PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pertarungan Di Pelabuhan 6


__ADS_3

Puluhan orang pasukan Tombok Tebing menyerah, sebagian yang memiliki kemampuan cukup tinggi melarikan diri dengan berlari menyebrangi sungai.


Senopati Pancur Lara tidak mengejar mereka, jika beruntung mereka akan selamat di sebrang sebelum tenaga dalam mereka habis. Tapi Pancur Lara mengetahui tenaga dalam mereka tidak tersisah banyak.


Dan benar, Sungsang Geni melihat mereka yang mencoba melarikan diri mulai berjatuhan dan tenggelam kedalam sungai.


Satu-satunya yang masih bertahan adalah raja tombok Tebing, Puntura yang masih bertarung sengit melawan Darma Guru, diatas sungai.


Beberapa orang prajurit Surasena, terlihat sibuk mengikat pasukan Tombok Tebing yang menyerah, tapi Sungsang Geni tidak bergeming dari tempatnya menatap pertarungan Darma Guru dengan Puntura.


Jika dinilai dari teknik bertarung, jelas Darma Guru lebih baik dari Puntura. Tapi keris panca dewa yang digunakan Puntura, mempu membuat tembakan energi terus menerus tanpa takut kehabisan tenaga dalam.


Jarang sekali mereka bertarung jarak dekat. Ketika Darma Guru mulai mendekat, Puntura segera menjaga jarak seraya melepaskan tembakan yang bertubi-tubi, membuat riak air lama-lama menjadi gelombang besar akibat tembakan itu mengenai sungai.


“Aku terkejut tenaga dalamu belum habis setelah bertarung salama ini, Darma Guru.” ucap Puntura, dia sendiri menyadari jika bukan karena keris panca dewa mungkin dia telah mati belasan kali berhadapan dengan Darma Guru. “Kau memang pendekar yang hebat.”


“Terima kasih atas pujiannya, tapi aku berniat bertarung labih lama lagi sampai bisa membunuhmu.” Ucap Darma Guru, sembil berusaha memperpendek jarak.


“Keras kepala sekali.” Puntura menjadi kesal mendengarnya, kekesalan dirinya semakin bertambah sebab pedang hitam Darma Guru mulai menyerang dengan lebih cepat.


“Kita lihat sebesar apa keris ini mampu mengeluarkan kekuatannya!” Puntura berniat mengerahkan seluruh tenaga dalammnya, untuk mengeluarkan potensi keris panca dewa.


Ini seperti memberi makan keris itu dengan tenaga dalam. Karena pada dasarnya senjata yang berada di tingkat tertinggi, memiliki rohnya sendiri.


Tiba-tiba suasana menjadi tegang, aura dingin berhembus kencang menusuk sendi-sendi. Pancaran energi bening terlihat menyelimuti seluruh tubuh Puntura, tapi terlihat Puntura merasakan kesakitan.


Raja Tombok Tebing itu berteriak keras, bola matanya mendelik kelangit. Energi dari keris panca dewa merayap di sekujur tubuhnya.


‘Dia dikuasai!’ batin Sungsang Geni berkata, ‘Puntura tidak dapat mengendalikan keris panca dewa, ini bahaya.’

__ADS_1


Dilain sisi Darma Guru menyadari bahaya di depannya. Jadi dia berusaha melawan serangan puntura dengan seluruh kekuatannya.


“Pedang Emas, cahaya Emas.” Darma Guru melakukan gerakan jurus, menarik pedang hitamnya dan entah apa yang terjadi pedang itu menyatu dengan pedang yang berada ditangan kananya, cahaya emas mulai menjulur keluar dari pedang itu, mengeluarkan tekanan berat di wilayah sekitar.


“Lari, selamatkan diri kalian!” Pancur Lara menarik mundur seluruh pasukannya, berusaha manjauhi sungai. Seperti Sungsang Geni, senopati itu menyadari bahaya mengancam keselamatan seluruh manusia disana.


Tampak orang-orang disana menjadi histeris, berlari berhamburan sejauh mungkin dari sungai.


“Cepat lari dari sini...kalian dengar! Aku printahkan semua orang menjauh dari tempat ini!” Pancur Lara berteriak, sambil telunjuknya menunjuk jalan menuju istana Surasena.


“Pahlawan kita harus menjauh!” seorang prajurit memberanikan diri mendekati Sungsang Geni, dia sudah ditinggal lebih dahulu oleh teman-temannya.


“Kenapa kau masih disini?” tanya Sungsang Geni.


“Untuk mengajakmu meninggalkan tempat ini.” jawab prajurit itu.


“Aku tidak akan pergi dari sini, sebaiknya kau segera pergi dan bawa Rerintih bersamamu.” Jawab Sungsang Geni.


Prajurit itu kemudian berlari meninggalkan Sungsang Geni di tepi sungai, mendekati Rerintih lalu membawanya menuju jalanan utama Surasena.


“Jika Mahapatih Darma Guru gagal, maka hanya aku satu-satunya yang bisa bertarung melawan Puntura.” Gumam Sungsang Geni.


Belum habis sosok prajurit itu dari pandangan Sungsang Geni, tiba-tiba ledakan energi di atas sungai telah terjadi. Menciptakan gelombang kejut yang dahsyat, kepal-kapal berhamburan dan terhempas kedaratan, beberapa bangunan yang berdiri di tepi pantai tersapu.


Sungsang Geni dengan mata menyipit, mencoba melihat benturan energi yag masih berlangsung. Cahaya emas membuat matanya silau, tapi masih cukup mengetahui energi bening yang dikerahkan Puntura lebih besar dari pada Darma Guru.


Menit berikutinya, gelombang air berukuran besar datang tiba-tiba menyapu daratan. Sungsang Geni nyaris saja terkena hempasan dari gelombang sungai, jika terlambat menggunakan jubah kilatan naganya.


Seperti tsunami, gelombang sungai yang tercipta dari gelombang kejut menyapu wilayah itu dengan seketika. Wilayah dengan dataran paling rendah di Surasena itu, mendadak seperti lautan.

__ADS_1


“Gawat!” Sungsang Geni segera melesat kearah Darma Guru, mendapati Serangan Puntura berhasil menekan kekuata Darma Guru, dan sebelum energi bening itu menghancurkan tubuh Darma Guru menjadi tak tersisiah, Sungsang Geni telah berada di belakangnya.


Sungsang Geni mengalirkan tenaga dalamnya, pada kakek tua itu. membuat Energi berwarna emas mendadak menjadi besar, yang akhirnya baik kekuatan Darma Guru dan Puntura sama-sama meledak.


Sekali lagi, gelombang kejut yang dihasilkan membuat sungai mendadak menjadi lautan.


Puntura terpental cukup jauh ketengah sungai, sedangkan Darma Guru dan Sungsang Geni terpaksa mendarat keras di salah satu rumah warga yang tinggal tiang-tiangnya saja.


Setelah beberapa saat, Sugsang Geni keluar dari reruntuhan, alisnya terlihat meneteskan darah. Ini darah pertama yang keluar dari tubuh pemuda itu, setelah dia menyelesaikan latihannya di Bukit Batu.


“Apa kau baik-baik saja, Aki?” tanya Sungsang Geni, mencoba menggoyang pelan pundak Mahapati Darma Guru, yang terlentang tidak jauh darinya.


Darma Guru terlihat kesulitan membuka matanya, tapi Sungsang Geni menyimpulkan Mahapati itu tidak mengalami luka dalam yang ber-arti.


“Aku baik-baik saja, berkat pertolongan mu, Geni!” ucapan Darma Guru terbata-bata, sekekali dia terbatuk.


“Sukurlah jika kau tidak terluka, Aki,” ucap Sungsang Geni. Pemuda itu mencari sesuatu, sebagai sandaran Darma Guru.


“Uhuk...bagaimana orang itu?” tanya Darma Guru, dia menyapu keadaan sekitar pada reruntuhan banguan, tapi Raja Puntura tidak terlihat olehnya.


“Entahlah, dia berada di dalam sungai.” Jawab Sungsang Geni, jarinya menunjuk ke tengah sungsai. “Tapi aku yakin, Raja Puntura masih hidup, aku masih merasakan aura membunuh keluar dari dalam sungai.”


“Aki!” lanjut Sungsang Geni, memandangi Darma Guru penuh makna, “Kau tidak akan mampu bertarung lagi untuk saat ini, tenaga dalammu sudah habis.”


Darma Guru membenarkan ucapan Sungsang Geni, jurus yang dia keluarkan barusan adalah yang terkuat yang dia miliki saat ini, dan membutuhkan tenaga dalam yang sangat besar.


Ada satu jurus lagi di Perguruan Bukit Emas yang lebih kuat, tapi Darma Guru tidak sempat mempelajarinya. Dia merasa menyesal karena tidak sempat mempelajarinya.


“Jadi, apa kau yang akan melawannya!” tanya Darma Guru, “Seseorang yang dikuasai oleh roh senjata tingkat tinggi, memiliki kekuatan yang sangat besar.”

__ADS_1


“Aku mengerti, Ki.” Sungsang Geni menatap air di tengah sungai yang sekarang mulai beriak, dan terlihat banyak buih yang keluar seperti air yang mendidih. “Sekarang orang itu, menjadi jelmaan dari keris panca dewa.”


__ADS_2