di pasar Pelabuhan kepada para pedagang kaya, atau keluarga Kerajaan. Dengan harga mahal.


Ciptorogo kemudian mencari beberapa gulungan kertas, lalu membuka salah satu berangkas. Sungsang Geni melihat, Ciptorogo mengacak-acak barang di dalam berangkas itu. Tampak mencari sesuatu.


Setelah cukup lama, Ciptorogo menyodorkan satu buah benda yang dipungutnya dari dalam berangkas, serta satu gulung kertas usang.


“Ini adalah peta menuju Perguruan Lembah Ular, sedangkan ini adalah lencana miliku, gunakanlah lencana ini! kau tidak akan diperkenankan masuk tanpa tanda pengenal dari Lembah Ular. Mereka tidak menerima tamu dari manapun, termasuk dari Surasena.”


Sungsang Geni memperhatikan lencana hitam bermotip ular kobra, ada tulisan dengan bahasa Sangsekerta. Lembah Ular. Sungsang Geni mengeja tulisan tersebut.

__ADS_1


“Terima kasih paman, kau begitu baik denganku. Bagaimana aku membalas budimu?”


“Tidak perlu berterima kasih, Yang Mulia. Mungkin ini adalah kehendak dari Sang Hyang Widhi.”


Sungsang Geni mengangguk, kemudian mencari sesuatu di saku banjunya, “Aku tidak membawa apapun, tapi tunggu sebentar...” Sungsang Geni lalu menulis sesuatu pada kertas dan memberinya kepada Ciptorogo. “Jika kau butuh sesuatu, segera pergi ke Tombok Tebing lalu tunjukan kertas ini kepada prajurit di sana, mereka akan membantumu.”


Ciptorogo mengangguk, sebelum pemuda itu akhirnya kembali ke Istana Surasena. Dia harus bergegas menyelesaikan banyak pekerjaan sebelum akhirnya pergi menuju Lembah Ular.


***


“Ya, Mahapatih, aku sudah kembali!” ucap Sungsang Geni, memberi salam kepada Mahesa yang masih terlihat sibuk dengan banyak kertas.


Kening Mahesa mengernyit, matanya mulai menyipit dengan rahang yang terlihat mengeras. “Sepertinya kau sedang menikmati hari yang indah, Yang Mulia Sungsang Geni.”


“Jangan begitu Mahapatih, aku memang memiliki sedikit urusan. Sekarang aku membawa seseorang yang akan membantumu.” Sungsang Geni lalu menepuk kedua tangannya.


Seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan dengan malu-malu. “Perkenalkan dia adalah Rerintih, Senopati Tombok Tebing.”


Mahesa memperhatikan wanita itu baik-baik, wajahnya terlihat anggun serasi dengan pakaian berwarna ungu yang dikenaknnya.


“Bukankah semua pasukan Tombok Tebing telah di eksekusi kemarin?” tanya Mahesa heran.


“Tidak semuanya, Mahapatih. Aku meminta Raja Lakuning Banyu membebaskan Rerintih beserta beberapa prajurit lainnya.” Jawab Sungsang Geni, “Hanya yang layak diampuni.”


Tanpa disadari Mahesa, Sungsang Geni telah melakukan kesepakatan dengan Lakuning Banyu beberapa hari yang lalu. Dia meminta Rerintih di bebaskan, dan 30 prajurit yang lainnya.


Lakuning Banyu sebelumnya menolak, tapi Sungsang Geni berhasil meyakinkan Raja Surasena itu, dengan memberi imbalan seratus ribu keping emas.


“Dengarkan aku, teman. Kita adalah orang baru di Tombok Tebing, menurutmu apakah kita akan diterima disana tanpa perlawanan?” Sungsang Geni menjelaskan alasannya, “Lagipula, Rerintih adalah Gadis yang baik, aku yakin dia akan banyak membantumu kelak.”


“Terima kasih Yang Mulia, saya berjanji tidak akan mengecewakan kehidupan yang telah anda berikan.” Rerintih menundukan kepala memberi hormat kepada Sungsang Geni.


“Aku akan pergi menemui Raja Lakuning Banyu, beserta Dewangga. Besok pagi kita akan menuju Tombok Tebing, dengan kapal seadanya.” Sungsang Geni kemudian tersenyum kecil kearah Mahesa, senyuman yang mempunyai banyak makna, lalu bergegas pergi meninggalkan Rerintih dan Mahesa.

__ADS_1


“Ma’af Yang Mulia Mahapatih, ada yang bisa saya bantu?” Rerintih masih terasa canggung menghadapi Mahesa.


“Ehm...mungkin menyusun kertas-kertas ini!” ucap Mahesa, suaranya terdengar serak, tingkahnya bahkan lebih canggung dari pada Rerintih. ‘Sialan, kenapa suasana hatiku jadi seperti ini?’


__ADS_2