PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pasukan Musuh


__ADS_3

Jauh di sisi barat Tanah Java, 10 ribu pasukan yang dijanjikan Raja Swarnadwipa sudah sampai di Markas Surasena seutuhnya. Sekarang tempat itu penuh sesak dengan pasukan yang mengenakan lambang matahari di jubah belakangnnya.


Pemimpin tertinggi pasukan itu, Wira Mangkubumi alias kakak ipar Sungsang Geni. Datang terakhir sekitar 3 hari yang lalu dengan 3 ribu pasukan.


Lakuning Banyu telah menunggu di kediamannya, bersamaan dengan penguasa Surasena itu beberapa Sesepuh juga di undang dalam penyambutan Wira Mangkubumi. Kedatangan Wira Mangkubumi bukan hanya dengan tangan kosong, tapi membawa stock makanan yang tak terkira.


Butuh satu tenda besar khusus untuk menampung makanan itu.


“Selamat datang di tanah Java, Pangeran Wira Mangkubumi.” Lakuning Banyu menyambut pria itu di halaman depan kediamannya.


Di sisi kiri Lakuning Banyu, berdiri Darma Guru sedikit selangkah ke kiri berdiri pula Darma Cokro, dan para sesepuh Serikat pendekar. Di sisi kanan, KI Alam Sakti ditemani dengan Dewangga beserta Sabdo Jagat dan Guru Jelatang Biru.


Terlihat semua orang hebat sudah berkumpul di tempat itu, kecuali satu orang. Ya, Wira Mangkubumi mencari saudara iparnya, Sungsang Geni di beberapa sisi tapi tidak menemukan pemuda itu.


“Perjalanan kalian tentu melelahkan, silahkan masuk...” Lakuning Banyu menyambut Wira Mangkubumi dengan sopan, kemudian membawa tetamunya itu ke dalam ruangan yang sudah di siapkan.


Ruangan kecil itu sekarang menjadi pengap dan sesak, beberapa orang rela berhimpit-himpitan hanya untuk melihat pemimpin 10 ribu pasukan Swarnadwipa. Tapi kemudian, setelah melihat kerlitan dari mata Lakuning Banyu, lekaslah para prajurit meninggalkan ruangan kecil itu, menyisakan orang-orang hebat saja.


Dia sana sudah ada meja panjang berwarna hitam dari kayu yang di pahat sedemikian rupa agar terlihat menarik. Tidak ada meja emas untuk saat ini, jadi mungkin sambutan yang diberikan Lakuning Banyu tidak terlalu mewah.


“Tempat ini tidak terlalu luas, mungkin membuat Pangeran dari Swarnadwipa tidak nyaman...”


“Jangan dipikirkan,” Wira Mangkubumi tersenyum kecil. “Kita sedang dalam peperangan, mana mungkin ada tempat yang nyaman lagi. Sekarang bagaimana situasinya, ah aku juga tidak melihat saudaraku, dimanakah gerangan dirinya?”


“Yang anda maksud tentu Sungsang Geni.” Sabdo Jagat segera menyahut perkataan Wira Mangkubumi, pria itu melirik sesaat pada Lakuning Banyu baru kemudian menceritakan tentang pemuda itu.

__ADS_1


Jelas padat perkataan Sabdo Jagat, membuat kepala Wira Mangkubumi hanya manggut manggut. “Jadi demikian gerangan ceritanya? Pantas saja tidak kulihat dia hari ini. tapi tidak jadi masalah, aku yakin dia dalam keadaan baik-baik saja, bukan?”


“Tentu saja,” Sabdo Jagat kembali menimpali, sementara sesepuh Ki Lodro Sukmo semenjak mengetahui identitas Sungsang Geni tidak berani lagi bersikap buruk. Wajahnya pucat pasai, dan paling gelisah diantara para Sesepuh yang lain ketika beradu pandang dengan Wira Mangkubumi.


Tidak lama setelah perkumpulan itu, membahas masalah peperangan tiba-tiba tirai pintu tersibak oleh dua orang yang datang dengan wajah cemas dan pucat pasai.


“Ma'afkan kelancangan kami berdua tuanku.” Dia memberi hormat tiga kali.


“Katakan apa yang terjadi, Telik Sandi?” Lakuning Banyu sontak berdiri dari tempat duduknya.


“Sekitar lima belas ribu pasukan datang dari arah timur, tepatnya melewati pantai pesisir. Butuh 4 hari hingga mereka sampai ke markas kita.”


“Benar tuanku, tapi diantara 15000 orang tersebut, sekitar seribu orang adalah prajurit handal mungkin setara dengan pendekar pilih tanding, ada lebih banyak pendekar tanpa tanding bersama mereka.” Melanjut pula temannya.


Lakuning Banyu menoleh kearah Wira Mangkubumi, begitupun semua orang lainnya. Kemudian semuanya meminta pendapat dari pria itu.


***


4 hari kemudian Semua pasukan sudah disiapkan di atas tembok kayu, para pemanah api sudah siaga sejak dari malam hari.


Di balik gerbang besar ada pasukan berkuda yang jumlahnya sekitar 2000 orang, selebihnya adalah pejalan kaki.


Di atas tembok telah berdiri para Serikat Pendekar dengan kemampuan paling mumpuni di antara yang lainnya.


Darma Cokro berdiri pada salah satu menara pengintai yang tiada lagi memiliki atap. Pedang cahaya sebesar batang kelapa telah melayang-layang di atas kepalanya, begitupun nampaknya pendekar-pendekar dari Padepokan Bukit Emas.

__ADS_1


Agak sedikit ke sebelah barat, Sabdo Jagat menggenggam tongkat pusaka miliknya. Energi pusaka itu merayap di sekujur tubuh Sabdo Jagat bahkan terasa hingga berpuluh meter jauhnya.


Pria itu bersama dengan Guru Tiraka, dan Jelatang Biru beserta beberapa orang dari Perguruan Lembah Ular. Kecuali Guru Gentar Bumi yang lebih memilih berada di bawah, bersama dengan pasukan Swarnadwipa dan 5 orang muridnya.


Sedikit lagi ke kiri, Ki Lodro Sukmo menunggu dengan sarung tangan macan yang menjadi andalan. Dia ditemani dengan Pendekar Bangau Putih.


Berada pada menara paling tengah dan paling tinggi, Ki Alam Sakti menatap gemuruh gerak riuh di dalam hutan. Dia juga bisa mendengar teriakan-teriakan lawan yang terkena jerat ranjau.


Sekarang jarak antara dua kelompok besar itu mungkin hanya 200 meter lagi, atau mungkin hanya 100 meter lagi. Semakin dekat saja setiap waktunya, tampak tidak ciut nyali meski terkena ranjau.


Waktu berjalan begitu cepat, peluh-peluh jatuh sebesar jagung membasahi para prajurit.


“Pangeran, berikan sedikit wejangan untuk mereka!” Salah satu Hulu Balang berkata pada Wira Mangkubumi. “Banyak dari prajurit kita belum terbiasa dengan perang, aku lihat wajah-wajah resah, jika mental kita jatuh kita akan kalah.”


Wira Mangkubumi lantas berkata lantang dari bawah, suaranya bergema hingga terdengar sepenjuru markas berkat tenaga dalam yang dimilikinya.


“Ingatlah petuah lama, hidup kita untuk mati dan mati kita untuk hidup!” Semua orang menoleh kearah pria itu. “Semua orang akan mati, tapi jika bisa memilih maka matilah kita dalam jalan kebenaran, memperjuangkan hak kita, memperjuangkan tanah air kita, dan jika kalian mati, matilah dengan bangga. Mati kita untuk hidup, kehidupan orang-orang yang kita tinggalkan.”


Sontak saja semua prajurit yang mendengar perkataan pria itu berteriak penuh semangat, seolah tubuh mereka mendidih karena marah. Dada mereka berdetak lebih cepat dari sebelumnya, mata mereka nanar tajam menyambut derap penjajah.


“Teriakan keberanian.” Pekik Wira Mangkubumi. “Hidup kita untuk mati, mati kita untuk hidup.”


“Hidup kita untuk mati, mati kita untuk hidup.”


Sontak pula para prajurit Surasena mengikuti teriakan yang bergema dari mulut prajurit Swarnadwipa, hingga dalam hitungan detik saja seisi benteng pertahanan dipenuhi dengan teriakan bergema.

__ADS_1


Ki Alam Sakti tersenyum kecil di atas tiang menara tertinggi, sebuah kata bijak yang membangkitkan semangat juang, pikirnya.


Lalu dua menit kemudian, terdengar suara terompet dari tanduk kerbau berbunyi di sisi paling selatan kemudian disusul suara terompet di sisi paling utara. Lalu setelah itu, genderang perang bertabuh-tabuh, tanda musuh sudah berada di depan mata.


__ADS_2